Masuk“Lalu ... saat Nayla hadir di antara kita, setiap hari aku selalu berusaha menjadi papa yang baik buat Nayla.”Satria membuang pandangan sejenak sebelum kembali menatap Nadine.“Aku harus tetap berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun melihat kamu—orang yang sejak awal paling ingin punya anak, tapi kemudian kulihat nggak benar-benar menginginkan anak itu.”Nadine terdiam.Satria masih menatapnya. “Apa waktu itu kamu berpikir bahwa mencintai suami lebih penting daripada mencintai anak yang kamu usahakan siang dan malam?”Nadine mencondongkan tubuh hingga kedua tangannya nyaris menyentuh meja. “Tapi aku mau dicintai seperti wanita lain, Sat!” Suaranya bergetar. “Aku mau diusahakan.”“Aku mencoba, Nad. Setiap hari aku mencoba.”Satria menarik napas.“Bahkan aku pernah berpikir, mungkin aku bisa mencintai kamu mati-matian setelah kamu melahirkan anakku. Tapi ternyata, ketidakpedulian kamu terhadap Nayla justru membuatku semakin sulit percaya bahwa perempuan yang melahirkan putriku benar
Nadine tertawa lagi.Kali ini tawanya benar-benar terdengar seperti ia menemukan sesuatu yang lucu. “Kamu dari dulu terlalu serius.”Satria tidak ikut tertawa.“Bisa nggak kita ngobrol sedikit lebih santai?” Nadine menyandarkan tubuhnya. “Masa kamu nggak paham maksud aku?”“Bicara yang jelas.”Nadine mengembuskan napas, lalu berdeham kecil. “Oke.”Ia menatap Satria lurus-lurus.“Kamu bisa mengajukan tuntutan hukum terhadap Salim Prajogo Kertasoedibyo. Mau dipenjara atau apa pun proses hukumnya, terserah kamu. Jalankan aja.”Satria tidak bergerak.“Aku akan menyediakan semua bukti yang kamu butuhkan. Orang tua kamu meninggal karena keteledoran papaku.” Suara Nadine tetap tenang. “Aku bisa kasih kamu bukti untuk memproses orang yang bertanggung jawab atas KSD Holding waktu itu.”Ia berhenti sebentar.“Sebagai gantinya, kasih aku hak asuh penuh atas Nayla.” Nadine mengangkat bahu, seolah baru saja menyampaikan sebuah kesepakatan bisnis. “Kurasa itu nggak akan terlalu berat buat kamu.”Sa
Satria mengemudikan mobilnya menuju restoran Jepang yang dipilih Nadine malam itu.Lampu-lampu kota bergerak di balik kaca jendela. Jalanan cukup padat, tetapi pikirannya jauh lebih ramai daripada lalu lintas yang dihadapinya.Sheza masih terbayang di kepalanya.Cara perempuan itu menangis ketika menyebut Nayla. Cara tangannya mencengkeram lengan Satria seolah takut satu keputusan yang belum terjadi sudah cukup untuk mengambil Nayla dari mereka.Mungkin sebagian adalah pengaruh kehamilan.Satria tahu istrinya memang jauh lebih sensitif beberapa bulan terakhir. Namun ia juga tahu, ketakutan Sheza bukan sesuatu yang dibuat-buat.Dengan segala dugaan yang terlintas di pikiran mereka, serta kemungkinan terburuk, ia sendiri tidak akan sanggup kehilangan NaylaKarena itu, sejak siang tadi ia sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Ia pulang, menghabiskan waktu bersama Sheza dan Sagara, lalu malam ini memenuhi janji dengan Nadine.Ia tidak ingin pertemuan itu menjadi sesuatu yang kemudi
Begitu panggilan berakhir, Satria menurunkan ponselnya.Tidak ada percakapan panjang. Nadine hanya menyampaikan maksudnya, lalu menutup telepon.Satria mengangkat wajah.Tatapannya bertemu dengan Sheza.Perempuan itu langsung bangkit dan duduk. Wajahnya berubah panik. Tangannya buru-buru menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dadanya, sementara satu tangannya yang lain meraih lengan Satria.“Itu mamanya Nayla, kan?”Satria mengangguk.“Dia ngomong apa?”“Nadine ngajak aku ketemu.” Satria berhenti sebentar. “Berdua.”Sheza menatapnya tanpa berkedip.“Katanya dia punya penawaran yang menarik.”Mata Sheza langsung berkaca-kaca. Sebulir air mata menggantung di sudut matanya sebelum buru-buru ia usap.“Perasaan aku nggak enak, Mas.”Suaranya mulai bergetar.“Itu pasti soal Nayla.”Tangannya masih menggenggam lengan Satria, seakan membutuhkan sesuatu untuk membuat dirinya tetap tenang.“Mas harus janji sama aku.”Satria menatapnya.“Apa pun yang nanti disampaikan Mama Nayla, Mas janga
Sejak pertemuannya dengan Nadine, ada satu bagian dalam kepala Sheza yang tidak pernah benar-benar tenang.Ia tetap menjalani hari seperti biasa.Pagi-pagi mengurus Saga, membuat konten sesuai perjanjian kontrak kerjanya, juga beberapa konten tambahan yang akan di-upload secara bertahap sesuai tema. Sesekali keluar bersama Dio dan Nayla, lalu kembali ke rumah sebelum sore. Kehamilannya yang sudah memasuki bulan keempat juga membuat tubuhnya jauh lebih bersahabat dibandingkan beberapa bulan pertama.Tetapi pikirannya tidak.Di sela-sela memeriksa naskah konten, Sheza bisa tiba-tiba berhenti membaca hanya karena teringat satu kalimat Nadine.“Saya sudah mendapatkan informasi yang saya butuhkan.”Informasi apa?Untuk apa?Dan kenapa setelah itu Nadine justru tidak melakukan apa-apa?Hari berganti.Minggu pertama, Nayla datang seperti biasa. Minggu berikutnya juga. Tidak ada perubahan.Nadine tidak pernah menghubunginya. Tidak pernah mempertanyakan kapan Nayla pulang. Tidak pernah mengiri
Pertanyaan itu datang begitu mendadak sampai Sheza tidak langsung menemukan jawaban.Nadine tidak tersenyum. Tatapannya masih tertuju pada perut Sheza. “Atau lebih tepatnya,” lanjutnya, “seberapa besar peran seks dalam mempertahankan rumah tangga kamu dan Satria?”Sheza mengembuskan napas pelan. “Mbak Nadine sebenarnya sedang bertanya tentang apa?”“Saya cuma penasaran.”“Pertanyaan seperti itu biasanya bukan sekadar penasaran.”Nadine mengangkat alis. “Kenapa? Kamu tersinggung?”“Tidak.” Sheza meraih gelasnya dan menuangkan air mineral. Es batu di dalamnya bergeser pelan ketika ia mengangkat gelas itu. “Saya cuma mau tahu arah pertanyaannya.” Ia meneguk sedikit, lalu meletakkan kembali gelasnya.Nadine masih menunggu. “Saya lihat kamu hamil lagi,” katanya. “Jadi saya bertanya-tanya. Apa memang sesederhana itu? Satria mau punya banyak anak, kamu hamil, lalu semuanya berjalan baik?”Sheza menatapnya dengan tenang. “Rumah tangga nggak sesederhana itu, Mbak.”“Bukannya berarti seks itu h







