LOGINHari yang dinanti akhirnya tiba. Aroma antiseptik yang menyesakkan digantikan oleh harapan baru saat dokter memberikan lampu hijau bagi Adrian untuk pulang. Meski baru sepuluh hari yang lalu ia berada di ambang maut, ketangguhan fisik Adrian melampaui ekspektasi medis. Dokter hanya menitipkan pesan agar ia tetap menjalani kontrol rutin seminggu sekali dan memastikan terapi ototnya terus berjalan secara mandiri di rumah.
Yasmin bergerak gesit membantu Clara mengemas barang-barang. Sementara itu, di balik tirai privasi, Leon membantu Adrian mengganti seragam rumah sakit yang membosankan dengan kemeja putih gading dan celana bahan berwarna abu-abu arang. Saat Adrian akhirnya didudukkan di kursi roda, aura kepemimpinannya yang sempat redup kini mulai berpijar kembali, meski wajahnya masih menyimpan sisa-sisa kepucatan. "Tuan, administrasi sudah selesai. Mobil sudah menunggu di lobi," lapor Leon dengan sikap sigap. Adrian mengangguk singkat. Saat kursi rodanya didorong menyusuri lorong rumah sakit, Yasmin berjalan di belakang, mengekor bersama Clara. Begitu sampai di pintu keluar, sebuah SUV mewah berwarna hitam doff dengan kaca gelap pekat sudah terparkir gagah. Yasmin menatap kendaraan itu dengan perasaan campur aduk. Ingatannya melayang pada mobil pertama yang dibeli suaminya dahulu, sebuah mobil "sejuta umat" yang dibeli dengan mencicil penuh perjuangan. Setelah anak kedua lahir, mereka baru bisa membeli mobil kecil bekas untuk memudahkannya antar-jemput sekolah. Jika harga dua mobil itu digabungkan, mungkin belum cukup untuk membeli satu roda dari SUV di depannya ini. Mas, andai kamu tahu istrimu sedang naik mobil semahal ini, batin Yasmin getir. Ia teringat tabungan suaminya yang dikumpulkan susah payah untuk menggantikan mobil lama mereka yang mulai sering mogok. Kemewahan ini tidak membuatnya bangga; justru membuatnya semakin merindukan kesederhanaan yang penuh cinta di kehidupannya yang asli. Perjalanan menuju mansion keluarga Adrian hanya memakan waktu tiga puluh menit, namun bagi Yasmin, itu terasa seperti perjalanan menuju dunia lain. Begitu gerbang besar otomatis terbuka, Yasmin tak mampu menyembunyikan keterpukauannya. Mansion itu berdiri megah dengan arsitektur klasik modern yang tidak berlebihan namun memancarkan kelas sosial yang tinggi. Halaman depannya adalah mahakarya penataan taman; di sisi kanan, hamparan bunga warna-warni menyambut, sementara di sisi kiri, rumput hijau bak permadani membentang di bawah naungan pohon-pohon peneduh yang rindang. Sebuah air mancur (fountain) artistik di tengah jalur memutar memberikan melodi gemericik air yang menenangkan. Setelah memasuki pintu utama, Clara menjelaskan bahwa mansion ini terbagi menjadi tiga sayap utama. Bangunan induk ditempati orang tua Adrian, sayap kanan adalah otoritas mutlak Adrian, sementara sayap kiri digunakan untuk paviliun tamu dan area tinggal para staf. Di tengah-tengah kompleks bangunan itu, terdapat dua gazebo yang dihubungkan oleh jembatan kayu indah di atas kolam ikan koi yang jernih. "Nona Yasmin, Tuan Muda memiliki aturan yang cukup ketat," bisik Clara saat mereka memasuki sayap kanan. "Di area tinggal beliau, tidak ada ART yang menetap. Tuan Muda sangat menjaga privasinya. Hanya saya, Leon, Tuan Besar, dan Nyonya Besar yang diizinkan masuk. Oh, dan Kepala Pelayan Pablo. ART hanya akan membersihkan area ini saat Tuan Muda sedang pergi. Jadi, untuk sementara, koordinasi kenyamanan Tuan Muda akan dibantu oleh Nona." Yasmin mengangguk paham. Tugas ini baginya tidak berat; ia sudah terbiasa mengurus rumah tangga sendirian. Namun, ia merasa sedikit terintimidasi dengan luas bangunan ini. Aku bisa tersesat di rumah calon suamiku sendiri, pikirnya kecut. Mami Rahel rupanya telah menyiapkan segalanya. Yasmin ditempatkan di kamar yang berada tepat di sebelah kamar utama Adrian. Kamar itu didekorasi dengan sangat cantik, dominasi warna krem dan putih dengan sentuhan rose gold yang elegan. Clara memperlihatkan walk-in closet yang sudah dipenuhi pakaian bermerek dalam berbagai model, semuanya disesuaikan dengan gaya tertutup Yasmin. "Memang beda, sultan mah bebas," gumam Yasmin lirih setelah Clara pamit keluar. Namun, meski fasilitas ini bak hotel bintang lima, Yasmin tidak merasa silau. Ia tetaplah Yasmin yang bersahaja. Setelah mengirim pesan singkat berisi ucapan terima kasih kepada Mami Rahel, ia merebahkan tubuhnya di kasur king size yang sangat empuk. Niatnya hanya meluruskan kaki sejenak, namun kelelahan mental selama seminggu terakhir membuatnya langsung terlelap dalam hitungan detik. Sementara itu, di ruang kerja yang kedap suara, Adrian duduk di balik meja mahoninya. Ia baru saja selesai melakukan panggilan video dengan Mami Rahel. "Adrian, Mami tidak main-main. Yasmin itu permata. Dia menjagamu dengan tulus tanpa sekalipun mencari perhatian berlebih. Perlakukan dia dengan baik," pesan Mami Rahel sebelum menutup telepon. Adrian menghela napas, lalu menatap Leon yang berdiri di depannya. "Laporanmu, Leon. Apa ada yang terlewat?" Leon memberikan map tipis berisi profil Jasmine Aurora. Adrian membacanya perlahan. Ada sesuatu yang mengganjal. Di dalam laporan itu, Jasmine dideskripsikan sebagai gadis yang sangat pemalu, cenderung penakut, dan memiliki gaya berpakaian remaja biasa. Namun, sosok yang menemaninya di rumah sakit adalah wanita yang tenang, dewasa, sangat religius, dan memiliki aura "pelindung". "Apa perubahannya karena ia masuk Islam?" gumam Adrian ragu. Ia merasa Jasmine yang sekarang memiliki kedalaman jiwa yang tidak mungkin dimiliki oleh gadis 19 tahun yang depresi. Namun, laporannya tidak mencakup detail hubungan emosional Jasmine dengan ayahnya, sehingga Adrian belum tahu betapa hancurnya hidup Jasmine yang asli. "Bagaimana menurutmu, Leon?" tanya Adrian tiba-tiba. "Jika saya boleh jujur, Tuan Muda," Leon berdehem pelan. "Nona Yasmin adalah pilihan terbaik. Dia tidak seperti wanita-wanita lain yang pernah mendekati Anda hanya untuk harta atau status. Saya memperhatikannya selama di rumah sakit; dia bahkan tidak pernah menyentuh Anda jika tidak benar-benar diperlukan untuk keperluan medis. Dia menjaga pandangan dan kehormatannya. Nyonya Besar benar-benar jatuh hati pada sifatnya yang santun." Azmy mengetukkan jarinya ke meja. "Menarik. Mami yang biasanya angkuh pun bisa luluh. Aku akan melihatnya sendiri pelan-pelan. Kira-kira, sedang apa 'kelinci kecil' itu sekarang?" Sebutan "kelinci kecil" muncul begitu saja di benak Adrian. Ia teringat bagaimana Yasmin bergerak lincah dan cepat saat melayaninya, namun segera menjauh dan menghindar begitu tugasnya selesai, persis seperti kelinci yang waspada. Adrian merasa tertantang. Selama ini, egonya selalu dipuja oleh wanita. Namun Yasmin? Wanita itu seolah memiliki benteng yang tak kasat mata. "Apa aku benar-benar tidak menarik di matanya?" gumam Adrian narsis, sedikit kesal karena merasa diabaikan. Andai Adrian tahu bahwa jiwa di dalam tubuh Jasmine adalah seorang ibu beranak dua yang sudah "kenyang" dengan pesona pria, ia mungkin akan merasa sangat malu dengan rasa percaya dirinya. Bagi Yasmin, Adrian saat ini hanyalah seorang pasien yang harus dipastikan kesehatannya agar ia bisa segera menuntaskan "tugas" takdir ini dan mencari jalan pulang ke keluarga aslinya. Di kamar sebelah, sang kelinci kecil masih terlelap, tidak menyadari bahwa di ruang kerja sebelah, seekor serigala bisnis mulai merencanakan cara untuk membongkar misteri di balik ketenangan jiwanya.Dua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d
Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk
Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu
Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p
Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k
Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men







