تسجيل الدخولHening malam di mansion keluarga Adrian mendadak pecah. Baru saja Adrian hendak buka suara setelah menyelesaikan sholat malam, sebuah ketukan pintu yang tergesa-gesa menginterupsi."Sayang..." Kalimat Adrian menggantung di udara.Yasmina menarik napas, memberikan senyum penenang pada suaminya sebelum beranjak membuka pintu. Di ambang pintu, kepala pelayan berdiri dengan wajah pucat dan napas memburu."Nyonya Muda, mohon maaf mengganggu... tapi kedua Tuan Kecil... mereka tidak bisa ditenangkan. Nyonya Besar dan Clara sudah mencoba segala cara di kediaman sebelah, tapi kedua Tuan Kecil terus menangis histeris," lapornya dengan nada gugup.Mendengarnya, naluri keibuan Yasmina meledak. Rasa lelah dan sisa trauma penyerangan tadi siang menguap seketika, digantikan oleh kepanikan yang terukur. Tanpa sempat mengganti pakaian, Yasmina berlari keluar kamar masih dengan mukena putih yang terpasang di tubuhnya. Kain mukena itu berkibar di koridor mansion saat ia berlari menuju paviliun kediaman
Dunia seolah berhenti berputar bagi Yasmina. Di dalam kamar yang tenang itu, aroma antiseptik yang samar dari perban suaminya bercampur dengan aroma maskulin khas Adrian yang sangat ia rindukan. Lengan kekar yang melingkar di perutnya bukan sekadar pelukan; itu adalah jangkar yang menariknya kembali dari badai ketakutan yang nyaris menenggelamkannya beberapa jam lalu.Yasmina membalikkan tubuh perlahan, gerakannya sangat hati-hati seolah takut sosok di depannya ini hanyalah fatamorgana hasil dari rasa lelahnya yang luar biasa. Namun, hangatnya kulit Adrian nyata. Wajah itu pucat, dengan perban melilit dahi hingga sebagian rambut yang tercukur rapi, namun matanya; mata yang sempat mendingin dan asing selama seminggu terakhir, kini kembali memancarkan sinar yang ia kenali."Assalamualaikum, Sayang..." Suara Adrian serak, berat karena sisa obat-obatan, namun penuh dengan kerinduan yang tumpah ruah.Yasmina merasa kerongkongannya tersumbat."Wa’alaikumussalam... Mas? Kenapa sudah di sini?
Yasmina melangkah keluar dari ruang kuliah dengan bahu yang terasa sedikit kaku. Materi ekonomi makro hari ini cukup menguras energi, namun pikirannya tak pernah benar-benar berada di dalam kelas. Separuh jiwanya tertinggal di boks bayi bersama si kembar, dan separuhnya lagi tertahan di ruang ICU tempat Adrian masih berjuang melawan maut.Di depan pintu kelas, Victor sudah berdiri tegak. Sosoknya yang tinggi besar dan tatapan matanya yang waspada membuat beberapa mahasiswa menepi secara tidak sadar. Bagi mereka, Victor mungkin tampak seperti pengawal pribadi yang mengintimidasi, namun bagi Yasmina, pria itu adalah pagar hidup yang menjaminnya bisa pulang untuk memeluk anak-anaknya."Nyonya Muda," sapa Victor dengan anggukan hormat."Victor, sebelum pulang, tolong antar aku ke supermarket sebentar. Ada beberapa kebutuhan mendesak yang harus kubeli," ucap Yasmina sambil membenahi letak tas selempangnya.Sebenarnya, Yasmina bisa saja meminta pelayan atau penjaga bayangan lainnya untuk me
Matahari pagi baru saja mengintip dari balik cakrawala kota, menyiramkan semburat jingga keemasan yang menembus jendela kaca kamar utama. Di dalam keheningan pagi yang sejuk itu, Yasmina berdiri mematung di samping ranjang bayi berukuran besar.Di dalam boks kayu jati yang diukir halus itu, dua malaikat kembarnya; buah cintanya bersama Adrian sedang terlelap dengan sangat nyenyak. Suara napas halus mereka yang teratur menjadi melodi paling menenangkan bagi jiwa Yasmina yang akhir-akhir ini terus didera kecemasan.Yasmina tersenyum tipis, mengelus pipi gembul salah satu bayinya dengan ibu jarinya. Ia baru saja menyelesaikan rutinitas paginya: menyusui mereka hingga kenyang, mengganti popok, dan menyenandungkan sholawat hingga keduanya kembali terbuai ke alam mimpi. Berat rasanya melangkahkan kaki keluar dari rumah hari ini.Sejak Adrian terbaring koma di rumah sakit, separuh jiwanya seolah tertinggal di ruang ICU yang dingin itu. Namun, hidup harus terus berjalan. Pendidikan yang sedan
Sejak perayaan 40 hari yang megah itu usai, atmosfer di kediaman Adrian berubah menjadi ganjil. Yasmina, yang biasanya penuh kelembutan, memilih untuk menarik diri. Ia menghindari interaksi yang tidak perlu dengan suaminya.Bukan karena benci, melainkan karena rasa jengkel yang membuncah akibat pertanyaan-pertanyaan absurd Adrian yang meragukan kesetiaannya. Yasmina memilih diam sebagai bentuk protes bisu; ia membiarkan Adrian tenggelam dalam labirin kecurigaan dan ketidakpercayaannya sendiri.Meski begitu, pengabdiannya sebagai istri tidak luntur. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, Yasmina sudah berada di dapur, meracik bumbu dan memasak sarapan kesukaan Adrian dengan tangannya sendiri. Ia menyiapkan pakaian, memastikan vitamin suaminya tersedia, namun semua dilakukan tanpa sepatah kata pun.Adrian sendiri, yang terjebak dalam mode "Beruang Kutub", seolah tidak menyadari perubahan sikap istrinya. Baginya, keheningan Jasmine adalah ruang yang ia butuhkan untuk terus membe
Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya bagi Adrian. Di luar, suara jangkrik bersahutan di balik rimbunnya taman mansion, namun di dalam kepalanya, suara-suara keraguan jauh lebih bising. Besok adalah acara 40 hari kelahiran si kembar; sebuah tonggak sejarah keluarga yang seharusnya ia rayakan dengan suka cita. Namun, bagi Adrian yang ingatannya terputus, acara ini terasa seperti panggung sandiwara di mana ia dipaksa memerankan tokoh utama yang tidak hapal naskahnya. Meskipun logika dan arsip dari Leon terus membentur dinding keraguan di kepalanya, Adrian tetap memilih untuk patuh pada pengaturan Papi Surya dan Mami Rahel. Ia mencoba menerima status Jasmine sebagai istrinya dan bayi kembar itu sebagai darah dagingnya, meski hatinya masih terasa seperti tanah kering yang merindukan hujan kebenaran. Puzzle yang ia susun semakin membingungkan. Kemarin, saat ia meminta maaf atas luka di bahu Jasmine, wanita itu hanya tersenyum teduh."Aku sudah memaafkanmu, karena memang tidak ada ya







