LOGIN"Bi, tolong sampaikan ke Ayah, kalau beberapa hari ke depan Yasmin menginap di rumah sakit, ya," ucap Yasmin pelan sambil membenahi letak ransel di bahunya.
Ia menatap Ratih yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan sendu. Meski jiwanya bukan lagi milik Jasmine yang malang, Yasmin tetap membawa hati nuraninya sebagai seorang ibu dan istri yang beradab. Baginya, berpamitan bukan sekadar urusan izin, melainkan cara menjaga martabat diri di tengah keluarga yang acuh tak acuh. Apakah pesannya akan sampai, atau apakah sang ayah akan peduli, itu bukan lagi urusannya. Pilihan untuk mengabaikan atau memperhatikan sepenuhnya ada di tangan mereka. "Iya, Non. Nanti saya sampaikan ke Bapak kalau beliau sudah pulang," jawab Ratih tulus. "Terima kasih, Bi. Saya pamit. Assalamu’alaikum..." "Wa’alaikumussalam..." Selama perjalanan menuju rumah sakit, kabin mobil terasa sunyi, hanya diisi oleh suara mesin yang halus dan deru AC. Yasmin mencoba mencairkan suasana dengan berbincang ala kadarnya bersama Clara, asisten pribadi Mami Rahel. Namun, Yasmin bukan orang baru dalam membaca ekspresi manusia. Ia bisa melihat guratan keengganan di wajah Clara. Yasmin menyadari sepenuhnya; tidak mudah bagi siapa pun untuk menerima orang asing tiba-tiba masuk dan langsung menjadi majikan yang harus dilayani. Ada ego dan proses adaptasi yang belum tuntas di sana. Meski begitu, Clara tetap bekerja secara profesional, dan Yasmin sangat menghargai itu. Ia tidak ingin menambah kerumitan dengan menuntut kehangatan yang belum saatnya tumbuh. Beruntung, pekan ini perkuliahan sedang libur jeda semester pendek, memberikan Yasmin kemewahan waktu. Ia ingin memanfaatkan setiap detik untuk mempelajari dunia yang kini ia tempati. Sejujurnya, jauh di lubuk hatinya, ada rasa haru yang membuncah. Di kehidupannya yang asli, Yasmin hanyalah lulusan SMK. Bukan karena ia bodoh, tapi karena dinding tebal bernama konservatisme orang tua. "Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Ujung-ujungnya ke dapur, melahirkan, dan mengurus anak. Yang penting bisa nyenengin suami," begitu doktrin sang ayah dahulu. Yasmin hanya bisa menelan mimpinya bulat-bulat, mengubur ambisinya di balik tumpukan cucian dan bumbu dapur. Namun kini, di tubuh Jasmine, seolah Allah memberinya kunci untuk membuka pintu penjara masa lalu itu. Ini adalah kesempatan emas untuk merasakan pendidikan universitas yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Begitu memasuki kamar VVIP tempat Adrian dirawat, Yasmin segera meletakkan tas keperluannya di lemari kecil. Ia mencuci tangan hingga bersih sebelum melangkah mendekati brankar pasien. Bau antiseptik yang khas kini terasa seperti wangi perjuangan baginya. Ia duduk di kursi samping tempat tidur, menatap wajah pucat Adrian yang masih bergeming. "Assalamu’alaikum, Kak Adrian. Ini Yasmin," sapa Yasmin lembut, seolah ia sedang berbicara pada anaknya yang sedang tidur. "Sementara Yasmin yang akan menemani Kakak di sini. Mami Rahel harus mendampingi Papi Surya dinas luar kota." Ia berhenti sejenak, memandangi bulu mata Adrian yang lentik namun diam. "Kak Adrian kapan bangun? Apa mimpi di sana terlalu indah sampai Kakak enggan kembali? Segeralah bangun, Kak. Mami dan Papi sangat mengkhawatirkan mu. Yasmin ada di sofa jika Kakak butuh sesuatu atau... jika Kakak ingin bangun." Yasmin menarik diri, kembali ke sofa dan membuka laptop milik Jasmine. Begitu layar menyala, kepalanya serasa berputar melihat tumpukan file yang ada. Jasmine ternyata adalah mahasiswi prodi Manajemen semester tiga yang sangat ambisius. Gadis itu berencana menyelesaikan kuliah dalam tujuh semester saja. Yasmin menghitung dengan jemarinya yang gemetar. Untuk lulus secepat itu, Jasmine mengambil beban maksimal tujuh mata kuliah per semester dengan rata-rata tiga SKS. Artinya, dalam satu semester, ia harus menghadapi puluhan tugas harian dan belasan tugas besar. Jika ditotal secara kasar, ada hampir lima puluh tugas yang harus diselesaikan tepat waktu. "Bismillah... aku pasti bisa," gumam Nyssa menguatkan diri. Meski dulu ia adalah siswa berprestasi, otak Yasmin sudah lama tidak diasah untuk materi seberat ini. Selama bertahun-tahun, ia hanya mempelajari ulang pelajaran SD untuk membimbing anak pertamanya belajar. Kini, ia dihadapkan pada raksasa bernama Manajemen Pemasaran, Perilaku Organisasi, Hukum Bisnis, hingga Ekonomi Makro. Istilah-istilah itu terasa seperti bahasa asing dari planet lain. Dulu ia bersekolah di SMK Teknik, sebuah dunia yang sangat maskulin dan jauh berbeda dari manajemen bisnis. Namun, ketelitian seorang ibu rumah tangga yang terbiasa mengelola keuangan keluarga ternyata membantunya. Ia mulai membaca satu per satu tugas terdahulu yang tersusun sangat rapi di dalam folder Jasmine. Gadis ini benar-benar rapi; e-book, modul, dan catatan kuliah disusun berdasarkan tanggal dan urgensi. Malam kian larut. Clara sudah pamit untuk menyelesaikan urusan mendesak di luar dan baru akan kembali esok pagi. Kini, Yasmin benar-benar sendirian dengan Adrian dalam keheningan yang dalam. Setelah makan malam sederhana dan menunaikan kewajiban di masjid rumah sakit, Yasmin kembali ke kamar. Ia merapikan selimut Adrian yang sedikit bergeser dan memastikan selang infus tidak tertekuk. Ia kembali duduk di sofa, membiarkan cahaya lampu menyinari wajahnya saat ia fokus ke layar laptop. Ia sedang bergelut dengan modul "Hukum Bisnis" yang sangat teknis. Konsentrasinya begitu penuh, mencoba memahami pasal-pasal dan logika korporasi, hingga ia tak menyadari perubahan suasana di dalam ruangan tersebut. Monitor jantung di samping brankar menunjukkan irama yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Di atas bantal putih itu, kelopak mata Adrian bergetar hebat. Pelan, sangat pelan, sepasang mata itu terbuka sedikit, membiarkan cahaya ruangan masuk ke dalam kornea yang sudah lama tertutup. Pandangan Adrian masih kabur, namun indra pendengarannya sudah menangkap suara ketikan keyboard yang ritmis. Ia menggerakkan matanya ke arah sofa, di mana seorang wanita berhijab sedang duduk dengan kacamata bertengger di hidungnya, tampak sangat serius mempelajari sesuatu. Adrian merasa sangat lemah, namun rasa ingin tahunya lebih besar. Siapa wanita ini? Di mana Mami? Mengapa wanita itu terlihat begitu tulus menemaninya dalam kesunyian malam? Adrian belum mampu bersuara, tenggorokannya terasa sekering padang pasir, namun ia terus memperhatikan setiap gerak-gerik Yasmin. Ia melihat Yasmin sesekali memijat pelipisnya, lalu tersenyum kecil. Kehangatan aneh menjalar di dada Adrian. Kehadiran Yasmin di sana, dengan segala kesungguhannya, memberikan energi hidup yang selama ini hilang dari ruangan yang dingin itu. Yasmin masih belum sadar. Ia sedang menulis ringkasan materi, tanpa tahu bahwa keajaiban yang selama ini didoakan oleh Mami Rahel sedang terjadi tepat beberapa meter di depannya. Sepasang mata Adrian terus menatapnya, menjadi saksi bisu bagi jiwa pejuang seorang ibu yang kini sedang berjuang menaklukkan takdir barunya.Dua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d
Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk
Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu
Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p
Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k
Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men







