MasukMalam itu, Rania berbaring di kasur kosnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar yang sejak beberapa hari terakhir mulai terasa akrab, meski belum sepenuhnya terasa seperti rumah.Pikirannya kembali pada satu hal yang sejak tiga hari lalu belum juga terjawab.Saudara-nya Roman.Sudah tiga hari pria itu datang ke rumah sakit membawa makanan untuknya dengan alasan yang sama. Katanya, ada saudaranya yang juga sedang menjalani praktik klinik di rumah sakit tersebut.Tapi sampai sekarang, Rania belum pernah melihat orangnya.Tidak ada nama dan jurusan yang jelas.Bahkan tidak ada satu pun perawat atau mahasiswa praktik lain yang pernah menyebut ada peserta praktik baru yang memiliki hubungan keluarga dengan Roman—pria yang sering menunggunya di lobby.Rania mengembuskan napas pelan.Mungkin memang kebetulan.Bisa saja jadwal praktik mereka berbeda. Bisa jadi saudaranya berada di ruangan lain. Rumah sakit itu cukup besar dan mahasiswa prakt
"Maksudnya ini buat saya?" tanya Rania, memandang kopi dan paper bag yang dijejalkan ke tangannya."Buat kamu," kata Roman, memandang sekeliling. Rania tetap menatapnya dengan sorot curiga."Bapak benar-benar temannya Kak Sheza dan Mas Satria? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?""Pernah. Maksudnya saya pernah lihat kamu. Tapi kamu nggak lihat saya." Roman kembali tersenyum.Rania memandang kopi di tangannya, lalu berkata pelan, "Tapi saya nggak minum kopi."Wajah Roman mendadak berubah, binar cerianya hilang. "Umm… nggak minum kopi? Tumben," katanya."Tumben? Siapa yang tumben?"Roman menggeleng lemah, sorot optimisnya padam seketika. Ia hampir saja bilang aneh kalau gadis seusia Rania tidak minum kopi—biasanya gadis-gadis yang ia ajak keluar di akhir pekan akan berakhir duduk di coffee shop, memesan berbagai varian kopi dan camilan manis kesukaan mereka."Itu… yang di dalam paper bag ada cake." Roman menyentuh paper bag di tangan Rania. "Kamu suka cake, kan?"Lagi-lagi Rania menggele
Tak perlu waktu lama bagi Satria untuk tahu kalau Roman sedang membutuhkan sesuatu dari Athar. Tidak ada yang membuat Roman bisa seramah dan sepersuasif itu selain keperluannya sendiri.Anak-anak yang mengambilkan Roman jagung dan hasil panggangan menyerahkan piring itu pada pria itu sesaat kemudian.Menjelang pukul sembilan, anak-anak sudah tidak terlihat lagi di dekat kolam renang. Nayla mengajak Violetta ke kamarnya, sedangkan Dio sudah pamit lebih dulu karena mengantuk.Satria baru saja kembali keluar setelah meletakkan Sagara di kamar. Kini ia berdiri di sebelah Sheza."Jamuan malam ini benar-benar luar biasa. Gue kekenyangan, Sat." Vian mengusap perutnya, merangkul Tania yang tersenyum-senyum di sebelahnya."Ntar kapan-kapan di rumah lo ya. Biar lain kali ikutan manggang." Arga menimpali dari sisi lain, dengan Wenny yang berdiri memeluk pinggangnya."Semua makanannya enak. Terutama bumbu barbeque-nya. Sheza yang bikin katanya." Wenny tersenyum menatap Sheza."Dari dulu Sheza sel
Roman bangkit dari kursinya.Ia tidak langsung menuju Athar. Langkahnya justru dibuat santai, seolah hanya ingin mengambil minuman yang berada di meja dekat kolam renang.Namun setelah gelas berada di tangannya, arah kakinya berubah.Athar masih duduk di kursi panjang bersama Dio, Nayla, dan Vio. Ketiga anak itu sedang sibuk memainkan permainan kartu yang entah bagaimana sudah berpindah dari meja makan ke dekat kolam.Roman berhenti beberapa langkah dari mereka.“Tha!”Athar mendongak. “Hm?”“Gue duduk sini, ya.”Athar menggeser sedikit tubuhnya. “Duduk aja.”Roman menarik kursi kosong di dekat bangku panjang. Ia duduk. Diam. Mengamati anak-anak yang masih sibuk bermain UNO. Athar melirik sebentar, lalu kembali memperhatikan permainan anak-anak.Roman ikut diam.Namun saat permainan kartu terhenti di putaran berikutnya, ia mulai menegakkan tubuh.“Nay, ajak adik-adiknya ke seberang sana buat ambilin Om Roman jagung bakar.” Ia menunjuk sisi di mana terdapat grill, meja makan panjang d
Roman tidak langsung kembali ke rumah Satria.Mobilnya justru melaju di belakang taksi yang membawa Rania.Ia sendiri tidak benar-benar tahu kenapa melakukannya.Awalnya hanya ingin memastikan arah taksi itu. Setidaknya begitu alasan yang muncul di kepalanya. Namun setelah beberapa persimpangan dilewati, rasa penasarannya justru semakin besar.Beberapa menit kemudian, taksi itu berbelok masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.Roman memperlambat mobil.Di kanan kiri jalan berdiri beberapa bangunan bertingkat yang cukup padat. Lampu jalan tidak terlalu terang. Suasananya jauh lebih tenang dibanding jalan utama yang baru saja mereka lewati.Taksi berhenti di depan sebuah bangunan tiga lantai dengan papan bertuliskan Kost Putri Athena.Roman ikut menghentikan mobil beberapa meter di belakangnya.Ia memandang bangunan itu dari balik kaca depan.“Oh, di sini.” Roman masih menatap papan tulisan seraya mematikan nyala lampu mobil. “Jauh juga.”Ia mengerutkan kening.“Kalau praktik klinik bera
Selepas Maghrib, halaman belakang rumah Satria sudah berubah menjadi tempat berkumpul yang ramai.Lampu-lampu taman menyala mengelilingi halaman, sebagian cahayanya jatuh ke permukaan kolam renang yang tenang. Pantulan lampu bergerak pelan mengikuti riak air yang sesekali tercipta kerena hembusan angin.Di dekat kolam, gas grill sudah mulai digunakan.Pak Heri berdiri di depan panggangan sambil membolak-balik daging yang mulai kecokelatan. Sesekali ia mengangkat tutup grill untuk memeriksa tingkat kematangannya. Aroma daging yang dipanggang bersama jagung dan ikan memenuhi halaman belakang.Meja panjang di bawah area terbuka sudah dipenuhi makanan. Piring-piring berisi daging panggang, jagung, kentang, salad, buah, dan berbagai macam saus memenuhi hampir seluruh permukaannya.Anak-anak berkumpul di sekitar meja, sesekali mengambil makanan yang mereka sukai sebelum kembali bermain.Para perempuan berkumpul di meja makan. Sheza duduk bersama Marina, Wenny; istri Arga dan Tania; istri Vi







