共有

Sudah Tak Ada Hati

作者: Takehiro
last update 公開日: 2026-03-20 04:24:16

"Mas Darma kok belum pulang juga, ya?" gumam Raisa, jarinya lincah memeriksa layar ponselnya.

"Chat juga nggak dibaca. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi?"

"Kamu ke mana sih, Mas?" Raisa mulai menggerutu, kecemasan mulai merayapi hatinya.

Perasaan tidak enak mulai menghantuinya, membisikkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuatnya semakin gelisah.

Namun, penantiannya akhirnya membuahkan hasil. Dari kejauhan, dia mendengar suara familiar, suara seseorang membuka pagar rumahnya. Raisa terperanjat, jantungnya berdegup kencang.

"Mas Darma!" seru Raisa dengan nada lega bercampur rindu, bergegas menghampiri suaminya. Dia menyambut kedatangan Darma dengan senyuman yang dipaksakan, matanya tampak sayu dan lelah.

"Baru pulang, Mas?" sapa Raisa lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang masih menggelayuti hatinya.

Dengan wajah dingin tanpa ekspresi, Darma menatap Raisa yang sudah menunggunya sejak sore. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan hangat, hanya tatapan kosong yang menusuk.

"Kamu belum tidur?" tanya Darma dengan nada dingin dan datar, lalu melengos masuk ke dalam rumah, seolah Raisa hanyalah hantu yang tak terlihat.

"Belum, Mas. Aku sengaja nungguin kamu," jawab Raisa, berusaha tetap tegar meski hatinya terasa perih.

"Kok baru pulang, Mas?" tanya Raisa lagi, mencoba mencairkan suasana yang terasa kaku.

Darma terdiam, tatapannya kosong dan dingin. Dia masih enggan menjawab pertanyaan Raisa. Wajahnya tampak kesal dan lelah.

"Mas!" panggil Raisa seraya mengejar Darma, berusaha menghentikannya.

"Aku capek, kamu nggak usah banyak nanya," ucap Darma ketus, seraya mengambil handuk dari gantungan dan berjalan menuju kamar mandi. Nada bicaranya terdengar kasar dan tidak sabar.

"Kamu mau mandi?" tanya Raisa penasaran, heran karena Darma tidak memintanya menyiapkan air panas seperti biasanya.

"Ya, terserah aku lah! Kamu kok jadi banyak nanya sih?" celetuk Darma dengan nada membentak, seraya membanting pintu kamar mandi dengan keras.

"Astaga, Mas!" ucap Raisa kaget, jantungnya berdegup kencang karena terkejut.

Kemudian, dia masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai, lalu duduk termenung di tepi ranjang.

Raisa mencoba memejamkan matanya, namun tiba-tiba dia mendengar suara Darma berbicara dengan seseorang di telepon.

"Iya, jangan khawatir, aku udah sampai kok. Ini aku baru selesai mandi," suara Darma terdengar sangat lembut dan penuh perhatian, sangat berbeda dengan nada bicaranya saat berbicara dengannya.

"Biarin aja lah kalau sampai dia denger, aku udah nggak peduli," kata Darma lagi, bahkan tidak berusaha mengecilkan suaranya.

"Kamu juga istirahat ya, jangan tidur malam-malam."

"Sampai jumpa besok."

"I love you, much."

Sepertinya percakapan itu telah berakhir dan sekarang suasana tampak hening.

Deg ...

Jantung Raisa terasa sesak, dadanya terasa seperti dihimpit beban berat. Rasanya dia ingin meledakkan amarahnya, meluapkan semua kekecewaan dan sakit hati yang selama ini dia pendam.

Di ruang tengah, Darma tampak asyik memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri, seolah tidak ada masalah apa pun yang terjadi.

"Mas, aku mau bicara," ungkap Raisa dengan nada kesal, menatap Darma yang sedang tiduran di atas sofa.

"Besok saja ya, aku sedang sibuk," ucap Darma dengan nada malas, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Raisa yang berdiri di hadapannya.

"Sibuk chatting sama selingkuhan kamu?" celetuk Raisa kontan, membuat Darma menghentikan kegiatannya dan menatapnya dengan tatapan tajam.

"Kamu tuh kenapa cerewet banget sih?" tanya Darma dengan nada kesal, tidak suka dengan pertanyaan Raisa.

Raisa melongo mendengar ucapan Darma, hatinya semakin hancur berkeping-keping.

Napas Raisa semakin berat melihat tingkah Darma yang semakin berani menunjukkan kalau dia sedang berselingkuh. Dia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

"Aku mau ngomong sama Tiwi, selingkuhan kamu itu!" ucap Raisa dengan nada sedikit agak tinggi, matanya menantang Darma. Mata Darma langsung melotot ke arah Raisa, menunjukkan kemarahannya.

"Awas saja kalau kamu berani macam-macam sama dia!" sahut Darma dengan nada mengancam, dia masih melotot menatap Raisa.

"Emang kenapa?: tanya Raisa dengan nada sedikit tinggi.

"Ya, aku nggak suka aja! Kamu nggak berhak ikut campur urusanku!" ucap Darma sambil mengangkat kepalanya, menatap Raisa dengan tatapan meremehkan.

"Mas, apa sih alasan kamu selingkuhin aku?"

"Kamu mau tahu alasannya?"

"Iya, aku mau dengar alasan kamu! Aku berhak tahu kenapa kamu tega menghancurkan pernikahan kita!"

"Kamu itu membosankan! Aku jenuh dengan pernikahan kita! Setiap hari aku harus melihat wajahmu yang itu-itu saja!" celetuk Darma dengan entengnya mengatakan itu tanpa memperdulikan perasaan Raisa.

"Cuman karena jenuh kamu selingkuh, Mas?" tanya Raisa, suaranya mulai bergetar menahan tangis.

"Tiwi itu bisa ngertiin aku! Dia jauh lebih baik dari kamu! Dia selalu ada buat aku, dia selalu membuatku bahagia!" sahut Darma membuat Raisa tersentak, tidak bisa berkata-kata lagi.

"Kamu ngebandingin aku dengan wanita murahan itu? Kamu nggak punya hati!" dengan gemetar Raisa coba berbicara menimpali omongan Darma.

"Jangan pernah katakan itu lagi! Kalau tidak, aku akan..." Raisa hampir tidak bisa bernapas karena tercekik, lehernya terasa sakit dan sesak.

"Akan apa? Kamu mau menyakitiku? Silakan saja, aku sudah tidak peduli!" ucap Raisa dengan suara yang bergetar, sedang tangan Darma masih mencengkram leher Raisa dengan kuat.

"Aku sudah muak dan jijik sama kamu, Raisa! Kamu tuh seperti benalu! Apalagi setelah orang tua kamu nggak ada, kamu jadi semakin tidak berguna!" mata Raisa membelalak ke arah Darma,Selama 11 tahun ini, Darma tidak pernah memanggil namanya, selalu dengan sebutan sayang.

"Tiwi itu buat aku bahagia! Dia juga bisa mengambil hati Mamah dan Maudy! Dia anak dari Pak Sumardi, CEO dari perusahaan F&B!" ucap Darma membuat Raisa menangis histeris, Raisa tampak lemas kehabisan napas sekarang.

"Aku cuman ingin bahagia! Aku cuman mau Maudy dan Mamah bahagia! Apa itu salah?" teriak Darma dengan nada frustrasi.

"Gimana sama kebahagiaan aku dan Adam? Apa kami tidak penting buat kamu?" ucap Raisa dengan suara lirih.

Beberapa saat kemudian, dia mulai mengamuk lagi, membanting beberapa barang yang ada di sekitarnya. Suara bising itu membuat Adam terbangun dari tidurnya.

"Berisik! Adam mau tidur!" teriak Adam dengan polosnya, hal itu membuat Raisa menghampiri Darma agar dia berhenti membanting barang-barang yang ada di rumah itu.

"Mas, udah Mas! Jangan berisik, ada Adam!" ucap Raisa mencoba menenangkan Darma.

Darma malah semakin marah dan emosi, spontan saja Darma mengangkat tangannya...

Plak...

Darma menampar Raisa dengan sangat keras, pipinya terasa panas dan perih.

Mata Darma masih melotot menatap Raisa dengan tatapan penuh amarah.

"Mas!" ucap Raisa syok, tidak percaya Darma tega melakukan itu padanya.

Tanpa mereka sadari, Adam melihat adegan itu. Dia berdiri tidak jauh dari hadapan mereka, dengan wajah ketakutan.

"Ayah jahat!" teriak Adam sambil berlari menghampiri Darma, kemudian Adam menyerang Darma dengan menggigit tangannya.

"Adam!" teriak Darma sambil mendorong Adam dengan kasar, Adam pun tersungkur ke lantai, kemudian dia tantrum mulai berteriak histeris.

"Ayah jahat... Ayah jahat..." sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Melihat hal itu, Darma semakin kalut dan panik.

"Aku sudah muak dengan kalian berdua!" kata Darma sambil beranjak meninggalkan Raisa dan Adam yang menangis.

Darma tampak masuk ke dalam kamar, mengambil koper dan mengemasi beberapa barangnya. Melihat hal itu, Raisa menghampiri Darma, berusaha menghentikannya.

"Mau kemana, Mas? Jangan pergi, Mas!" tanya Raisa berusaha mencegah Darma pergi.

"Ini kan yang kamu inginkan? Bikin aku nggak nyaman di rumah ini? Sekarang aku pergi, kamu puas?" kata Darma sedikit membentak dengan nada suara yang tinggi.

"Mas, bukan begini caranya! Jangan pergi, Mas! Adam butuh kamu!" ucap Raisa berusaha menenangkan Darma.

"Ayo kita bicara baik-baik demi Adam, Mas! Jangan hancurkan keluarga kita!" kata Raisa lagi, memohon pada Darma agar tidak pergi.

"Apa yang mau kita bicarakan lagi, Raisa? Semuanya sudah jelas! Aku sudah tidak cinta lagi sama kamu!" Mata Darma menatap Raisa dalam-dalam sekarang, tatapan yang tidak lagi memancarkan cinta.

"Aku merasa bahagia dan nyaman di samping Tiwi! Dia bisa memuaskan aku, apa kamu bisa memuaskan aku saat usiamu sudah tua? Warisanmu juga sudah habis!" ungkap Darma sekarang nada bicaranya sudah mulai turun, namun kata-katanya tetap menyakitkan.

Padahal, seluruh warisan Raisa dipakai untuk membangun bisnis Darma, dia rela berkorban demi kebahagiaan suaminya.

"Saat berhubungan seks dengannya, aku tak harus menonton film porno! Dia selalu bisa membuatku bergairah!" kata-kata itu keluar dari mulut Darma dengan ringan tanpa rasa malu, tanpa memikirkan perasaan Raisa.

"Sebegitu tidak berseleranya aku sama kamu? Itu yang ingin kamu dengar? Baiklah, aku sudah mengatakannya!" Raisa sekarang terdiam mendengar ucapan Darma, hatinya hancur berkeping-keping.

"Aku benar-benar tak mengenalmu lagi, Mas," ucap Raisa lirih menatap Darma dengan tatapan kosong.

"Cukup, Raisa! Aku mau pulang ke rumah Mamahku! Aku sudah tidak tahan lagi hidup bersamamu!" sahut Darma pelan, namun kata-katanya menusuk jantung Raisa.

"Semua orang bisa berubah, Raisa! Dan aku sudah berubah! Aku bukan lagi Darma yang dulu kamu kenal!" ucap Darma lagi, berusaha meyakinkan Raisa.

"Mas, aku sudah mendampingimu selama 11 tahun! Kita sudah melewati banyak hal bersama!" Raisa mencoba menyelami perasaan Darma, barang kali ada sedikit cinta yang tersisa untuknya.

"Ya, dan itu sangat melelahkan, Raisa! Berpura-pura menjadi suami yang baik, berpura-pura mencintaimu!" ucap Darma nada suaranya sedikit bergetar, menunjukkan penyesalannya.

"Ibu ku benar, seharusnya aku meninggalkanmu beberapa tahun yang lalu! Aku sudah salah memilihmu!" sambung Darma lagi seraya menutup kopernya kemudian beranjak dari hadapan Raisa.

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar meninggalkan garasi rumah itu. Darma pergi meninggalkan Raisa dan Adam.

Raisa masih terdiam, dia hanya menangis sesegukan, kemudian dia menghampiri Adam yang tampak merintih menangisi kepergian Darma, Ayahnya.

Mata Adam sekarang tampak memperhatikan Raisa, Ibunya.

"Mamah, Ayah pergi karena Adam nakal ya? Adam minta maaf," tanya Adam lembut, itu membuat hati Raisa semakin terluka.

"Nggak sayang, Ayah cuman mau ke rumah Nenek, nanti juga pulang kok," ungkap Raisa tersenyum sambil memeluk Adam erat-erat.

Hati Raisa benar-benar hancur saat ini, dia terus memeluk Adam dengan keterbatasannya, Adam mencoba menenangkan Mamahnya dengan mengelus kepala Raisa dan mengusap air matanya.

"Mamah jangan nangis, Adam baik, Adam pinter, Adam nggak nakal," celetuk Adam membuat air mata Raisa tak berhenti mengalir.

Dan di hari-hari berikutnya, Raisa setiap malam duduk di dekat jendela menantikan suaminya pulang ke rumah, namun hal itu tak pernah terjadi.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Yang Kembali The And...

    Pagi itu langit cerah, seolah tahu hari ini bukan hari biasa.Pernikahan Digta dan Raisa berlangsung sederhana di sebuah taman kecil. Tanpa kemewahan berlebihan, tanpa sorotan berlebihan—hanya keluarga dan sahabat terdekat yang benar-benar mengenal mereka.Digta berdiri gugup di bawah lengkungan bunga putih. Jasnya rapi, tapi tangannya dingin.“Ta,” bisik Bambang di sampingnya sambil menyenggol pelan, “santai. Ini bukan sidang skripsi.”Digta tertawa kecil. “Gue deg-degan.”“Bagus,” sahut Bambang. “Artinya lo serius.”Tak jauh dari sana, Diana berdiri bersama suaminya. Ia tersenyum melihat Digta.“Dari dulu kelihatan kalem,” kata Diana pelan, “ternyata paling nekat soal cinta.”Suaminya mengangguk. “Yang kayak gini biasanya setia.”Di barisan kursi tamu, Wawan menggendong bayi kecilnya yang terus mengoceh.“Eh, jangan nangis dulu,” bujuknya panik. “Om Digta lagi mau nikah.”Istrinya terkekeh. “Tenang, dia tepuk tangan juga nanti.”Yanto duduk santai di belakang, merangkul pacarnya yan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Jiwa Di Tukar Dengan Jiwa

    Hujan turun deras malam itu, seolah kota sedang mencuci dosanya sendiri.Pintu rumah sakit jiwa terbuka paksa. Alarm sempat berbunyi, tapi tak ada yang cukup cepat menghentikan Pratiwi. Rambutnya terurai acak, matanya kosong.namun di balik kekosongan itu, ada satu tujuan yang menyala terang.“Mas Darma…” gumamnya berulang, seperti doa yang salah alamat.“Kamu menghacurkan hidup ku.”Beberapa jam kemudian, di sebuah gedung perkantoran elit, Darma duduk santai di ruang meeting privat. Jasnya rapi, senyumnya terlatih. Di seberangnya, seorang perempuan cantik investor atau calon mangsa, tak ada bedanya bagi Darma.“Kerja sama ini akan menguntungkan kita berdua,” kata Darma lembut. “Saya selalu memastikan partner saya merasa aman.”Perempuan itu tersenyum. “Anda memang… meyakinkan.”Darma terkekeh kecil. “Itu kelebihan saya.”Pintu ruangan terbuka perlahan tak ada yang curiga.Pratiwi melangkah masuk. Gaunnya kusut, napasnya teratur terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya hancur.Da

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Rahasia Digta Yang Terungkap

    Ruang ICU itu dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati.Digta terbaring tak bergerak. Selang-selang menempel di tubuhnya, mesin berdetak pelan seolah menggantikan napas dan detak jantungnya. Wajahnya pucat, jauh dari Digta yang selalu terlihat tenang dan penuh kendali.Di luar ruangan, Raisa duduk terpaku. Tangannya menggenggam tas erat-erat, matanya kosong. Sejak ambulans membawanya pergi, dunia Raisa seperti berhenti bergerak.Langkah kaki mendekat.“Cha…”Raisa menoleh. Bambang berdiri di hadapannya, wajahnya lelah, matanya merah.“Bang…” suara Raisa serak. “Digta kenapa?” Tanya Bambang.Raisa menghela napas panjang. “Koma. Dokter bilang… kita cuma bisa nunggu.” Bambang menunduk ,Raisa terdiam, Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.“Pelakunya?” tanya Bambang pelan.“Masih dicari,” jawab Raisa. “Mobilnya kabur.” sabung Raisa.Hening jatuh di antara mereka. Suara mesin ICU terdengar makin nyaring.“Cha,” Bambang duduk di samping Raisa. “Ada

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kejutan Yang Gagal

    Warung kopi itu hampir kosong. Hujan rintik jatuh pelan di luar, menimbulkan suara ritmis yang menenangkan atau justru menekan. Digta duduk berhadapan dengan Bambang, menatap cangkir kopi yang sudah dingin.“Jadi,” Bambang memecah keheningan, “Lu nggak jadi jujur sama Raisa, Ta?”Digta menggeleng. “Nggak gue sengaja.”“Kenapa?”“Gue takut,” jawab Digta jujur. “Kalau gue jujur sama dia sekarang, gue takut kehilangan dia,.”Bambang menyandarkan badan. “Berarti lu serius cinta sama dia ta,”Digta mengangkat wajahnya. “Aku mau lamar dia, Bang.”Bambang terdiam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Akhirnya.”“Tapi gue masih merahasiakan,” lanjut Digta. "Raisa nggak tahu apa-apa.”“Cincin?”“Sudah gue siapin” Digta mengangguk. “Aku mau yang sederhana. Bukan mahal, tapi niatnya jelas.”Bambang tertawa kecil. ”Kalau butuh bantuan bilang,"Digta menggeleng pelan. “Nggak. Kali ini biar gue persiapkan sendiri.”Bambang menatapnya lebih serius. “Lu yakin dengan keputusan ini?”Digta menarik n

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Dosa Yang Tak Termaafkan

    Mengetahui latar belakang keluarga Digta justru tidak membuat Darma mundur.Sebaliknya itu membakar sesuatu di dalam dirinya.Ayah Digta seorang diplomat pensiunan. Nama keluarga yang bersih jejaring yang luas kehormatan yang tidak bisa dibeli.Darma menatap berkas-berkas di mejanya dengan mata gelap.“Kalau itu standar yang dia punya,” gumamnya, “maka aku harus jauh di atas itu.”Dan sejak saat itu, batasan moral tidak lagi berarti apa-apa bagi Darma, dia mulai bermain kotor.Angka-angka keuangan dimanipulasi dana dialihkan. Proyek fiktif dibuat rapi seolah nyata semua dilakukan dengan tenang, sistematis menggerogoti perusahaan milik ayah Pratiwi dari dalam, sedikit demi sedikit. Sampai suatu pagi, kekacauan itu pecah.“Pak… dana investasi hilang,” suara direktur keuangan gemetar di ujung telepon.“Hilang bagaimana?” bentak ayah Pratiwi.“Jumlahnya… besar, Pak.”Telepon itu jatuh dari tangan lelaki tua itu beberapa jam kemudian, dia terbaring di rumah sakit dia terkena serangan jantu

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Obsesi Yang Nggak Sehat

    Hubungan Darma dan Pratiwi berjalan pincang.Pratiwi berjuang sendirian menata rencana pernikahan, menjaga citra, merawat masa depan yang seharusnya mereka bangun bersama. Sementara Darma, tubuhnya hadir di sisinya, tetapi pikirannya tersesat jauh. Setiap senyum Pratiwi terasa tak lagi ia lihat setiap kata yang Pratiwi ucapkan menguap sebelum benar-benar didengar.Karena di ruang terdalam kepalanya, nama lain terus bergaung Raisa.Obsesi itu tumbuh diam-diam, tanpa sepengetahuan Pratiwi bukan sekadar rasa penasaran, melainkan kebutuhan untuk memahami lalu menguasai.Dan ketika penolakan demi penolakan tak mematahkan niatnya, Darma melangkah lebih jauh.dia mulai memata-matai bukan Raisa lagi, melainkan Digta.Data demi data dikumpulkan seperti potongan puzzle alamat lama, riwayat Digta, hingga silsilah keluarga. Darma membaca semuanya dengan teliti, seolah mencari celah atau pembenaran.Ayah Digta, seorang diplomat yang telah pensiun.terhormat Berpengaruh.Digta, anak kedua dari dua

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Penghianatan

    14 Bulan Sebelum Sidang Perceraian. "Ah... ah... agh, Mas..." Desahan Pratiwi menggema, membakar gairah Darma. "Aghh... sayang..." Darma membalas, napasnya memburu. Gerakannya semakin cepat, membawa mereka ke puncak kenikmatan. "Aghh.... aaah..." Darma ambruk di samping Pratiwi. Mereka bertatapa

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Gramedia Part 2

    Sekarang, dia bisa mencari komik tanpa takut berpapasan dengan Digta dan Diana. Raisa melenggang menuju tempat buku-buku komik berada, tiba di sana dengan perasaan senang."Hmm, Naruto," Langsung saja Raisa melihat dan memilih beberapa buku komik."Kayaknya nggak, bukan Naruto,""Eugh, Eljiro Saito

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Kesempatan Kedua

    Kembalikan anakku!" ungkap Raisa sedikit histeris, suaranya memecah kesunyian malam. Air mata Raisa mengalir deras, hatinya begitu hancur, masa-masa bahagia itu kini berubah menjadi kenangan yang menyesakkan.Sekarang, Adam sudah tak ada lagi. Dia meninggalkan Raisa untuk selama-lamanya, menyisakan

  • Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)   Luka Yang Tak Bisa Sembuh

    Raisa Termenung melamun duduk di tepi tempat tidurnya,Raisa masih terkurung dalam kamarnya, sebuah penjara sunyi yang dipenuhi bayang-bayang masa lalu. Dia hanya bisa termenung, larut dalam lautan kesedihan yang tak bertepi."Auuuu....""Auuuu...."Lolongan anjing itu memecah keheningan menambah ke

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status