Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 269. Akhirnya Satu Kabar Bahagia

Share

Bab 269. Akhirnya Satu Kabar Bahagia

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 00:20:33

Sheza masih memejamkan mata, menikmati kecupan Satria yang lembut di bibirnya.

Ia sadar hari di luar masih terang. Tirai vitrase hanya menghalangi sebagian cahaya matahari yang masuk ke ruang kerja itu.

Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Satria tentang me time beberapa saat yang lalu.

Beberapa minggu terakhir, mereka memang jarang benar-benar memiliki waktu berdua.

Rumah mereka lebih sering dipenuhi suasana keluarga besar. Obrolan yang diselingi aneka camilan, celoteh anak-anak, serta tawa ya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (40)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Emang subur Zee nih langsung isi lagi,bisa ngomel mama nya Zee nih 🫣🫣🫣🫣 Tapi satria senang kalo Zee hamil
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Beugh ...mas sat tau rasa asinya beda hihihi ...Saga jatahmu di ambil papa hahaha Wah. ..adik saga otw hahaha,percuma buang luar ya Zee ada yg nyelonong masuk juga haha
goodnovel comment avatar
Aminah Adjaa
owowoowowowoowwwwwwww cakep
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 347. Hampir Tengah Malam

    Rasanya benar-benar tidak mungkin meminta Lala menelepon mobil derek dan menyebutkan posisinya sekarang. Lala pasti akan bertanya, kenapa hampir tengah malam begini Nadine masih berada persis di dekat kantor konsultan bangunan itu. Dan sopir mereka—kalau sampai tahu posisi persisnya, semua orang akan mengira ia memang sengaja mendatangi pria itu malam-malam begini.Nadine menggeleng keras, seolah bisa mengusir pikiran itu dari kepalanya."Nggak boleh begini," gumamnya pelan.Ia membuka ponselnya, menggulir daftar kontak, berhenti sejenak di satu nama. Jarinya melayang di atas tombol panggil, ragu. Ia bisa saja mencari aplikasi derek sendiri, menunggu entah berapa lama di jalanan sepi ini sendirian. Atau ia bisa menelepon satu orang yang kebetulan—hanya kebetulan, pikirnya—tahu persis di mana ia berada tanpa perlu penjelasan panjang kenapa.Ia menggigit bibir. Ragu. Namun belum sempat ia berpikir soal keraguan lain, ia melihat sekeliling tempatnya. Gelap. Jalan itu bukan tempat biasa o

  • KAMAR KEDUA   Bab 346. Belum Sepenuhnya Menghangat

    "Saya belum tahu persisnya. Cuma kerasa kurang pas aja.""Oke." Damar mengetuk-ngetuk pensilnya di meja, pura-pura berpikir keras. "Kalau gitu saya cariin pintu yang bikin Ibu suka. Biar nggak kurang pas lagi."Nadine hampir tersenyum, sudut bibirnya bergerak naik sedikit sebelum buru-buru ia tahan kembali. "Bukan soal suka atau nggak suka. Ini soal fungsi.""Iya, Bu, saya ngerti. Cuma kadang fungsi sama selera itu tipis bedanya." Damar menggeser gambar, menunjukkan dua alternatif posisi pintu. "Yang ini lebih logis dari sisi alur orang masuk. Yang ini lebih logis dari sisi pencahayaan. Ibu pilih yang mana?"Nadine menatap kedua opsi itu cukup lama, lalu menunjuk salah satunya tanpa banyak komentar. Damar mencatat pilihan itu, lalu beralih ke bagian lain denah, menunjuk area dekat tangga darurat."Ini juga ada masalah kecil, Bu. Bekas rembesan air dari atap lama. Sekarang sih udah kering, tapi nodanya di dinding masih keliatan, bandel banget, susah hilang meski udah dicat ulang dua ka

  • KAMAR KEDUA   Bab 345. Konsultasi Gratis

    “Aku baru nyampe kantor, Pa. Mau buru-buru aja langsung nelepon,” kata Nadine.“Proyeknya udah kelamaan. Udah jadi bangunan terbengkalai. Jadi gimana?" Suara Pak Salim di ujung telepon benar-benar menyiratkan ketidaksabaran. "Papa dengar konsultannya juga mau mundur, ya? Nyerah gitu aja dia? Menurut kamu, gedung itu masih bisa dilanjutkan tanpa nambah kerugian? Atau lebih baik dijual aja sekalian? Papa sudah nggak mau pusing-pusing lagi, Nad.”“Konsultannya nyerah?” Nadine terbatuk-batuk kecil. Damar mau mundur bukan karena gedungnya tidak bisa diselamatkan, melainkan karena dirinya sendiri yang selama ini malas-malasan setiap diajak bertemu untuk menjalankan konsultasi lanjutan rencana gedung itu."Konsultan yang ini profesional, Pa," jawabnya, berusaha menjaga nadanya tetap datar. "Namanya Damar, dosen S2, punya perusahaan konsultan sendiri. Analisisnya jelas, bukan asal bicara." Ia berhenti sejenak. "Aku bakal usahakan supaya dia tetap lanjut. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki

  • KAMAR KEDUA   Bab 344. Lima Belas Menit yang Meleset

    Di sudut bangunan, Damar membentangkan gambar kerja di atas meja lipat, menahan salah satu sudutnya dengan gelas teh yang sudah dingin. Ia menunjuk garis merah yang melingkari salah satu kolom."Ini kolom K-14, Bu. Retakannya masih di ambang aman, tapi posisinya persis di titik yang menahan beban terbesar dari lantai tiga ke atas." Ia menggeser jarinya ke bagian lain gambar. "Kalau saya biarkan dan dipaksa lanjut, dalam dua tahun ke depan retaknya bisa menjalar. Bukan besok roboh, Bu. Tapi bukan sesuatu yang saya mau tanda tangani nama saya di atasnya."Nadine menyilangkan tangan. "Berapa biayanya kalau diperbaiki?""Kalau cuma injeksi epoksi dan perkuatan lokal, sekitar dua ratus juta. Selesai tiga minggu." Damar tidak perlu membuka catatan mana pun. "Tapi saya sarankan sekalian evaluasi lima kolom di sekitarnya. Developer sebelumnya memangkas volume tulangan di beberapa titik. Saya baru tahu setelah bongkar selubung beton kemarin.""Kenapa baru sekarang ketahuan?""Karena orang sebe

  • KAMAR KEDUA   Bab 343. Belum Kenal

    Roman menarik napas, lalu menyelipkan kedua tangan ke saku celana. Bukan gaya santai seperti biasanya. Kali ini ia terlihat seperti orang yang menahan sesuatu supaya tidak tumpah.Ia sedikit berputar agar bisa menatap mata Rania. "Maksudku…" Ia berhenti sebentar, memilih kata. "Aku serius sama kamu, Ran. Bukan serius yang cuma ngajak makan atau jalan. Aku mau kita menuju ke arah yang jelas."Rania tidak menyela. Jemarinya kembali memegang tali tas, kali ini lebih erat. Roman sudah berganti panggilan menyebut dirinya. Dari saya yang terkesan berjarak, kini menjadi aku, yang terasa lebih dekat."Aku nggak akan minta kamu ngambil keputusan apa pun sekarang. Kamu masih praktik, masih ada skripsi." Roman menatapnya lurus. "Tapi kalau skripsi kamu udah selesai, aku mau datang ke Kebumen. Ketemu orang tuamu, dan melamar kamu secara baik-baik. Ini … soal hubungan serius yang begitu, Rania.”Angin siang berembus pelan. Dari dalam rumah terdengar tawa Nayla, samar dan jauh, seakan berasal dari

  • KAMAR KEDUA   Bab 342. Yang Perlu Diketahui

    Sagara sudah terlelap di pangkuan Sheza. Ia memindahkan bayi itu ke stroller di samping sofa, lalu kembali duduk menghadap Rania yang masih tertunduk dengan pipi hangat."Ran," panggilnya pelan. "Ada yang perlu Kakak jelasin soal Roman. Bukan buat nakut-nakutin. Kamu berhak tahu dari orang yang nggak punya kepentingan bela dia."Rania mengangkat wajah. "Iya, Kak.""Roman itu memang supel dan banyak temen wanita. Dari dulu. Tapi selama Kakak kenal, dia belum pernah bawa satu pun buat dikenalin ke kami." Sheza menghela napas. "Jadi kalau kamu dengar cerita macem-macem tentang dia, pasti ada. Orang suka bicara.""Cerita macam apa, Kak?""Cerita masa lalu. Siapa dia dulu, sama siapa aja." Sheza menatapnya lurus. "Nah, itu risikonya. Bukan dari Roman, tapi dari luar. Gosip, orang yang bandingin kamu, atau orang yang nggak percaya dia bisa berubah. Itu nyata, Ran. Kakak nggak mau bohong."Rania mengangguk pelan, jemarinya saling meremas di atas lutut. "Terus ... Mas Roman harus cerita semua

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status