LOGIN
Kyoto menyambut Ellea dengan udara dingin yang menusuk tulang. Benar kata Abraham, hunian ini jauh lebih mewah dari sekadar sangkar emas. Sebuah penthouse di pusat kota dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang langsung menghadap ke arah Kuil Kiyomizu-dera di kejauhan. Segala fasilitas tersedia, namun rasa jengah tetap menyelimuti hati Ellea.Sudah tiga hari ia berada di sana. Abraham sangat sibuk dengan urusan bisnis yang tak pernah dijelaskan secara gamblang. Karena bosan setengah mati, Ellea memutuskan untuk keluar. Ia mengabaikan peringatan pengawal pribadi yang berjaga di depan pintu dan memilih berjalan-jalan di sekitar area Gion, mengenakan coat bulu tebal untuk menutupi tubuh ringkihnya."Kyoto memang cantik, tapi tetap saja rasanya hampa," gumam Ellea sambil menatap aliran sungai Kamo yang tenang.Langkah kaki Ellea terhenti saat melihat sosok pria yang sangat familiar sedang berdiri di depan sebuah kedai teh tradisional. Pria itu mengenakan trench coat cokelat, nampak
Suasana di ruang tamu keluarga Tanjung mendadak senyap, seolah oksigen ditarik paksa dari ruangan itu. Pertanyaan Elang yang bernada tantangan itu memukul telak harga diri Hendrik. Zia sendiri masih terpaku, tangannya gemetar hebat. Ia merasa menang karena Elang berlutut, tapi kata-kata "menghilangkan harkat dan martabat" itu terasa seperti tamparan yang menghinanya secara halus. "Kau gila, Elang!" desis Hendrik dengan suara rendah yang berbahaya. "Kau pikir pernikahan itu barang dagangan yang bisa kau tawar sesukamu?" Elang tertawa santai, merapikan setelan jasnya yang sedikit kusut karena tarikan sang ayah. "Lho, bukannya memang begitu cara kerja keluarga ini? Semuanya demi bisnis, kan? Kalau Ellea gagal jadi tumbal untuk Abraham Smith, kenapa tidak aku saja yang segera meresmikan 'bisnis' ini dengan Zia?" Zia akhirnya bersuara, suaranya melengking karena emosi. "Cukup, Elang! Aku tidak mau menikah dengan pria yang menganggapku sebagai beban atau sekadar transaksi!" "Tapi kau
"Non Ellea kami di suruh Tuan Abraham untuk membantu Nona berkemas." Dua pelayan memasuki kamar Ellea dengan menyeret satu koper berukuran sedang."Memang saya mau di suruh kemana?" tanya Ellea yang dibalas gelengan kepala oleh dua pelayan tersebut.'Apa Pria tua itu sungguh-sungguh ingin mengirimku ke Bandung? Dan kembali bersama Kak Ale?' Ellea menduga-duga.'Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin pria itu bisa bertindak semaunya seperti ini kepada dirinya.'Dan saking penasarannya ia bangkit dari atas tempat tidurnya untuk menemui Abraham langsung. Sayang aksinya itu terhalang oleh bodyguard yang berjaga di depan kamar pribadi Abraham."Ada perlu apa, Nona? Tuan sedang tidak bisa diganggu.""Aku ingin bertemu dan bicara dengannya. Jadi, buka pintu dan biarkan aku masuk.""Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah dari Tuan jika tidak ada yang boleh masuk ke kamar beliau.""Tapi aku calon istrinya, bukan orang lain lagi bagi Tuanmu itu!" Ellea tetap kekeh dan berusaha membuka
Tiga jari menjelang hari pernikahannya tanpa alasan yang jelas Abraham tiba-tiba membatalkan niatannya untuk menikahi Ellea. Hal itu membuat Ellea berang, entah apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Ellea sekaligus pria tua itu. Yang awalnya Abraham bernapsu sekali ingin sesegera mungkin menikahi Ellea, tapi mendekati hari H Abraham justru membatalkan niatannya. Pun dengan Ellea yang semula menolak keras bahkan sampai pada insiden kabur dari rumah, lalu diselamatkan oleh Alano dan berakhir dirinya yang tertangkap oleh anak buah Abraham. Namun kini tidak ada yang tahu akan rencana apa yang ada di kepala Ellea. Keadaan seolah terbalik bahwa kini justru Ellea lah yang begitu ingin segera dinikahi oleh pria tua julukannya.Di saat Ale dan Esta yang mendapat kabar itu merasa senang bukan main tapi tidak bagi Ellea. Gadis itu terlihat tidak suka dengan keputusan Abraham yang menurutnya tidak masuk akal olehnya.Bahkan Abraham t
Sementara di lantai dasar sebuah butik yang didatangi oleh Ellea, dua wanita yang masih tidak menyangka jika Ellea mampu mendapatkan keistinewaan dari pria tua yang sialnya terlihat begitu memuja Ellea. Keduanya jelas merasa iri, karena sampai kapan pun keduanya tidak akan pernah bisa mendapatkan perlakuan seperti yang Ellea dapatkan."Kak, jangan diam saja lah. Kita juga ingin menemui desainernya langsung seperti jalang kecil itu.""Tutup mulut sialanmu itu, Zia! Kau, segera selesaikan urusanmu di sini karena waktuku terbuang sia-sia demi untuk menuruti kemauanmu yang tidak penting ini.""Kenapa kamu marah? Bukan kah apa yang aku ucapkan itu kenyataanya, Kak. Buktinya adik kesayangan Kakak itu berbuat seperti itu, 'kan? Apa masih kurang jelas apa yang terlihat saat ini?"Tidak ingin meladeni bualan Zia, Elang memutuskan untuk kembali ke tempat semula dan disusul juga dengan Alano. Menun
"Apa bos premanmu sedang tidak di tempat?""Bu Didi ada di ruangnya, Tuan."Tanpa membalas ucapan si pegawai butik, Abraham membawa Ellea memasuki ruangan si pemilik butik. Mengabaikan dua pasang manusia yang masih berdiam diri di tempat. Dan Abraham tentu tidak sebaik itu untuk mengajak serta mereka semua.Dengan lancangnya Abraham sengaja menggunakan lift khusus untuk mengantarkannya ke ruangan yang dituju. Tidak dihiraukan larangan akan pengunjung yang tidak diperbolehkan menggunakan lift pribadi tersebut. Karena hanya sang pemiliknya lah yang punya akses untuk itu. Abraham tidak perduli, dia hanya ingin secepatnya sampai dan menemui desainer preman yang sialnya sangat terkenal itu.Ini kali pertama seorang Abraham menemui seseorang, sebab biasanya Abraham lah yang memungkinkan untuk ditemui bukan menemui. Siapa lagi kalau bukan Ellea yang perlahan tapi pasti dapat merobohkan dinding keangkuhan seorang
Tidak ada yang bisa dilakukan Ellea, selain menuruti perintah orang yang telah menolongnya. Demi apapun Ellea sudah akan kabur dan pergi dari jeratan orang yang menurutnya gila itu."Senyum El, nggak capek apa cemberut melulu.""Aku ingin pulang!"
"Bangsat! Lo ke mana aja, anjiir!" "Lo masih waras, Es? Apa kelamaan hidup di pedalaman membuat gangguan jiwa lo kumat?" "Justru elo yang enggak waras!" sulut Esta emosi dari seberang sana. "Lo kalau mau ngajak gelud,
"Elang! Apa kamu sadar siapa yang sudah kamu bawa ke sini?" Sintia, menyambut kedatangan kedua anaknya dengan raut tidak sukanya. Bahkan itu ditunjukkan Sintia, secara terang-terangan di hadapan Ellea. Mendapatkan respon penyambutan yang seperti ini, sudah membuat Ellea
"Keputusan ada di tanganmu, Elang. Jika kamu setuju kami akan membebaskan dia, dan membiarkannya pergi.""Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menikahi Zia!""Tidak masalah artinya kami harus melanjutkan pernikahan Ellea yang tertunda dulu. Bukankah







