LOGINPagi itu, Arumi bangun lebih awal. Ia keluar dari kamar dan melihat Salju sudah tidur dengan tenang di kandangnya.
Ia menghela napas lega, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Arumi baru saja menaruh sayuran di atas talenan ketika ponsel lamanya bergetar. Ia mengusap tangan di apron, lalu meraih ponsel itu. Dua pesan masuk, dari Damar.[Mbak Arumi, ada materi yang harus saya sampaikan untuk ujian. Mbak bisa datang ke balai desa, ya.]<Suara benturan keras memecah keheningan malam. Motor Elang terpelanting ke sisi jalan, tubuhnya terbanting ke aspal yang dingin dan kasar.Lampu motor padam. Hanya suara mesin truk yang terus melaju pergi, menghilang dalam kegelapan.Sementara di rumah sakit, Arumi duduk di sisi tempat tidur ibunya. Tangannya menggenggam jemari Indah yang dingin. Ruang rawat inap terasa sunyi, hanya terdengar suara detak mesin dan napas ibunya yang mulai teratur. Tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.Sejak tadi, perasaannya tidak enak. Ada firasat buruk yang merayap di dadanya, seperti bayangan gelap yang tidak bisa ia lihat tapi bisa ia rasakan. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, dan pikirannya terus melayang ke Elang yang belum juga kembali.“Kok perasaanku nggak enak begini ya?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.Indah yang semula tertidur, perlahan membuka matanya. Wajahnya
Dewi tiba-tiba menyela obrolan Arumi dengan ibunya. Perawat itu masuk dengan langkah ringan, membawa berkas di tangannya, lalu tersenyum nakal ke arah Arumi.“Ngomong-ngomong, Arumi ... Aku penasaran, kamu udah isi belum?” tanyanya dengan nada bercanda tapi penuh rasa ingin tahu.Arumi terdiam sesaat, bingung harus menjawab pertanyaan itu. Wajahnya langsung memerah.Ia menggaruk rambutnya yang tak gatal, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Di sampingnya, Indah yang terbangun sedikit, ikut tersenyum mendengar pertanyaan Dewi.“Doakan saja, Dewi. Aku juga maunya segera,” jawab Arumi akhirnya, suaranya pelan dan malu-malu.Bukannya berhenti, Dewi justru makin penasaran. Matanya berbinar. “Memang kalian sudah berapa lama menikah?”“Se-sebulan,” sahut Arumi dengan terbata-bata.Dewi terkikik, menutup mulutnya dengan tangan. “Oh ... Pantesan. Masih pengantin baru toh? Wajar malu-malu begitu
Arumi terbangun dari tidurnya dengan perasaan hangat. Matanya masih sayu saat ia mencoba mengingat di mana ia berada. Lampu neon berkedip pelan di atasnya, aroma antiseptik masih menusuk hidung.Ia hendak bangkit, tapi matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tertegun.Elang tidur dalam posisi duduk di sisi kakinya. Tubuhnya yang tinggi terlipat di kursi plastik kecil, kepalanya menunduk ke depan, dan tangannya masih bertumpu di sisi kursi tempat Arumi berbaring. Wajahnya yang tegas kini tampak tenang, bahkan Arumi bisa melihat sisi rapuhnya.Ada lingkaran hitam di bawah matanya, tanda bahwa ia tidak tidur nyenyak sepanjang malam.Arumi merasakan dadanya sesak. Elang menjaganya sepanjang malam.Pria itu tidak pergi. Ia tetap di sini, meskipun tidak ada yang memintanya.Air mata hangat mulai menggenang di sudut matanya. Arumi menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis.Elang benar
Di ruang tunggu lantai atas, Elang masih duduk di samping Arumi yang hampir tertidur. Sesekali ia menepuk tangan Arumi yang menjuntai di sisi kursi, memastikan ia tidak jatuh.Arumi duduk di salah satu sofa, tubuhnya mulai lemas karena kelelahan. Matanya mulai terasa berat, kepalanya mulai terasa ringan.Elang duduk di sampingnya, sesekali menatap Arumi dengan khawatir. “Kamu istirahat aja, Arumi,” katanya pelan. “Aku nggak akan kemana-mana.”Arumi mengangguk, tapi tubuhnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Kelopak matanya mulai terpejam, kepalanya perlahan tertunduk ke depan. Dalam hitungan detik, ia mulai terlelap.Lalu tiba-tiba saja, tubuhnya oleng ke samping, hampir terjatuh dari sofa.Elang seketika bergerak cepat. Tangannya menahan bahu Arumi dengan sigap, mencegah gadis itu jatuh ke lantai. Arumi tersentak, matanya terbuka lebar karena kaget.“Ma-maaf, Mas Elang,” katanya sambil mengatur napa
Arumi menoleh. Matanya berkedip, mencoba mengingat wajah yang sudah lama tidak ia lihat. Rambut pendek, senyum cerah, dan mata yang familiar.“Iya. Kamu …” Arumi berhenti, otaknya bekerja keras untuk mengingat wajah di depannya. Lalu matanya membulat. “Mbak Dewi, ya?”“Iya, aku Dewi!” Perawat itu tersenyum lebar. “Kita satu SMA dulu! Kamu masih ingat aku?”Arumi tersenyum, air mata haru mulai menggenang. “Aku inget sekarang. Kamu yang dulu suka pinjem catatan matematikaku! Sayangnya aku nggak sampai selesai.”Dewi menepuk bahu Arumi untuk menenangkan. “Iya, aku masih ingat itu. Terima kasih ya, kamu dulu baik sama aku. Aku jadi perawat di sini setelah lulus. Kamu sendiri gimana? Ini siapa?” Dewi menatap Elang dengan rasa ingin tahu.Arumi menatap Elang, lalu tersenyum. “Ini … Mas Elang,” katanya.Elang mengangguk sopan pada Dewi. Ia mengulurkan tangannya, “Saya Elang, Mbak. Suaminya Arumi.”
Arumi terdiam beberapa detik saat Elang memeluknya. Ia merasakan hangat pelukan pria itu.Hangat yang membuat dadanya sesak, antara lega dan canggung. Tangannya menggantung di udara, bingung harus membalas pelukan itu atau tidak. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa syukur dan kebingungan yang sulit dijelaskan.“Mas Elang … saya … saya sesak nafas.”Elang segera melepaskan pelukannya. Ia menggaruk tengkuknya, sedikit malu. “Maaf, aku ... Aku nggak sengaja.”Arumi menunduk, wajahnya memerah. “Tidak apa-apa, Mas.”Elang mencoba tenang. “Aku khawatir. Kamu nggak ada di rumah. Aku masuk ke kamar dan lihat hape kamu di atas meja. Aku langsung panik.”“Iya, Mas.” Arumi memainkan ujung bajunya. “Maaf, saya lupa bawa hape jadi saya tidak bisa menghubungi Mas Elang. Saya buru-buru bawa Ibu ke puskesdes. Setelah diperiksa, kondisi Ibu ternyata harus dirujuk ke sini.”Elang mengangguk







