Share

Bab 114

Penulis: Mita Yoo
last update Tanggal publikasi: 2026-09-03 23:11:14

Elang menuntun Arumi kembali ke ruang perawatannya dengan langkah pelan. Tangannya masih menggenggam erat pergelangan Arumi, seolah takut melepaskannya. Arumi mengikuti tanpa banyak bicara, masih terguncang oleh pertemuan dengan Darsa dan semua kejadian hari ini.

Sesampai di ruangan, Elang membantu Arumi duduk di tepi tempat tidur. Ia menarik kursi dan duduk di hadapannya, matanya menatap Arumi dengan penuh perhatian.

“Maaf aku lama,” kata Elang, suaranya lembut. “Urusannya ternyata menyita ban
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 149

    Elang menoleh ke arah Arumi. Melihat wajah Elang yang menegang, kening Arumi berkerut. “Mas, ada apa?” tanya Arumi. “Aku harus segera ke kebun. Kebunku kebakaran,” sahut Elang singkat. Ia segera meraih jaket dan kunci motornya. Sebelum Elang pamit, Arumi buru-buru menghadangnya. “Mas, saya ikut.” Elang semula ragu. Namun melihat wajah Arumi, ia akhirnya mengangguk. “Ya sudah. Ayo.” Elang segera memacu motornya bersama Arumi. Motor melaju kencang menembus jalanan desa yang masih basah oleh embun pagi. Arumi memeluk pinggang Elang erat, hatinya berdegup kencang. Ia bisa merasakan ketegangan di tubuh suaminya itu. Bahunya kaku, napasnya berat. Sampai di kebun, pemandangan yang membuat darah Arumi membeku. Api berkobar hebat, melahap barisan tanaman cabai dan sayuran yang selama ini dirawat Elang dengan sungguh-sungguh. Asap hitam mengepul tinggi ke langit, membawa bau sangit yang menyengat hidung. Pak Karto sudah ada di sana, sibuk menyiramkan air dari ember ke arah api. Namun a

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 148

    Ketukan pintu terdengar membelah suasana pagi seperti orang yang tidak sabaran. Elang segera bangun dari tempat tidurnya. Ia menoleh ke Arumi yang masih tertidur—wajahnya tenang, mungkin lelah setelah malam yang panjang.Elang bangkit dengan hati-hati, memastikan Arumi tidak terbangun, lalu melangkah keluar kamar dengan kaus oblong dan celana training yang masih kusut.Ia membuka pintu. Di hadapannya, seorang pria berdiri dengan sikap sombong. Kemeja lusuhnya tidak rapi, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah seperti orang yang tidak tidur semalaman. Di belakangnya, halaman rumah yang masih basah oleh embun pagi.“Oh, kamu suaminya Arumi?” tanya pria itu. Suaranya serak, tapi ada nada meremehkan di dalamnya.Elang mengerutkan dahi. “Ada apa? Pagi-pagi begini.”Pria itu berkacak pinggang, lalu menunjuk-nunjuk dada Elang dengan jari telunjuknya. “Kasih aku uang. Atau cerita buruk tentang masa lalu Arumi akan aku s

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 147

    Arumi mendekati Elang yang sedang menelepon. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah. “Mas, telepon siapa?” “Pak Sugeng. Untuk laporkan Anisa sama itu Sumirah.” Suara Elang tegas, matanya masih memancarkan amarah. Arumi menggeleng pelan. “Nggak perlu, Mas. Dengan Mas bersikap tegas ke mereka juga sudah cukup.” “Tapi mereka nyakitin istriku.” Elang menatap Arumi, matanya penuh amarah yang tertahan. “Aku nggak bisa terima. Mereka berani pegang-pegang kamu, potong rambut kamu. Itu namanya kekerasan. Dan aku nggak bisa biarin hal itu.” Arumi menyentuh punggung tangan Elang dengan lembut. “Saya baik-baik aja, Mas. Rambut saya masih panjang, cuma nggak rapi sedikit. Saya sudah memaafkan mereka sekarang.” Elang terdiam. Ia menatap Arumi lama, mencari keraguan di mata istrinya. Tapi yang ia temukan hanya ketulusan. Arumi benar-benar sudah memaafkan. Tidak ada dendam, tidak ada kebencian. Hanya kedamaian yang ajaibnya semakin membuat Elang semakin mencintainya.

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 146

    Arumi menoleh ke arah Galih. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu berbicara sambil fokus menyetir, menatap ke arah jalanan desa yang mulai lengang. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu di matanya, sesuatu yang sudah lama ia pendam.“Mbak Arumi mungkin nggak ingat. Tapi, Mbak pernah menolong saya dulu,” katnya, memulai obrolan.Arumi terbelalak. “Maksudnya, Pak?”Galih tersenyum tipis, masih menatap jalan. “Waktu itu saya masih SMA. Saya sering pulang sekolah naik sepeda sendiri. Suatu hari, saya dihadang oleh beberapa teman yang suka mengganggu. Mereka menuduh saya mencuri uang mereka. Padahal saya nggak melakukannya. Mereka mulai mendorong-dorong saya, melempar tas saya ke tanah.”Arumi mendengarkan dengan saksama, mencoba mengingat.“Lalu, datang seorang gadis kecil berseragam SD. Rambutnya panjang, diikat dua. Dia membawa tas sekolah yang besar. Tanpa ragu, dia memungut batu dan melemparkannya ke arah teman-teman saya. Dia berteriak, ‘Jangan ganggu kakak ini!’”Arumi mengerutkan da

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 145

    Hari-hari setelahnya, Arumi tak lagi mempertanyakan orang misterius yang selalu mengikuti mereka. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, pada pekerjaan rumahnya, dan pada kebahagiaan kecil yang ia miliki bersama Elang. Namun, bayangan pria bertopi hitam itu masih sesekali muncul dalam pikirannya—terutama saat ia sedang sendirian.Pagi itu, Arumi membuka kulkas dan mendapati stok bahan masakan hampir habis. Hanya tersisa beberapa butir telur, sedikit sayuran layu, dan sepotong tahu. Ia menghela napas, lalu menutup kembali pintu kulkas.“Bahan makanan udah habis. Aku harus ke pasar ini.”Ia mengambil tas anyaman, mengenakan selendang tipis, lalu berpamitan pada Oren dan Salju yang sedang bermain di halaman depan. Elang sudah pergi sejak pagi, ada urusan yang harus ia selesaikan di kebun bersama Pak Karto.Pasar pagi itu ramai seperti biasa. Arumi menyusuri lorong-lorong sempit, membeli sayuran, ikan, dan bumbu dapur. Ia berhenti di

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 144

    Arumi menatap pepohonan di sekitar mereka. “Tapi Mas ‘kan lagi kerja.”Elang tersenyum. “Kerjaan bisa nunggu. Kamu lebih penting buatku.”Arumi merasakan dadanya hangat. Ia menunduk, menyembunyikan senyumnya.Mereka terus menuruni jalur. Pepohonan pinus yang tadi rimbun mulai jarang. Udara mulai menghangat. Di kejauhan, atap posko bawah mulai terlihat. Motor Elang masih terparkir di bawah sana.Sesampai di posko bawah, Elang mengajak Arumi ke warung kecil di dekat sana. Warung itu terlihat sederhana—terbuat dari bambu dan seng, dengan beberapa meja kayu dan bangku panjang. Seorang ibu paruh baya menyambut mereka dari balik meja.“Mas, Mbak, mau minum apa?” tanyanya ramah.“Ada mie cup?” tanya Elang.Wanita itu mengangguk. “Ada, Mas. Mau berapa?”“Dua aja. Langsung diseduh di sini. Sama kopi hitam satu ya Bu.”Ibu itu mengangguk, lalu menyiapkan dua mie cup da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status