INICIAR SESIÓNAku bukan siapa-siapa. Aku selalu berhati-hati. Tenang. Jenis serigala yang memudar ke latar belakang dan bertahan hidup karena dia tidak menarik perhatian.
Tapi—
“Kiara,” seseorang bergumam di belakangku.
Aku tersentak mendengar namaku.
Inara berdiri tepat di luar barisan serigala yang belum berpasangan, tatapannya tertuju padaku. Ekspresinya tegang, tak terbaca.
Peringatan.
Aku menelan ludah dan mengangguk kecil, mengakuinya tanpa berbalik sepenuhnya. Dia tidak terlihat tenang.
Aku juga tidak.
Mikail bergeser lagi, gelisah. Rahangnya mengencang. Tangannya mengepal sebentar di sisinya, lalu rileks. Jika orang lain memperhatikan, mereka tidak berkomentar.
Tarikan itu semakin kuat, tekanan konstan di dadaku yang membuatku sulit berpikir. Napasku kini dangkal. Paru-paruku menolak untuk terisi dengan benar.
Aku merasa terlalu panas, terlalu terang, seperti kulitku bersinar di bawah sinar bulan.
Beginilah rasanya ikatan itu.
Tidak lengkap. Tidak terkunci. Tapi cukup dekat untuk dirasakan.
Kepanikan muncul.
Aku telah melihat apa yang terjadi pada serigala yang terikat di atas kedudukan mereka. Aku telah menangani akibatnya—hati yang hancur, pikiran yang remuk, serigala yang diusir atau diam-diam dihapus untuk menjaga perdamaian.
Aku tidak akan menjadi salah satu dari mereka.
Aku menegakkan bahuku dan memaksa napasku melambat. Tarik napas. Hembuskan napas. Hitung. Kendalikan itu.
Aku tidak terpilih.
Aku tidak istimewa.
Ini akan berlalu.
Tatapan Mikail kembali tertuju padaku sekali lagi, lebih tajam sekarang, mencari. Sesuatu yang gelap dan berbahaya terlintas di matanya—pengakuan yang bercampur dengan penyangkalan.
Bagus.
Biarkan dia menyangkalnya. Biarkan dia memalingkan muka.
Dia melakukannya.
Saat perhatiannya beralih, tekanan sedikit mereda.
Aku lemas, kelegaan dan kekecewaan bercampur aduk di dadaku.
Mirelle menghela napas.
“Oke. Aku berpikir sejenak—”
“Jangan,” aku memotong dengan pelan.
Dia menatapku sejenak, lalu mengangguk.
“Baik. Maaf.”
Nyanyian semakin keras. Pendeta Agung mengangkat tongkatnya lagi, suaranya bergema di seluruh aula.
“Biarkan bulan menjadi saksi,” serunya. “Biarkan kebenaran terungkap.”
Sihir melonjak.
Simbol-simbol di dalam lingkaran bersinar lebih terang, cahaya menyebar keluar dalam garis-garis perak yang tajam. Udara bergetar. Serigalaku mengangkat kepalanya, matanya tertuju pada pusat lingkaran, tubuhnya tegang dan siap.
Pengendaalian apa pun yang telah kulakukan tiba-tiba menegang, meregang hingga batasnya.
Tarikan menuju Mikail masih ada. Menunggu. Tergulung.
Siap.
Dan saat ritual beralih ke fase berikutnya, saat cahaya bulan semakin intens dan sihir mencapai sesuatu yang lebih dalam, kepastian yang lebih dingin menetap di tulangku.
Ini bukan lagi sesuatu yang dapat kuabaikan.
Upacara ini akan memaksa kebenaran terungkap.
Entah aku siap atau tidak.
* * *
Pendeta Agung mengiris telapak tangannya.
Suaranya kecil. Irisan lembut. Tetapi sihir bereaksi seolah-olah telah menunggu darah.
Manik-manik merah di sepanjang kulitnya, gelap dan berkilau di bawah cahaya bulan, dan simbol-simbol yang diukir di batu menyala putih panas. Udara bergetar. Benar-benar bergetar—seperti percikan api yang melompati celah.
Setiap serigala yang belum berpasangan menghirup udara pada saat yang bersamaan.
Aku merasakan rasa tembaga di mulutku.
“Demi darah dan napas,” sang Pendeta Agung melantunkan, suaranya bergema di dinding batu, “demi bulan dan ingatan—biarkan kawanan terlihat.”
Dia membiarkan darah menetes ke lingkaran itu.
Sihir itu melonjak.
Sihir itu menghantamku tanpa peringatan, dinding kekuatan yang membuat napasku terhenti. Lututku lemas.
Mirelle meraih lenganku dengan tarikan napas tajam, kukunya menancap.
“Kiara—”
“Aku—”
Aku mencoba berbicara. Tidak bisa. Tenggorokanku tercekat.
Lingkaran itu menyala lebih terang, cahaya merambat ke kakiku, ke kulitku, meresap dalam-dalam. Tidak membakar. Mengambil.
Serigalaku melolong di dalam diriku, suara kaget dan kegembiraan yang dahsyat yang mengguncang tulangku.
Tidak.
Tidak, tidak, tidak—
Aku melawannya secara naluriah, mencakar untuk mengendalikan diri, tetapi ritual itu tidak peduli. Sihir itu kuno. Lebih tua dari mahkota. Lebih tua dari pilihan.
Nyanyian itu berubah lagi, suara-suara naik, turun mengikuti ritme yang sesuai dengan detak jantung kedua yang selama ini kucoba abaikan sepanjang malam.
Itu bukan detak jantung kedua lagi.
Itu milikku.
Rasa sakit muncul di dadaku—tajam, tiba-tiba, mencekam. Aku terengah-engah, jari-jari mencengkeram tulang dadaku seolah-olah aku bisa mencabutnya.
Panas langsung menyusul, sebuah gelombang yang begitu kuat hingga membuatku pusing. Kehangatan menyebar melalui pembuluh darahku, ke lengan, kaki, dan terasa kencang di perutku.
Kepastian datang terakhir.
Bersih. Mutlak. Mengerikan.
Pasangan.
Kata itu tidak terdengar seperti bahasa. Itu terdengar seperti kebenaran.
Ikatan itu terjalin dengan benturan tanpa suara yang mengguncang seluruh tubuhku. Aku menjerit, suara itu terlepas dari dadaku, lututku akhirnya lemas saat aku terjatuh ke depan.
Tangan-tangan menangkapku sebelum aku menabrak batu.
Bukan tangan Mirelle.
Besar. Hangat. Kuat.
Dunia berputar dengan keras saat aku ditarik tegak, ditekan ke dada kokoh yang memancarkan panas dan kekuatan. Indraku meledak—aromanya, gelap, tajam, dan tak salah lagi, membanjiri paru-paruku.
Mikail.
Penglihatanku cukup jernih untuk melihat warna emas matanya, lebar dan menyala-nyala, keterkejutan merembes melalui kendali kaku yang kulihat sebelumnya. Rahangnya terkatup begitu keras hingga aku bisa melihat ototnya berkedut.
Kemarahan melintas di wajahnya.
Bukan padaku.
Pada ikatan itu.
Pada ritual itu.
Pada takdir itu sendiri.
"Tidak," geramnya pelan, kata itu bergetar di dadanya tempat pipiku bersandar.
Cengkeramannya mengencang secara refleks, jari-jarinya mencengkeram lenganku seolah-olah dia bersiap untuk benturan.
Kerumunan meledak.
Desahan. Teriakan. Gelombang suara saling bertabrakan.
“Ikatan itu—”
“Dengan Pangeran Alpha—”
“Mustahil—”
Jantungku berdebar kencang, tetapi sekarang stabil, berdetak seirama dengan jantungnya. Setiap detaknya bergema di dalam diriku, keras dan tak terbantahkan.
Aku mengenalnya.
Aku selalu mengenalnya.
Gerakan berkelebat di tepi kesadaranku. Mungkin seorang pengintai. Atau hanya hutan yang tenang.Aku menegang, lalu memaksa diriku untuk bernapas.“Kita tidak bisa tinggal di sini,” kata Mikail.“Tidak.”Bukan ketidaksetujuan. Persetujuan. Itu mungkin lebih buruk.Dia menatapku seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki yang terus berubah bentuk. “Ke mana kau akan pergi?”Pertanyaannya netral. Yang tersirat tidak.Kali ini aku menatap matanya. Benar-benar menatapnya. “Menjauh dari siapa pun yang merasa berhak.”Matanya berkedip. Rasa sakit, di sana. Rasa bersalah. Tekad. Semuanya bercampur aduk.“Itu termasuk aku,” katanya.“Ya.”Kata itu terasa berat. Final.Dia menerimanya. Tidak membantah. Tidak marah. Itu lebih menakutkan bagiku daripada amarahnya dulu.Ikatan itu mengencang, bukan sebagai protes, tapi sebagai pengakua
Keheningan lebih keras daripada perdebatan.Kami berlindung di antara pepohonan aras tua. Tudungnya cukup rapat untuk menghalangi pandangan dan menyebarkan suara.Lumut meredam langkah kaki. Udara berbau getah dan tanah dingin dan karat besi—terlalu banyak besi. Darah, mengering. Tidak semuanya milikku. Tidak semuanya miliknya.Perlindungan sementara. Itulah frasa yang kugunakan dalam pikiranku, seolah-olah menyebutnya sementara membuatnya menjadi kokoh. Seolah-olah menyebutnya sementara mencegahnya berubah menjadi tempat lain yang harus kutinggalkan.Mikail berdiri sepuluh langkah jauhnya. Tepat sepuluh. Aku menyadarinya karena dia bukan tipe pria yang meninggalkan ruang secara tidak sengaja.Dia tidak mondar-mandir. Dia tidak memberi perintah. Dia tidak melakukan apa pun yang terlihat seperti mengendalikan.Itulah yang membuatnya berbahaya.Aku membelakangi batang pohon aras. Satu lengan melingkari anakku untuk melindungi. Dia
Mikail berhenti sepuluh langkah di depanku. Cukup dekat sehingga ikatan itu mengencang hingga gigiku terasa sakit. Cukup jauh sehingga aku tahu dia melakukannya dengan sengaja.Kami berdiri di sana, kami bertiga, di bawah langit yang terasa telanjang. Tanpa penyembunyian. Tanpa tepian yang lembut. Hanya cahaya bulan dan konsekuensi.“Aku merasakannya,” kata Mikail.Bukan tuduhan. Bukan tuntutan. Pernyataan.Aku tidak langsung menjawab. Sebaliknya, aku memiringkan daguku, gerakan kecil yang membuat anak itu terlindungi tanpa terlihat jelas.“Kamu merasakan banyak hal malam ini,” kataku. Suaraku tenang. Aku bangga akan hal itu. “Pilih satu.”Mulutnya berkedut. Bukan senyum. Bahkan mendekati pun tidak.“Jangan,” katanya pelan.Kata itu—jangan—terasa lebih berat daripada perintah apa pun yang pernah dia berikan padaku.Aku menghela napas melalui hidungku. “Kam
Seekor gagak muncul dari semak-semak, Sayap hitamnya mencakar udara.Aku tersentak, secara naluriah memperketat penutup di sekitar anak itu.Terlalu ketat. Dia merengek, suara lembut seperti napas yang tertahan di tengah jalan menuju tangisan,dan ikatan itu semakin kuat.Aku menekan kuat, menelan kilatan itu sebelum menyebar.Tapi aku tahu sudah terlambat. Jaringan itu merasakannya. Bukan sebagai nama. Bukan sebagai wajah. Sebagai kehadiran. Sesuatu… baru. Sesuatu yang Alpha.Sesuatu yang seharusnya tidak ada tapi tetap ada.Aku menunduk ke semak betula tua dan berhenti cukup lama untuk mendengarkan. Bukan dengan telingaku. Dengan ikatan itu.Sekarang berbeda. Tidak pribadi. Bukan sirkuit tertutup seperti dulu. Bergema. Seperti batu yang dijatuhkan ke air yang dalam.Aku merasakan reaksi pertama menyebar. Kebingungan, rasa ingin tahu, kegelisahan.Alpha yang jauh mengangkat kepala mereka di tengah langkah. Serigal
Hutan berdengung. Di suatu tempat yang jauh, burung-burung terbang terlalu tiba-tiba. Terlalu terkoordinasi.Kami tidak sendirian. Belum dikepung, tapi diawasi.Mikail juga merasakannya. Posturnya berubah sedikit, menempatkan dirinya setengah langkah di antara aku dan garis pepohonan tanpa sepenuhnya melangkah di depan.Protektif. Tapi bukan posesif.“Aku tidak akan menugaskan pengawal yang terlihat,” katanya. “Hanya perlindungan bayangan. Serigala yang tidak akan campur tangan kecuali kau memberi sinyal.”“Dan kalau aku tidak melakukannya?”“Maka mereka tidak akan bergerak.”Aku mengangkat alis. “Kau sangat mempercayaiku?”“Tidak,” katanya jujur. “Tapi aku mempercayai prioritasmu.”Anak itu menghela napas lagi, sihirnya mereda. Ikatan itu sedikit mereda.“Bagaimana denganmu?” tanyaku. “Kau tidak akan menghilang.
Ikatan itu bergetar, ragu-ragu tapi tetap mendengarkan.“Aturan seperti apa?” tanyaku.“Aturan yang menjadikan perburuan anak kecil sebagai hukuman mati,” jawab Mikail. “Aturan yang mencabut legitimasi dari Alpha mana pun yang bersekutu dengan kultus ramalan atau penuntut takhta yang nakal.”Itu akan mengguncang dunia.“Kamu akan menggoyahkan separuh dewan,” kataku.“Aku sudah melakukannya,” jawabnya dengan muram. “Mereka hanya belum tahu alasannya.”Anak itu bergerak lagi, merasakan perubahan itu. Mikail melirik ke bawah, melunak secara naluriah.“Aku melewatkan segalanya,” katanya pelan. “Langkah pertama. Kata-kata pertama. Saat dia menyadari dunia bisa menyakitinya.”Ikatan itu mencerminkan kehilangan yang begitu mendalam hingga membuatku sesak napas.“Kamu tidak akan mendapatkan waktu itu kembali,” kataku. &l
Mikail terbangun dalam keheningan.Bukan keheningan pagi hari—belum ada burung, belum ada pelayan yang bergerak di aula luar—tetapi sesuatu yang lebih dalam. Lebih pekat. Seolah suara itu sendiri telah memutuskan untuk tidak memasuki ruangan.Untuk sesaat, dia berbaring
Aku bermimpi tentang batu.Bukan jenis batu dingin di bawah punggungku. Jenis yang akrab—halus, pucat, diukir oleh tangan-tangan yang percaya bahwa keabadian sama dengan keamanan.Benteng itu menjulang di sekelilingku dalam mimpi persis seperti biasanya. Tinggi, teratur, tak t
Aku tidak berhenti lagi.Bukan karena rasa sakit itu menghilang—bukan—tapi karena aku telah mempelajari sesuatu yang penting.Berdiri diam membiarkannya mengejarku. Jadi aku bergerak.Setiap langkah ke depan menarikku semakin jauh dari jangkauan Citadel yang tak t
Rasa sakit itu kembali menusuk, nyeri dan memilin. Lututku lemas. Aku menahan diri tepat waktu. Napasku tersengal-sengal.Jadi begitulah. Jarak itu menyakitkan.Diam itu menyakitkan.Ikatan itu tidak peduli apa yang kupilih. Dia menghukumku karena berada di luar harapannya.







