LOGINNadira kehilangan suaminya dalam sebuah kecelakaan tragis yang diyakini merenggut nyawa Arga. Kesedihannya belum usai ketika ibu mertua dan adik iparnya justru mengusir dirinya dan Alya dari rumah keluarga Pratama. Tidak hanya kehilangan suami, Nadira juga kehilangan tempat tinggal, harta, dan hak putrinya sebagai ahli waris. Saat semua orang menutup pintu untuknya, Adrian Winata datang sebagai satu-satunya pengacara yang bersedia membela Nadira. Dari perjuangan hukum itulah Nadira mengetahui bahwa dirinya adalah pewaris keluarga Maheswari, sebuah keluarga konglomerat yang telah lama mencarinya.
View MoreBAB 1
**Suamiku Tak Pernah Pulang** "Ma, Ayah kapan pulang?" tanya Alya dengan mata berbinar sambil memegang sebuah kartu ucapan yang dibuatnya sendiri. Nadira hanya tersenyum lembut. Ia mengusap rambut putrinya yang baru berusia empat tahun itu. Mata polos itu menatap dengan tuntutan. "Sebentar lagi, Sayang. Ayah bilang malam ini kita makan malam bersama." Nadira mengucapkan itu dengan penuh keyakinan, hal itu tentu saja membuat Alya bahagia. Alya langsung bertepuk tangan kegirangan. Hatinya penuh harap dan diliputi ketidaksabaran. Di atas meja makan telah tersaji berbagai hidangan favorit Arga. Sup buntut hangat masih mengepulkan uap, ikan bakar dengan sambal kecap, serta puding cokelat yang dibuat Nadira sejak siang. Malam itu terasa begitu istimewa karena tepat lima tahun lalu mereka mengikat janji suci sebagai suami istri. Malam ini adalah saksi cinta mereka. Nadira bahkan telah menyiapkan sebuah jam tangan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan. Benda itu dibungkus rapi dengan pita berwarna biru tua, warna kesukaan Arga. Matanya sesekali melirik jam dinding, merasa waktu begitu bergerak lambat. Pukul delapan malam. Biasanya Arga sudah tiba di rumah sebelum pukul tujuh jika tidak ada rapat mendadak. "Nanti kalau Ayah pulang, Alya mau kasih hadiah sendiri," ucap Alya sambil memeluk kotak kecil berisi gantungan kunci berbentuk hati. Nadira tertawa pelan, sembari mengusap lembut rambut hitam legam milik Alya. "Ayah pasti senang," tuturnya. Namun, semakin malam, perasaan Nadira justru semakin gelisah. Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor Arga. "Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi." Kening Nadira berkerut, ada secercah perasaan yang tidak nyaman mulai mengusiknya. "Kenapa dimatikan?" gumamnya. Meskipun dia merasa sedikit kesal, tapi dia juga merasa mulai curiga. Ia mencoba lagi, dengan hati yang coba dia buat tenang. Tetap tidak aktif, Nadira benar-benar benar mulai kesal. "Ma... Ayah lupa pulang?" tanya Alya polos. Nadira mengernyit. "Tidak mungkin. Ayah tidak pernah lupa janji." Nadira meyakinkan Alya. Meski berkata demikian, jantung Nadira mulai berdetak tidak nyaman. Arga adalah pria yang sangat disiplin. Jika terlambat, dia pasti akan memberi kabar. Sepuluh menit kemudian, ponsel Nadira kembali berdering. Bukan nama Arga yang muncul. Akan tetapi nomor tak dikenal. Sejenak Nadira terdiam, kemudian menjawab telepon itu. "Halo?" "Apakah benar ini Ibu Nadira, istri Bapak Arga Pratama?" Suara berat di seberang membuat tubuh Nadira menegang. "Iya... saya sendiri." Nadira menjawab pelan. "Saya dari Kepolisian Resor Kota. Mohon Ibu tetap tenang." Kalimat itu membuat tangan Nadira gemetar. "Ada apa dengan suami saya?" "Mobil yang dikendarai Bapak Arga mengalami kecelakaan di Jalan Bukit Raya sekitar satu jam yang lalu." Dunia Nadira seakan berhenti berputar. "Kecelakaan...?" "Iya, Bu. Mohon Ibu segera datang ke lokasi." Ponsel di tangan Nadira hampir terjatuh. Wajahnya mendadak pucat. "Ma... kenapa?" Alya menarik ujung bajunya. Nadira berusaha tersenyum, meski bibirnya bergetar. "Ayah... mengalami kecelakaan." Tanpa membuang waktu, Nadira membawa Alya menuju lokasi yang disebutkan polisi. Sepanjang perjalanan dia terus berdoa. "Ya Allah... lindungi suamiku. Jangan ambil dia dariku." Begitu tiba, suara sirene ambulans dan mobil pemadam memenuhi udara malam. Asap masih mengepul dari dasar jurang. Nadira memaksa menerobos garis polisi. "Itu suami saya! Tolong biarkan saya lewat!" Seorang petugas menahannya. "Ibu, jangan mendekat! Lokasinya masih berbahaya." Air mata Nadira mengalir deras saat melihat sebuah mobil hitam yang sudah tak berbentuk. Itu mobil Arga. Mobil yang pagi tadi masih diantar pergi olehnya sambil melambaikan tangan. "Kami menduga kendaraan kehilangan kendali saat hujan deras, kemudian menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang," jelas seorang petugas. Nadira menggeleng keras. "Tidak... suami saya pasti selamat." Nadira berusaha menerobos, dengan membawa perasaan kacau. "Tim SAR masih melakukan pencarian." Petugas meyakinkan, agar Nadira bisa tenang. Harapan itu membuat Nadira sedikit bernapas lega. Namun tetap saja ketenangannya terus terusik karena pikiran khawatir nya pada sang suami. Belum ditemukan. Suara petugas lainnya terdengar, membuat Nadira semakin gelisah dan ketakutan. "Berarti pak Arga mungkin masih hidup." Suara lainnya ikut menyahut. Nadira diam mematung, kehilangan daya untuk mencerna pendengarnya saat ini. Namun beberapa menit kemudian... Seorang petugas berjalan mendekat sambil membawa sebuah kantong plastik bening. "Ibu... apakah cincin ini milik suami Anda?" Nadira menatap benda di dalam plastik itu. Cincin emas sederhana dengan ukiran nama mereka berdua. Arga ❤ Nadira Itu adalah cincin yang dipakaikan Arga ke jari manisnya lima tahun lalu. Tangis Nadira pecah seketika. Tubuhnya lemas. Lututnya tak lagi mampu menopang beban tubuhnya. "Arga...." Suara itu keluar lirih, sebelum pandangannya menggelap. Ia jatuh pingsan tepat di depan jurang tempat suaminya dinyatakan hilang. Di tengah derasnya arus sungai, seorang petugas berteriak kepada rekannya. "Jasad korban belum ditemukan! Lanjutkan pencarian!"BAB 8** Aku Akan Membela Kalian**Nada sambung telepon terus terdengar di telinga Nadira.Tangannya berkeringat. Jantungnya berdegup begitu cepat hingga ia hampir menutup panggilan itu.Bagaimana jika Adrian tidak mengangkat?Bagaimana jika ia ternyata sama seperti pengacara lainnya?Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika ia ikut menolak karena takut berhadapan dengan keluarga Pratama?Klik."Selamat sore. Adrian Wijaya berbicara."Suara pria itu terdengar tenang dan berwibawa.Nadira sempat kehilangan kata-kata."Halo?"Adrian kembali menyapa.Nadira menarik napas panjang."Pak Adrian... saya Nadira."Beberapa detik hening.Kemudian Adrian menjawab dengan nada yang masih sama tenangnya."Saya ingat."Jawaban singkat itu membuat Nadira sedikit lega."Apa Ibu baik-baik saja?"Pertanyaan sederhana itu justru membuat air mata Nadira kembali jatuh.Ia menggigit bibirnya, berusaha agar suaranya tidak bergetar. Berkali-kali dia memusut dadanya, berusaha menenangkan hati yang terasa sakit."
BAB 7Penolakan.Nadira pergi meninggalkan halaman perusahaan dengan membawa rasa sakit hati dan ejekkan Rendy.Ia mulai bertekad dalam hati, ingin memperjuangkan hak anaknya. Nadira pun mulai mencari pengacara. Namun tak Ada yang Berani MembantuUcapan Rendy terus terngiang di kepala Nadira."Putrimu tidak akan mendapatkan satu rupiah pun."Kalimat itu bagaikan pisau yang terus mengiris hatinya. Bukan karena ia menginginkan harta keluarga Pratama untuk dirinya sendiri, tetapi karena yang diperjuangkannya adalah masa depan Alya.Malam itu, Nadira duduk termenung di kamar kos sempit yang kini menjadi tempat tinggalnya bersama sang putri.Alya sudah terlelap setelah menangis cukup lama. Boneka kelinci yang mulai kusam masih dipeluk erat di dadanya.Nadira mengusap lembut rambut putrinya."Apa pun yang terjadi, Mama akan berjuang untukmu," bisiknya pelan.Keesokan paginya, Nadira mengenakan pakaian paling rapi yang masih dimilikinya. Ia membawa map berisi dokumen pernikahan, akta kelahir
BAB 6** Hak Alya Dirampas**Dua hari setelah terusir dari rumah keluarga Pratama, Nadira dan Alya tinggal di sebuah kamar kos sederhana yang disewa menggunakan sisa tabungannya. Ukurannya tidak lebih dari tiga kali empat meter. Hanya ada sebuah ranjang kecil, kipas angin tua yang berdecit pelan, dan lemari kayu yang sudah mulai lapuk.Malam sebelumnya, Nadira hampir tidak bisa memejamkan mata. Uang yang dimilikinya semakin menipis, sementara kebutuhan Alya terus bertambah. Ia sadar, jika hanya mengandalkan tabungan, mereka tidak akan bertahan lama.Namun, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.Alya adalah anak kandung Arga.Apa pun yang terjadi, putrinya memiliki hak yang tidak boleh dirampas begitu saja.Pagi itu, Nadira mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam yang masih tampak rapi. Ia merapikan rambutnya di depan cermin kecil, lalu menggandeng tangan Alya."Mama, kita mau ke mana?" tanya Alya."Kita mau menemui orang-orang di kantor Ayah.""Ayah ada di sana?"Perta
BAB 5 **Kartu Nama Seorang Pengacara** Nadira masih berlutut di halaman rumah keluarga Pratama. Jemarinya yang terluka perlahan memasukkan pakaian dan barang-barang Alya ke dalam koper yang sudah penyok. Sesekali dia mengusap air mata yang terus mengalir, berusaha terlihat tegar di depan putrinya.Alya memeluk boneka kelincinya yang kini penuh noda lumpur."Mama... kita mau ke mana?" tanyanya dengan suara bergetar.Nadira terdiam.Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar tidak memiliki jawaban.Di saat itulah terdengar suara langkah kaki mendekat. Tok... tok... tok... Semua orang menoleh.Seorang pria berjas abu-abu gelap berjalan dengan tenang melewati gerbang rumah keluarga Pratama. Wajahnya tampak tegas, tetapi sorot matanya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan. Martha mengernyit. "Anda siapa?" Pria itu berhenti beberapa langkah dari Nadira. "Perkenalkan, nama saya Adrian."Ia menganggukkan kepala dengan sopan sebelum melanjutkan, "Saya seorang pengacara."


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.