Share

KACAMATA BERDARAH
KACAMATA BERDARAH
Penulis: David Khanz

Part (1)

KACAMATA BERDARAH

Written by David Khanz

Part 1

———————————————————

"Sial!" rutuk seorang lelaki di pinggiran jalan begitu turun dari tunggangan kuda besinya. Dia menatap geram pada ban kempis kendaraan tersebut dengan perasaan kesal. Dengkus pria bernama Rehan itu beberapa kali terdengar, lengkap bersama decak kerucut bibirnya yang hitam di dalam kegelapan. 

Sesaat dia memutar kepala, menyapu pandangan ke sekeliling tempat. Sepi. Karena saat itu waktu sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam. Benar-benar tidak tampak seorang pun manusia berada di sana, terkecuali dia sendiri. Hanya hawa dingin dan kondisi jalanan yang masih basah, usai siang hingga petang tadi diguyur hujan lebat.

'Ah, akhirnya ada yang lewat juga,' ucap Rehan di dalam hati begitu mendengar suara deru kendaraan bermotor dari kejauhan. Perlahan sebuah titik putih terang mulai mendekat. Sorot lampu itu sesaat menyilaukan.

"Kenapa, Pak? Habis bensin?" tanya pengendara motor itu begitu berhenti tepat di samping tempat Rehan berdiri. Sama-sama seorang lelaki.

Sejenak mereka saling berpandangan, untuk memastikan bahwa sosok yang ditemuinya itu benar-benar makhluk bernama manusia. Sepertinya begitu. Syukur-syukur bukan dari golongan kriminalitas.

"Ban motor saya kempes, Mas," jawab Rehan seraya menunjuk ban belakang kendaraannya. 

Laki-laki yang belum diketahui namanya itu manggut-manggut, lantas berujar, "Wah, kasihan sekali." Dia menatap lurus ke depan, serta lanjut kembali berkata, "Kalo gak salah, di depan sana ada bengkel tambal ban."

"Saya tahu, Mas," balas Rehan disertai senyum kecut, " … tapi lumayan cukup jauh dari sini. Saya sendiri ragu, apa jam segini masih buka, ya?"

Laki-laki itu mengangkat bahu. Bermakna, dia sendiri menyangsikannya. Namun kemudian tawaran bantuan lain terucap begitu saja dari bibir sosok asing tersebut. "Bagaimana kalo Bapak ini pake aja dulu motor saya?"

"Maksudnya?" Alis Rehan terangkat naik.

Dia tersenyum santai, lalu menjawab, "Kebetulan rumah saya gak begitu jauh dari sini. Sekali tancap gas saja, langsung nyampe." Jarinya menunjuk lurus ke depan. "Tuh, di ujung belokan ke kanan di depan sana. Di situ rumah saya."

Rehan masih belum memahami maksud lelaki tersebut. 

"Bukan begitu," ucap Rehan ragu. "Saya …."

Lelaki tadi segera mematikan mesin motornya, kemudian turun dan mendekat. 

"Bapak pake motor saya," katanya meyakinkan. "Urusan ban kempes ini, biar besok pagi-pagi banget saya bereskan. Sekalian berangkat kerja, Bapak bisa mampir dulu ke rumah saya buat nuker lagi motornya. Gimana?"

Senyum semringah Rehan tiba-tiba mengembang. Antara rasa senang dan tidak percaya, masih ada orang sebaik laki-laki itu.

"Serius?"

"Seriuslah, Pak Rehan," jawab laki-laki tersebut tiba-tiba mengejutkan. 

"Mas ini … tahu nama saya?" Rehan terbengong-bengong. 

Jawab sosok di depan itu disertai senyuman ramah, "Tentu saja saya kenal, Pak." Dia menyodorkan tangan mengajak bersalaman. "Saya Panji. Pegawai baru di kantor tempat Bapak bekerja."

"Ah, yang bener, Mas?" tanya Rehan masih terheran-heran, seraya menerima uluran tangan laki-laki bernama Panji tersebut. "Saya …."

"Ya, Pak. Saya anak buahnya Pak Bayu. Baru beberapa hari bekerja. Tapi saya juga sering ngelihat Pak Rehan di sana," tutur Panji menjelaskan.

"Ooohh, staf barunya Pak Bayu, ya?" Rehan tampak senang sekali karena sosok yang akan membantunya ini ternyata masih satu rekanan kerja. "Pantes saja saya belum kenal Mas Panji ini. Lah, kita 'kan beda divisi. He-he."

Panji manggut-manggut.

"Seenggaknya, mulai sekarang jadi tahu 'kan, Pak? He-he," balas laki-laki yang usianya terlihat masih muda itu.

"Ya … ya … ya."

Rehan senang dan mulai percaya bahwa sosok Panji ini memang benar-benar berniat membantu. Kecurigaannya perlahan memudar. Mendengar dia menyebut nama Bayu tadi, Rehan yakin kalau Panji adalah salah seorang rekan kerja sekantornya.

Usai berbincang susulan, akhirnya Rehan menuntun sepeda motornya menuju rumah yang ditunjuk Panji tadi. Sementara laki-laki muda itu mendampinginya di atas laju perlahan kendaraannya.

"Saya gak tahu harus ngomong apa sama Mas Panji ini. Kecuali berterima kasih karena Mas Panji sudah bersedia menolong saya, Mas," kata Rehan begitu tiba di depan rumah Panji.

"Ah, gak apa-apa, Pak Rehan," timpal Panji seraya menyerahkan kunci motornya pada Rehan. "Sudah sewajarnya saling menolong, Pak. Apalagi kita rekanan kerja. He-he."

"He-he."

"Gak masuk dulu, Pak, ke rumah," ucap Panji menawari. "Kalo sekedar kopi panas, saya pikir masih bisa saya sajikan."

"Gak usahlah, Mas. Terima kasih. Kapan-kapan saja," timpal Rehan dengan berat hati. "Istri saya lagi nungguin di rumah."

"Oh, iya juga, ya? He-he."

"Kalo begitu, saya pamit pulang dulu deh, Mas," kata Rehan berpamitan. "Ini motornya saya pinjem dulu, ya? Besok sebelum ngantor, saya pasti mampir dulu ke sini."

"Iya, Pak. Mudah-mudahan sebelum Bapak datang besok, ban motornya sudah beres ditambal," ujar Panji seraya melirik ke suatu arah tidak seberapa jauh dari rumahnya. "Itu bengkelnya di depan sana. Tapi seperti dugaan Bapak tadi, memang sudah tutup."

"Mudah-mudahan saja besok pagi-pagi bener sudah buka, Mas."

"Iya, Pak."

Akhirnya kini Rehan sudah bisa bernapas lega. Masalah motor sudah teratasi. Tinggal memikirkan besok, apakah akan benar-benar sesuai harapan? Kalau tidak, mau tidak mau dia harus menebeng pada Panji. Bersama-sama berangkat ke kantor. Bertemu kembali dengan Lina ….

'Ah, mengapa pikiran ini tiba-tiba saja harus teringat sama perempuan itu, sih?' membatin Rehan di tengah-tengah perjalanannya menuju rumah. 'Sialan! Bertahun-tahun sudah aku berusaha melupakannya, tapi hati ini masih saja menyimpan rasa itu! Padahal aku sudah menikah dengan Shanti! Uuhhh, aku ….'

Ciiittt!

Seketika Rehan menarik pedal rem roda depan dan belakang motor pinjaman itu secara bersamaan. Sekonyong-konyong seseorang melintas begitu saja di depan laju kendaraan.

Brak!

"Ya, Tuhan!" pekik Rehan dalam kejutnya.

Motor oleng ke samping kiri, lantas menghempaskan tubuh laki-laki itu dari atas tunggangannya dengan cepat. Terjerembap mencium aspal basah melalui lapisan kaca helm yang dia kenakan.

Sejenak Rehan terbaring, masih dalam kondisi kaget luar biasa. Ngilu seketika dia rasakan akibat benturan keras tadi pada tulang kering di kaki.

Di saat itu pula, samar-samar terdengar rintih kesakitan tidak begitu jauh dari tempat dimana Rehan tersungkur tadi.

"Uuhhh … uuhhh …."

Perlahan-lahan Rehan berusaha bangkit. Terduduk, lantas melihat-lihat motor milik Panji yang masih menyala lampu depan serta mesinnya. Kemudian matanya tajam menatap sesosok ringkih tengah mengaduh tidak seberapa jauh di depan sana.

'Ya, Tuhan!' gumam Rehan buru-buru berdiri, lantas tertatih-tatih mendekati sosok tadi. 

Seorang lelaki tua dengan wajah kumal di antara remang terpaan nyala merah lampu belakang motor.

"Kek?" panggil Rehan begitu mendekat. "Maafin saya, Kek. Saya gak melihat Kakek nyeberang jalan tadi."

"Uuhhh … uuhhh …." Sosok tua itu meringis kesakitan.

"Mari saya bantu berdiri, Kek," ucap Rehan seraya meraup tubuh ringkih tersebut dan menuntunnya ke pinggir jalan. "Duduk dulu sebentar di sini, ya? Saya mau beresin motor—"

"T-tunggu, N-nak!" seru laki-laki tua itu tiba-tiba dengan suara serak dan berat. Cekalan jemari rentanya menahan gerak tubuh Rehan yang hendak berlalu menuju geletak motor Panji tadi.

"Sebentar saja, Kek. Saya—"

"A-aku sudah tidak punya banyak waktu lagi," ujar lelaki tua itu kembali. "A-aku hanya ingin kau … menerima benda ini …." Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya yang lusuh. Sebuah kacamata kuno. Kemudian menyelipkan dengan paksa ke dalam genggaman Rehan. "Tolong jaga dengan baik dan jauhkan dari orang-orang yang—"

"Buat apa kacamata ini, Kek?" tanya Rehan bingung. " … tapi Kakek terluka. Saya bawa berobat ke klinik sekarang, ya?" Dia melihat lelehan darah segar dari lubang hidung sosok tua tersebut.

"Tidak! Jangan, Nak!"

"Tenang saja, Kek. Saya yang akan ngurus semuanya. Yang penting Kakek—"

Laki-laki tua itu menggeleng-geleng. Bersikukuh menolak. Timpalnya kemudian meminta, "C-cepat tinggalkan tempat ini sekarang juga, Nak. Tidak banyak waktu lagi untuk menjelaskan."

"Tapi, Kek …."

"Jangan pedulikan aku!" seru sosok kumal itu memaksa. "Cepat pergi menjauh dari tempat ini sekarang juga!"

"Kek?"

"C-cepaattt!"

Rehan terkejut. Ragu, antara niat membawanya berobat atau menuruti perintah sosok tua tersebut. Hatinya diliputi rasa bimbang. Setega itukah harus meninggalkan lelaki itu di tempat sesepi ini? Benar-benar sunyi tidak seperti biasanya. Jauh dari hunian warga setempat, dan ….

"Cepat pergi, Bodoh!"

Suara bentakan itu seketika melepaskan cekalan jemari Rehan atas sosok tua tersebut. Perlahan-lahan dia bangkit, berjalan mundur ke arah motor, lantas buru-buru meraih setang kendaraan untuk berdiri. Usai duduk di atas jok pun, tidak serta merta pergi dari sana. Rehan masih dilanda kebingungan teramat besar. 

'Siapa sebenarnya Kakek itu? Kenapa bersikeras menyuruhku segera pergi? Terus ….' Rehan memperhatikan sesaat kacamata yang masih dia genggam. 'Apa pula maksudnya memberiku barang kuno ini? Apakah—'

"Heh, cepatlah pergi!"

Rehan menoleh sejenak. Tiba-tiba matanya membelalak besar. Seperti dilanda rasa kejut yang luar biasa, begitu pandangannya beradu tatap dengan sosok tua tadi.

"Ya, Tuhan!" pekik Rehan terkaget-kaget sendiri. Parasnya langsung memucat pasi disertai gemetar hebat melanda sekujur tubuh. "Kau … kau …."

"Ggrrgghhh!"

BERSAMBUNG

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status