Mag-log inDipaksa meminum racun sebelum dibakar hidup-hidup oleh suaminya. Chloe Josephine terbangun di tiga tahun lalu sebelum kejadian tragis yang menimpanya. Menyadari jika Tuhan berbaik hati memberinya kesempatan kedua, Chloe bertekad membalikkan keadaan, memperbaiki masa depannya, dan membalas dendam pada orang-orang yang sudah menghancurkannya di kehidupan sebelumnya. Berbekal ingatan dari masa depan buruk yang pernah dialaminya, Chloe mulai perlahan menyingkirkan batu sandungan di depannya. Jadi, apakah Chloe bisa mengubah masa depannya atau nasib yang sama akan datang berulang padanya?
view more“Akh … Harry, kumohon jangan.”
Rintihan sembilu Chloe Josephine–wanita berusia 30 tahun yang sedang hamil besar ini, begitu memilukan.
Air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Tarikan kuat jemari-jemari suaminya di rambut panjangnya, sukses membuat wajah Chloe sampai menengadah dengan rasa perih yang mengikis kulit kepalanya.
Sudut bibirnya mengalir darah segar, pipinya membiru karena beberapa kali tamparan kuat dari tangan lebar pria yang dinikahinya tiga tahun ini.
Namun, itu tak cukup membuat Harry berhenti dengan kekejamannya. Pria ini tertawa puas, rambut istrinya semakin ditarik kuat.
“Karena itu, cepat tanda tangan sekarang, Chloe. Atau aku benar-benar akan membunuh bayimu!”
Mata Harry menyorot tajam, layaknya iblis yang siap mencabut nyawa mangsanya.
Kepala Chloe menggeleng kuat. Satu tangannya memeluk perutnya yang besar saat merasakan dadanya begitu sesak mendapat perlakuan kasar dari pria yang dia kira mencintainya dengan segenap jiwa dan raga.
Beberapa waktu lalu, Chloe tak sengaja mendengar percakapan antara Harry Grayson–suaminya, dengan Cecilia Jarvis–sahabat terbaik Chloe. Perselingkuhan keduanya terbongkar di depan mata, niat buruk mereka menguasai harta warisan milik Chloe menjadi pemicu Harry menganiaya Chloe di tengah ketidakberdayaannya melindungi bayi di dalam rahimnya.
“Harry, bayi ini anak kita. Bagaimana bisa kamu tega mengancamnya, Harry?” Suara Chloe begitu sendu, goyah bersamaan air mata yang tak bisa dibendungnya.
“Aku hanya peduli dengan apa yang mau aku dapatkan. Sekarang, tanda tangan!”
Harry menarik kasar tangan Chloe, sebuah pena dijepit paksa di antara sela jari Chloe.
“Harry, kumohon jangan lakukan ini ....” Chloe melepas pena dari tangannya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Chloe.
Tubuh Chloe tersungkur di lantai yang dingin. Jerit tangisnya yang memilukan, bahkan tak mampu menggoyahkan kekejaman Harry.
Di hadapannya. Cecilia berjongkok. Wajahnya sendu tapi matanya menyorot penuh kemenangan.
“Tanda tangan saja, Chloe. Kamu suka sekali disiksa.” Cecilia bicara dengan nada pelan tapi penuh penekanan. Bola matanya lebih dulu melirik ke Harry, sebelum dia kembali menatap Chloe. “Kami janji, kalau kamu mau tanda tangan, kami akan membiarkanmu dan bayimu bebas, bagaimana?”
Chloe menatap ragu. Bibirnya bergetar hebat kala matanya melirik ke perutnya yang besar. Janinnya di dalam sana terus bergerak, menciptakan rasa sakit yang luar biasa.
“Benar, kalau kamu mau tanda tangan, aku akan membebaskan kalian, selamanya.” Kata terakhir yang meluncur dari bibir Harry, diikuti seringai tipis di wajahnya.
Tubuh Chloe bergetar hebat. Dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit atas pengkhianatan dan ketidakberdayaannya.
Namun, dia harus menyelamatkan anaknya.
“Kalian janji?” Tatapan Chloe penuh harap.
Seringai jahat berhias di wajah Harry. “Tentu saja, sekarang tanda tangan.”
Jemari Harry menarik kertas pengalihan saham dan kepemilikan aset yang tergeletak di meja. Dia meletakkan tepat di depan wajah Chloe.
Tangan Chloe gemetar saat mengambil pena di atas kertas. Jika hartanya bisa menyelamatkan bayinya, maka Chloe akan merelakannya.
Dalam satu goresan, berkas itu berhasil Chloe tandatangani.
“Bagus … bagus sekali, Chloe. Kamu memang sangat pintar.” Mata Harry memancar penuh kepuasan melihat semua saham dan aset milik Chloe kini jatuh ke tangannya.
Harry menatap Cecilia dengan seringai di wajahnya, kepalanya bergerak memberi isyarat.
“Aku akan mengirimmu ke dalam kebebasan.”
Harry mencengkram rahang Chloe dengan satu tangan, satu tangannya yang lain menengadahkan wajah Chloe.
Tepat saat mulut Chloe terbuka, Cecilia memindah cairan dari botol kecil ke dalam mulut Chloe.
“Telan, telan dan tidurlah dengan tenang.” Harry melepas kasar Chloe sampai kembali tersungkur di lantai.
Chloe terbatuk. Kepalanya menggeleng tepat ketika panas membakar dadanya, darah segar menyembur dari mulutnya.
“Ha-Harry.” Chloe memuntahkan darah lagi.
Saat itu, Chloe merasakan sakit luar biasa di perutnya, perutnya mengencang sebelum cairan hangat mengalir di antara paha. Bayinya berhenti bergerak. “Tidak! Tidak! Bayiku!” Teriakan Chloe begitu memilukan.
“Har-ry, kamu sudah berjan-ji akan melepas ka-mi.” Suara Chloe terbata tertahan, mulutnya kembali terbatuk bersama cairan merah yang mengalir lagi dari mulutnya.
Harry tertawa. Tangan kanannya memegang berkas yang didapatkannya, sedang tangan kirinya merengkuh pinggang Cecilia.
“Aku menepati janjiku, Chloe. Kamu ingin bebas, bukan? Aku bebaskan, kamu bisa damai di neraka bersama bayimu.”
Dada Chloe naik turun tak beraturan, napasnya tersengal kala menahan sakit bersamaan dengan matanya menatap benci penuh amarah pada Harry dan Cecilia.
“Kalian bohong!” Air mata mengalir deras di antara sakit yang membakar dadanya.
Harry tertawa lepas, diikuti tawa Cecilia.
“Ya, hanya ini satu-satunya cara mendapatkan semua yang kamu miliki.” Harry mengangkat berkas pengalihan saham dan aset ke sisi wajahnya.
Senyum Harry mencibir kebodohan Chloe yang begitu percaya padanya. “Asal kamu tahu, aku tidak pernah mencintaimu. Dan, hanya Cecilia yang aku sukai.”
Di depan mata Chloe yang sekarat, Harry mencium bibir Cecilia.
“Satu lagi, karena sebentar lagi kamu mati. Lebih baik aku ceritakan semuanya agar tidak ada yang mengganjal di hatimu dan arwahmu tidak bergentayangan.”
Harry berjongkok di depan Chloe yang sudah terkapar. Bibirnya menyeringai tipis.
“Semua yang aku lakukan ini, atas sepengetahuan ayahmu. Ayahmu juga menginginkan harta warisan ibumu untuk diberikan ke anak haramnya. Setelah kematianmu, kami akan memanfaatkan milikmu dengan baik. Jadi, kamu jangan cemas, ya.”
Suara tawa Harry begitu nyata penuh kemenangan mengakhiri pengakuan liciknya.
Harry berdiri dari posisinya. Tatapannya tak berbelas kasih sama sekali pada Chloe.
Suara tangisan Chloe tertahan, air matanya habis untuk meratapi ketidakberdayaan dan kebodohannya sudah mencintai pria licik ini.
Di depan matanya, Harry dan Cecilia menyiram bensin di sekitarnya. Keduanya begitu kompak, senyum mereka begitu puas menyaksikan penderitaan Chloe.
Pemantik api dinyalakan. Sebelum dijatuhkan ke lantai, Harry berucap, “Titip salam untuk mama mertuaku.”
Pemantik jatuh perlahan, menyambar bensin yang menggenang di lantai, menciptakan kobaran api yang begitu besar.
Cecilia menatap sinis pada Chloe yang terkapar dikepung api. Lengannya memeluk pinggang Harry, sebelum keduanya melangkah meninggalkan Chloe.
Air mata Chloe seperti mengering, sudah tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan untuk penderitaannya. Sekarang, hanya ada amarah dan dendam yang membara seperti kobaran api yang sekarang siap membakarnya.
Satu tangan Chloe menyentuh perutnya, tangan yang lain mengepal kuat sampai kuku-kukunya memucat.
“Harry, Cecilia … Jika aku punya kesempatan kedua, aku akan membalaskan dendamku dan dendam bayi yang sudah kalian bunuh!”
Tatapan Chloe penuh kilatan kebencian, sebelum perlahan mata lelahnya memejam bersamaan dengan panas yang membakar tubuhnya.
Chloe merasakan tubuhnya panas kala api menyambarnya, tapi setelahnya dia seperti berputar kencang sebelum terhempas kuat sampai membuat kedua matanya terbuka cepat.
“Tidak!”
Chloe terduduk di atas kasur empuk, dadanya naik tak beraturan, wajahnya begitu basah dengan air mata, dan keringat membingkai di keningnya.
Meraba tubuhnya hingga perut, mata Chloe menyorot tak percaya.
“Bayiku.”
Dia kehilangan bayinya.
Namun, detik berikutnya punggung Chloe menegak, wajahnya bingung mengingat apa yang baru saja dialaminya.
Bukankah beberapa waktu lalu, Chloe dikepung kobaran api?
“Aku tidak hamil?” Tangannya kembali meraba perut yang begitu datar.
Mata Chloe kini mengedar ke seluruh ruangan. Tempat ini … kamarnya di rumah warisan ibunya!
“A-aku masih hidup?”
Dalam kebingungannya terbangun di kamarnya sebelum dia menikah, Chloe meraih cepat ponsel di atas meja. Matanya membola saat tertuju pada tanggal dan tahun yang tertera di layar ponselnya.
“Ini … tiga tahun lalu.”
Ponsel jatuh dari genggaman tangannya. Chloe benar-benar bingung, bukankah dia mati terbakar setelah dicekoki racun?!
Chloe buru-buru turun dari ranjang. Kakinya terayun cepat ke arah jendela. Ketika menyibak gorden, Chloe melihat banyak karangan bunga kematian untuk ibunya di halaman rumah.
“Ini, dua hari setelah Mama meninggal!”
Chloe terdiam cukup lama, sampai bola matanya melebar sempurna.
“Aku … aku mendapatkan kesempatan kedua, aku kembali ke masa lalu?!”
Tatapan Chloe tertuju pada sang ayah yang berdiri di teras.Mata Chloe menyipit, apa sejak tadi ayahnya menunggu di sini?“Kenapa kamu tidak menjawab? Siapa pria yang mengantarmu?” Suara James tegas penuh penegasan.Chloe melangkah santi menghampiri sang ayah.Sorot mata ayahnya penuh kilatan, tapi Chloe tak gentar.“Pernikahanmu baru saja gagal. Bagaimana bisa sekarang kamu pulang bersama pria lain? Jika ada yang melihat, apa kata mereka? Terutama wartawan? Bagaimana pandangan mereka padamu?”Chloe menghentikan langkah, tepat di hadapan James yang baru saja selesai bicara.Kening Chloe berkerut dalam. Tidak menyangka ayahnya akan mencemaskan dirinya.Atau, sebenarnya James hanya mencemaskan nama baiknya saja?Senyum samar terangkat di bibir Chloe.“Papa tenang saja, kalau wartawan tahu, tinggal jelaskan saja. Apa sulitnya?” Chloe bicara dengan tenang. “Chloe, apa kamu tahu konsekuensinya?” Suara James rendah tapi penuh penekanan.Chloe tetap tersenyum. “Kenapa Papa sangat takut? Pap
Chloe terdiam, pandangannya tertuju ke arah lain.Harusnya dia tidak terkejut, tapi entah kenapa tetap terkejut mendengar informasi yang Arley sampaikan.“Mereka berdua adalah jenis manusia yang sama. Sama-sama tak tahu diri, bukankah wajar jika mereka tetap bersatu demi tujuan tak tahu diri mereka?” Pandangan Chloe kembali tertuju pada Arley setelah selesai bicara.Senyum Chloe getir, sebelum dia kembali berkata, “Yang satu memanfaatkan rasa terima kasihku, yang satu memanfaatkan kebaikanku. Keduanya memang layak bersama, agar nanti saat jatuh, biarkan mereka jatuh bersama.”“Rasa terima kasih? Harry?” Arley mempertanyakan pernyataan Chloe.Chloe semakin tersenyum getir. “Jangan dibahas, manusia seperti dia tak layak dibicarakan.”“Tapi ….” Chloe menyipitkan mata saat menatap pada Arley. “Bagaimana kamu tahu jika aku berniat mengadu domba mereka?” Chloe menatap curiga.Arley tersenyum samar, tanpa penjelasan dia mengalihkan pandangan dari Chloe.“Pernikahan kita akan membuat Harry be
Nenek Ella terdiam beberapa saat.Matanya menyorot penasaran mendengar pertanyaan Chloe.Sampai Nenek Ella tersenyum menggoda.“Kamu mau mendengar jawaban yang jujur atau yang tak jujur?” Sengaja Nenek Ella memberi pilihan, mana yang ingin Chloe dengar.Chloe tersenyum canggung. “Yang menurut Nenek benar saja.”Nenek Ella mengangguk-angguk.Walau dia tidak tahu apa maksud Chloe menanyakan hal ini, dia tetap menjawab, “Tidak pernah datang.”Chloe mengembuskan napas lega mendengar balasan Nenek Ella.Jika Arley tidak pernah datang ke acara kencan buta mereka, maka keduanya membuat pilihan yang sama.Chloe tidak perlu merasa bersalah bukan?“Jika kamu ingin mendengar jawaban bohong, maka jawabannya dia tidak pernah datang.” Setelah menjelaskan maksud ucapannya, Nenek Ella melipat bibir.Senyum Nenek Ella tertahan melihat ekspresi wajah Chloe.Sedangkan Chloe kini duduk dengan wajah kaku. Senyum kelegaannya benar-benar menghilang dari bibir.“Maksud Nenek, Arley datang ke acara kencan itu
Chloe meneguk ludah kasar.Senyumnya begitu kaku tertuju pada Arley.“Benar, bukan?” Arley sekali lagi bicara dengan intonasi penuh penekanan.Chloe mengangguk-angguk cepat, saat menoleh pada Nenek Ella, Chloe berkata, “Benar.”Nenek Ella tertawa. “Baguslah, baguslah. Nenek tidak sabar kita menjadi satu keluarga.”Senyum Chloe masih kaku.Saat kembali menatap pada Arley, wajah Chloe berubah kesal.Mereka makan malam dengan khidmat, sesekali Nenek Ella mengajak Chloe bercanda.Setelah makan malam selesai.Chloe baru saja berdiri saat Arley berkata, “Ada yang mau aku bicarakan denganmu.”Tatapan Chloe tertuju pada Arley, sebelum dia membalas, Chloe kini mendengar Nenek Ella berkata, “Mau bicara apa? Nenek yang ada perlu lebih dulu dengan Chloe.Ketika tatapan Chloe juga Arley tertuju pada Nenek Ella, wanita tua ini berkata, “Nenek pernah janji pada Chloe ingin memberitahu alasan Nenek kenal dengan ibunya. Bahkan kenal sangat dekat.”Chloe melirik pada Arley. Bibirnya terlipat, dia belum






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Mga Ratings
RebyuMore