LOGIN6 Bulan Setelah Sidang Perceraian...
Raisa duduk bersantai di sofa empuk, matanya terpaku pada layar televisi. Di sampingnya, Adam, buah hatinya, tertawa riang menikmati kartun kesukaannya. Mbok Inah, dengan telaten, menata sarapan di atas meja, aroma nasi kuning yang menggugah selera memenuhi udara. "Bu, makan dulu, sudah siap," ucap Mbok Inah lembut. "Adam, sayang, sarapan yuk," ajak Raisa sambil tersenyum, pandangannya penuh kasih sayang pada putranya. "Tidak mau, Adam nggak lapar," sahut Adam tanpa menoleh, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada televisi. Dengan lembut, Raisa mencium kening Adam, lalu beranjak menuju meja makan. "Beli di mana ini, Mbok Nah? Kok enak banget," tanya Raisa di sela-sela makannya. "Itu lho, Bu, yang deket Alfa Mart. Mbok coba langganan di situ, lumayan buat sarapan," celetuk Mbok Inah sambil terkekeh. "Enak lho, Mbok," puji Raisa lagi, benar-benar menikmati setiap suapan. "Mbok Nah udah makan?" tanya Raisa lagi, "Sudah, Bu. Tadi sekalian masak, Mbok juga sarapan," Sepuluh menit berlalu dengan cepat. "Mbok Nah, saya pergi dulu, ya," "Iya, Bu. Hati-hati di jalan," sahut Mbok Inah, "Titip Adam, ya, Mbok," pesan Raisa lagi sambil tersenyum. "Iya, Bu. Pasti Mbok jagain," Mbok Inah balas tersenyum. Raisa melangkah keluar rumah, menikmati udara pagi yang segar. Namun, tiba-tiba saja, sebuah mobil hitam metalik berhenti tepat di depan rumahnya. Raisa terdiam mematung, tubuhnya terasa kaku. Mobil itu adalah milik mantan suaminya. Satu per satu, orang-orang yang ada di dalam mobil itu mulai turun. Sosok Darma muncul pertama kali, diikuti oleh mantan ibu mertuanya, Mariana. Kemudian, Maudy dan Pratiwi. "Mau pergi kerja?" tanya Darma pelan, suaranya terdengar ragu, dia tak berani menatap Raisa lama, seolah ada sesuatu yang disembunyikannya. "Iya. Kalian mau bertemu Adam?" tanya Raisa, mencoba bersikap ramah. "Adam ada di dalam, kalian bisa langsung masuk," kata Raisa lagi. Darma berdeham, memecah keheningan yang mulai terasa canggung. "Ada yang mau aku bicarakan," ungkap Darma akhirnya, suaranya pelan namun tegas. "Ya, tapi aku mau pergi bekerja, Mas," sahut Raisa sambil melirik jam tangannya. "Sebentar saja, ini penting," kata Mariana, menatap Raisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah mendengar ucapan mantan mertuanya, Raisa membuka lebar pintu pagarnya dan mempersilakan mereka masuk. "Silakan," ucap Raisa singkat, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ayah..." panggil Adam dengan nada riang, senyumnya merekah saat berada di dekat ayahnya. Darma tersenyum, membalas pelukan Adam dengan erat dia mencium rambut putranya, merasakan kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya. "Adam sayang," ucap Darma lembut. Sedang Raisa memberikan isyarat kepada Mbok Inah untuk membawakan mereka minum. Mereka pun duduk di atas sofa, suasana hening seketika. "Langsung saja ke intinya," kata Mariana, memecah keheningan, dia menatap putranya, Darma, yang tampak sedang menikmati momen bersama Adam. "Eugh, iya, Mah," sahut Darma, mengalihkan perhatiannya dari Adam. "Begini, Raisa, aku akan menjual rumah ini," ungkap Darma tiba-tiba, membuat Raisa terkejut dan tak bisa berkata-kata. "Lho, Mas, kesepakatannya kan rumah ini buat Adam," sahut Raisa akhirnya, suaranya bergetar menahan emosi. "Lagi pula, Papah yang beli rumah ini sebagai hadiah pernikahan kita," kata Raisa lagi, mencoba mengingatkan Darma akan janjinya dulu. "Euh..." Darma menunduk, tak berani menatap Raisa. dia merasa bersalah, namun ada sesuatu yang memaksanya untuk melakukan ini. Kemudian, Darma menatap ibunya, Mariana, seolah meminta dukungan. "Enak saja, Darma juga punya hak atas rumah ini. Dia udah nafkahi kamu dan anakmu bertahun-tahun," kata Mariana dengan nada tinggi, membela putranya. "Mas," panggil Raisa, terus menatap ke arah Darma, berharap ada penjelasan yang masuk akal. "Mas, kamu udah janji," kata Raisa lagi dengan nada yang tegas, menuntut jawaban dari Darma. Darma hanya menunduk lemas, tak bisa menjawab pertanyaan Raisa. Dia merasa terpojok, tak tahu harus berbuat apa. "Itu saja yang mau kami sampaikan," ungkap Mariana sambil beranjak dari duduknya. Dia sontak menarik tangan Darma yang tampak tak bisa berkata-kata. "Sebentar, Mah," ucap Darma masih memeluk Adam, enggan berpisah dari putranya. "Ayo, Darma, semakin lama kamu di sini, semakin dia akan mempengaruhi kamu," kata Mariana lagi, kali ini menarik tangan Darma sedikit memaksa. "Kamu punya waktu satu minggu untuk pergi dari rumah ini," celetuk Mariana lagi, menatap Raisa dengan tatapan sinis. "Darma akan menikah, jadi uang rumah ini akan dia pakai untuk pesta pernikahannya dengan Tiwi," Mariana mulai nyerocos, mengungkapkan rencana Darma yang membuat hati Raisa hancur berkeping-keping. Raisa yang mendengar hal itu hanya tertunduk lemah, air mata mulai membasahi pipinya. "Ayah, Adam ikut," pinta Adam dengan polos, tak mengerti apa yang sedang terjadi. Berlahan, Darma melepaskan pelukan Adam, Adam tampak enggan melepaskan pelukannya, dia ingin selalu berada di dekat ayahnya. "Nanti Ayah datang lagi, ya," ucap Darma lembut sambil mencium kening Adam, berusaha menenangkan putranya. "Nggak, nggak mau, Adam mau sama Ayah," Adam tampak lengket, tak mau berpisah dari ayahnya. Mariana yang merasa jengkel melihat tingkah Adam, kemudian menarik tangan Adam dengan kasar. dia tak sabar ingin segera pergi dari rumah itu. "Sudah, Ayahmu mau kerja," seraya menjauhkan Adam dari Darma, kemudian segera menarik Darma untuk beranjak dari tempat itu. "Ayah..." Adam sontak tantrum, dia mengamuk dan menangis histeris. Raisa segera mendekap Adam, mencoba menenangkannya. "Nanti Ayah ke sini lagi, ya," Darma hanya menoleh sejenak, kemudian melenggang pergi bersama Mariana ibunya, semakin menjauh. Dan dalam sekejap, mereka masuk ke dalam mobil itu. Brum... Brum... Darma langsung tancap gas, melaju dengan mobilnya meninggalkan tempat itu.Pagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan
Hujan turun deras malam itu, seolah kota sedang mencuci dosanya sendiri.Pintu rumah sakit jiwa terbuka paksa. Alarm sempat berbunyi, tapi tak ada yang cukup cepat menghentikan Pratiwi. Rambutnya terurai acak, matanya kosong.namun di balik kekosongan itu, ada satu tujuan yang menyala terang.“Mas Darma…” gumamnya berulang, seperti doa yang salah alamat.“Kamu menghacurkan hidup ku.”Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung perkantoran elit, Darma duduk santai di ruang meeting privat. Jasnya rapi, senyumnya terlatih. Di seberangnya, seorang perempuan cantik investor atau calon mangsa, tak ada bedanya bagi Darma.“Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua,” kata Darma lembut. “Saya selalu memastikan partner saya merasa aman.”Perempuan itu tersenyum. “Anda memang… meyakinkan.”Darma terkekeh kecil. “Itu kelebihan saya.”Pintu ruangan terbuka perlahan tak ada yang curiga.Pratiwi melangkah masuk. Gaunnya kusut, napasnya teratur terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya hancur.Da
Ruang ICU itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Digta terbaring tak bergerak. Selang-selang menempel di tubuhnya, mesin berdetak pelan seolah menggantikan napas dan detak jantungnya. Wajahnya pucat, jauh dari Digta yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali.Di luar ruangan, Raisa duduk terpaku. Tangannya menggenggam tas erat-erat, matanya kosong. Sejak ambulans membawanya pergi, dunia Raisa seperti berhenti bergerak.Langkah kaki mendekat.“Cha…”Raisa menoleh. Bambang berdiri di hadapannya, wajahnya lelah, matanya merah.“Bang…” suara Raisa serak. “Digta kenapa?” Tanya Bambang.Raisa menghela napas panjang. “Koma. Dokter bilang… kita cuma bisa nunggu.” Bambang menunduk ,Raisa terdiam, Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.“Pelakunya?” tanya Bambang pelan.“Masih dicari,” jawab Raisa. “Mobilnya kabur.” sabung Raisa.Hening jatuh di antara mereka. Suara mesin ICU terdengar makin nyaring.“Cha,” Bambang duduk di samping Raisa. “Ada
Warung kopi itu hampir kosong. Hujan rintik jatuh pelan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan atau justru menekan. Digta duduk berhadapan dengan Bambang, menatap cangkir kopi yang sudah dingin.“Jadi,” Bambang memecah keheningan, “Lu nggak jadi jujur sama Raisa, Ta?”Digta menggeleng. “Nggak gue sengaja.”“Kenapa?”“Gue takut,” jawab Digta jujur. “Kalau gue jujur sama dia sekarang, gue takut kehilangan dia,.”Bambang menyandarkan badan. “Berarti lu serius cinta sama dia ta,”Digta mengangkat wajahnya. “Aku mau lamar dia, Bang.”Bambang terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya.”“Tapi gue masih merahasiakan,” lanjut Digta. "Raisa nggak tahu apa-apa.”“Cincin?”“Sudah gue siapin” Digta mengangguk. “Aku mau yang sederhana. Bukan mahal, tapi niatnya jelas.”Bambang tertawa kecil. ”Kalau butuh bantuan bilang,"Digta menggeleng pelan. “Nggak. Kali ini biar gue persiapkan sendiri.”Bambang menatapnya lebih serius. “Lu yakin dengan keputusan ini?”Digta menarik n
Mengetahui latar belakang keluarga Digta justru tidak membuat Darma mundur.Sebaliknya itu membakar sesuatu di dalam dirinya.Ayah Digta seorang diplomat pensiunan. Nama keluarga yang bersih jejaring yang luas kehormatan yang tidak bisa dibeli.Darma menatap berkas-berkas di mejanya dengan mata gelap.“Kalau itu standar yang dia punya,” gumamnya, “maka aku harus jauh di atas itu.”Dan sejak saat itu, batasan moral tidak lagi berarti apa-apa bagi Darma, dia mulai bermain kotor.Angka-angka keuangan dimanipulasi dana dialihkan. Proyek fiktif dibuat rapi seolah nyata semua dilakukan dengan tenang, sistematis menggerogoti perusahaan milik ayah Pratiwi dari dalam, sedikit demi sedikit. Sampai suatu pagi, kekacauan itu pecah.“Pak… dana investasi hilang,” suara direktur keuangan gemetar di ujung telepon.“Hilang bagaimana?” bentak ayah Pratiwi.“Jumlahnya… besar, Pak.”Telepon itu jatuh dari tangan lelaki tua itu beberapa jam kemudian, dia terbaring di rumah sakit dia terkena serangan jantu
Hubungan Darma dan Pratiwi berjalan pincang.Pratiwi berjuang sendirian menata rencana pernikahan, menjaga citra, merawat masa depan yang seharusnya mereka bangun bersama. Sementara Darma, tubuhnya hadir di sisinya, tetapi pikirannya tersesat jauh. Setiap senyum Pratiwi terasa tak lagi ia lihat setiap kata yang Pratiwi ucapkan menguap sebelum benar-benar didengar.Karena di ruang terdalam kepalanya, nama lain terus bergaung Raisa.Obsesi itu tumbuh diam-diam, tanpa sepengetahuan Pratiwi bukan sekadar rasa penasaran, melainkan kebutuhan untuk memahami lalu menguasai.Dan ketika penolakan demi penolakan tak mematahkan niatnya, Darma melangkah lebih jauh.dia mulai memata-matai bukan Raisa lagi, melainkan Digta.Data demi data dikumpulkan seperti potongan puzzle alamat lama, riwayat Digta, hingga silsilah keluarga. Darma membaca semuanya dengan teliti, seolah mencari celah atau pembenaran.Ayah Digta, seorang diplomat yang telah pensiun.terhormat Berpengaruh.Digta, anak kedua dari dua
14 Bulan Sebelum Sidang Perceraian. "Ah... ah... agh, Mas..." Desahan Pratiwi menggema, membakar gairah Darma. "Aghh... sayang..." Darma membalas, napasnya memburu. Gerakannya semakin cepat, membawa mereka ke puncak kenikmatan. "Aghh.... aaah..." Darma ambruk di samping Pratiwi. Mereka bertatapa
Sekarang, dia bisa mencari komik tanpa takut berpapasan dengan Digta dan Diana. Raisa melenggang menuju tempat buku-buku komik berada, tiba di sana dengan perasaan senang."Hmm, Naruto," Langsung saja Raisa melihat dan memilih beberapa buku komik."Kayaknya nggak, bukan Naruto,""Eugh, Eljiro Saito
Kembalikan anakku!" ungkap Raisa sedikit histeris, suaranya memecah kesunyian malam. Air mata Raisa mengalir deras, hatinya begitu hancur, masa-masa bahagia itu kini berubah menjadi kenangan yang menyesakkan.Sekarang, Adam sudah tak ada lagi. Dia meninggalkan Raisa untuk selama-lamanya, menyisakan
Raisa Termenung melamun duduk di tepi tempat tidurnya,Raisa masih terkurung dalam kamarnya, sebuah penjara sunyi yang dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Dia hanya bisa termenung, larut dalam lautan kesedihan yang tak bertepi."Auuuu....""Auuuu...."Lolongan anjing itu memecah keheningan menambah ke







