เข้าสู่ระบบDokter baru saja meninggalkan ruangan VVIP itu dengan senyum lega yang menular. Kabar yang dibawa bagaikan oase di tengah padang pasir; Adrian telah melewati masa kritisnya.
Meski baru saja terbangun dari tidur panjangnya, parameter medis menunjukkan stabilitas yang luar biasa. Luka pasca operasinya pun mengering dengan baik, cukup diganti dengan perban tipis. Meski otot-ototnya masih kaku dan suaranya terdengar seperti gesekan amplas akibat lama tidak digunakan, dokter meyakinkan bahwa terapi dalam beberapa hari ke depan akan memulihkan segalanya. Keheningan kembali merayap saat pintu tertutup rapat, hanya menyisakan Yasmin dan Adrian di dalam ruangan yang luas itu. Yasmin bisa merasakan sepasang mata tajam milik Adrian yang terus mengikutinya. Ia merasa kikuk, meraba wajahnya, lalu ke bawah arah pakaiannya. Apakah ada yang salah? tanyanya dalam hati. Detik berikutnya, Yasmin tersadar. Ia masih mengenakan mukena putih yang sedikit berantakan akibat aksi larinya tadi. "Ya Allah..." Yasmin menepuk dahinya pelan, wajahnya memerah menahan malu. Pantas saja dia menatapku begitu, batinnya geli. Tanpa membuang waktu, ia segera meraih hijab panjangnya di sofa dan menyelinap ke kamar mandi. Di depan cermin, Yasmin menarik napas panjang, merapikan hijabnya agar menutup dada dengan sempurna, mencoba menenangkan debaran jantung yang aneh. Di atas brankar, Adrian mengikuti gerakan Yasmin dengan tatapan yang sulit diartikan. Akhirnya dia sadar juga kalau tampilannya tadi sangat konyol, batin Azmy. Namun, jauh di sudut hatinya, ada rasa geli yang jarang ia rasakan. Wanita ini benar-benar natural, tidak ada polesan kepura-puraan. Yasmin keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih rapi. Ia segera mengambil ponsel, mencoba menghubungi Mami Rahel, namun hasilnya nihil. Hanya suara operator yang menjawab. "Kak... Mami Rahel belum mengangkat telepon Yasmin. Mungkin karena masih terlalu pagi di sana. Kita tunggu Kak Clara sebentar lagi ya, biar dia yang mencoba menghubungi Mami melalui saluran khusus," ucap Yasmin lembut sambil mendekat. "Kakak... ada yang bisa Yasmin bantu sekarang?" Adrian tidak bisa menjawab dengan kata-kata, lidahnya masih terasa kelu. Namun, ia mengerti kode. Ia mengangkat jempol kanannya dan mengarahkannya ke mulut. Yasmin yang sudah terlatih membaca bahasa isyarat anak-anak, langsung paham. Ia segera mengambil botol mineral, memasukkan sedotan, dan memegangnya dengan hati-hati agar Adrian mudah meminumnya. Setelah rasa haus Adrian terobati, Yasmin meletakkan botol itu kembali dan secara otomatis membenahi selimut Adrian yang sedikit tersingkap. Gerakan Yasmin begitu alami, penuh perhatian yang tulus tanpa maksud menggoda. Bagi Adrian, ini adalah pengalaman baru. Biasanya, wanita yang mendekatinya akan bertingkah agresif atau justru sangat kaku. Tapi Yasmin... perlakuannya terasa seperti belaian seorang ibu atau kakak yang hangat. Untuk menutupi rasa canggung yang mendadak muncul, Adrian memilih memejamkan mata, berpura-pura istirahat. Yasmin yang melihat itu hanya mengembuskan napas lega. Ia merasa bebannya sedikit terangkat melihat pasiennya kooperatif. Tak lama kemudian, ketukan di pintu membuyarkan kesunyian. Seorang perawat datang membawa nampan sarapan khusus pasien. Yasmin menerimanya dengan sopan, lalu menata meja di samping brankar. Melihat Adrian kembali membuka mata, Yasmin menawarkan dengan suara halus, "Kakak mau sarapan sekarang?" Adrian menjawab dengan anggukan kecil. Yasmin dengan sigap menaikkan bagian kepala tempat tidur agar Adrian bisa bersandar dengan nyaman. Menu pagi itu adalah bubur gurih dengan cincangan sayur dan daun bawang yang harum, ditemani ayam kecap, telur rebus, buah pisang, serta pancake madu. Yasmin mempersilakan Adrian untuk mulai makan, namun pria itu hanya mengernyitkan alis, menatap sendok di atas nampan. Yasmin sempat terdiam sesaat, berpikir keras. Oh, tentu saja! Pikirannya kembali ke masa-masa ia merawat anak sulungnya yang sakit. Ia segera mengambil selembar tisu, memasangkannya di leher Adrian agar tidak kotor, lalu mulai menyendok bubur setelah memastikan suhunya hangat kuku. "Bismillah dulu ya, Kak," ucap Yasmin tulus. Adrian menurut saja. Ia membuka mulutnya, menerima setiap suapan dari tangan Yasmin. Saat menyuapi, Yasmin tak henti-hentinya tersenyum manis. Di matanya, Adrian bukan seorang pria dewasa yang berwibawa, melainkan raga yang sedang butuh perawatan, persis seperti anak-anaknya di rumah. Ia benar-benar menikmati momen ini sebagai pelepas rindu pada perannya sebagai seorang ibu. Namun bagi Adrian, senyuman Yasmin adalah ancaman. Debaran jantungnya justru berpacu lebih cepat. Apa perempuan ini sedang mencoba menggodaku dengan cara sehalus ini? tanyanya curiga dalam hati, meski ia tetap lahap mengunyah. Setelah makanan tandas, Yasmin membantu Adrian meminum obat. Saat tangan mereka bersentuhan ketika memegang gelas, Adrian merasakan sengatan listrik yang aneh, sebuah desir yang membuatnya tidak nyaman sekaligus penasaran. Ia buru-buru memalingkan wajah, menganggap itu hanya efek samping obat bius yang masih tersisa. Pintu kembali terbuka. Clara masuk membawa paper bag sarapan untuk Yasmin. Ia sempat mematung melihat Adrian sudah duduk bersandar. Setelah memberikan hormat, Yasmin menjelaskan situasi medis terbaru dan meminta Clara menghubungi orang tua Adrian. "Kak Clara, tolong hubungi Mami ya. Katakan Kak Adrian sudah siuman," pinta Yasmin. Tiba-tiba, suara parau yang sangat rendah terdengar. "Leon..." panggil Azmy sulit. Clara yang sudah bertahun-tahun bekerja dengan keluarga itu langsung paham. Ia segera keluar untuk menghubungi Leon, asisten pribadi Adrian, dan memberitahukan kabar gembira ini kepada majikannya di luar kota. "Kak, Yasmin makan dulu di sofa ya," pamit Yasmin sopan. Adrian hanya mengangguk singkat, matanya tetap mengikuti Yasmin yang kini asyik menyantap bubur ayam dan dimsum pemberian Clara. Adrian memperhatikan bagaimana Yasmin dengan telaten menyisihkan irisan bawang dan seledri, sebuah detail kecil yang entah mengapa terekam jelas di ingatannya. Ia mulai menilai, Yasmin adalah perpaduan aneh antara gadis remaja dan wanita dewasa yang sangat teratur. Beberapa jam kemudian, Leon datang dengan langkah terburu-buru. Leon adalah satu-satunya orang yang dipercaya Adrian untuk mengurus kebutuhan pribadinya. Sejak saat itu, Yasmin sedikit terbantu. Namun, sebuah kabar mengejutkan datang dari Clara; Papi Surya dan Mami Rahel baru bisa kembali minggu depan karena ada tender besar yang harus dimenangkan perusahaan. Mereka sepenuhnya menitipkan Adrian kepada Yasmin. Apa mereka tidak terlalu percaya menyerahkan anaknya kepadaku? batin Yasmin heran. Namun, ia tidak tahu bahwa Mami Rahel sudah jatuh hati pada kesantunannya sejak pertemuan pertama. Selama hari-hari berikutnya, ruangan VVIP itu menjadi kantor kecil. Leon bolak-balik membawa laporan perusahaan, dan Adrian, dengan ketangguhan mentalnya, mulai memeriksa berkas meski tubuhnya masih lemah. Yasmin mendengarkan penjelasan Clara tentang kesibukan luar biasa Tuan Mudanya itu agar ia bisa menyesuaikan diri. Bagi jiwa Yasmin yang pernah hidup susah dan kenyang makan asam garam kehidupan, melihat gaya hidup borjuis ini adalah sebuah studi sosiologi yang nyata. Ia tidak silau, tidak juga iri. Ia tetap menjadi dirinya yang sederhana, menyuapi Adrian, mengingatkan waktu salat, dan belajar modul manajemennya di sudut ruangan. Adrian sering mencuri pandang ke arah Yasmin yang sedang serius belajar. Ada rasa ingin tahu yang semakin besar. Bagaimana mungkin seorang gadis berusia 19 tahun bisa memiliki ketenangan seperti seorang wanita yang sudah hidup puluhan tahun? Mengapa kehadirannya di ruangan itu terasa lebih menenangkan daripada ratusan asisten yang pernah ia pekerjakan? Adrian memutuskan satu hal: ia harus segera pulih sepenuhnya. Bukan hanya untuk perusahaan, tapi untuk mencari tahu siapa sebenarnya "Yasmin" yang telah mengisi kekosongan saat raganya terlelap dalam kegelapan.Dua jam berlalu dalam keheningan yang damai. Yasmin terbangun saat jarum jam menunjuk ke angka empat sore. Cahaya matahari yang mulai miring masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas karpet beludru kamar rumah utama. Dengan gerakan perlahan, Yasmin bangkit dan merapikan selimut, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut. Terdengar ketukan pelan di pintu."Masuk." sahut Yasmin tanpa menoleh.Ia mengira itu adalah Clara yang datang untuk mengingatkannya bersiap menuju hotel. Namun, suara pintu yang tertutup dan derap langkah yang terasa lebih berat dari biasanya membuat Yasmin tersadar. Sebelum ia sempat berbalik, sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari belakang.Yasmin membeku. Jantungnya berdegup liar saat ia merasakan dada bidang yang kokoh menempel di punggungnya. Wangi maskulin yang khas, campuran aroma kayu cendana dan kesegaran citrus, seketika memenuhi indra penciumannya. Itu bukan Clara. Itu Adrian.Adrian membenamkan wajahnya d
Kegelapan masih menyelimuti langit ketika ketukan halus di pintu kamar memecah keheningan pukul empat pagi. Clara sudah berdiri di sana, memberikan senyum simpul saat mendapati Yasmin yang telah terjaga. Tanpa banyak kata, Yasmin melangkah mengikuti Clara menuju rumah utama. Sesuai pesan Mami Rahel semalam, seluruh rangkaian acara sakral ini akan dipusatkan di sana. Yasmin ditempatkan di sebuah kamar luas di lantai dua, sebuah ruangan yang akan menjadi saksi bisu transformasinya hari ini.Begitu memasuki kamar, Yasmin langsung disambut oleh atmosfer yang menenangkan. Empat orang terapis telah bersiap. Wangi aromaterapi melati dan cendana menguar dari kamar mandi, menciptakan ketenangan instan. Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka membimbing Yasmin untuk memulai rangkaian perawatan tubuh.Yasmin hanya bisa pasrah. Di bawah jemari para ahli, tubuhnya dibasuh dengan lulur tradisional, wajahnya dimasker, dan rambutnya diberikan nutrisi terbaik. Saat seorang terapis hendak melakuk
Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik, Adrian berjalan dengan langkah tegap didampingi Leon. Hari ini adalah penentuan, sebuah check-up menyeluruh untuk memastikan fisiknya siap menghadapi hari besar besok. Sementara itu, di kediaman Adrian, suasana tampak jauh lebih sibuk. Mami Rahel telah menyulap ruang tengah menjadi butik dadakan, lengkap dengan jajaran gaun pengantin dan tim MUA profesional yang siap memoles Yasmin.Mami Rahel memang perfeksionis. Ia telah memesan tiga gaun eksklusif yang disesuaikan dengan proporsi tubuh Yasmin yang ramping. Sang MUA pun sepakat untuk mengusung konsep Natural-Flawless; sebuah pilihan cerdas agar kecantikan asli Yasmin tidak terkubur oleh riasan tebal. Di sudut ruangan, Clara si asisten pribadi, telah bersiap dengan kamera di tangan, bertugas mengabadikan setiap momen atas perintah Mami."Yasmin sayang, cobalah yang pertama," pinta Mami Rahel dengan binar mata antusias.Gaun pertama adalah mahakarya untuk prosesi akad nikah. Berwarna pu
Suara adzan subuh yang lembut namun tegas berkumandang dari aplikasi di ponsel Yasmin, membelah kesunyian kamar yang masih berselimut remang. Yasmin mengerang pelan, kesadarannya perlahan terkumpul. Ia berniat untuk segera bangun dan bersujud kepada Sang Khalik, namun tubuhnya terasa seolah tertahan oleh beban yang berat dan hangat. Ada sesuatu yang melingkar erat di perutnya, mengunci pergerakannya.Perlahan, Yasmin membuka kelopak matanya yang terasa lengket dan berat. Pemandangan pertama yang menyambutnya bukanlah langit-langit kamar, melainkan hamparan dada bidang yang terbungkus piyama satin biru gelap. Tiga kancing teratasnya terbuka, menyingkap garis leher yang kokoh. Jantung Yasmin berdegup kencang. Ia mendongakkan kepala sedikit, dan seketika itu juga dunianya seolah berhenti berputar.Adrian.Yasmin refleks membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya membelalak, ngeri jika teriakan histerisnya lepas dan membangunkan seisi rumah atau lebih buruk lagi, menyinggung p
Langit dalam benak Yasmin berwarna emas pucat, sebuah senja abadi yang terasa hangat sekaligus asing. Di sana, di bawah pohon rimbun yang daunnya berbisik pelan, ia menemukan mereka. Suaminya berdiri dengan ketenangan yang biasa ia kenal, didampingi dua buah hati yang menjadi alasan jantungnya tetap berdetak. Yasmin merasa kebahagiaan menyeruak hingga ke ujung sarafnya. Ia ingin waktu berhenti, ingin selamanya berada di ruang ini. Ia belum menyadari bahwa dunia ini hanyalah kepingan mimpi yang rapuh.Suaminya menatap Yasmin dengan tatapan teduh, tatapan yang selalu menjadi jangkar saat badai menghantam rumah tangga mereka."Yasmin, kau harus bahagia," ucapnya lembut, suaranya seperti gema yang menenangkan."Ini adalah takdirmu. Syukuri setiap rahmat Allah dan jalanilah ketetapan-Nya dengan ikhlas. Ingatlah, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya."Yasmin tertegun. Suaminya memang selalu begitu; seberat apa pun beban yang memikul pundak, Allah adalah satu-satunya sandaran. Tak ada k
Malam ini terasa begitu melelahkan, bukan secara fisik bagi raga Jasmine, melainkan bagi jiwa Yamin yang menghuninya. Sepulang dari restoran, suasana hatinya yang tadi sempat menghangat mendadak berubah menjadi kegundahan yang pekat. Begitu sampai di mansion, Yasmin segera mengunci diri di kamar. Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban sholat malam, ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Matanya menatap hampa ke arah langit-langit kamar yang dihiasi molding elegan, namun pikirannya menerawang jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang ia tempati sekarang.Perasaan pemilik tubuh asli, Jasmine, masih melekat kuat layaknya residu yang enggan luruh. Hal ini menciptakan dilema luar biasa di dalam batin Yasmin. Di satu sisi, ia ikut merasakan gelombang kebahagiaan yang meluap dari sisa-sisa memori Jasmine; kebahagiaan karena akhirnya ada seseorang yang menghargai keberadaannya. Namun di sisi lain, keraguan besar mulai men







