Share

Part (5)

KACAMATA BERDARAH

Written by David Khanz

Part 5

———————————————————

Waktu sudah menunjukkan lewat dari pertengahan malam. Suasana alam nyaris sunyi tanpa suara-suara sebagaimana biasa. Hanya lengking binatang mungil di luar yang tidak pernah mau berhenti menjerit-jerit khas. Beradu tembang bersama nyanyian burung hantu, sesekali turut menyahut.

Di saat itu pula, Rehan masih duduk termenung di ruang tengah. Sendirian sambil berpikir tentang benda yang tergeletak kaku di atas meja. Sekali-kali matanya menatap wujud kacamata ajaib tersebut. Benaknya berusaha keras menduga-duga, di tengah kepulan asap rokok yang mengepung memenuhi ruangan.

'Dua kali aku coba memakai kacamata itu, di saat bersamaan pula sikap Shanti istriku berubah,' membatin laki-laki berperawakan tinggi berisi itu. Matanya tiba-tiba menyipit dengan sorot tajam, memperhatikan satu titik di permukaan meja. 'Apakah karena benda itu? Aneh. Sialnya, aku sama sekali lupa tentangku dan dia sebelum kejadian-kejadian ini.'

Rehan menyeruput sisa air kopi yang dia seduh beberapa waktu sebelumnya. Sudah terlalu dingin dan rasanya pun mulai tidak karuan. Tetap dengan arah mata memperhatikan kacamata tersebut.

'Suara-suara itu juga,' imbuh laki-laki itu kembali, 'seakan-akan dia ingin memberitahu keberadaannya waktu kucari-cari tadi. Ah, aku masih belum percaya. Apakah kacamata itu memang memiliki kekuatan tertentu? Mustahil. Benar-benar gak masuk akal.'

Sisa rokok di tangan kian memendek. Lekas dia mematikannya ke dalam asbak. Kemudian menghabiskan hingga kering isi gelas di atas meja sampai tetes terakhir.

'Kalo saja ini nyata, lalu siapa sebenarnya sosok tua yang kemarin malam kutemui? Terus orang-orang berjubah hitam itu!' Benak Rehan kembali dipenuhi banyak pertanyaan. ' … lalu tentang kejadian malam kemarin itu, mengapa hanya aku yang melihat dan mendengar? Warga setempat di sana, gak seorang pun yang tahu. Ini benar-benar aneh.'

Tiba-tiba saja, terasa seperti ada semilir angin berhembus menusuki kulit. Dingin. Rehan melihat-lihat, menyapu pandangan ke sekeliling dan semua sudut ruangan. Tidak ada yang bergerak. Lubang ventilasi pun rapi tertutup gorden. Entah dari mana asalnya tiupan menggigilkan itu.

Tret! Tret!

Nyala lampu berkedip beberapa kali, disertai suara seperti peraduan arus listrik yang korsleting.

Rehan kembali melihat-lihat ke sekeliling ruangan. Tidak ada siapa pun, terkecuali dirinya. Sementara Shanti masih berada di kamar tidur. Terlelap dalam kelelahan, usai melayani pertarungan dahsyat suaminya dan cukup menguras tenaga.

Tret! Tret! Tret!

Lampu kembali berkedip. Namun kali ini tidak lagi mau menyala. Seketika ruangan pun berubah gelap gulita. Bukan hanya di sana, akan tetapi di setiap kali Rehan berpaling untuk mencari-cari titik penerangan lain.

"Sial! Mati listrik bukan, sih?" tanya laki-laki tersebut spontan berdiri kesal, diiringi decak bibirnya yang membahana. "Kenapa semua tampak gelap? Apakah …."

Rehan mencoba menggapai-gapai hendak mencari dinding ruangan. Tidak tersentuh apapun. Padahal langkahnya sudah sedemilkian banyak.

"Ini … apa pula ini?" Laki-laki itu menjejak-jejakkan kaki. "Lantai rumahku, kenapa tiba-tiba dingin dan … licin, juga basah. Kamar mandikah ini? Ya, Tuhan! Ini seperti … tanah! Ya, tanah lengket. Ah, gak mungkin aku sedang berada di halaman rumah. Tapi …."

Rehan membuka mata lebar-lebar. Berusaha melihat-lihat dalam kegelapan. Namun hanya hitam yang senantiasa hadir. Sampai kemudian, dia seperti melihat ada beberapa titik nyala di beberapa langkah di depan. Semula hanya berbentuk bulatan kecil, lama-lama kian membesar dan kian mendekat.

"Astaga! Apakah itu?" seru Rehan terkaget-kaget. Bulu kuduknya serentak meremang. Langkah pun terhenti seketika. Lantas tersurut mundur perlahan-lahan dibarengi rasa takut luar biasa. "Tidak! Itu bukan nyala lampu! I-itu … i-itu … ah, Tuhanku! Itu seperti—!"

Bruk!

Rehan terjatuh ke belakang dengan posisi bokong terlebih dahulu menyentuh permukaan pijakan yang licin tadi.

"Sial!" rutuk lelaki itu seraya berusaha kembali berdiri. Menopang pada lengan dan telapak, lantas mendorong kuat-kuat. Seketika dia merasakan sesuatu. Seperti basah dan lengket pada tubuhnya yang menyentuh permukaan tadi. 'Aku mengenali bau ini,' membatin Rehan. 'Bau amisnya seperti ….'

"Astagaaa!"

Rehan terbelalak kaget. Kali ini benar-benar sebuah kejutan yang lebih menakutkan. Bagaimana tidak, titik-titik bulatan menyala itu tiba-tiba saja sudah berada di depan mata. Bergerak-gerak liar berjumlah empat buah, disertai suara geram menyeramkan. Kemudian kedua pegelangan tangan laki-laki itu dicengkeram kuat, selanjutnya ditarik berdiri secara paksa.

"Ikut kami!" titah satu suara keras menggelegar dari salah satu pemilik sepasang bulatan menyala tadi.

"Siapa kalian?" tanya Rehan ketakutan. Berusaha melepaskan diri dari tarikan kuat di tangannya. 

Tidak ada jawaban, terkecuali suara geram menakutkan itu. Tubuh Rehan diseret paksa. Terhuyung-huyung di antara pijakan kakinya yang licin, berusaha menahan diri. Sia-sia saja, karena cengkeraman itu lebih kuat menarik-narik paksa.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Rehan sambil meronta-ronta, tapi tiada guna. Mau tidak mau, dia pun mengikuti langkah-langkah cepat di depannya yang belum tampak berwujud. Terus begitu hingga tidak sanggup lagi menggerakkan kaki. Pasrah dalam pejam ketidakberdayaan.

"Bangun!" sentak satu suara menggelegar seraya mengempaskan tubuh Rehan begitu saja di sebuah tempat.

"Aaahhh …." erang laki-laki itu kepayahan. Perlahan-lahan membuka mata di antara rasa perih yang mendera kaki, usai diseret-seret kuat tadi. "Di mana ini?" tanya Rehan sambil meringis kesakitan. Lantas melihat-lihat ke sekeliling dengan mata sayup.

Sebuah tempat yang begitu asing. Temaram diterangi nyala api dari obor-obor, tertancap di dinding tanah berwarna merah. Bukan hanya itu, hamparan pijakan pun tampak serupa. Seperti berlapis darah ; basah, licin, serta berbau amis memualkan.

"Hoeeekkk!" 

"Berdiri!" titah suara itu kembali, mengejutkan Rehan untuk yang kesekian kali.

Laki-laki itu menoleh pelan-pelan. 

"Astaga!" seru Rehan seraya mundur menjauh begitu melihat wujud dua sosok yang tadi menyeretnya. 'Makhluk apa itu, Tuhan?'

"Aarrrgghhh!" Salah satu dari dua sosok tadi menggeram menakutkan. Berwujud seperti manusia, dengan sekujur tubuh penuh ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat. Kedua tangan dan kaki mereka tampak normal, akan tetapi di bagian muka makhluk itulah yang sangat menyeramkan. Sepasang matanya merah menyala, bermoncong mirip seekor anjing, lengkap disertai dua taring runcing begitu menyeringai.

"Berdiri!" Kembali makhluk itu memerintah seraya mendekat.

Buru-buru Rehan menuruti titah mereka dengan tubuh gemetar hebat. Tersurut perlahan dilanda ketakutan.

'Makhluk itu bisa bicara seperti manusia,' gumam Rehan. 'Entah siapa mereka dan … kenapa aku ada di sini? Tempat apa ini sebenarnya?' 

"Hoeekkk!"

Rasa mual itu kian menyesakkan dada, akibat bau amis yang semakin kuat menusuk-nusuk rongga paru-paru.

"S-siapa k-kalian?" Rehan memberanikan diri bertanya. Kedua makhluk itu saling lempar pandang satu dengan lainnya. Tidak ada satu pun yang menjawab, terkecuali suara geraman disertai seringai mengerikan dari moncong-moncong bertaring itu. 

"Aarrgghhh!"

Degup jantung Rehan kian mengencang, ketakutan. 'Ya, Tuhan! Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?' tanyanya begitu kedua sosok makhluk menakutkan itu menghampiri.

"Kauingin tahu siapa kami? Aarrgghhh …." kata salah satu di antara mereka. "Kami adalah bagian darimu sekarang. Sengaja kami jemput kau dari gerbang kegelapan, untuk kaukenali siapa kami bagimu kini."

Kening Rehan berkerut hebat.

'Memangnya siapa mereka? Bahasanya terdengar rancu dan berbolak-balik. Aku harap, mereka bukan muridnya Cak Lontong.'

"Aarrgghhh!"

'Eh, apakah mereka bisa mendengar suara hatiku?'

"Manusia, kau adalah perantara bagi kelangsungan kehidupan kami. Salah satu pilihan dari perantara-perantara kami sebelumnya," imbuhnya kembali dengan sorot mata menyala. "Ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, tapi takdir hidupmu memang sudah digariskan bersama kami sampai waktu tertentu."

"Maksud kalian apa? Saya sama sekali gak paham. Siapakah sebenarnya kalian ini? Perantara apa yang kalian maksud?" tanya Rehan makin bingung.

Kedua sosok makhluk itu terkekeh, hingga terlihat taring-taring runcing mengerikan mereka.

"Ikuti kami!" pinta makhluk tersebut seraya bergerak mengapit Rehan. Mau tidak mau, laki-laki itu ikut berjalan tersaruk-saruk di tengah-tengah keduanya dengan dera perih menusuk-nusuk telapak kaki. Menyusuri sebuah lorong sempit dan panjang, serta hanya bisa dilewati sebadan. Kondisinya pun sama. Dipenuhi warna merah mengilap, juga bau amis darah.

Darah? Mungkinkah itu darah?

Benak Rehan kian bertambah berat. Dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang belum kunjung terjawab. Namun itu hanya sesaat, sampai kemudian melewati sebuah ruangan lain. Mirip ceruk besar bertabir terali besi yang kokoh, memagari lingkar lubang sebagai ambang jalan keluar-masuk dan memperlihatkan isi di dalamnya. Tidak ubahnya seperti ruang tahanan. Mungkinkah itu memang sebuah kerangkeng atau penjara? 

Laki-laki itu terbelalak kaget begitu melihat ada sesosok lain di dalam ruangan tersebut, berdiri lunglai dengan kondisi kedua tangan serta kaki terbelenggu rantai. Lebih tepatnya, posisi tubuh itu hanya tertahan pada bentangan rantai tadi, menancap kuat di atas langit-langit. Bukan hanya satu atau dua sosok, tapi ada beberapa yang sempat dia lihat. Masing-masing mengisi ruang tersendiri, dalam kondisi tidak jauh berbeda. Tampak jelas sekali, di bawah terpa nyala obor di sana, wajah-wajah pasrah tersebut seperti pernah mengalami siksaan yang teramat hebat. Hal itu bisa dikira dari bercak-bercak dan lelehan kental di seputar wajah serta bagian tubuh lain, berwarna senada diseantero tempat tersebut.

'Siapa mereka? Manusia jugakah sepertiku?' Bertanya-tanya Rehan, kian menambah ketakutannya. 'Apakah mereka masih hidup?'

Di antara huyung langkahnya, Rehan mendengar ada suara erangan dari salah satu ceruk tadi. Spontan dia menoleh ke arah sumber suara tadi, seraya memperlambat gerak kaki.

Samar-samar, Rehan melihat sesosok tua berambut putih panjang. Wajahnya menengadah disertai mata terpejam. Berdiri menyandar dengan kedua tangan terangkat, mengikuti cengkeram membentang ke atas di pegelangan. Dia mengerang tiada henti. Memilukan. Seperti tengah menikmati derita kesakitan di sekujur badan.

'Dia masih hidup ….' gumam Rehan seraya menilik-nilik wajah sosok tadi di antara langkahnya. ' … tapi, sepertinya aku pernah melihat dia. Mirip banget dengan kakek yang—'

"Aarrgghhh! Jalan!" sentak makhluk yang berada di belakang Rehan tiba-tiba. "Lambat sekali kaujalan, Manusia! Bah, pening aku!"

Rehan menoleh ke belakang. 'Logat bicara makhluk ini sangat kukenal. Seperti … si Poltak Raja Minyak dari Medan, musuhnya si Gerhana.'

"Hei, jalanlah! Malah bengong kau!"

"I-iya, Mbah," ujar Rehan lekas mempercepat langkah. Namun masih sempat melirik kembali sosok yang tadi dia perhatikan. Lantas mulai menduga-duga, 'Mungkinkah dia itu ….'

"Kakek!" panggil Rehan tiba-tiba.

Sosok di dalam kerangkeng itu serta merta berhenti mengerang. Dia menoleh perlahan-lahan penuh kepayahan. Lantas menggerak-gerakkan tangan yang tertahan bentangan belenggu rantai di atas kepala. "Naakkk," balasnya serak.

"Aarrgghhh!"

"Kakek! Kaukah itu, Kek? Kakek!"

"Naakkk!"

"Kakeekkk!"

"Aarrgghhh! Aarrgghhh!"

Buk!

"Aahhh!" Rehan mengerang kesakitan. Batok kepalanya terasa seperti dihantam keras. Pusing seketika mengitari kepala. "Aduuhhh … aaahhh!"

Dia memegangi bekas hantaman tadi. Sakit sekali. Lalu mencoba memutar kepala, menoleh, dan mencari-cari sosok makhluk di belakangnya. Tidak tampak apa-apa. Menghilang begitu saja. Hanya sebuah sofa panjang, serta meja kayu dengan gelas kotor, puntung rokok memenuhi asbak, juga sebuah kacamata kuno.

"Aahhh, sial!" rutuk laki-laki tersebut memaki diri. "Sakit sekali kepalaku!"

Perlahan-lahan Rehan bangkit dari lantai, kemudian melirik jam dinding yang menunjukkan waktu hampir sepertiga malam. Rupanya tadi dia tertidur di ruangan tengah tersebut. Terantuk keras mengenai tepian meja di tengah mimpi yang menyeramkan.

"Mimpi sialan!"

Begitu hendak beranjak —kembali— ke kamar, dia berhenti. Menoleh ke atas meja, memperhatikan kacamata kuno tersebut, lantas mengambilnya sambil mengamati.

'Apakah benda ini memiliki unsur kekuatan magis? Sepintas tampak seperti kacamata biasa. Hanya modelnya aja yang kuno,' membatin Rehan. 'Terus tulisan aneh di gagangnya ini, entah apa artinya. Ah, sial! Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan tentang benda ini yang belum terjawab.'

Semula Rehan hendak menggeletakannya kembali ke atas meja, tapi urung dilakukan. Dia memilih untuk menyimpan kacamata tersebut ke dalam tas kerja. Itu lebih baik agar tidak ditemukan Shanti, kemudian turut bertanya-tanya pula nanti. Semakin bertambahlah beban pikiran laki-laki itu kelak. 

'Eh, tapi … bukannya Shanti sudah beberapa kali melihatku memakai kacamata ini? Dia gak pernah mempertanyakannya, tuh.'

"Aarrgghhh!"

"Astaga! Suara apa itu?" Rehan terkejut. Langsung dia teringat akan mimpinya tadi. Tentang kedua sosok makhluk menyeramkan itu.

"Aarrgghh! Aarrgghhh!"

Rehan tersurut ketakutan. Tidak ada siapa pun di ruangan itu. Namun suara tadi terdengar begitu dekat. Dari arah luar rumah, tepatnya. Diiringi rasa takut bercampur penasaran, perlahan-lahan dia mengendap-endap menuju ruang depan. Menyibak kain gorden sedikit demi sedikit, lantas mengintip penuh kehati-hatian suasana di beranda depan.

"Huh, sialan! Ternyata dua kucing lagi kawin!"

"Aarrgghhh! Meoonnggg! Aawww!"

Suara terakhir itu sepertinya menandakan bahwa sudah terjadi aksi penetrasi di antara mereka.

BERSAMBUNG

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status