MasukDua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d
Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk
Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu
Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p
Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k
Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men







