Home / Fantasi / Jiwa yang Berbeda / Perjamuan Malam

Share

Perjamuan Malam

Author: Meymei
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-21 08:36:52

Yasmin mengerjapkan mata saat kesadarannya perlahan terkumpul. Kamar yang diselimuti keheningan mewah itu terasa begitu nyaman, namun jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 17.00. Sontak, insting kedisiplinannya bangkit. Ia segera menuju kamar mandi, membasuh diri dengan air hangat yang menyegarkan, lalu menunaikan kewajiban salat Asar di penghujung waktu. Perutnya yang mulai berbunyi menuntut haknya, membimbing langkah Yasmin turun menuju lantai bawah untuk mencari dapur.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jiwa yang Berbeda   Benang Merah yang Terurai

    Malam di Yogyakarta selalu memiliki cara untuk menenangkan jiwa yang lelah, namun bagi Adrian dan Nafisa, ketenangan malam ini terasa jauh lebih bermakna. Badai hukum yang selama beberapa bulan terakhir menggulung sisa-sisa masa lalu kelam Emran akhirnya mereda. Ketuk palu hakim di pengadilan negeri menjadi penanda berakhirnya drama panjang yang melibatkan Emran dan Siska.Wanita itu kini harus menghabiskan tahun-tahun mendatang di balik jeruji besi, mempertanggungjawabkan penggelapan dana perusahaan, pencucian uang, dan berbagai skandal penipuan yang ia rancang bersama kekasih gelapnya. Sang kekasih sendiri kini ditetapkan sebagai buronan kepolisian, melarikan diri ke luar pulau dengan sisa-sisa uang hasil menjarah bersama Siska.Namun, di balik kemenangan hukum itu, ada sisi kemanusiaan yang menyisakan getir. Siska meninggalkan seorang anak laki-laki yang tidak berdosa, hasil dari hubungan gelapnya yang tidak diakui oleh siapa pun. Anak itu kini sebatang kara, menjadi korban dari am

  • Jiwa yang Berbeda   Ekspansi Sang "Raja Real Estate"

    Cahaya lampu meja kerja di ruang pribadi Adrian masih berpijar saat jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Di hadapannya, dua layar monitor menampilkan grafik candlestick yang bergerak naik turun dengan fluktuasi yang tajam. Sebulan terakhir, Adrian tidak hanya menghabiskan waktunya di lantai produksi Banyu Grafika, tetapi juga menyelam ke dalam samudera bursa saham Indonesia yang selama ini diabaikan oleh Emran.Menggunakan sisa dana dari Nafisa yang telah ia putar dengan perhitungan presisi, Adrian mulai masuk ke saham-saham sektor teknologi dan konsumsi yang sedang mengalami undervalued. Dengan insting seorang konglomerat kuadriliun dari dimensi asalnya, ia mampu membaca pola manipulasi pasar dan memilih momentum entry yang tepat."Waktunya take profit," gumam Adrian pelan.Jari telunjuknya menekan tombol dengan mantap.Dalam waktu singkat, portofolio yang ia bangun mulai memberikan imbal hasil yang fantastis. Keuntungan yang diraihnya bukan sekadar angka di atas kertas; itu adalah

  • Jiwa yang Berbeda   Simfoni Strategi

    Di kantor Banyu Grafika, suasana yang biasanya lesu dan penuh dengan kasak-kusuk kecurigaan kini berubah menjadi medan perang produktivitas yang teratur. Adrian bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, seolah setiap detik yang ia hirup memiliki nilai nominal yang harus dipertanggungjawabkan.Fajri, yang kini menjabat sebagai asisten pribadinya, seringkali merasa tertinggal beberapa langkah di belakang. Ia harus berjuang keras menyamai ritme kerja sahabatnya yang kini tampak memiliki visi sepuluh tahun ke depan."Kamu benar-benar berubah menjadi workaholic yang gila, Em," cetus Fajri dengan suara lemah sembari menyandarkan punggungnya di kursi setelah menyelesaikan rekonsiliasi data vendor.Adrian tidak mengangkat wajah dari layar komputernya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard."Jika aku tidak gila kerja sekarang, percetakan ini hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi museum kegagalan. Kita sedang mengejar ketertinggalan dua tahun, Fajri.""Ya, kamu benar. Untung saja sunti

  • Jiwa yang Berbeda   Roda Takdir dan Permata yang Tersembunyi

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang jauh lebih menenangkan. Kebekuan yang sempat mengkristal di hati Nafisa perlahan mencair, memberikan ruang bagi harapan-harapan baru untuk tumbuh. Meskipun belum sepenuhnya kembali seperti kemesraan mereka di masa lalu, interaksi di antara mereka kini berjalan ke arah yang positif. Adrian merasa seolah sedang menyusun kembali kepingan puzzle yang sempat ia hancurkan sendiri dengan egonya."Sayang, hari ini aku hanya akan ke kantor sebentar untuk memantau sisa laporan," kata Adrian di meja makan, suaranya kini penuh kelembutan yang tulus."Tunggu aku kembali, ya? Siang nanti, kita akan ke rumah sakit bersama untuk bertemu dokter tumbuh kembang Dion. Aku tidak mau melewatkan satu pun sesi terapinya lagi."Adrian menatap hidangan di depannya. Di mata seorang Adrian yang terbiasa dengan kuliner modern atau masakan barat di dunianya dulu, sarapan yang disiapkan Nafisa tampak unik. Ada tumpukan sayuran hijau rebus yang disiram saus kacang kenta

  • Jiwa yang Berbeda   Gema Istigfar di Sepertiga Malam

    Sudah satu minggu berlalu sejak badai meluluhlantakkan kedamaian di rumah Emran dan Nafisa. Satu minggu pula Nafisa membangun tembok tinggi bernama kebisuan. Interaksi yang ia lakukan dengan Adrian hanya sebatas formalitas yang kaku; saat Dion ada di antara mereka sebagai penengah, atau saat tamu berkunjung dan menuntut sandiwara keharmonisan.Selebihnya, Nafisa hanya melakukan tugasnya sebagai istri secara mekanis; menyiapkan pakaian, memasak, dan merapikan rumah, namun tanpa ruh, tanpa senyum, dan tanpa tatapan mata.Malam itu, di kamar Dion yang bernuansa biru langit, Nafisa sedang membacakan kisah-kisah nabi dengan suara lembut yang sedikit parau."Mama..." panggil Dion kecil, memotong narasi tentang kapal Nabi Nuh."Iya, Sayang?" Nafisa mengusap rambut putranya dengan kasih sayang yang meluap."Dion bisa tidur sendiri sekarang. Dion sudah jadi anak hebat, kan?" ucap Dion polos.Matanya yang jernih menatap Nafisa, seolah bocah itu memiliki radar yang mampu menangkap frekuensi kete

  • Jiwa yang Berbeda   Dermaga Maaf

    Cahaya pagi yang merembes melalui celah gorden satin di kamar utama seharusnya membawa kesegaran, namun bagi dua jiwa yang saling diam itu, mentari seolah kehilangan taringnya.Sinar yang mengandung vitamin D itu jatuh di atas karpet bulu, namun tidak mampu mencairkan kebekuan yang mengkristal di antara Adrian dan Nafisa. Dingin yang merayap di sana bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari sisa-sisa badai emosi yang baru saja meluluhlantakkan dinding kesabaran.Nafisa duduk bersandar di kepala tempat tidur, jemarinya meremas pinggiran selimut dengan ritme yang tak beraturan. Ia memejamkan mata, mencoba menata kepingan hatinya yang berserakan dengan merapalkan dzikir yang tak putus dalam batin. Di sisi lain, Adrian, dalam raga Emran tidak lagi menunjukkan otoritas seorang pemimpin perusahaan. Ia duduk bersimpuh di lantai, tepat di bawah kaki Nafisa, sebuah posisi yang menunjukkan kehancuran ego dan permohonan ampun yang paling dalam.Waktu seolah membeku. Hanya deting jarum

  • Jiwa yang Berbeda   Rekontruksi Takdir

    Pagi itu, mentari merambat naik menyinari fasad kaca gedung tingkat dua milik Banyu Grafika. Dari luar, segalanya tampak normal, namun di dalam bangunan yang dingin itu, ketegangan merayap seperti arus listrik yang siap meledak kapan saja. Kabar kembalinya Abiyu Emran; sang pewaris tunggal dari Bin

  • Jiwa yang Berbeda   Tersedot Ingatan

    "Ana uhibbuka fillah..." ucap Nafisa dengan suara bergetar.Kalimat itu meluncur seperti bisikan malaikat di tengah keheningan kamar yang pengap oleh kecanggungan.Adrian tersentak. Jantungnya seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Kalimat itu; susunan kata yang sama, intonasi yang serupa,

  • Jiwa yang Berbeda   Fragmen Luka yang Tersingkap

    Malam di Yogyakarta selalu membawa hawa sejuk yang merayap masuk melalui celah jendela jati. Setelah shalat Isya berjamaah; di mana Adrian mengimami dengan suara bariton yang bergetar penuh penghayatan, Nafisa membantu suaminya naik ke atas tempat tidur. Gerakannya sigap namun penuh kelembutan, seo

  • Jiwa yang Berbeda   Kepulangan yang Asing

    Dua hari kemudian, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan bau tanah basah dan asap kendaraan yang khas. Adrian Laksmana, dalam raga Abiyu Emran, akhirnya diperbolehkan pulang. Saat mobil melewati papan iklan yang bertuliskan "HUT Yogyakarta", jantung Adrian berdegup kencang.Ini adalah Indone

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status