Share

Penghianatan

Penulis: Takehiro
last update Tanggal publikasi: 2026-03-21 22:59:10

14 Bulan Sebelum Sidang Perceraian.

"Ah... ah... agh, Mas..." Desahan Pratiwi menggema, membakar gairah Darma.

"Aghh... sayang..." Darma membalas, napasnya memburu. Gerakannya semakin cepat, membawa mereka ke puncak kenikmatan.

"Aghh.... aaah..." Darma ambruk di samping Pratiwi. Mereka bertatapan, senyum terukir di bibir masing-masing.

"Nginep sini, Mas?" Pratiwi merayu, memeluk Darma mesra.

"Nggak bisa, Sayang. Aku harus pulang," jawab Darma. Wajah Pratiwi langsung cemberut.

"Cuma dua hari, kok," Darma membujuk, membelai rambut Pratiwi dengan lembut.

"Bener ya?"

Darma mengangguk, mendekap Pratiwi erat.

Kreek ... kreek ...

Suara televisi membangunkan Raisa, jam menunjukkan pukul satu dini hari.

"Mas Darma pasti lupa matiin TV," gumam Raisa pelan.

Raisa bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju ruang tengah.

"Kebiasaan," gerutunya. Raisa menggeleng melihat Darma tertidur pulas di sofa, remote TV tergeletak di sampingnya.

Perlahan, Raisa mengambil remote itu dan meletakkannya di meja. Tiba-tiba, kakinya menginjak sesuatu.

"Ya ampun, untung nggak pecah," celetuk Raisa lega, menyikirkan kakinya dari atas ponsel, sepertinya Darma tak sengaja menjatuhkannya.

Raisa meraih ponsel itu, namun tiba-tiba bergetar.

Ngung... ngung... ngung...

Dengan ragu, Raisa membaca notifikasi chat.

"Dari Mamah? Malam-malam begini?" Raisa khawatir terjadi sesuatu pada ibu mertuanya.

'Sayang, kok nggak bales?'

Deg!

Raisa terkejut, penasaran mulai menggerogoti hatinya.

"Sayang?" bisik Raisa, matanya terpaku pada layar ponsel. "Sejak kapan Mamah panggil Darma 'sayang'?"

Tanpa ragu, dia mulai membaca chat itu. Raisa duduk di sofa, bersebelahan dengan Darma.

'Sayang, aku kangen!' Ternyata Darma yang mengirim chat itu duluan.

'Baru aja tadi ketemu udah kangen lagi?'

Raisa berhenti membaca, tangannya sedikit gemetar. Dia melanjutkan.

'Minta fav dong, Sayang'

'Emang nggak apa-apa?'

'Aman, dia lagi tidur'

Raisa tersentak, kata-kata itu jelas ditujukan untuknya.

Sebuah foto muncul. Seorang gadis muda, cantik dengan piyama, berpose sambil tersenyum.

"Siapa perempuan ini? Aku nggak pernah lihat," gumam Raisa resah. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

'Kok cuma gitu? Aku kangen yang tadi'

'Iih, genit'

'Cepet, Sayang!!!'

Foto kedua muncul. Kali ini, gadis itu hanya mengenakan bra dan celana dalam, berpose seksi.

'Gimana?'

'Jadi pengen'

'Mau lihat itu?'

'Iih, nggak mau'

'Video call, ya?'

'Kalau video call, boleh lihat nggak?'

'Iya, Sayang. Boleh'

'Duh, jadi nggak tahan'

Wajah Raisa pucat pasi, dia sangat syok membaca isi chat itu. Semakin ke bawah, semakin tidak senonoh.

"Astaga, Mas Darma," celetuk Raisa, menatap suaminya yang tertidur.

Raisa memeriksa galeri foto di ponsel Darma. Dia menemukan banyak foto wanita itu, dari berpakaian sopan hingga foto berdua di hotel.

"Mas Darma!" Raisa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuhnya lemas, tangannya gemetar hingga ponsel itu terjatuh.

Dadanya sesak, dia hanya bengong menatap suaminya. Yang paling menyakitkan, dia melihat foto wanita itu bersama ibu mertua dan adik iparnya. Mereka terlihat akrab, seolah sudah saling mengenal.

Sepanjang malam, Raisa hanya menangis. Dia tak percaya suaminya berselingkuh, dan perselingkuhan itu diketahui oleh ibu dan adik iparnya.

"Kamu kok tega sih, Mas..." lirih Raisa.

Selama ini, Darma terlihat biasa saja, tidak ada perubahan sikap. Raisa tidak curiga sama sekali. Malah, belakangan ini Darma semakin perhatian dan romantis.

"Salah aku apa sih, Mas..."

Raisa mencoba mengingat kejadian-kejadian lalu. Tidak ada sikap janggal yang ditunjukkan Darma. Selama ini, Raisa berpikir suaminya hanya kelelahan karena membantunya mengerjakan pekerjaan rumah.

Darma selalu beralasan, "Kasihan kamu, pasti capek ngurusin Adam."

Air mata Raisa jatuh deras. Dia kecewa.

Cahaya matahari masuk dari celah jendela, menyilaukan mata Darma. Dia membuka mata perlahan dan terkejut melihat Raisa duduk tak jauh darinya.

"Astaga, Sayang!" Darma kaget, mengelus dadanya. Raisa tidak berbicara sepatah kata pun.

"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Darma khawatir, menatap Raisa.

Raisa menoleh, tatapannya tajam penuh amarah.

"Pratiwi Insani itu siapa, Mas?" Suaranya bergetar menahan amarah.

"Eugh..."

Darma terkejut, tidak berani menatap istrinya. Dia mengalihkan pandangan.

"Kamu periksa ponsel aku?" tanya Darma dengan nada marah.

Raisa tidak bergeming, terus menatap tajam ke arah Darma.

"Kamu belum jawab pertanyaan aku, Mas," kata Raisa tegas, meminta penjelasan.

"Ngapain kamu buka HP aku?" Darma masih enggan menjawab pertanyaan Raisa.

"Lho, kok jadi kamu yang marah, Mas?" Raisa heran mendengar ucapan suaminya.

"Aku juga punya privasi, walau kamu istri aku. Kamu nggak bisa seenaknya buka HP aku," ungkap Darma, mulai berani menatap Raisa.

"Selingkuh itu yang kamu maksud dengan privasi?" ungkap Raisa, membuat Darma gelagapan.

"Selingkuh apa?" sahut Darma, berusaha terlihat berani meski kekikukan terlihat jelas dari ucapannya.

"Sudah lah, Mas. Aku udah baca semua," ucap Raisa dengan nada bergetar.

Darma bingung, mencari alasan.

"Dia cuma teman aku!" Darma masih mengelak, meski sudah tertangkap basah.

"Eugh..."

Raisa menatap Darma, mulai menangis. Darma mendekat.

"Keadaan kita baik-baik saja sebelum kamu buka ponsel aku," ucap Darma, tetap tidak mau disalahkan.

"Seharusnya kamu nggak perlu tahu," Darma tampak egois, menatap Raisa tanpa rasa penyesalan.

Raisa membalas tatapan Darma dengan tajam. Dia tidak menyangka Darma akan mengatakan hal itu padanya.

"Bahkan keluarga mu sudah tahu, Mas," ucap Raisa, Darma mengalihkan pandangannya.

"Itu tidak akan terjadi lagi," ungkap Darma seraya memeluk Raisa. Dia tidak ingin Raisa membahas ini terus menerus.

"Kamu dan Adam selalu menjadi prioritas aku," ucap Darma lagi, masih memeluk istrinya.

"Apa salah aku, Mas?" Raisa masih terisak.

"Sayang, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak berpikir panjang," ucap Darma sambil menatap wajah Raisa.

Raisa bisa merasakan ucapan Darma tidak tulus. Tatapannya berbeda, hatinya tidak lagi bersamanya.

"Aku janji aku akan mengakhiri semuanya. Kamu percaya sama aku kan?" tanya Darma meyakinkan.

Raisa menatap Darma ragu, lalu mengangguk pelan. Dia pikir akan percuma meneruskan masalah ini.

"Terima kasih, Sayang. Tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu dan Adam," ucap Darma lagi, mengecup kening Raisa.

"Kamu nggak bisa digantikan siapapun," ucap Darma menatap Raisa dalam.

Darma mulai mengecup bibir Raisa beberapa kali, lalu melumatnya, mendorong tubuh Raisa ke sofa.

"Mas, aku nggak bisa..." ungkap Raisa, mendorong tubuh Darma.

Namun Darma tidak berhenti, terus menciumi Raisa.

"Nggak, Mas!!!"

Raisa tahu pikiran suaminya sudah tidak lagi padanya. Darma melakukan itu hanya karena merasa bersalah.

"Sayang, aku ada dinas keluar kota satu minggu," kata Darma. Raisa memilih diam, meski hatinya berkata ini hanya akal-akalan suaminya untuk bersama selingkuhannya.

"Aku akan siapkan koper mu," ungkap Raisa, beranjak pergi meninggalkan Darma.

Batin Raisa berkecamuk. Dia mulai curiga lagi, namun mencoba menyimpannya dalam hati. Dia terus gelisah sepanjang hari itu. Tidak bisa berpikir apapun selain mengingat chat mesra antara suaminya dan Pratiwi Insani.

Walaupun begitu, Raisa tetap menyiapkan keperluan Darma. Dia memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper yang akan Darma bawa untuk dinas keluar kota, seperti yang dia katakan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Yang Kembali The And...

    Pagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Di Tukar Dengan Jiwa

    Hujan turun deras malam itu, seolah kota sedang mencuci dosanya sendiri.Pintu rumah sakit jiwa terbuka paksa. Alarm sempat berbunyi, tapi tak ada yang cukup cepat menghentikan Pratiwi. Rambutnya terurai acak, matanya kosong.namun di balik kekosongan itu, ada satu tujuan yang menyala terang.“Mas Darma…” gumamnya berulang, seperti doa yang salah alamat.“Kamu menghacurkan hidup ku.”Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung perkantoran elit, Darma duduk santai di ruang meeting privat. Jasnya rapi, senyumnya terlatih. Di seberangnya, seorang perempuan cantik investor atau calon mangsa, tak ada bedanya bagi Darma.“Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua,” kata Darma lembut. “Saya selalu memastikan partner saya merasa aman.”Perempuan itu tersenyum. “Anda memang… meyakinkan.”Darma terkekeh kecil. “Itu kelebihan saya.”Pintu ruangan terbuka perlahan tak ada yang curiga.Pratiwi melangkah masuk. Gaunnya kusut, napasnya teratur terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya hancur.Da

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Rahasia Digta Yang Terungkap

    Ruang ICU itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Digta terbaring tak bergerak. Selang-selang menempel di tubuhnya, mesin berdetak pelan seolah menggantikan napas dan detak jantungnya. Wajahnya pucat, jauh dari Digta yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali.Di luar ruangan, Raisa duduk terpaku. Tangannya menggenggam tas erat-erat, matanya kosong. Sejak ambulans membawanya pergi, dunia Raisa seperti berhenti bergerak.Langkah kaki mendekat.“Cha…”Raisa menoleh. Bambang berdiri di hadapannya, wajahnya lelah, matanya merah.“Bang…” suara Raisa serak. “Digta kenapa?” Tanya Bambang.Raisa menghela napas panjang. “Koma. Dokter bilang… kita cuma bisa nunggu.” Bambang menunduk ,Raisa terdiam, Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.“Pelakunya?” tanya Bambang pelan.“Masih dicari,” jawab Raisa. “Mobilnya kabur.” sabung Raisa.Hening jatuh di antara mereka. Suara mesin ICU terdengar makin nyaring.“Cha,” Bambang duduk di samping Raisa. “Ada

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kejutan Yang Gagal

    Warung kopi itu hampir kosong. Hujan rintik jatuh pelan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan atau justru menekan. Digta duduk berhadapan dengan Bambang, menatap cangkir kopi yang sudah dingin.“Jadi,” Bambang memecah keheningan, “Lu nggak jadi jujur sama Raisa, Ta?”Digta menggeleng. “Nggak gue sengaja.”“Kenapa?”“Gue takut,” jawab Digta jujur. “Kalau gue jujur sama dia sekarang, gue takut kehilangan dia,.”Bambang menyandarkan badan. “Berarti lu serius cinta sama dia ta,”Digta mengangkat wajahnya. “Aku mau lamar dia, Bang.”Bambang terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya.”“Tapi gue masih merahasiakan,” lanjut Digta. "Raisa nggak tahu apa-apa.”“Cincin?”“Sudah gue siapin” Digta mengangguk. “Aku mau yang sederhana. Bukan mahal, tapi niatnya jelas.”Bambang tertawa kecil. ”Kalau butuh bantuan bilang,"Digta menggeleng pelan. “Nggak. Kali ini biar gue persiapkan sendiri.”Bambang menatapnya lebih serius. “Lu yakin dengan keputusan ini?”Digta menarik n

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Dosa Yang Tak Termaafkan

    Mengetahui latar belakang keluarga Digta justru tidak membuat Darma mundur.Sebaliknya itu membakar sesuatu di dalam dirinya.Ayah Digta seorang diplomat pensiunan. Nama keluarga yang bersih jejaring yang luas kehormatan yang tidak bisa dibeli.Darma menatap berkas-berkas di mejanya dengan mata gelap.“Kalau itu standar yang dia punya,” gumamnya, “maka aku harus jauh di atas itu.”Dan sejak saat itu, batasan moral tidak lagi berarti apa-apa bagi Darma, dia mulai bermain kotor.Angka-angka keuangan dimanipulasi dana dialihkan. Proyek fiktif dibuat rapi seolah nyata semua dilakukan dengan tenang, sistematis menggerogoti perusahaan milik ayah Pratiwi dari dalam, sedikit demi sedikit. Sampai suatu pagi, kekacauan itu pecah.“Pak… dana investasi hilang,” suara direktur keuangan gemetar di ujung telepon.“Hilang bagaimana?” bentak ayah Pratiwi.“Jumlahnya… besar, Pak.”Telepon itu jatuh dari tangan lelaki tua itu beberapa jam kemudian, dia terbaring di rumah sakit dia terkena serangan jantu

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Obsesi Yang Nggak Sehat

    Hubungan Darma dan Pratiwi berjalan pincang.Pratiwi berjuang sendirian menata rencana pernikahan, menjaga citra, merawat masa depan yang seharusnya mereka bangun bersama. Sementara Darma, tubuhnya hadir di sisinya, tetapi pikirannya tersesat jauh. Setiap senyum Pratiwi terasa tak lagi ia lihat setiap kata yang Pratiwi ucapkan menguap sebelum benar-benar didengar.Karena di ruang terdalam kepalanya, nama lain terus bergaung Raisa.Obsesi itu tumbuh diam-diam, tanpa sepengetahuan Pratiwi bukan sekadar rasa penasaran, melainkan kebutuhan untuk memahami lalu menguasai.Dan ketika penolakan demi penolakan tak mematahkan niatnya, Darma melangkah lebih jauh.dia mulai memata-matai bukan Raisa lagi, melainkan Digta.Data demi data dikumpulkan seperti potongan puzzle alamat lama, riwayat Digta, hingga silsilah keluarga. Darma membaca semuanya dengan teliti, seolah mencari celah atau pembenaran.Ayah Digta, seorang diplomat yang telah pensiun.terhormat Berpengaruh.Digta, anak kedua dari dua

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kehilangan Adam

    "Adam, jangan!" Raisa sontak berteriak, melihat Adam lepas dari dekapannya.Adam Berlari mengejar mobil Darma, Raisa berlari sekencang-kencangnya, berusaha mengejar Adam."Ayah..." Adam berteriak, masih berlari mengejar mobil ayahnya."Adam, jangan!" Raisa masih berusaha mengejar, namun Adam berlar

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Tamu Pembawa Luka

    6 Bulan Setelah Sidang Perceraian...Raisa duduk bersantai di sofa empuk, matanya terpaku pada layar televisi. Di sampingnya, Adam, buah hatinya, tertawa riang menikmati kartun kesukaannya.Mbok Inah, dengan telaten, menata sarapan di atas meja, aroma nasi kuning yang menggugah selera memenuhi udar

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Sudah Tak Ada Hati

    "Mas Darma kok belum pulang juga, ya?" gumam Raisa, jarinya lincah memeriksa layar ponselnya."Chat juga nggak dibaca. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi?""Kamu ke mana sih, Mas?" Raisa mulai menggerutu, kecemasan mulai merayapi hatinya.Perasaan tidak enak mulai menghantuinya, membisikkan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Perpisahan

    Seketika, keheningan ruangan sidang pecah. Semua pasang mata tertuju pada satu titik. "Raisa Swandi, umur 35 tahun, beralamat di Jalan... " Suara hakim menggema, namun terasa begitu jauh dan samar di telinga Raisa. "Sebelas tahun, sebelas tahun aku mengabdikan diriku untuknya, untuk keluarga ini.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status