Home / Romansa / Jiwa Yang Kembali (Replay 2004) / Luka Yang Tak Bisa Sembuh

Share

Luka Yang Tak Bisa Sembuh

Author: Takehiro
last update publish date: 2026-03-20 19:58:15

Raisa Termenung melamun duduk di tepi tempat tidurnya,Raisa masih terkurung dalam kamarnya, sebuah penjara sunyi yang dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Dia hanya bisa termenung, larut dalam lautan kesedihan yang tak bertepi.

"Auuuu...."

"Auuuu...."

Lolongan anjing itu memecah keheningan menambah kesan mencekam.

"Bu, Mbok bawain makanan kesukaan Ibu."

Raisa hanya menggeleng lemah, air matanya sudah mengering, namun hatinya masih terasa perih.

"Kalau Ibu tidak makan, nanti sakit. Ibu harus kuat," ujar Mbok Inah dengan nada khawatir.

"Makan sedikit saja, Bu." ucapnya sambil terisak. Kali ini, air matanya tak bisa lagi dibendung.

Raisa tak bereaksi sama sekali. Tatapannya masih kosong, menembus dinding kamar, mencari sosok yang tak mungkin kembali.

"Minum sedikit, Bu," ucap Mbok Inah lagi, mengarahkan segelas air ke bibir Raisa.

Gluk...

Gluk...

Raisa akhirnya mau minum seteguk air, setelah itu, diq kembali melamun, terperangkap dalam kesedihannya.

"Yang sabar ya, Bu," kata Mbok Inah, suaranya bergetar. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang keriput.

"Ibu harus sehat. Ibu harus semangat."

Raisa masih tampak tak bergeming, seperti hanyut dalam kesedihan yang tak berujung.

"Mbok tinggal ya, Bu. Kalau butuh apa-apa, panggil saja Mbok," ucap Mbok Inah dengan suara lirih.

Raisa sedikit menoleh ke arah Mbok Inah, namun tatapannya tetap kosong.

"Makanannya Mbok simpan di sini," kata Mbok Inah lagi, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur, lalu berlalu dari hadapan Raisa dengan langkah berat.

Waktu terus bergulir, malam semakin larut. Mbok Inah pun sudah terlelap di kamarnya. Raisa, yang seolah kehilangan kesadarannya, mulai berjalan lunglai keluar dari kamarnya, kemudian keluar dari rumahnya.

"Adam... anak Mama," ucap Raisa pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

Tak ada rasa takut yang Raisa rasakan saat itu, dia terus menyusuri jalan seorang diri, seperti seorang musafir yang mencari oase di tengah gurun yang tandus.

Seketika, memorinya kembali berputar, berhenti di masa lalu yang indah, saat putra semata wayangnya, Adam, masih hidup.

"Adam, anakku," bisik Raisa lirih, air matanya mulai mengalir lagi.

Kepingan ingatan di masa lalu seketika muncul, menghadirkan kembali kenangan manis saat dia melahirkan Adam, didampingi oleh Darma, suaminya tercinta.

Raisa teringat hari itu di rumah sakit, saat pertama kalinya ia melihat putranya.

"Bayiku," ucap Raisa sambil tersenyum terharu.

Bayi itu sangat tampan dan montok, matanya sangat indah, bola matanya berwarna abu-abu.

"Lihat anak kita, sayang. Sangat tampan," ucap Darma sambil menggendong Adam dengan bangga. Mereka saling bertatapan, mata mereka berbinar penuh cinta.

"Sini, aku mau gendong," pinta Raisa dengan nada lembut.

Darma meletakkan Adam di pangkuan Raisa dengan hati-hati.

"Matanya sangat indah," ucap Raisa, menatap Adam dengan penuh haru.

"Iya, mirip mata Ayahnya," sahut Darma sambil tersenyum.

Darma berdiri di samping Raisa, memperhatikan Adam dengan tatapan kagum. Bayi tertampan yang pernah mereka lihat.

"Aku akan memberinya nama Adam," ucap Darma dengan mantap.

"Adam?" tanya Raisa, memastikan.

"Iya, karena dia anak laki-laki pertama kita," ucap Darma sambil tersenyum ke arah Raisa.

"Aku suka nama itu," sahut Raisa, menandakan setuju dengan nama yang diusulkan Darma.

"Hai, Adam. Kau tampan sekali," ucap Raisa tak henti-hentinya menatap Adam dengan penuh cinta.

"Iya dong, siapa dulu Ayahnya," celetuk Darma dengan nada bercanda.

"Matanya indah seperti Ayahnya," sahut Raisa, sesekali melirik ke arah Darma.

"Bibirnya dan dagunya seperti Mamahnya," ucap Darma sambil tersenyum.

"Mirip kita berdua, itu tandanya kita saling mencintai," kata Darma lagi, menggoda Raisa.

Kemudian, mereka tertawa kecil sambil bermain dengan bayi kecil itu.

Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi Raisa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Yang Kembali The And...

    Pagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Di Tukar Dengan Jiwa

    Hujan turun deras malam itu, seolah kota sedang mencuci dosanya sendiri.Pintu rumah sakit jiwa terbuka paksa. Alarm sempat berbunyi, tapi tak ada yang cukup cepat menghentikan Pratiwi. Rambutnya terurai acak, matanya kosong.namun di balik kekosongan itu, ada satu tujuan yang menyala terang.“Mas Darma…” gumamnya berulang, seperti doa yang salah alamat.“Kamu menghacurkan hidup ku.”Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung perkantoran elit, Darma duduk santai di ruang meeting privat. Jasnya rapi, senyumnya terlatih. Di seberangnya, seorang perempuan cantik investor atau calon mangsa, tak ada bedanya bagi Darma.“Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua,” kata Darma lembut. “Saya selalu memastikan partner saya merasa aman.”Perempuan itu tersenyum. “Anda memang… meyakinkan.”Darma terkekeh kecil. “Itu kelebihan saya.”Pintu ruangan terbuka perlahan tak ada yang curiga.Pratiwi melangkah masuk. Gaunnya kusut, napasnya teratur terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya hancur.Da

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Rahasia Digta Yang Terungkap

    Ruang ICU itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Digta terbaring tak bergerak. Selang-selang menempel di tubuhnya, mesin berdetak pelan seolah menggantikan napas dan detak jantungnya. Wajahnya pucat, jauh dari Digta yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali.Di luar ruangan, Raisa duduk terpaku. Tangannya menggenggam tas erat-erat, matanya kosong. Sejak ambulans membawanya pergi, dunia Raisa seperti berhenti bergerak.Langkah kaki mendekat.“Cha…”Raisa menoleh. Bambang berdiri di hadapannya, wajahnya lelah, matanya merah.“Bang…” suara Raisa serak. “Digta kenapa?” Tanya Bambang.Raisa menghela napas panjang. “Koma. Dokter bilang… kita cuma bisa nunggu.” Bambang menunduk ,Raisa terdiam, Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.“Pelakunya?” tanya Bambang pelan.“Masih dicari,” jawab Raisa. “Mobilnya kabur.” sabung Raisa.Hening jatuh di antara mereka. Suara mesin ICU terdengar makin nyaring.“Cha,” Bambang duduk di samping Raisa. “Ada

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kejutan Yang Gagal

    Warung kopi itu hampir kosong. Hujan rintik jatuh pelan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan atau justru menekan. Digta duduk berhadapan dengan Bambang, menatap cangkir kopi yang sudah dingin.“Jadi,” Bambang memecah keheningan, “Lu nggak jadi jujur sama Raisa, Ta?”Digta menggeleng. “Nggak gue sengaja.”“Kenapa?”“Gue takut,” jawab Digta jujur. “Kalau gue jujur sama dia sekarang, gue takut kehilangan dia,.”Bambang menyandarkan badan. “Berarti lu serius cinta sama dia ta,”Digta mengangkat wajahnya. “Aku mau lamar dia, Bang.”Bambang terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya.”“Tapi gue masih merahasiakan,” lanjut Digta. "Raisa nggak tahu apa-apa.”“Cincin?”“Sudah gue siapin” Digta mengangguk. “Aku mau yang sederhana. Bukan mahal, tapi niatnya jelas.”Bambang tertawa kecil. ”Kalau butuh bantuan bilang,"Digta menggeleng pelan. “Nggak. Kali ini biar gue persiapkan sendiri.”Bambang menatapnya lebih serius. “Lu yakin dengan keputusan ini?”Digta menarik n

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Dosa Yang Tak Termaafkan

    Mengetahui latar belakang keluarga Digta justru tidak membuat Darma mundur.Sebaliknya itu membakar sesuatu di dalam dirinya.Ayah Digta seorang diplomat pensiunan. Nama keluarga yang bersih jejaring yang luas kehormatan yang tidak bisa dibeli.Darma menatap berkas-berkas di mejanya dengan mata gelap.“Kalau itu standar yang dia punya,” gumamnya, “maka aku harus jauh di atas itu.”Dan sejak saat itu, batasan moral tidak lagi berarti apa-apa bagi Darma, dia mulai bermain kotor.Angka-angka keuangan dimanipulasi dana dialihkan. Proyek fiktif dibuat rapi seolah nyata semua dilakukan dengan tenang, sistematis menggerogoti perusahaan milik ayah Pratiwi dari dalam, sedikit demi sedikit. Sampai suatu pagi, kekacauan itu pecah.“Pak… dana investasi hilang,” suara direktur keuangan gemetar di ujung telepon.“Hilang bagaimana?” bentak ayah Pratiwi.“Jumlahnya… besar, Pak.”Telepon itu jatuh dari tangan lelaki tua itu beberapa jam kemudian, dia terbaring di rumah sakit dia terkena serangan jantu

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Obsesi Yang Nggak Sehat

    Hubungan Darma dan Pratiwi berjalan pincang.Pratiwi berjuang sendirian menata rencana pernikahan, menjaga citra, merawat masa depan yang seharusnya mereka bangun bersama. Sementara Darma, tubuhnya hadir di sisinya, tetapi pikirannya tersesat jauh. Setiap senyum Pratiwi terasa tak lagi ia lihat setiap kata yang Pratiwi ucapkan menguap sebelum benar-benar didengar.Karena di ruang terdalam kepalanya, nama lain terus bergaung Raisa.Obsesi itu tumbuh diam-diam, tanpa sepengetahuan Pratiwi bukan sekadar rasa penasaran, melainkan kebutuhan untuk memahami lalu menguasai.Dan ketika penolakan demi penolakan tak mematahkan niatnya, Darma melangkah lebih jauh.dia mulai memata-matai bukan Raisa lagi, melainkan Digta.Data demi data dikumpulkan seperti potongan puzzle alamat lama, riwayat Digta, hingga silsilah keluarga. Darma membaca semuanya dengan teliti, seolah mencari celah atau pembenaran.Ayah Digta, seorang diplomat yang telah pensiun.terhormat Berpengaruh.Digta, anak kedua dari dua

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Penghianatan

    14 Bulan Sebelum Sidang Perceraian. "Ah... ah... agh, Mas..." Desahan Pratiwi menggema, membakar gairah Darma. "Aghh... sayang..." Darma membalas, napasnya memburu. Gerakannya semakin cepat, membawa mereka ke puncak kenikmatan. "Aghh.... aaah..." Darma ambruk di samping Pratiwi. Mereka bertatapa

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Gramedia Part 2

    Sekarang, dia bisa mencari komik tanpa takut berpapasan dengan Digta dan Diana. Raisa melenggang menuju tempat buku-buku komik berada, tiba di sana dengan perasaan senang."Hmm, Naruto," Langsung saja Raisa melihat dan memilih beberapa buku komik."Kayaknya nggak, bukan Naruto,""Eugh, Eljiro Saito

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kesempatan Kedua

    Kembalikan anakku!" ungkap Raisa sedikit histeris, suaranya memecah kesunyian malam. Air mata Raisa mengalir deras, hatinya begitu hancur, masa-masa bahagia itu kini berubah menjadi kenangan yang menyesakkan.Sekarang, Adam sudah tak ada lagi. Dia meninggalkan Raisa untuk selama-lamanya, menyisakan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kehilangan Adam

    "Adam, jangan!" Raisa sontak berteriak, melihat Adam lepas dari dekapannya.Adam Berlari mengejar mobil Darma, Raisa berlari sekencang-kencangnya, berusaha mengejar Adam."Ayah..." Adam berteriak, masih berlari mengejar mobil ayahnya."Adam, jangan!" Raisa masih berusaha mengejar, namun Adam berlar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status