Share

BAB 2

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2026-02-05 17:53:17

"Jangan bilang ibu soal tadi ya, Mbak. Amy nggak mau bikin ibu pusing," ujar Amy saat aku dan dia keluar rumah dengan membawa sekeranjang keripik singkong.

"Nggak, Dek. Lagipula belum tentu yang dikatakan Mira benar. Bisa jadi Bi Siti titip uang ke bapak buat beliin Mira sepeda. Iya kan?"

"Tapi kenapa bapak harus menginap di rumahnya segala, Mbak?"

"Mungkin bapak kemalaman saat antar sepeda Mira atau karena hujan deras makanya bapak menginap di sana. Amy tahu kan kalau semalam memang hujan." Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar dia tak berpikir macam-macam.

"Benar juga, Mbak. Semalam memang hujan, makanya bapak menginap di sana. Mungkin sekarang bapak langsung ke toko Haji Abdullah, jadi nggak sempat pulang dulu," lirihnya mengiyakan alasanku.

"Betul itu. Sudah, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Yang penting sekarang kita harus semangat jualan keripik biar lekas pulang sebelum maghrib."

Amy mengangguk lalu kembali ikut menawarkan keripik singkong yang kami bawa untuk para ibu yang sedang ngobrol di teras rumah mereka.

Beginilah hari-hariku. Berkeliling kampung menjajakan keripik singkong buatan ibu. Meski hasilnya tak terlalu banyak, setidaknya bisa untuk mencukupi kebutuhan kami sehari-hari. Kadang ada yang memborong keripik lima ribuan kami itu, tapi kadang ada pula yang menawarnya habis-habisan. Sesekali waktu dagangan kami habis bakda ashar, tapi tak jarang sampai adzan maghrib berkumandang kami baru pulang.

"Jam segini baru mau pulang, Zi?" tanya seseorang yang sangat kukenal saat aku dan Amy baru saja menyelesaikan shalat maghrib.

"Sudah tahu mau pulang. Pakai tanya segala," lirih Amy dengan mimik tak suka. Dia tahu bagaimana perangai Lina dan teman satu gengnya itu. Mereka memang sering kali menghinaku di manapun dan kapanpun.

"Aku nggak ngomong sama bocil ya," ujarnya membalas.

"Tahu nih. Bocil ikut-ikutan aja," sambung Bella dan Sandra nyaris bersamaan.

Amy tak mau kalah. Dia nyaris membalas andai tak melihatku menggelengkan kepala.

"Kami memang baru mau pulang. Maaf ya, kami duluan," ujarku sembari memakai sandal jepit kesayangan.

"Kamu bisa lihat perbedaan kita kan, Zi? Dari segi penampilan saja sudah sangat berbeda. Mana mungkin kamu berusaha jadi rival. Nggak ada kaca di rumah?" Pertanyaan Lina membuatku berhenti melangkah. Entah apa maksudnya akupun tak tahu.

"Kenapa? Tak terima?" sambungnya saat melihatku membalikkan badan.

"Aku nggak tahu maksudmu."

"Berlagak polos dia, Lin," ujar Sandra sembari menaikkan salah satu sudut bibirnya.

"Kamu suka sama Zaki kan?"

"Zaki siapa?" tanyaku singkat.

"Sok polos! Zaki Al Farizi, teman sekelas kita!" sentak Lina sembari berkacak pinggang di depanku.

"Aku suka Zaki, teman sekelas kita?" tanyaku balik.

"Jangan berlagak bego deh, Zi. Memangnya kamu pikir kami buta? Ingat ya, Zi. Orang tua Zaki itu sahabat baik papa dan mamaku. Kemungkinan besar kami akan dijodohkan. Jadi, sebaiknya kamu tahu diri. Jangan coba-coba cari muka ataupun cari perhatiannya. Tahu diri sedikitlah. Kamu itu bukan levelnya!"

"Kalau aku bukan levelnya, kenapa kamu setakut ini jika aku dekat dengannya, Lin?"

"Kam-- kamu!" Lina nyaris menampar pipiku andai tak kutepis tangannya yang mulus itu.

"Jangan kotori tanganmu. Bukannya kamu sering bilang jijik berdekatan denganku?"

"Ngomong apa sih kamu?! Dasar miskin belagu!" ujar Bella sembari mendorong tubuhku. Amy buru-buru mendorong balik Bella sampai mundur beberapa langkah. Tenaga Amy ternyata cukup kuat juga meski tubuhnya tak terlalu tinggi.

"Ini anak ingusan ikut-ikutan pula!" sentak Sandra.

Teriakan Sandra membuat beberapa orang berbalik lalu melerai pertengkaran kecil kami. Aku berusaha diam, tapi ketiga perempuan itu terus bicara seolah merekalah korbannya. Makasih berdebat dan tak mau ambil pusing, kuajak Amy pergi begitu saja.

"Miskin aja belagunya minta ampun apalagi kaya!" Teriakan Lina tak membuatku kembali membalas.

Aku dan Amy tetap melangkah, meski suara-suara menjengkelkan itu masih saja terdengar. Biar saja sepuasnya, lagipula memang begitulah hobi mereka setiap bertemu denganku. Di dalam ataupun luar sekolah sama saja. Ketiga perempuan itu memang senang sekali cari perkara.

"Sesekali harus dibalas, Mbak. Biar nggak tuman!" ujar Amy gemas.

"Mbak juga sudah balas tadi kan?"

"Kalau dia pukul Mbak Zizi, balik pukul saja. Nggak usah takut, Mbak. Amy tahu kalau Mbak Zizi nggak salah. Mereka saja yang cari gara-gara."

Aku tersenyum lalu mengusap pelan puncak kepalanya.

"Nggak perlu mencari masalah sama orang kaya, Dek. Mereka itu punya uang dan banyak akalnya. Kalau ada apa-apa, kemungkinan besar kita yang akan disalahkan meski sebenarnya kita adalah korban."

"Kenapa bisa begitu, Mbak?" tanya Amy dengan polosnya.

"Mungkin memang begitulah hukum rimba. Siapa yang berduit dan kuat, dialah yang berkuasa."

Amy mengernyit. Mungkin dia tak terlalu paham, tapi akhirnya dia mengangguk saat kujelaskan lebih panjang.

"Jam segini baru pulang?!" sentak bapak saat melihat kami sampai di halaman rumah.

Tanpa membalas pertanyaan itu, aku dan Amy mencium punggung tangannya lalu mengucap salam sebelum masuk rumah.

"Kalian nggak tuli kan? Kenapa jam segini baru pulang? Kelayapan di mana?!" sentak bapak lagi sembari mengekori langkah kami.

"Kelayapan? Apa maksud bapak?" tanyaku cepat. Amy tampak ketakutan dan bersembunyi di belakang punggungku.

"Kalau nggak kelayapan, mana mungkin jam segini baru pulang. Dagangan juga cuma berapa biji!" sentaknya lagi.

"Seharusnya pertanyaan itu buat bapak. Bapak kemana saja semalaman nggak pulang?" Aku membalas dengan suara sedikit meninggi membuat ibu tergesa menghampiri dengan mukena masih menempel di tubuhnya.

Seperti biasa, bakda shalat maghrib ibu selalu berdzikir dan tilawah sembari menunggu adzan isya berkumandang.

"Zi ...." Ibu terlihat begitu khawatir lalu menggenggam tanganku.

"Jangan campuri urusan orang tua!" Bapak menyahut dengan wajah memerahnya.

"Kenapa nggak boleh mencampuri urusan orang tua? Sementara selama ini kami sudah berusaha meringankan tanggungjawab bapak sebagai orang tua." Aku tak mau kalah.

"Apa maksudmu? Mau berlagak jadi pahlawan?!"

"Jika aku boleh meminta, aku nggak mau jadi pahlawan, Pak. Aku juga pengin merasakan masa kanak-kanak dan remaja seperti anak-anak lainnya. Tapi apa nyatanya? Aku dan Amy dipaksa menjadi pahlawan saat pahlawan yang sesungguhnya di keluarga ini mati rasa!"

Air mataku meleleh seketika. Aku tak sanggup lagi memendam perasaan ini. Rasa kesal, muak, kecewa dan marah seolah bercampur menjadi satu.

Tanpa basa-basi, tamparan bapak di pipi kiriku kali ini membuatku tergugu. Rasa sakitnya tak seberapa, tapi kecewa dan sakit hatiku atas semua sikapnya benar-benar diluar logika.

"Pak ... kamu tega sama anak sendiri," ucap ibu di sela isaknya.

"Makanya ajari anak itu sopan santun! Kerajaanmu apa di rumah, hah?! Disuruh didik anak saja nggak becus!" sentak bapak sembari menunjuk ibu yang ikut terduduk di lantai bersamaku. Amy memelukku, berusaha memberikan ketenangan dan dukungan.

"Jangan terus menyalahkan ibu, Pak. Ibu sudah berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Introspeksi! Jangan terus menyalahkan orang lain sementara diri sendiri banyak celanya."

"Apa kamu bilang?!" Tangan kanan itu kembali mengudara. Nyaris melayangkannya ke pipiku lagi andai tak terdengar ketukan dari luar.

Tangisku mereda. Berusaha tenang saat ada tamu yang datang. Ibu pun melepaskan pelukannya lalu mengusap kedua pipiku pelan.

"Awas kamu!" ancam bapak sebelum melangkah ke ambang pintu.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 5

    "Ap-- apa kamu bilang, Mbak?!" getar suara Bi Siti yang tak terima dengan sindiran ibu."Selama ini aku tak pernah menuntut banyak pada bapak yang jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku, Sit. Apapun yang kamu minta selalu diturutinya, sementara aku hanya bisa menitikkan air mata. Saat kamu, ibumu dan bapak pergi jalan-jalan ataupun piknik bersama, aku hanya menangis di sudut kamar tanpa bisa menuntut apa-apa. Kepergian ibuku membuat hidupku hancur, namun jauh lebih hancur saat ibumu datang dan merebut cinta bapak sampai kamu terlahir ke dunia. Apakah masih kurang banyak pengorbananku untukmu, sampai akhirnya kamu merebut Mas Ridwan dariku? Seburuk apapun dia adalah bapak dari anak-anakku. Aku bertahan selama ini bukan semata-mata karena cinta, tapi aku hanya tak ingin anakku kehilangan sosok bapaknya. Tapi kenapa kamu hadir lagi di hidupku setelah sekian lama aku berusaha mengikhlaskan masa lalu yang pahit itu?!" Ibu meradang.Lidahku kelu mendengar pengakuan ibu. Selama ini tak per

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 4

    "Apa yang kamu lakukan, Pak?! Kenapa dia ada di ranjang kita?!" Suara parau ibu terdengar dari luar rumah saat aku dan adikku baru pulang jualan keripik keliling kampung. "Ibu kenapa, Mbak?" lirih Amy begitu cemas dan takut.Aminah teramat ketakutan sampai memelukku erat. Sebenarnya aku pun cemas dan takut, tapi sebagai seorang kakak aku harus terlihat lebih kuat dan berani. Dengan begitu aku berharap bisa sedikit mengurangi ketakutan Amy saat ini. Yang pasti aku tak ingin membuatnya semakin panik jika dia melihat kepanikan yang sama padaku. "Apa yang kalian lakukan?! Katakan!" sentak ibu lagi dengan suara yang berbeda, benar-benar tak seperti biasanya.Tak pernah kudengar suara ibu setinggi ini. Semarah apapun ibu selalu berusaha bicara dengan lembut dan sopan pada bapak, tapi sepertinya kali ini berbeda. Tujuh belas tahun bersamanya, baru kali ini kudengar suaranya meninggi. Apa mungkin ibu sudah melihat sendiri bagaimana hubungan bapak dengan adiknya?"Mbak, aku takut. Ibu kenap

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 3

    "Mbak, boleh menginap semalam di sini? Mas Rudy tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, Mbak. Aku takut dia berbuat onar lagi," ujar Bi Siti dengan mimik memelas."Duduk dulu, Sit," pinta ibu sembari menarik lengan adik senasabnya itu."Tolong ambilkan minum buat Bibi sama Mira, My." Amy mengangguk lalu melangkah tergesa ke dapur. Tak selang lama, dia membawa dua gelas air putih di atas nampan.Kedatangan Bi Siti kali ini benar-benar membuat pikiranku kemana-mana. Biasanya dia tak pernah mau menginap di rumah sederhana kami dengan alasan macam-macam, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda?Mendadak teringat cerita Amy siang tadi soal bapak dan Bi Siti. Apa sekarang Bi Siti sengaja memperlihatkan hubungannya dengan bapak di depan ibu? Sekeji itukah sikap seorang adik yang selama ini selalu disayangi dan dirawat sepenuh hati oleh ibuku?"Cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu penuh perhatian. Sesekali mengusap lengan Bi Siti untuk menenangkan, sementara bapak masih terdia

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 2

    "Jangan bilang ibu soal tadi ya, Mbak. Amy nggak mau bikin ibu pusing," ujar Amy saat aku dan dia keluar rumah dengan membawa sekeranjang keripik singkong."Nggak, Dek. Lagipula belum tentu yang dikatakan Mira benar. Bisa jadi Bi Siti titip uang ke bapak buat beliin Mira sepeda. Iya kan?""Tapi kenapa bapak harus menginap di rumahnya segala, Mbak?""Mungkin bapak kemalaman saat antar sepeda Mira atau karena hujan deras makanya bapak menginap di sana. Amy tahu kan kalau semalam memang hujan." Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar dia tak berpikir macam-macam."Benar juga, Mbak. Semalam memang hujan, makanya bapak menginap di sana. Mungkin sekarang bapak langsung ke toko Haji Abdullah, jadi nggak sempat pulang dulu," lirihnya mengiyakan alasanku."Betul itu. Sudah, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Yang penting sekarang kita harus semangat jualan keripik biar lekas pulang sebelum maghrib."Amy mengangguk lalu kembali ikut menawarkan keripik singkong yang kami bawa untuk p

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 1

    "Bapak belum pulang, Bu?" tanyaku pada ibu yang masih sibuk memasak di dapur. "Belum, Zi.""Dari kemarin nggak pulang? Memangnya lembur lagi?" tanyaku memastikan. "Sepertinya begitu." Ibu menoleh lalu tersenyum tipis ke arahku. "Ibu nggak tanya kenapa bapak nggak pulang semalaman?""Bapak itu supir kepercayaan Pak Abdullah, Zi. Wajar jika sering diminta lembur dadakan atau bantu ini itu," ujar ibu menjelaskan. Aku menghela napas panjang. Tiap kali aku mulai bertanya tentang bapak, ibu selalu berusaha membuatku tenang dan tak berpikir macam-macam, meski dalam hatinya kuyakin muncul keraguan. Ragu akan jawabannya sendiri. "Hari ini ibu goreng tempe lagi? Apa bapak nggak ngasih uang belanja? Apa uang hasil jualan keripik kemarin diminta bapak buat beli rokok?" tanyaku menggebu. "Zi ....""Sudahlah, Bu. Zizi sudah dewasa. Zizi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tak perlu menutup-nutupinya lagi. Bapak memang keterlaluan." Aku berdecak kesal. "Jangan begitu, Zi. Kalau sudah gajian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status