ANMELDENRuang privat restoran itu didominasi warna krem lembut dengan pencahayaan temaram yang hangat. Satu meja bundar diatur di tengah ruangan, taplaknya putih bersih, tiga set alat makan tersusun rapi. Sebuah vas kecil berisi bunga segar diletakkan di tengah meja, bukan berlebihan, hanya cukup untuk membuat suasana terasa lebih istimewa dari makan malam biasa.Damar sudah berdiri menunggu ketika pintu ruangan itu terbuka. Ia mengenakan kemeja biru dongker, lengan tergulung rapi sampai siku, jauh dari penampilan kasualnya yang biasa terlihat berantakan di kantor konsultan kecilnya."Bu Nadine." Ia tersenyum, lalu menoleh ke sosok mungil yang berdiri di samping Nadine, matanya langsung berbinar. "Dan ini pasti Nayla."Nayla mengangguk, sedikit malu-malu, tapi matanya penuh rasa ingin tahu memandangi pria di depannya dari atas ke bawah."Halo, Nayla. Saya Damar," katanya, berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi Nayla, mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang akhirnya bisa ketemu kamu la
Begitu pembicaraan dengan Nayla selesai, Nadine segera mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Damar.Nadine:Nayla udah siap. Kami berdua udah siap.Balasan pesan itu tidak butuh waktu lama.Damar:Oke. Biar saya yang atur. Saya mau bikin makan malam paling menyenangkan buat Nayla.Nadine membaca pesan itu dua kali, lalu meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit gugup membayangkan pertemuan itu benar-benar akan terjadi.**********Dua minggu kemudian, di Jalan Pine II No. 8, suara ketukan palu kecil memantul pelan di dinding bengkel kerja Satria.Siang itu ia sedang berkutat dengan sebuah lempengan emas kuning yang tipis dan memanjang, menempa bagian tepinya dengan hati-hati di atas landasan baja. Kacamata pembesarnya terpasang di hidung, dan beberapa alat ukir tersusun rapi di sampingnya—sketsa desain yang baru setengah jadi tergeletak di sudut meja kerja.Langkah kecil terdengar dari arah pintu. Satria menghentikan ketukannya, menoleh."Nay?
Setelah beberapa hari tenggelam dalam kesibukan memimpin perusahaan, ia mendapat laporan perkembangan hasil kerja gedung. Bagian kolom gedung sudah selesai. Bersamaan dengan itu, ia kembali teringat obrolannya bersama Damar soal makan malam.Malam itu, lewat pukul sepuluh, Nadine baru menyetir sendiri pulang dari kantor. Jalanan Jakarta yang biasanya ramai sudah lengang, tapi pikirannya justru mengembara ke banyak hal yang selama ini jarang ia izinkan muncul.Setelah Satria, tentu ada beberapa orang yang pernah mencoba mendekatinya. Entah karena ia memang belum benar-benar berdamai dengan masa lalu, atau karena kenyamanan yang ia rasakan sekarang terasa berbeda, Nadine tidak pernah benar-benar berpikir untuk meladeni percakapan lebih jauh dengan siapa pun. Semuanya berhenti di basa-basi, lalu lenyap begitu saja dari ingatannya.Berbeda dengan Damar.Damar baginya seperti teman ngobrol yang menyenangkan. Mereka nyambung, entah bagaimana caranya. Damar easygoing, dan anehnya, cukup saba
Mobil Damar melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang. Nadine duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota berkelip di kejauhan."Kita ke mana?" tanyanya akhirnya."Gultik," jawab Damar singkat, matanya tetap di jalan. "Di Blok M. Udah pernah coba?"Nadine menggeleng. "Gultik? Namanya lucu.”"Katanya sih kepanjangannya gulai tikungan. Porsinya kecil-kecil, jadi setelah gultik, kita bisa makan yang lain.” Damar tersenyum, memperhatikan anggukan Nadine dan sepasang mata wanita yang bercahaya. Ia lalu membelokkan mobil ke arah Blok M.Mereka berhenti di deretan gerobak yang berjejer di pinggir jalan, asap mengepul dari arang yang menyala, aroma daging bercampur bumbu gulai memenuhi udara malam. Damar memesan dua porsi tanpa bertanya dulu, lalu duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang ketika Nadine ikut duduk."Ini aman buat perut Ibu?" tanya Damar, sedikit meragu begitu makanan datang—sepiring nasi putih yang disiram gulai."Saya
Setelah mengiyakan tawaran Damar, siang itu Nadine sudah berjalan beberapa langkah di belakang Damar, menyusuri koridor gedung Fakultas Teknik yang dindingnya dipenuhi poster seminar, kegiatan kampus atau pengumuman tugas akhir. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka menoleh, lalu berbisik-bisik pelan begitu melewati keduanya.Pembicaraan para mahasiswa yang mengenal Damar itu terdengar berbisik-bisik. "Pak Damar bawa tamu?""Itu kayaknya klien proyeknya, deh."Damar tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu. Ia berjalan santai, sesekali menyapa mahasiswa yang menyapanya lebih dulu, tangannya membawa map berisi slide presentasi yang sudah dicetak."Kelasnya penuh?" tanya Nadine, suaranya pelan."Lumayan. Ini kelas struktur lanjut, semester akhir. Nggak terlalu besar, sekitar tiga puluh orang." Damar membuka pintu ruang kelas, lalu mempersilakan Nadine masuk lebih dulu. "Duduk di belakang aja, Bu. Biar nggak ganggu konsentrasi mereka. Mereka pasti penasaran siapa tamu yang data
Nadine berhenti sejenak, tangannya yang sedang memegang gelas air putih melambat di udara. "Aku cuma mau Papa tau perkembangannya jelas.""Jelas banget, malah," sahut Pak Salim, kali ini dengan nada menggoda yang jarang sekali ia pakai pada putrinya. "Sampai gaya kerjanya, cara dia nyusun jadwal, cara dia bikin opsi cadangan—semua kamu hafal."Nadine meletakkan gelasnya, berusaha terdengar biasa saja. "Gedung itu kan proyek tambahan aku, Pa. Aku cuma berusaha menjaga kepercayaan Papa.”Pak Salim tersenyum tipis, lalu kembali meraih tabletnya, seolah tidak ingin membuat putrinya terlalu tersudut. "Kedengarannya Pak Damar ini orangnya simpatik, ya. Atau apalah namanya—orang yang gampang bikin orang lain nyaman kerja sama dia."Nadine tidak langsung menjawab. Ia meraih tasnya dari kursi sebelah, berdiri lebih cepat. "Aku berangkat dulu, Pa," katanya, suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya. "Nanti aku kabari lagi perkembangannya."Ia mendekat untuk mencium pipi ibunya yang sejak tadi







