LOGINBeberapa hari telah berlalu sejak Yasmin terbangun dalam raga yang bukan miliknya.
Rutinitas barunya sebagai "Jasmine" mulai terasa akrab di kulit, meski di dalam lubuk hatinya, kehampaan tetap bertahta. Setiap kali ia menatap langit senja dari jendela kamar, kerinduan pada keluarga kecilnya membuncah tanpa permisi. Bayangan anak-anaknya yang berebut pelukan, serta wajah suaminya yang tenang saat pulang kerja, menjadi duri yang terus menusuk jiwanya. "Bagaimana Mas menangani mereka sendirian?" bisiknya pada kegelapan malam. Ia bertanya-tanya pada takdir; apakah raga aslinya kini telah terbujur kaku di liang lahat? Ataukah ia sedang terbaring koma, menunggu jiwanya kembali yang entah kapan? Yasmin tak punya jawaban. Ia hanya bisa bersimpuh di atas sajadah barunya, mengadukan segala sesak itu kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di setiap sujud, ia menitipkan doa perlindungan untuk anak-anaknya. Ia meyakini bahwa meski ia tak lagi di sana, Allah Maha Memberi Perlindungan dan tak akan membiarkan hamba-hamba-Nya terlantar. Menariknya, perubahan drastis pada penampilannya yang kini selalu berhijab tidak memicu ledakan konflik di rumah itu. Pemilik tubuh aslinya, Jasmine, memang dikenal sebagai gadis yang pendiam, pemalu, dan sangat penurut. Tipe anak yang saking "lurusnya" hingga sering kali dianggap tidak ada. Yasmin segera menyimpulkan bahwa sejak awal, gadis ini memang sudah diabaikan oleh ayahnya. Dari sisa ingatan yang terserap, Yasmin melihat betapa malangnya Jasmine yang asli. Gadis itu selalu berusaha melakukan semua pekerjaan rumah dengan sempurna, menjaga nilai kuliahnya tetap stabil, dan tak pernah membantah, semua itu hanya demi satu hal: secuil perhatian dari sang ayah. Namun, semua usahanya sia-sia. Di rumah mewah itu, hanya Ratih sang ART dan sopir keluarga yang benar-benar memanusiakannya. Sang ayah, yang kini melihat Yasmin menutup aurat, bahkan tidak berkomentar seolah-olah keyakinan atau kebahagiaan anaknya bukanlah hal yang layak didiskusikan. Satu-satunya hal yang menurut Yasmin masih manusiawi adalah aliran uang saku bulanan yang tak pernah terlambat. Jasmine ternyata memiliki sifat hemat yang luar biasa; tabungannya terkumpul cukup banyak di rekening rahasia. Yasmin tak tahu apakah jumlah itu setara dengan kemewahan yang diberikan kepada adik tirinya, Alexsa, tapi ia memilih masa bodoh. Daripada memelihara buruk sangka, ia memilih mensyukuri modal finansial yang ditinggalkan pemilik tubuh ini sebagai jaminan masa depannya jika suatu saat ia harus pergi dari rumah ini. Kini, kegiatannya bertambah satu. Setiap hari setelah menyelesaikan mata kuliah atau saat libur akhir pekan, ia menyempatkan diri ke rumah sakit untuk menemani Mami Rahel menjaga Adrian. Ini sudah memasuki minggu kedua sejak ia berpindah dimensi. Selama tujuh hari terakhir, ia mulai terbiasa bercengkerama dengan Mami Rahel dan Papi Surya. Sementara itu, Adrian masih tetap sama; sosok pemuda itu masih betah berkelana dalam tidur lelapnya, diiringi irama statis dari monitor jantung. "Assalamu’alaikum..." sapa Yasmin lembut saat memasuki ruang VVIP itu. "Wa’alaikumussalam... Masuk, Sayang! Wah, aroma apa ini? Mami sudah lapar hanya dengan mencium baunya," sambut Mami Rahel dengan antusiasme yang hangat. Yasmin tersenyum. Selama seminggu ini, ia selalu menyempatkan diri memasak sebelum ke rumah sakit. Baginya, memasak adalah bahasa cinta yang paling jujur. Daripada membawa buah tangan mahal yang tak berarti bagi keluarga sekaya mereka, ia memilih menyajikan keahlian tangannya. Ia teringat sebuah kutipan dalam buku yang pernah dibacanya: "Jika ingin menyenangkan mertua, maka masaklah makanan yang enak. Jika ingin suami betah, kenyangkanlah perutnya." Meski ia masih enggan mengakui Adrian sebagai calon suami, setidaknya ia ingin berbuat baik kepada keluarga yang memperlakukannya dengan layak ini. "Yasmin bawakan masakan Padang, Mi. Ada rendang, gulai nangka, daun singkong rebus, sama sambal ijo teri," jawab Yasmin sembari mencuci tangan di wastafel. Mereka pun menyantap makan siang bersama Clara, asisten pribadi Mami Rahel, dalam suasana yang akrab. Setelah membereskan sisa makanan, wajah Mami Rahel berubah sedikit serius. Beliau menjelaskan bahwa selama beberapa hari ke depan, beliau harus menemani Papi Surya mengurus bisnis penting di luar kota. "Jasmine, Mami minta tolong... Maukah kamu menemani Adrian selama Mami absen?" tanya Mami Rahel enuh harap. Beliau menjelaskan akan ada perawat khusus yang menangani kebutuhan medis Adrian. "Kamu hanya perlu di sini, Sayang. Sesekali ajak dia bicara. Dokter bilang rangsangan suara dari orang terdekat bisa membantu kesadarannya." Melihat binar penuh harap di mata Mami Rahel, Yasmin tak kuasa menolak. Lagipula, menginap di rumah sakit bersama Clara yang akan menemaninya terasa jauh lebih baik daripada harus berada di rumah yang dingin dan hampa itu. Yasmin pun meminta izin pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan. Dengan sigap, Mami Rahel memerintahkan Clara untuk mengantarnya. "Assalamu’alaikum, Bi," salam Yasmin saat memasuki rumahnya, disambut oleh wajah ceria Ratih. "Wa’alaikumussalam, Non Jasmine. Di rumah lagi sepi, Non. Bapak sama Ibu pergi menjenguk Non Alexsa yang katanya lagi kurang enak badan di luar kota," jelas Ratih tanpa perlu ditanya. Yasmin hanya mengangguk pelan. Ada rasa getir yang menyelinap. Untuk urusan Alexsa yang hanya "kurang enak badan", ayahnya rela pergi jauh. Sementara untuk Jasmine yang dipaksa menikah dengan pria koma, ayahnya bahkan tak menanyakan kabarnya selama seminggu ini. Sejujurnya, jika ia berada dalam tubuhnya yang asli, Yasmin mungkin sudah akan menceramahi pria itu habis-habisan. Ia ingin berteriak bahwa anak bukan sekadar kewajiban finansial, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya. Namun, ia sadar posisinya. Ia memilih diam dan masuk ke kamar untuk berkemas. Yasmin meminta Clara menunggu di ruang tamu sementara ia ditemani Ratih di dalam kamar. Sambil memasukkan beberapa setel pakaian dan peralatan ibadah ke dalam tas, Yasmin merenung. Pergi dari rumah ini, meski hanya untuk sementara, terasa seperti sebuah kemerdekaan kecil. Ia ingin menunjukkan kepada sang ayah bahwa anaknya yang sekarang bukan lagi gadis yang mengemis perhatian. Meskipun secara syariat ia tahu bahwa mengabaikan orang tua adalah hal yang dimurkai Allah, namun Yasmin merasa tak punya pilihan selain menjaga jarak demi kewarasan jiwanya. Berharap ayahnya berubah hanya akan membuang energi. Secara kasar, hidup dan mati pemilik tubuh ini seolah tak berharga bagi orang-orang di rumah ini. Justru di sinilah Yasmin merasa mendapat keuntungan. Karena ia tidak memiliki ikatan emosional masa lalu dengan pria itu, ia tidak merasa sakit hati seperti yang dirasakan Jasmine asli. Sebagai jiwa yang pernah hidup sendiri sebagai yatim piatu di masa mudanya sebelum menikah, Yassmin sudah terbiasa berdiri di atas kakinya sendiri. "Non Jasmine beneran mau nginep di rumah sakit?" tanya Ratih dengan nada khawatir. "Iya, Bi. Di sana ada yang membutuhkan saya," jawab Yasmin dengan senyum tulus. Ia menatap kamar baby pink itu untuk terakhir kalinya sebelum berangkat. Ia akan pergi menemui takdirnya yang lain: seorang pria bernama Adrian yang nasibnya kini terikat erat dengan keberadaannya. Saat ia melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu, Yasmin membatin dalam doa: Ya Allah, jika raga ini adalah wadah bagi petunjuk-Mu, maka jadikanlah kehadiranku sebagai kesembuhan bagi mereka yang terluka.Sepuluh tahun telah berlalu sejak badai fitnah terakhir yang mencoba meruntuhkan pondasi keluarga mereka. Di halaman belakang kediaman Adrian dan Nafisa yang asri di pinggiran Yogyakarta, angin sore berhembus membawa aroma melati yang mekar dan mawar dengan sempurna. Keheningan yang ada bukanlah sunyi yang hampa, melainkan keheningan yang penuh dengan rasa syukur; sebuah muara dari perjalanan panjang dua jiwa yang pernah terlempar melintasi batas dimensi.Hari itu adalah hari yang istimewa. Meja panjang yang ada di teras halaman belakang telah ditata dengan berbagai hidangan tradisional. Nafisa, yang kini telah menginjak usia kepala lima namun tetap memancarkan aura ketenangan yang luar biasa, sedang merapikan piring-piring. Gerakannya masih selembut dahulu, namun ada kemantapan yang lebih dalam di setiap langkahnya."Mereka sudah sampai di gerbang depan, Sayang!" seru Adrian dari arah beranda.Adrian, dengan rambut yang kini memutih secara terhormat di bagian pelipisnya, melangkah m
Dunia digital adalah pedang bermata dua, dan Siska tahu benar cara mengayunkannya untuk melukai. Hanya berselang dua puluh empat jam setelah keributan di panti asuhan, sebuah video berdurasi sepuluh menit muncul di berbagai platform media sosial. Dalam video tersebut, Siska tampil dengan wajah yang sengaja dibuat pucat, rambut yang sedikit berantakan, dan air mata yang mengucur deras."Saya hanya seorang ibu yang baru saja menebus kesalahan saya di penjara," isak Siska di depan kamera. "Tapi saat saya keluar, saya mendapati anak saya, telah dicuci otaknya oleh Nafisa. Dia menggunakan alasan masuk pondok untuk menjauhkan darah daging saya sendiri. Sekarang anak saya menolak saya. Tolong saya, netizen... Nafisa dan Emran pemilik `Banyu Grafika telah merampas segalanya dari saya, termasuk hak saya sebagai ibu."Video itu meledak. Dengan algoritma yang haus akan drama, pengakuan Siska menjadi viral dalam hitungan jam. Tagar #KeadilanUntukSiska dan #BoikotBanyuGrafika mulai bermunculan. N
Satu minggu pertama tanpa Dion adalah waktu yang terasa berjalan merangkak bagi Nafisa. Setiap kali ia melewati kamar putra sulungnya itu, ia secara otomatis akan berhenti, berharap melihat senyuman Dion atau sekadar melihat tumpukan buku sekolah yang biasanya berserakan. Rumah terasa begitu luas dan sunyi, meskipun Arlan tetap berusaha meramaikan suasana dengan mainan robot-robotannya.Namun, di sore hari yang teduh, saat Nafisa sedang merapikan taman belakang, ponselnya bergetar. Panggilan dari nomor asing tertera di layar. Panggilan itu masuk di nomor pribadinya, tak banyak yang tahu kecuali sangat penting. Dalam hati ia bahkan berharap Dion yang menghubunginya. Dengan jantung yang berdebar kencang, Nafisa segera menggeser tombol hijau."Assalamu’alaikum, Mama..."Suara itu. Suara yang sedikit parau namun terdengar lebih mantap dari biasanya. Air mata Nafisa langsung menggenang tanpa permisi."Wa’alaikumsalam... Dion? Ini kamu, Sayang?" suara Nafisa bergetar hebat."Iya, Ma. Ini Di
Keputusan itu datang pada suatu sore yang tenang, saat semburat cahaya oranye matahari terbenam membasuh gazebo rumah mereka. Dion, yang kini telah menunjukkan guratan kedewasaan di wajah remajanya, duduk bersimpuh di hadapan Emran dan Nafisa. Tidak ada gadget di tangannya, tidak ada pula permintaan tentang hadiah ulang tahun. Yang ada hanyalah sebuah tekad yang telah ia simpan rapat-rapat selama berbulan-bulan."Mama, Papa... Dion sudah memantapkan hati. Dion ingin melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren di Jawa Timur," ucapnya dengan suara rendah namun stabil.Nafisa, yang sedang menuangkan teh, tertegun. Cangkir porselen di tangannya berdenting pelan saat bersentuhan dengan meja."Jawa Timur, Sayang? Itu sangat jauh. Kenapa harus ke sana? Di sini juga banyak pondok yang bagus, atau kita bisa panggil ustadz terbaik ke rumah untuk privat."Dion menggeleng pelan. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat Nafisa teringat pada keteduhan yang sering ia liha
Waktu mengalir seperti sungai yang tenang di kediaman Emran dan Nafisa. Kehidupan mereka telah mencapai titik keseimbangan yang sempurna. Banyu Grafika kini berdiri sebagai mercusuar industri kreatif di Yogyakarta, sementara Yayasan Aimallah terus menebar manfaat hingga ke pelosok desa. Namun, di balik semua kesuksesan profesional itu, kebahagiaan sejati mereka justru terpancar dari riuh rendah suara di meja makan setiap pagi.Dion telah tumbuh menjadi remaja awal yang cerdas dan penuh pengertian, sementara Arlan, si bungsu yang lincah, menjadi magnet keceriaan bagi siapa pun yang memandangnya. Nafisa, yang kini memasuki usia matang, tetap memancarkan kecantikan yang teduh; sebuah kecantikan yang lahir dari jiwa yang telah selesai dengan masa lalunya.Menjelang ulang tahun Nafisa yang ke-40, Adrian merencanakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin pesta mewah atau perhiasan mahal. Ia merindukan waktu berdua. Ia merindukan percakapan panjang tanpa interupsi tentang tugas sekolah atau l
Langit di atas Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) tampak muram, diselimuti mendung abu-abu yang seolah ikut merasakan duka yang merayap di bumi Kulon Progo. Angin laut selatan berhembus kencang, membawa aroma garam dan tanah basah, menyambut kedatangan sebuah pesawat kargo yang membawa peti jenazah berselimut kain hijau dengan bordir kaligrafi emas.Fatih telah berpulang. Ia menghembuskan napas terakhirnya di usia 63 tahun, meninggalkan dunia yang pernah begitu keras menempa jiwanya. Penyakit jantung yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya menjemputnya di suatu sore yang tenang di Jakarta. Ia pergi dengan senyum tipis, seolah telah menyelesaikan seluruh kontraknya dengan kehidupan.Jasmine Aurora turun dari pesawat dengan langkah yang gontai. Wajahnya yang dulu penuh energi kini tampak layu, sembab oleh tangisan yang tak kunjung usai. Di belakangnya, Adrian dan Nafisa melangkah dengan khidmat. Mereka sengaja terbang ke Kalimantan segera setelah mendengar kabar duka itu
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Aroma antiseptik yang menyesakkan digantikan oleh harapan baru saat dokter memberikan lampu hijau bagi Adrian untuk pulang. Meski baru sepuluh hari yang lalu ia berada di ambang maut, ketangguhan fisik Adrian melampaui ekspektasi medis. Dokter hanya menitipkan pes
Dokter baru saja meninggalkan ruangan VVIP itu dengan senyum lega yang menular. Kabar yang dibawa bagaikan oase di tengah padang pasir; Adrian telah melewati masa kritisnya. Meski baru saja terbangun dari tidur panjangnya, parameter medis menunjukkan stabilitas yang luar biasa. Luka pas
Jam dinding digital di ruang VVIP itu menunjukkan pukul 23.00. Suasana rumah sakit yang biasanya sunyi kini terasa lebih mencekam bagi Adrian, yang jiwanya baru saja merangkak naik dari dasar kegelapan koma. Di sudut ruangan, cahaya lampu meja yang temaram menyinari sosok seorang wanita
"Bi, tolong sampaikan ke Ayah, kalau beberapa hari ke depan Yasmin menginap di rumah sakit, ya," ucap Yasmin pelan sambil membenahi letak ransel di bahunya. Ia menatap Ratih yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan sendu. Meski jiwanya bukan lagi milik Jasmine yang malang, Yasm







