Home / Fantasi / Jiwa yang Berbeda / Kesadaran yang Terjaga dalam Hening

Share

Kesadaran yang Terjaga dalam Hening

Author: Meymei
last update Last Updated: 2026-02-19 21:07:37

Jam dinding digital di ruang VVIP itu menunjukkan pukul 23.00. Suasana rumah sakit yang biasanya sunyi kini terasa lebih mencekam bagi Adrian, yang jiwanya baru saja merangkak naik dari dasar kegelapan koma.

Di sudut ruangan, cahaya lampu meja yang temaram menyinari sosok seorang wanita yang telah terlelap dalam posisi yang mengundang rasa iba. Wanita itu terduduk di lantai, sementara kepalanya terkulai lesu di atas meja, bersandar pada lengan yang ditekuk dengan laptop di hadapannya masih menyala.

Adrian, yang sebenarnya telah mendapatkan kesadarannya secara perlahan sejak wanita itu mulai membuka laptop beberapa jam lalu, hanya mampu memperhatikannya dalam diam yang menyesakkan. Tubuhnya terasa seperti timah berat dan sulit digerakkan. Namun, akalnya sudah mulai bekerja, meski dihujani ribuan pertanyaan yang tak terjawab.

Ia merasa heran. Ia sama sekali tidak mengenal perempuan di hadapannya. Ingatan terakhirnya adalah suara decit ban yang memilukan dan hantaman keras tiang listrik saat ia membanting setir demi menghindari seorang anak kecil yang tiba-tiba menyeberang. Setelah itu, hanya ada kegelapan.

Namun, di antara sisa-sisa kesadaran yang buram selama beberapa hari terakhir, ia sempat menangkap suara lirih yang lembut, mendoakannya dengan tulus.

"Kak Adrian kapan bangun? Apa mimpi Kak Adrian terlalu indah sehingga enggan bangun? Segera bangun Kak, Mami Rahel dan Papi Surya mengkhawatirkan Kakak. Yasmin ada di sofa jika Kakak mencari Yasmin."

Yasmin? Nama itu bergema di benak Adrian. Siapa dia? Apakah dia perawat yang disewa Mami? Tapi perawat macam apa yang memanggil majikannya dengan sebutan akrab 'Mami' dan 'Papi'? Dan yang lebih membingungkan lagi, selama berjam-jam ia mengamati, wanita ini sama sekali tidak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan.

Jika ia bermaksud jahat, ia punya sejuta kesempatan saat ini. Namun, perempuan itu justru tampak sepenuhnya mengabaikan Adrian "pasien" yang seharusnya ia jaga, tapi lebih fokus pada layar laptop.

Adrian merasa sedikit terusir oleh rasa percaya dirinya sendiri.

Biasanya, perempuan mana pun akan mencari celah untuk menarik perhatiannya, apalagi dalam kondisi lemah seperti ini di mana ia tidak bisa melawan atau menghindar. Namun, Yasmin justru asyik sendiri. Ia bahkan tidur dengan posisi sembarangan tanpa memedulikan estetika wajahnya saat terlelap.

Adrian tak mengetahui bahwa status Yasmin telah berubah menjadi calon istrinya hanya dalam waktu sepuluh hari ia tak sadarkan diri. Di matanya, Yasmin hanyalah seorang gadis asing dengan cara berpakaian yang menurutnya sangat tidak lazim.

Adrian terbiasa melihat wanita-wanita sosialita di lingkaran Maminya, mereka yang berhijab modis dengan riasan wajah sempurna. Namun, Yasmin berbeda. Wanita ini mengenakan hijab lebar yang menutup dada tanpa menyisakan sehelai rambut pun. Ia mengenakan tunik panjang dengan rok di bawahnya, lengkap dengan kaos kaki dan manset tangan (handshock). Hampir mirip teroris di berita-berita, pikir Adrian dengan geli bercampur sinis.

Ia sempat menduga Yasmin mungkin sedang menonton drama yang sedang populer, seperti hobi ART di rumahnya yang sering mengabaikan pekerjaan demi melihat aktor tampan. Namun, saat melihat kerutan di dahi Yasmin saat membaca, ia sadar itu bukan drama.

Perlahan, rasa tenang menyelimuti hati Adrian. Wajah Yasmin saat tidur terlihat begitu damai, jauh dari kesan pura-pura yang sering ia temui pada wanita lain. Rasa lelah yang luar biasa akhirnya menyeret Adrian kembali ke alam mimpi, membiarkan malam itu berlalu dalam kesunyian yang dijaga oleh dua jiwa yang asing.

Sayup-sayup, saat fajar mulai menyingsing, Adrian kembali tersadar. Kali ini bukan karena suara ketikan laptop, melainkan lantunan ayat suci yang begitu merdu dan menggetarkan sanubarinya. Ia perlahan membuka mata, memiringkan kepalanya dengan susah payah, dan mendapati pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di sudut ruangan, Yasmin sedang bersimpuh di atas sajadah, masih mengenakan mukena putih bersih. Ia sedang memegang Al-Qur'an kecil, membacanya dengan tartil yang fasih. Suaranya yang rendah namun penuh perasaan seolah-olah memenuhi ruangan itu dengan cahaya. Ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Adrian saat mendengar ayat-ayat itu mengalir.

Setelah Yasmin menyelesaikan bacaannya, ia tampak sedang berdoa dengan khusyuk. Adrian bermaksud menggerakkan tangan kanannya yang tidak terpasang infus. Ia merasa seluruh badannya kaku dan ingin sedikit meregangkan otot. Namun, malang tak dapat ditolak. Karena otot-ototnya yang masih lemas akibat koma yang lama, tangannya justru tak terkendali dan menyenggol gelas air di nakas samping tempat tidur.

Prang!

Suara kaca yang pecah berantakan di lantai membelah kesunyian fajar.

Yasmin yang terkejut segera menutup mushafnya dan berdiri. Ia melangkah dengan terburu-buru ke arah brankar. Namun, baru dua langkah, ia membeku. Langkahnya terhenti seolah kakinya tertanam di lantai. Pandangannya beradu dengan sepasang mata Adrian yang kini menatapnya tajam, namun penuh kelelahan.

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya ada detak jantung mereka yang saling berpacu dalam kebingungan masing-masing.

"Kak... Kak Adrian?" bisik Yasmin lirih, suaranya bergetar antara percaya dan tidak.

Tanpa menunggu jawaban yang memang belum bisa keluar dari tenggorokan Adrian yang kering, Yasmin mendadak panik. Alih-alih memencet tombol darurat di samping brankar yang sudah tersedia, insting keibuannya dari masa lalu justru mengambil alih. Ia berbalik dan berlari secepat kilat keluar ruangan.

"Dokter! Suster! Kak Adrian sadar!" teriaknya sambil berlari di lorong rumah sakit.

Adrian yang ditinggalkan di dalam ruangan hanya bisa melongo dalam diam. Ia menatap langit-langit, lalu melirik ke arah pintu tempat Yasmin baru saja menghilang. Ia menyadari sesuatu yang konyol: wanita itu berlari keluar rumah sakit dengan masih mengenakan mukena lengkap, tanpa memedulikan penampilannya yang mungkin akan dianggap aneh oleh orang-orang di luar sana.

Padahal tinggal pencet tombol... batin Azmy. Sudut bibirnya yang kering sedikit terangkat, membentuk senyum tipis yang hampir tak terlihat.

"Lucu juga perempuan ini," bisik hatinya.

Rasa penasaran Adrian semakin membuncah. Di satu sisi, ia merasa ada martabat yang terluka karena diabaikan semalaman, namun di sisi lain, kepolosan dan ketulusan Yasmin yang tidak dibuat-buat itu perlahan mulai meruntuhkan dinding dingin yang selama ini ia bangun.

Siapa sebenarnya Yasmin? Mengapa ia ada di sini? Dan yang terpenting, mengapa hatinya yang biasanya keras tiba-tiba terasa begitu ringan hanya dengan melihat kepanikan wanita bermukena itu?

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Tim medis berdatangan dengan wajah tegang, diikuti oleh Yasmin yang tampak terengah-engah di belakang mereka. Drama baru saja dimulai, dan Adrian sadar, kehidupannya setelah bangun dari koma ini tidak akan pernah membosankan selama wanita bernama Yasmin itu ada di dekatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jiwa yang Berbeda   Antara Janji, Hasrat, dan Potongan Mimpi

    Dua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d

  • Jiwa yang Berbeda   Satu Tarikan Nafas Menuju Halal

    Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk

  • Jiwa yang Berbeda   Gaun dan Rahasia di Balik Hijab

    Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu

  • Jiwa yang Berbeda   Ada yang Terlupakan

    Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p

  • Jiwa yang Berbeda   Pelukan yang Memudar

    Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k

  • Jiwa yang Berbeda   Isakan di Balik Pintu Rahasia

    Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status