LOGIN
"Bapak belum pulang, Bu?" tanyaku pada ibu yang masih sibuk memasak di dapur.
"Belum, Zi." "Dari kemarin nggak pulang? Memangnya lembur lagi?" tanyaku memastikan. "Sepertinya begitu." Ibu menoleh lalu tersenyum tipis ke arahku. "Ibu nggak tanya kenapa bapak nggak pulang semalaman?" "Bapak itu supir kepercayaan Pak Abdullah, Zi. Wajar jika sering diminta lembur dadakan atau bantu ini itu," ujar ibu menjelaskan. Aku menghela napas panjang. Tiap kali aku mulai bertanya tentang bapak, ibu selalu berusaha membuatku tenang dan tak berpikir macam-macam, meski dalam hatinya kuyakin muncul keraguan. Ragu akan jawabannya sendiri. "Hari ini ibu goreng tempe lagi? Apa bapak nggak ngasih uang belanja? Apa uang hasil jualan keripik kemarin diminta bapak buat beli rokok?" tanyaku menggebu. "Zi ...." "Sudahlah, Bu. Zizi sudah dewasa. Zizi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tak perlu menutup-nutupinya lagi. Bapak memang keterlaluan." Aku berdecak kesal. "Jangan begitu, Zi. Kalau sudah gajian, bapak pasti ngasih ibu uang belanja. Bapak bilang gajian bulan ini telat, makanya kemarin minta duit ibu buat beli rokok sama kopi. Sisanya buat beli tempe ini," ujar ibu berusaha menghibur dan meyakinkanku, meski lagi-lagi kutahu kalau di dalam hatinya pun meragu. "Bulan ini telat, bulan sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya juga telat kan, Bu? Lantas saat ibu tanya kemana gajinya, jawabannya cuma habis. Dulu bapak selalu menyisihkan seperempat gajinya buat kita. Meski kurang setidaknya ada secuil tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, Bu. Tapi akhir-akhir ini bapak berubah drastis. Apa ibu nggak curiga?" "Curiga apa? Jangan berpikir macam-macam. Bapak sudah capek kerja tiap hari untuk kita, Zi. Doakan saja yang terbaik untuknya. Walau bagaimanapun dia tetap bapakmu. Jangan menyakiti hatinya." "Kita tak boleh menyakiti hatinya, lantas apa dia bebas menyakiti hati kita, Bu?" Aku semakin kesal karena ibu selalu membela bapak tiap kali kami berdebat. Sebenarnya tak tega berdebat dengan ibu apalagi membuatnya menangis, tapi dadaku teramat sesak. Aku malas memendam kekesalan itu sendirian. Aku lelah. "Makanlah. Ajak adikmu makan sekalian. Kalau hari ini capek, istirahat saja. Nggak usah jualan. Nanti ibu titipkan ke warung saja keripik singkongnya," ujar ibu sembari menyodorkan beberapa potong tempe goreng di piring. "Kita harus lebih banyak bersyukur, Zi. Di luar sana banyak yang jauh lebih menderita dibandingkan kita. Sekarang kita masih bisa makan dengan kenyang meski cuma pakai lauk tempe, tapi di luar sana ada banyak orang yang kelaparan." "Memangnya selama ini Zizi tak pandai bersyukur, Bu?" "Bukan begitu, tapi-- Ibu menghentikan kalimatnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Aku tahu, kalimatnya ini hanya secuil pembelaannya pada bapak agar aku tak terus mengungkit tentang tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Tapi mau sampai kapan begini? Sejak dulu bapak selalu menghabiskan gajinya untuk kepentingannya sendiri. Seolah untuk keluarga hanyalah sisanya saja. Namun kini perangai bapak jauh lebih menjengkelkan. Bapak tak pernah memberi uang belanja pada ibu beberapa bulan terakhir. Ada saja alasannya, tapi ibu selalu percaya dan legowo apapun yang dikatakan bapak. Dampaknya, aku dan Amy harus rela jualan keripik keliling kampung tiap pulang sekolah agar bisa membayar uang bulanan dan belanja kebutuhan harian. Ibu yang sakit-sakitan, bapak tak bertanggungjawab dan adikku yang masih belia kadang membuat pikiranku kemana-mana. Ingin rasanya berhenti sekolah, tapi sayang aku sudah kelas dua dan sebentar lagi naik ke kelas tiga. Tapi melihat keadaan keluarga yang serba kekurangan, sering kali membuat mood belajarku berantakan. "Mbak, kita makan pakai tempe lagi?" bisik Amy, adik semata wayangku yang kini berusia 12 tahun. Aminah duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. "Iya, Dek. Makan saja, jangan lupa baca doa. Kita harus bersyukur atas apapun dan berapapun rezeki dariNya." Mau nggak mau, aku mengikuti ucapan ibu demi menenangkan dan menyenangkan batin Aminah. Gadis kecil itupun mengangguk lalu mengambil dua potong tempe dan secentong nasi ke piringnya. Air mataku menggenang melihatnya begitu lahap makan meski dengan lauk seadanya. Amy memang termasuk anak yang penurut dan jarang sekali protes apalagi minta ini dan itu. Dia paham betul bagaimana kondisi keluarganya. Sejak kanak-kanak, dia sudah sibuk membantu ibu membuat keripik singkong lalu menjajakannya keliling kampung bersamaku. Dunia kanak-kanaknya seolah tergerus oleh waktu begitu saja karena keegoisan dan kesemena-menaan bapak. "Dek, hari ini kamu main saja biar Mbak yang jualan. Jangan ikut Mbak terus. Kamu pasti juga pengin main sama teman-temanmu kan?" ujarku setelah melihatnya menyelesaikan makan siang dan mencuci bekas makannya. "Amy ikut Mbak Zizi aja jualan keripik. Amy malas main sama teman-teman." "Kenapa? Apa ada yang membully?" Adik semata wayangku itu terdiam sejenak lalu tersenyum tipis menatapku. "Nggak kok, Mbak." "Lantas kenapa nggak mau main sama mereka?" tanyaku lagi. Amy menghela napas lalu menunduk seketika. "Teman-teman selalu bawa handphone saat main bersama, Mbak. Mereka sibuk tukar cerita atau foto. Amy malas kalau mereka tanya lagi dan lagi kapan Amy punya handphone. Handphone kan nggak wajib, kenapa mereka seolah mewajibkan Amy punya handphone juga sih," gerutunya. Aku tahu betul bagaimana perasaan Amy saat ini karena aku pun merasakan hal yang sama. Jangankan dia yang masih sekolah dasar, aku yang sudah SMA saja tak memiliki handphone. Makanya, di sekolah pun aku jarang berbaur dengan teman-teman. Ah, sepertinya mereka yang lebih malas berbaur denganku karena perbedaan kami yang terlalu besar ini. "Amy pengin punya handphone?" tanyaku lirih. "Nggak, Mbak. Kalau ada uang, simpan saja buat beli seragam. Amy kan sudah mau lulus SD. Nanti butuh banyak biaya untuk seolah menengah. Mbak aja nggak punya handphone, masa Amy yang masih SD ini pakai handphone segala. Buat apa?" Senyum tipisnya terukir di bibir, tapi kedua matanya sedikit berkaca pertanda dia berusaha baik-baik saja. "Kan sering ada tugas dari sekolah, Dek. Makanya banyak yang punya handphone. Kalau Amy mau, kita bongkar celengan aja gimana? Mungkin cukup buat beli handphone yang murah." "Jangan, Mbak. Itu kan tabungan Mbak Zizi masa buat beli handphone Amy. Soal tugas di sekolah, masih ada Nayla yang senang berbagi kabar. Jadi, buat Amy handphone itu tetap bukan barang yang wajib dibeli." Kini kedua matanya berbinar saat menatapku. Aku pun tersenyum melihatnya yang terlihat lebih legowo dibandingkan sebelumnya. "Mbak, jangan bilang ibu ya?" bisiknya sembari celingak-celinguk, mungkin takut jika ibu mendengar obrolan kami. "Iya. Memangnya kenapa?" bisikku pula. Wajahnya yang tadi sedikit berbinar, kini mendadak murung. "Kenapa? Mbak janji nggak bilang sama ibu." Amy kembali mengangguk. "Tadi Amy ketemu Mira. Dia pulang sekolah pakai sepeda baru." "Amy mau sepeda?" tanyaku lagi, mencoba memahami ceritanya, tapi jawabannya ternyata tak sesuai dugaanku. Amy menggeleng pelan. "Lantas?" "Mira bilang, sepeda itu bapak yang belikan. Dia juga bilang kalau semalam bapak menginap di rumahnya. Apa benar yang dikatakan Mira, Mbak?" tanyanya polos. Aku benar-benar kaget mendengar ceritanya. Firasatku selama ini ternyata benar adanya. Bapak memang memiliki hubungan lain dengan Bi Siti. Wanita berusia tiga puluh tahun yang baru lima bulanan ini berstatus single parent. Mungkin hatiku tak sesakit ini jika dia tak berhubungan darah dengan ibuku. Sayangnya, Bi Siti dan ibu memiliki bapak yang sama meski dilahirkan dari rahim yang berbeda. ***"Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek
"Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk
Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga
Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri
"Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe
"Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah
"Kenapa, Zak? Tumben telepon," ujar Sarah yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru selesai mandi sore, rencananya mau jalan-jalan dengan bapaknya ke mall terdekat. "Apa Zizi pernah cerita sesuatu sama kamu, Sar?" tanya Zaki sedikit ragu.Sebenarnya dia tak ingin kembali melibatka
"Mira ingin liburan sama papa, Ma." Mira merengek sejak kedatangan papanya sepuluh menit lalu. "Mira janji akan pulang ke sini setelah liburan," rayunya lagi, tapi mamanya masih tetap diam. Saat ini Siti benar-benar takut jika Mira meninggalkannya. Meski dia mulai merasa bersalah karena belum bi
Bulan telah berganti. Ujian sekolah pun sudah terlewati dengan baik. Semua siswa lulus dengan hasil yang pasti berbeda. Zizi masih menempati urutan pertama dengan nilai nyaris sempurna. Dia bahkan mendapatkan beasiswa untuk jenjang pendidikan berikutnya. Hari ini semua siswa saling bergerombol mem
Waktu terus bergulir. Saat ini Zizi mulai kuliah semester pertama. Dia mengambil jurusan ilmu pendidikan dan keguruan, lebih tepatnya program pendidikan matematika. Cita-cita dari dulu ingin menjadi guru rasanya sudah di depan mata. Impian yang dulu terasa begitu berat dan seakan tak akan bisa diga







