Home / Fantasi / Jiwa yang Berbeda / Luka yang Membasah

Share

Luka yang Membasah

Author: Meymei
last update publish date: 2026-02-21 09:02:42

Malam semakin larut di kediaman mewah Adrian. Di ruang keluarga yang luas, suasana terasa janggal namun damai. Yasmin dan Adrian menonton televisi tanpa suara, terbungkus dalam keheningan masing-masing.

Meski duduk di satu sofa panjang yang empuk, posisi mereka berada di ujung yang berseberangan, menyisakan ruang kosong yang lebar di tengah-tengah, sebuah jarak fisik yang mencerminkan kecanggungan dua jiwa yang belum benar-benar saling mengenal. Adrian duduk menyandar dengan tatapan lurus ke d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jiwa yang Berbeda   Simfoni Strategi

    Di kantor Banyu Grafika, suasana yang biasanya lesu dan penuh dengan kasak-kusuk kecurigaan kini berubah menjadi medan perang produktivitas yang teratur. Adrian bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, seolah setiap detik yang ia hirup memiliki nilai nominal yang harus dipertanggungjawabkan.Fajri, yang kini menjabat sebagai asisten pribadinya, seringkali merasa tertinggal beberapa langkah di belakang. Ia harus berjuang keras menyamai ritme kerja sahabatnya yang kini tampak memiliki visi sepuluh tahun ke depan."Kamu benar-benar berubah menjadi workaholic yang gila, Em," cetus Fajri dengan suara lemah sembari menyandarkan punggungnya di kursi setelah menyelesaikan rekonsiliasi data vendor.Adrian tidak mengangkat wajah dari layar komputernya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard."Jika aku tidak gila kerja sekarang, percetakan ini hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi museum kegagalan. Kita sedang mengejar ketertinggalan dua tahun, Fajri.""Ya, kamu benar. Untung saja sunti

  • Jiwa yang Berbeda   Roda Takdir dan Permata yang Tersembunyi

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang jauh lebih menenangkan. Kebekuan yang sempat mengkristal di hati Nafisa perlahan mencair, memberikan ruang bagi harapan-harapan baru untuk tumbuh. Meskipun belum sepenuhnya kembali seperti kemesraan mereka di masa lalu, interaksi di antara mereka kini berjalan ke arah yang positif. Adrian merasa seolah sedang menyusun kembali kepingan puzzle yang sempat ia hancurkan sendiri dengan egonya."Sayang, hari ini aku hanya akan ke kantor sebentar untuk memantau sisa laporan," kata Adrian di meja makan, suaranya kini penuh kelembutan yang tulus."Tunggu aku kembali, ya? Siang nanti, kita akan ke rumah sakit bersama untuk bertemu dokter tumbuh kembang Dion. Aku tidak mau melewatkan satu pun sesi terapinya lagi."Adrian menatap hidangan di depannya. Di mata seorang Adrian yang terbiasa dengan kuliner modern atau masakan barat di dunianya dulu, sarapan yang disiapkan Nafisa tampak unik. Ada tumpukan sayuran hijau rebus yang disiram saus kacang kenta

  • Jiwa yang Berbeda   Gema Istigfar di Sepertiga Malam

    Sudah satu minggu berlalu sejak badai meluluhlantakkan kedamaian di rumah Emran dan Nafisa. Satu minggu pula Nafisa membangun tembok tinggi bernama kebisuan. Interaksi yang ia lakukan dengan Adrian hanya sebatas formalitas yang kaku; saat Dion ada di antara mereka sebagai penengah, atau saat tamu berkunjung dan menuntut sandiwara keharmonisan.Selebihnya, Nafisa hanya melakukan tugasnya sebagai istri secara mekanis; menyiapkan pakaian, memasak, dan merapikan rumah, namun tanpa ruh, tanpa senyum, dan tanpa tatapan mata.Malam itu, di kamar Dion yang bernuansa biru langit, Nafisa sedang membacakan kisah-kisah nabi dengan suara lembut yang sedikit parau."Mama..." panggil Dion kecil, memotong narasi tentang kapal Nabi Nuh."Iya, Sayang?" Nafisa mengusap rambut putranya dengan kasih sayang yang meluap."Dion bisa tidur sendiri sekarang. Dion sudah jadi anak hebat, kan?" ucap Dion polos.Matanya yang jernih menatap Nafisa, seolah bocah itu memiliki radar yang mampu menangkap frekuensi kete

  • Jiwa yang Berbeda   Dermaga Maaf

    Cahaya pagi yang merembes melalui celah gorden satin di kamar utama seharusnya membawa kesegaran, namun bagi dua jiwa yang saling diam itu, mentari seolah kehilangan taringnya.Sinar yang mengandung vitamin D itu jatuh di atas karpet bulu, namun tidak mampu mencairkan kebekuan yang mengkristal di antara Adrian dan Nafisa. Dingin yang merayap di sana bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari sisa-sisa badai emosi yang baru saja meluluhlantakkan dinding kesabaran.Nafisa duduk bersandar di kepala tempat tidur, jemarinya meremas pinggiran selimut dengan ritme yang tak beraturan. Ia memejamkan mata, mencoba menata kepingan hatinya yang berserakan dengan merapalkan dzikir yang tak putus dalam batin. Di sisi lain, Adrian, dalam raga Emran tidak lagi menunjukkan otoritas seorang pemimpin perusahaan. Ia duduk bersimpuh di lantai, tepat di bawah kaki Nafisa, sebuah posisi yang menunjukkan kehancuran ego dan permohonan ampun yang paling dalam.Waktu seolah membeku. Hanya deting jarum

  • Jiwa yang Berbeda   Prahara di Balik Tabir Rahasia

    Fajar menyingsing di ufuk timur Yogyakarta, menyemburatkan warna jingga kemerahan yang menembus sela-sela gorden rumah keluarga Hartanto. Di dalam kamar yang tenang, Erna dan Hartanto baru saja melipat sajadah setelah menunaikan shalat Subuh.Keheningan pagi itu tiba-tiba pecah oleh dering ponsel yang nyaring. Nama "Emran" berkedip di layar, memicu kerutan heran di dahi Erna. Tidak biasanya putra mereka menghubungi di jam yang masih dianggap buta bagi seorang pengusaha muda. Dengan perasaan penasaran yang bercampur cemas, Erna menggeser ikon hijau."Halo, Assalamualaikum, Emran?""Waalaikumsalam, Bu," suara Adrian di seberang terdengar parau, ada nada memohon yang sangat kental di sana."Bu... apakah Ibu dan Ayah bisa menjemput Dion pagi ini? Segera setelah matahari terbit?" Jantung Erna berdesir."Kenapa, Nak? Apa Nafisa sakit? Apa terjadi sesuatu yang buruk di rumah?""Tidak, Bu. Nafisa sehat secara fisik.""Lalu kenapa suaramu terdengar seperti orang putus asa begitu?"Adrian mengh

  • Jiwa yang Berbeda   Nalar dan Perasaan

    Kamar utama itu seakan menjadi saksi bisu atas sebuah anomali semesta yang melampaui logika manusia. Keheningan yang menggantung di udara terasa begitu padat, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi dua jiwa yang sedang bertaruh dengan nalar.Adrian, dengan jantung yang berdegup kencang di balik raga Emran, mencoba menyelaraskan realitas yang tumpang tindih. Di satu sisi, ia adalah Adrian yang merindukan Yasmina sampai ke tulang, namun di sisi lain, ia terjebak dalam raga pria yang memiliki sejarah kelam dengan wanita di pelukannya.Nafisa tetap bergeming, membiarkan kehangatan tubuhnya menjadi jawaban bisu atas kegundahan laki-laki itu."Nafisa, apakah kalimat itu sangat umum diucapkan di sini? Maksudku, apakah itu ungkapan yang jamak digunakan untuk menyatakan cinta?" tanya Adrian di puncak kebingungannya.Suaranya serak, mencerminkan keraguan yang menggerogoti jiwanya.Hanya itu pertanyaan yang sanggup dirumuskan oleh otaknya yang sedang mengalami malfungsi si

  • Jiwa yang Berbeda   Fragmen Luka yang Tersingkap

    Malam di Yogyakarta selalu membawa hawa sejuk yang merayap masuk melalui celah jendela jati. Setelah shalat Isya berjamaah; di mana Adrian mengimami dengan suara bariton yang bergetar penuh penghayatan, Nafisa membantu suaminya naik ke atas tempat tidur. Gerakannya sigap namun penuh kelembutan, seo

  • Jiwa yang Berbeda   Kepulangan yang Asing

    Dua hari kemudian, aroma antiseptik rumah sakit berganti dengan bau tanah basah dan asap kendaraan yang khas. Adrian Laksmana, dalam raga Abiyu Emran, akhirnya diperbolehkan pulang. Saat mobil melewati papan iklan yang bertuliskan "HUT Yogyakarta", jantung Adrian berdegup kencang.Ini adalah Indone

  • Jiwa yang Berbeda   Adrian di Raga yang Asing

    Cahaya matahari pagi menyelinap di antara celah daun pepohonan di taman rumah sakit, menciptakan bayangan retak di atas pangkuan Adrian Laksmana atau setidaknya, sosok yang kini menghuni tubuh pemuda bernama Abiyu Emran. Ia duduk di kursi roda, jemarinya yang lentik dan tanpa kerutan terasa asing ba

  • Jiwa yang Berbeda   Cahaya yang Melampaui Raga

    Hening menyelimuti kamar utama mansion Adrian. Aroma sisa parfum soft floral milik Yasmina seolah menari di antara butiran debu yang tersorot cahaya sore. Di atas sofa beludru, ketiga anak Adrian; Zayn, Zayden, dan Daneena duduk terpaku. Informasi yang baru saja mereka dengar bukan sekadar cerita p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status