LOGINAcara itu diadakan di rumah salah seorang anggota. Rumah itu tak kalah mewahnya dengan rumahnya Madam Lena sendiri. “Dik Alex tunggu dalam mobil saja gak apa-apa sambil dengerin musik,” pesan Madam Lena sebelum beliau keluar dari mobil yang Alex bukakan. “Siap, Madam.” Tampaknya mereka adalah orang pertama yang hadir di rumah itu. Tak lama kemudian mobil-mobil mewah lain berdatangan. Ada sembilan mobil. Alex lihat Ibu-Ibu pemilik mobil mewah memang rata-rata sangat berkelas dengan kecantikan dari masa muda mereka yang masih ada pada wajah mereka. Dan seperti keadaannya, sopir-sopir mereka pun tak ikut ke dalam. Setelah turun dan membukakan pintu mobil buat sang majikan, mereka masuk kembali, menunggu dalam mobil, seperti dirinya. Alex sempai melihat wajah-wajah sopir itu. Mereka mereka tak ada yang tua. Ia perkirakan rata-rata sedikit lebih tua dari dirinya. Dan mereka rata-rata tampan, tentu saja. Tapi bukannya ge-er sih, jika disejajarkan dengan diri
“Hmm …. Iya, Mbak.” “Waw. Pasti bermula dari pijitan itu, ya?” “Iya, Mbak. Dia kan meminta saya untuk memijit semuanya. Ya, saya mau-mau saja. Saya pijet sampai pinggang dan bagian bawahnya. Dia suka menggelinjang dan mendesah gitu, itu seolah-olah mengajak agar saya untuk membajak sawahnya. Ketika jari tangan saya memijit di bagian dengan area itu, ternyata sawahnya sudah sangat basah. Dia membalikkan badannya, dan tiba-tiba dia menarik leher saya. Saat itu kiss terjadi, yang kemudian berlanjut dengan bercocok tanam.” “Waw. Dik Alex menggarap sawah dia berapa kali malam itu?” Karena sudah ditanya seperti itu, maka Alex pun akan bombastis juga ceritanya. Karena dia tahu, jika saat itu wanita di seberang sudah termakan oleh ceritanya. Jadi dia bisa memastikan jika Mbak Olive sedang mengalami pergolakan biologisnya, h*rny. Maka ia pun menjawab, “Hingga pagi enam kali, Mbak. Trus kami sama-sama istirahat hingga siang hari. Bangun tidur, sebelum mandi dan m
“Bukan begitu,” potong Alex. “Kalau menurut kami di kawasan timur, cewek itu hanya untuk disematkan pada wanita muda atau gadis.” “Jadi … dia itu ibu-ibu atau tante-tante, gitu? Dia orang mana?” “Lupa tanya saya, Mbak. Cuma waktu itu katanya mau menjengkuk dua anaknya yang katanya kuliah dan sekolah di Bandung itu.” “Haah? Jadi dia seorang ibu-ibu?” “Iya, Mbak. Tapi sekali lagi maaf, itu bisa dikata sebagai tragedi masa lalu. Saya cerita juga karena Mbak Olive yang bertanya.” “Iya, Dik Alex, Mbak tahu. Tapi Dik Alex gak usah khawatir, sebab Mbak tahu bagaimana gejolak gairah seperti pemuda seusia Dik Alex. Jadi menurut Mbak, secara obyektif, itu peristiwa biasa dan wajar. Memangnya kamu dengan dia bertemunya di mana?” “Di kapal, Mbak. Ketika saya ke Jakarta. Dulu saya naik kapal dari pelabuhan kota asal saya menuju Jakarta.” “Oh Dik Bara naik kapal. Berapa hari tuh?” “Tiga hari tiga malam, Mbak.” “Oh jadi kamu dengan ibu itu …? Eh sebentar,
Balasan Mbak Olive yang ini membuat perasaan Alex menjadi lumayan gelisah, dan itu membuatnya bingung untuk memilih kalimat yang tepat untuk membalasnya. Saat ia mengetik, tiba-tiba pesan SMS susulan dari wanita itu masuk lagi. “Tadi Dik Alex memperhatikan bodi saya, ya?” Alex dibuat terperangah dan tak percaya jika wanita itu sampai mengajukan pertanyaan itu. Jantungnya spontan mengalami denyutan yang lebih cepat dari lazimnya. Mulutnya langsung terbuka, entah karena dia merasa senang atau merasa terperangah dan masih tak percaya saja. Tapi setelah Alex membaca kembali chat itu secara berulang-ulang, ia pun mulai menggerakkan kedua ibu jari tangannya, mengetik. Saat itu detak jantungnya makin cepat dan suhu tubuhnya terasa naik seketika. “I-iya, Mbak. Tapi saya minta maaf ya, karena saya lihatnya spontan saja.” “Spontan lalu keterusan, ya?” “I-iya juga, sih. Wkwkwk. Sekali lagi saya minta maaf. Mbak Olive pasti marah dan berpikir sa
Sebenarnya, Alex sudah sering melihat bodi indah wanita seperti itu. Namun entah mengapa ketika melihat bodi Mbak Olive itu, pandangan dan perasaanku sangat berbeda. Pokoknya sensasinya beda sangat. Sekalipun ia berkali-kali melihatnya seperti saat ia berlatih dalam gym, atau di klub aerobic dengan pakaian yang ketat, atau di kolam renang di belakang rumah besar itu, namun ia tetap merasa tak bosan. Ketika wanita itu berpakaian ketat seperti itu, maka bagian tertentu menjadi target lirikannya, atau jika ia sedang mengenakan kacamata riben, ia bisa dengan bebas menikmatinya dengan seolah-olah wajah diarahkan ke arah lain. Ya, bagian itu begitu indah, tebal, dan mentul. Dan itu selalu membuatnya jadi panas dingin seperti terserang meriang dan demam. Biasanya, ia selalu mengobat meriangnya itu di kamar mandi. Ya, gambaran keindahan sosok wanita itu, malam itu, masuk seutuhnya dalam otak dan pikirannnya. Di mana keseluruhan dari sosok wanita itu benar-benar memen
Hari itu—dalam masa di mana Om Garvin dan Madam Lena belum balik dari luar negeri--, Mbak Olive meminta Alex untuk mengajaknya ke suatu tempat. Hari itu kebetulan hari Minggu. Seperti feeling Alex, ternyata wanita itu hanya ingin jalan-jalan saja seperti biasa. Ia meminta Alex untuk mengantarnya ke sebuah supermall di di daerah Jakarta Barat. Sampai dalam mall itu, Mbak Olive langsung melangkah ke sebuah jewelry. Sepertinya barang-barang perhiasan itu sudah ia pesan lebih dulu, karena begitu sampai sang pemilik jewelry langsung mengambil barang-barang perhiasan dan diletakkan di atas showcase di depan Mbak Olive. Ada beberapa barang perhiasan yang tentu saja mahal-mahal harganya. Ada dua jenis jam tangan dari sebuah merek yang terkenal. Satunya jam tangan buat perempuan, dan satunya lagi buat laki-laki. Alex dibuat kaget ketika Mbak Olive memintanya untuk mengukur jam tangan yang laki-laki padanya. Ia sama sekali tidak menoilak, karena Mbak Olive hanya meminjam pe







