登入Arumi sibuk di dapur, tangannya bergerak lincah memotong sayuran dan meracik bumbu. Sup ayam yang ia masak mulai mengeluarkan aroma harum yang menyebar ke seluruh ruangan. Di wajan lain, ayam goreng ungkep mulai berwarna keemasan, sementara sambal terasi yang diulek di cobek menguarkan aroma pedas yang menggugah selera.Aroma itu memenuhi rumah, membuat suasana malam terasa hangat dan nyaman. Elang yang sedang duduk di ruang tamu, menunduk membaca ponselnya, tiba-tiba mengangkat kepalanya.“Baunya wangi banget,” katanya sambil berjalan ke arah dapur.Arumi tersenyum mendengar pujian itu. “Pas dengan nasinya, Mas. Saya sudah dinginkan nasinya tadi,” jawabnya sambil terus mengaduk sup.Elang berdiri, berjalan ke dapur, dan menatap meja yang sudah tertata rapi. Sepiring nasi putih dingin, semangkuk sup ayam hangat, ayam goreng ungkep yang masih mengepul, dan sambal terasi menggugah selera. Arumi bahkan menyiapkan lalapan mentimun
Motor Elang melaju pelan memasuki halaman rumah. Langit mulai berwarna jingga kemerahan, menandakan sore akan segera berganti malam. Arumi turun dengan perasaan lega dan bahagia setelah hari yang cukup panjang.Elang segera berjalan ke kandang Salju di sudut halaman. Anjing putih kecil itu menggonggong gembira melihat tuannya pulang, ekornya bergoyang-goyang riang.“Sudah, sudah. Aku kasih makan,” kata Elang sambil mengelus kepala Salju. Ia menuangkan makanan ke mangkuk dan Salju langsung melahapnya dengan lahap.Arumi tersenyum melihat interaksi Elang dan Salju. Namun langkahnya segera berbelok menuju kamar tamu, di mana Indah terbaring di kasur dengan selimut tipis menutupi tubuhnya yang kurus.“Nduk, sudah pulang?” sapa Indah, matanya berbinar melihat Arumi masuk.Arumi duduk di samping ibunya, memegang tangannya dengan lembut. “Iya, Bu. Bagaimana keadaan Ibu sekarang? Batuknya sudah berkurang?”“
Motor Elang berhenti mendadak di pinggir jalan. Arumi yang sedang menikmati angin sore dan pemandangan sawah, tersentak kaget.“Ada apa, Mas?” tanyanya sambil menengok ke depan.Elang sudah menurunkan standar motornya, matanya tertuju pada sebuah pick-up tua yang terparkir di pinggir jalan. “Itu ... di depan ada pick up yang bocor ban. Kita turun dulu ya? Tolongin mereka.”Arumi segera turun dari motor. “Iya, Mas.”Ia mengikuti langkah Elang mendekati mobil itu. Seorang pria paruh baya dengan kemeja lusuh dan caping bambu sedang jongkok di samping ban depan kiri yang kempes. Wajahnya tampak kelelahan dan sedikit panik.“Pak, bannya bocor ya?” tanya Elang.Pria itu menoleh, matanya berbinar lega melihat ada yang menghampiri. “Iya, Mas. Mana masih jauh ini, Mas. Saya dari kebun mau ke pasar Lembur, baru setengah jalan udah bocor begini.”Elang mendekati ban yang bocor, memeriksanya dengan
Suasana di warung mie ayam terasa hangat dan akrab. Arumi baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya ketika sebuah suara perempuan memecah keheningan di antara dentingan sendok dan suara pengunjung lain.“Mas Elang!”Suara perempuan itu terdengar ceria, bernada tinggi, dan sangat jelas. Elang dan Arumi sontak menoleh ke sumber suara.Seorang perempuan berdiri di ambang warung. Rambutnya panjang sebahu, sedikit bergelombang, dan diwarnai cokelat keemasan. Wajahnya bulat dengan senyum lebar yang menunjukkan deretan gigi putih.Ia mengenakan blus merah muda dan rok panjang motif bunga. Busana yang terlalu modis untuk sekadar mampir di warung pinggir jalan.“Ya ampun…” perempuan itu melangkah mendekat, matanya berbinar. “Ternyata beneran kamu, Mas. Aku hampir nggak percaya.”Elang mengerutkan dahi. Matanya berkedip cepat, seperti sedang berusaha mengingat seseorang yang samar di ingatannya. “Siapa ya?”
Arumi masih berdiri di halaman balai desa, menatap pemandangan di depannya. Elang yang tersenyum dengan perempuan cantik itu, perempuan yang entah siapa, membuat hatinya berdegup tak menentu.Tapi begitu melihat Arumi, Elang segera menghampiri dengan langkah cepat. Wajahnya berubah cerah, matanya berbinar. Tanpa ragu, ia merangkul bahu Arumi dengan penuh kasih sayang.“Oh iya, ini istriku Mel, namanya Arumi,” kata Elang dengan bangga.Perempuan itu tersenyum ramah, matanya mengamati Arumi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyumnya mengembang, terlihat tulus.“Oh... Ini istrinya Mas Elang. Cantik banget, cocok sama Mas Elang.” Perempuan itu mengulurkan tangannya. “Kenalin, Mbak. Saya Melati. Teman lama, teman Mas Elang dari SMA dulu.”Arumi menerima jabat tangan itu dengan hangat, menyembunyikan kegugupannya. “Saya Arumi, Mbak Melati. Salam kenal.”Melati tertawa kecil, “Mbak Arumi pasti bingung l
Pagi itu Arumi bangun lebih awal. Hari itu adalah hari ujian, hari yang ia nantikan sejak pertama kali bergabung dengan bimbingan belajar.Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna krem, rambutnya ia ikat rapi dengan karet hitam. Di cermin, ia tampak berbeda dari Arumi yang dulu. Ia lebih percaya diri dan lebih tenang.Elang sudah menunggu di teras dengan motor sport hitamnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sedikit digulung di bagian siku, jaket kulit di bahunya.“Sudah siap?” tanyanya.Arumi mengangguk. “Siap, Mas.”“Yuk aku anter.”Mereka melaju menuju balai desa. Angin pagi berhembus segar, membawa aroma rumput dan tanah basah. Arumi memegang jaket Elang erat, menikmati momen bersama pria itu sebelum ujian.Sesampai di depan balai desa, Elang mematikan mesin motornya. “Kalau sudah selesai ujian, langsung telepon aku. Aku jemput.”Arumi mengangguk. “Baik, Mas.”“Semoga berhasil.” Elang tersenyum tipis, lalu menatap Arumi sebentar. “Aku bangga sama kamu.”Arumi tersenyum leba







