LOGINRachel baru saja melahirkan anak kedua. Bukannya bahagia, suaminya, Juan malah membawa pulang selingkuhannya ke rumah karena Rachel dianggap tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Rachel memutuskan pergi membawa dua anak perempuannya. Tak disangka bos suaminya sendiri yang menolongnya dan memberikan tempat tinggal dan pekerjaan. Bukan hanya bekerja di sebagai penerjemah di kantornya, tapi juga menjalani kontrak sebagai istri pura-pura. Apakah si bos triliuner dapat menjaga profesionalitas atau malah benar-benar jatuh cinta?
View MorePukul sembilan pagi lewat beberapa menit, Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang tampak sibuk seperti biasa. Aku berdiri di dalam area VIP Lounge dengan lutut yang terasa lemas akibat kurang tidur dan ketegangan luar biasa. AC bandara berhembus sangat dingin, tetapi telapak tanganku justru basah oleh keringat. Aku yakin tubuhku mulai menunjukkan gejala anemia ringan karena semalaman terus terjaga.Pagi ini, aku mengenakan dress putih sederhana namun berpotongan elegan yang dibelikan oleh Adrian. Kila, di sampingku, tampak menggemaskan mengenakan dress berwarna pink senada, membuat kami berdua tampak seperti miniatur versi ibu dan anak dari keluarga harmonis sungguhan. Adrian berdiri tepat di sisiku, mengenakan kemeja putih kasual dengan lengan digulung sekenanya, tangannya menggenggam jemariku erat. Terlalu erat, bahkan untuk sekadar ukuran sandiwara."Ingat instruksiku, Rachel," bisik Adrian tepat di dekat telinganya, suaranya rendah namun tegas. "Nenekku
Apa isi koper-koper yang dibawa Bi Ijah?Jawabannya adalah lautan sutra dan gaun-gaun mahal yang harganya mungkin setara dengan satu unit rumah subsidi di kampung tempatku dibesarkan. Ada sekitar sepuluh gaun desainer, kebaya modern mewah, serta setelan kerja wanita yang memancarkan aura elegan kelas atas.Semua pakaian itu pas di ukuran badanku. Warnanya pun dipilih dengan teliti: krem lembut, dusty pink, hingga maroon—palet warna yang sama sekali tidak pernah berani kubeli atau kupakai selama lima tahun menikah dengan Juan karena ia selalu mencemoohnya dengan alasan "norak" atau "tidak pantas"."Ini semua untuk siapa, Bi?" tanyaku ragu, menatap tumpukan pakaian itu dengan ngeri-ngeri sedap."Buat Nyonya Adrian," jawab suara pria yang tiba-tiba melangkah masuk ke kamar utama.Adrian berdiri di ambang pintu, melepas jas kerjanya dengan gerakan santai seolah apartemen mewah berlantai 20 ini adalah tempat paling biasa baginya. Tatapannya lantas beralih padaku, seolah bisa membaca sel
Pagi setelah kejadian di basement parkiran, hidupku berubah 180 derajat, bukan 90 derajat tapi benar-benar terbalik. Aku tidak lagi tinggal di lantai 20 sebagai korban yang ditampung bos. Pagi ini, aku dibangunkan oleh Bi Ijah dengan ketukan pelan dan kalimat yang membuat jantungku loncat: "Bu Rachel, Pak Adrian nunggu di meja makan sejak jam 6 pagi. Katanya ada penawaran yang nggak bisa Ibu tolak." Hah, jam 6 pagi? Bos yang biasanya baru turun jam 8 pagi? Aku turun dengan daster tidur sutra bersama Kila dan Bila. Dua anakku sudah rapi dan wangi dengan rambut yang sudah dikuncir. Mataku sembab karena nangis semalam, tapi badanku sudah wangi. Adrian sudah rapi dengan setelan jas abu-abu yang sangat mahal. Rambutnya klimis. Nyaris sempurna. Dia bukan tipe ganteng kaleng-kaleng. Adrian Wijaya itu 185cm, bahu bidang, rahang tajam seperti dipahat. Usianya 32 tahun, tapi sorot matanya tua dan dingin, mata orang yang sudah melihat terlalu banyak pengkhianatan. Kulitnya putih be
Dari kaca mobil, aku melihat Juan berlutut di lobi. Bukan berlutut padaku.Dia memegangi kepalanya, menatap Siska yang juga terduduk lemas di lantai sambil memegangi perut 6 bulannya.Hancur.Dan di sampingku, Kila tertawa senang sambil memakan coklat yang diberikan Adrian."Mama, Om Ganteng baik ya? Kila suka Om Ganteng, nggak suka Papa," ucap Kila polos.Adrian menatapku. Matanya dalam."Dengar itu, Rachel? Bahkan anak 3 tahun tahu mana yang baik dan mana yang brengsek. Kamu sekarang di bawah perlindungan saya."Mobil melaju meninggalkan gedung kantor. Di dalam mobil yang dingin dan wangi itu, untuk pertama kalinya setelah melahirkan Bila, aku merasa hangat.Kila duduk di pangkuan Adrian. Anehnya, Adrian yang terkenal anti anak kecil di kantor, membiarkan Kila memainkan dasinya. Bila tertidur pulas di gendongan depan yang dibelikan Bu Rina pagi tadi."Om Ganteng, dasinya bagus," kata Kila polos sambil menarik-narik dasi biru dongker Adrian seharga 2 juta itu.Adrian tidak marah. Dia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.