แชร์

Luka Tak Kasat Mata

ผู้เขียน: Meymei
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-19 20:49:33

Beberapa hari telah berlalu sejak Yasmin terbangun dalam raga yang bukan miliknya.

Rutinitas barunya sebagai "Jasmine" mulai terasa akrab di kulit, meski di dalam lubuk hatinya, kehampaan tetap bertahta. Setiap kali ia menatap langit senja dari jendela kamar, kerinduan pada keluarga kecilnya membuncah tanpa permisi. Bayangan anak-anaknya yang berebut pelukan, serta wajah suaminya yang tenang saat pulang kerja, menjadi duri yang terus menusuk jiwanya.

"Bagaimana Mas menangani mereka sendirian?" bisiknya pada kegelapan malam.

Ia bertanya-tanya pada takdir; apakah raga aslinya kini telah terbujur kaku di liang lahat? Ataukah ia sedang terbaring koma, menunggu jiwanya kembali yang entah kapan? Yasmin tak punya jawaban. Ia hanya bisa bersimpuh di atas sajadah barunya, mengadukan segala sesak itu kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di setiap sujud, ia menitipkan doa perlindungan untuk anak-anaknya. Ia meyakini bahwa meski ia tak lagi di sana, Allah Maha Memberi Perlindungan dan tak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlantar.

Menariknya, perubahan drastis pada penampilannya yang kini selalu berhijab tidak memicu ledakan konflik di rumah itu. Pemilik tubuh aslinya, Jasmine, memang dikenal sebagai gadis yang pendiam, pemalu, dan sangat penurut. Tipe anak yang saking "lurusnya" hingga sering kali dianggap tidak ada. Yasmin segera menyimpulkan bahwa sejak awal, gadis ini memang sudah diabaikan oleh ayahnya.

Dari sisa ingatan yang terserap, Yasmin melihat betapa malangnya Jasmine yang asli. Gadis itu selalu berusaha melakukan semua pekerjaan rumah dengan sempurna, menjaga nilai kuliahnya tetap stabil, dan tak pernah membantah, semua itu hanya demi satu hal: secuil perhatian dari sang ayah.

Namun, semua usahanya sia-sia. Di rumah mewah itu, hanya Ratih sang ART dan sopir keluarga yang benar-benar memanusiakannya. Sang ayah, yang kini melihat Yasmin menutup aurat, bahkan tidak berkomentar seolah-olah keyakinan atau kebahagiaan anaknya bukanlah hal yang layak didiskusikan.

Satu-satunya hal yang menurut Yasmin masih manusiawi adalah aliran uang saku bulanan yang tak pernah terlambat. Jasmine ternyata memiliki sifat hemat yang luar biasa; tabungannya terkumpul cukup banyak di rekening rahasia. Yasmin tak tahu apakah jumlah itu setara dengan kemewahan yang diberikan kepada adik tirinya, Alexsa, tapi ia memilih masa bodoh.

Daripada memelihara buruk sangka, ia memilih mensyukuri modal finansial yang ditinggalkan pemilik tubuh ini sebagai jaminan masa depannya jika suatu saat ia harus pergi dari rumah ini.

Kini, kegiatannya bertambah satu. Setiap hari setelah menyelesaikan mata kuliah atau saat libur akhir pekan, ia menyempatkan diri ke rumah sakit untuk menemani Mami Rahel menjaga Adrian. Ini sudah memasuki minggu kedua sejak ia berpindah dimensi.

Selama tujuh hari terakhir, ia mulai terbiasa bercengkerama dengan Mami Rahel dan Papi Surya. Sementara itu, Adrian masih tetap sama; sosok pemuda itu masih betah berkelana dalam tidur lelapnya, diiringi irama statis dari monitor jantung.

"Assalamu’alaikum..." sapa Yasmin lembut saat memasuki ruang VVIP itu.

"Wa’alaikumussalam... Masuk, Sayang! Wah, aroma apa ini? Mami sudah lapar hanya dengan mencium baunya," sambut Mami Rahel dengan antusiasme yang hangat.

Yasmin tersenyum. Selama seminggu ini, ia selalu menyempatkan diri memasak sebelum ke rumah sakit. Baginya, memasak adalah bahasa cinta yang paling jujur. Daripada membawa buah tangan mahal yang tak berarti bagi keluarga sekaya mereka, ia memilih menyajikan keahlian tangannya. Ia teringat sebuah kutipan dalam buku yang pernah dibacanya: "Jika ingin menyenangkan mertua, maka masaklah makanan yang enak. Jika ingin suami betah, kenyangkanlah perutnya." Meski ia masih enggan mengakui Adrian sebagai calon suami, setidaknya ia ingin berbuat baik kepada keluarga yang memperlakukannya dengan layak ini.

"Yasmin bawakan masakan Padang, Mi. Ada rendang, gulai nangka, daun singkong rebus, sama sambal ijo teri," jawab Yasmin sembari mencuci tangan di wastafel.

Mereka pun menyantap makan siang bersama Clara, asisten pribadi Mami Rahel, dalam suasana yang akrab. Setelah membereskan sisa makanan, wajah Mami Rahel berubah sedikit serius. Beliau menjelaskan bahwa selama beberapa hari ke depan, beliau harus menemani Papi Surya mengurus bisnis penting di luar kota.

"Jasmine, Mami minta tolong... Maukah kamu menemani Adrian selama Mami absen?" tanya Mami Rahel enuh harap.

Beliau menjelaskan akan ada perawat khusus yang menangani kebutuhan medis Adrian.

"Kamu hanya perlu di sini, Sayang. Sesekali ajak dia bicara. Dokter bilang rangsangan suara dari orang terdekat bisa membantu kesadarannya."

Melihat binar penuh harap di mata Mami Rahel, Yasmin tak kuasa menolak. Lagipula, menginap di rumah sakit bersama Clara yang akan menemaninya terasa jauh lebih baik daripada harus berada di rumah yang dingin dan hampa itu.

Yasmin pun meminta izin pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan. Dengan sigap, Mami Rahel memerintahkan Clara untuk mengantarnya.

"Assalamu’alaikum, Bi," salam Yasmin saat memasuki rumahnya, disambut oleh wajah ceria Ratih.

"Wa’alaikumussalam, Non Jasmine. Di rumah lagi sepi, Non. Bapak sama Ibu pergi menjenguk Non Alexsa yang katanya lagi kurang enak badan di luar kota," jelas Ratih tanpa perlu ditanya.

Yasmin hanya mengangguk pelan. Ada rasa getir yang menyelinap. Untuk urusan Alexsa yang hanya "kurang enak badan", ayahnya rela pergi jauh. Sementara untuk Jasmine yang dipaksa menikah dengan pria koma, ayahnya bahkan tak menanyakan kabarnya selama seminggu ini.

Sejujurnya, jika ia berada dalam tubuhnya yang asli, Yasmin mungkin sudah akan menceramahi pria itu habis-habisan. Ia ingin berteriak bahwa anak bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Namun, ia sadar posisinya. Ia memilih diam dan masuk ke kamar untuk berkemas.

Yasmin meminta Clara menunggu di ruang tamu sementara ia ditemani Ratih di dalam kamar. Sambil memasukkan beberapa setel pakaian dan peralatan ibadah ke dalam tas, Yasmin merenung. Pergi dari rumah ini, meski hanya untuk sementara, terasa seperti sebuah kemerdekaan kecil. Ia ingin menunjukkan kepada sang ayah bahwa anaknya yang sekarang bukan lagi gadis yang mengemis perhatian.

Meskipun secara syariat ia tahu bahwa mengabaikan orang tua adalah hal yang dimurkai Allah, namun Yasmin merasa tak punya pilihan selain menjaga jarak demi kewarasan jiwanya. Berharap ayahnya berubah hanya akan membuang energi. Secara kasar, hidup dan mati pemilik tubuh ini seolah tak berharga bagi orang-orang di rumah ini.

Justru di sinilah Yasmin merasa mendapat keuntungan. Karena ia tidak memiliki ikatan emosional masa lalu dengan pria itu, ia tidak merasa sakit hati seperti yang dirasakan Jasmine asli. Sebagai jiwa yang pernah hidup sendiri sebagai yatim piatu di masa mudanya sebelum menikah, Yassmin sudah terbiasa berdiri di atas kakinya sendiri.

"Non Jasmine beneran mau nginep di rumah sakit?" tanya Ratih dengan nada khawatir.

"Iya, Bi. Di sana ada yang membutuhkan saya," jawab Yasmin dengan senyum tulus.

Ia menatap kamar baby pink itu untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. Ia akan pergi menemui takdirnya yang lain: seorang pria bernama Adrian yang nasibnya kini terikat erat dengan keberadaannya.

Saat ia melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu, Yasmin membatin dalam doa: Ya Allah, jika raga ini adalah wadah bagi petunjuk-Mu, maka jadikanlah kehadiranku sebagai kesembuhan bagi mereka yang terluka.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jiwa yang Berbeda   Antara Janji, Hasrat, dan Potongan Mimpi

    Dua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d

  • Jiwa yang Berbeda   Satu Tarikan Nafas Menuju Halal

    Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk

  • Jiwa yang Berbeda   Gaun dan Rahasia di Balik Hijab

    Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu

  • Jiwa yang Berbeda   Ada yang Terlupakan

    Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p

  • Jiwa yang Berbeda   Pelukan yang Memudar

    Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k

  • Jiwa yang Berbeda   Isakan di Balik Pintu Rahasia

    Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status