LOGINKAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU
BAB 6 Tidak berapa lama Bela dan Ardi keluar dari ruang ICU kini mereka berempat duduk di ruang tunggu. Sandra meraih tangan Bela, kemudian mengusap lembut punggung tangan perempuan itu. “Bela, terima kasih banyak, Nak. Kamu sudah mau menjadi sahabat Bintara. Kamu selalu ada di saat-saat dia membutuhkanmu,” ucap Sandra tulus. Bela tersenyum, lalu melirik ke arah Ardi sebentar. Sanjaya yang juga berada di sana tidak sengaja melihat pemandangan itu, entah mengapa hati lelaki itu terasa aneh. Bela seperti tengah menutupi sesuatu. Begitu juga dengan Ardi. Akan tetapi, Sanjaya lekas mengusir pikiran kacaunya. Bagaimanapun saat ini hanya mereka yang selalu ada untuk Bintara. “Kamu juga, Nak Ardi. Terima kasih banyak, kamu sudah menolong Bintara. Kalau tidak ada Nak Ardi, Tante nggak tahu gimana keadaannya sekarang.” Ardi menggeleng pelan. “Tante, nggak perlu berterima kasih sama saya. Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Bintara,” balasnya. “Oh, ya, Tan. Om Sadewa udah tahu kondisi Bintara sekarang?” tanya Bela. Perempuan itu benar-benar membuat semua menganggap dirinya baik. Dia memang pintar menjalankan peran. Sandra mengangguk. “Om sudah ada perjalanan pulang. Kebetulan kemarin ada urusan bisnis di Dubai. Jadi kemungkinan besok baru sampai.” Semua orang manggut-manggut. “Jay, antar Bela pulang, ya, Nak. Bela pasti capek, lagipula ini juga udah malam. Nggak mungkin Bela pulang sendirian,” titah Sandra pada anak lelakinya. Namun, sebelum orang yang bersangkutan menjawab, Ardi justru lebih dulu menyela. “Biar Bela pulang sama saya aja, Tan. Lagipula saya juga harus segera pulang, besok ada meeting pagi. Maaf, ya, Tan. Saya nggak bisa nemenin jaga Bintara,” potong Ardi. Sandra bukannya tersinggung dua justru bersyukur. Tidak ada pikiran berlebihan dari Sandra mengenai dua orang tersebut. Oleh sebab itu, mama Bintara itu langsung mengiyakan. “Iya, Nak. Pulanglah, kamu juga harus istirahat. Kalau memang kamu nggak keberatan tolong antar Bela sekalian, ya, Nak.” “Iya, Tan. Jangan khawatir.” Bela langsung menyambut tangan Tante Sandra lalu pada Kakak Bintara. “Kalau gitu, Bela pulang dulu, Tan. Kabari Bela kalau Bintara sudah siuman.” “Tentu, Nak Bela. Terima kasih banyak, ya.” “Sama-sama, Tante.” Ardi mengangguk, lalu kedua orang akhirnya pergi meninggalkan Sandra dan juga Sanjaya. Kakak laki-laki Bintara itu menatap teman dan juga kekasih adiknya. Entah mengapa perasannya sedikit aneh. Matanya menangkap kedua orang itu seperti tengah memiliki rahasia. Rahasia apa itu? Sanjaya kurang yakin. Sandra yang melihat putranya terus menatap punggung Ardi dan Bela yang mulai menjauh itu, lantas mengusap lengannya pelan. Sanjaya terkesiap, detik berikutnya pandangannya berpindah pada sang ibu. “Jay, liatin apa sih?” tanya Sandra. Sanjaya menunduk sebentar, mencoba meyakinkan hatinya apakah perlu mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya? Namun, kenyataannya Sanjaya justru memilih menggeleng. “Nggak ada apa-apa, Ma. Mama istirahat aja dulu, biar aku yang jagain Bintara. Nanti kalau ada apa-apa, Sanjaya bangunin.” Sandra mengangguk lalu dia memilih pergi menuju tempat istirahat yang memang sengaja Sanjaya sewa. Kini Sanjaya melihat Bintara dari balik kaca, matanya terpejam dengan wajah pucat. Ada banyak goresan luka di bagian tangan maupun wajah. Sanjaya tidak bisa membayangkan ketika Bintara mengalami musibah mengerikan itu. “Bi, bangun. Katanya kamu mau nyariin kakak pacar. Kenapa kamu malah tidur di sana?” cicit Sanjaya. Tanpa sadar air bening menetes tanpa dikomando membuat lelaki itu dengan cepat mengusapnya. *** Di sisi lain, Bela dan Ardi sudah ada di dalam mobil. Kendaraan itu melaju perlahan membelah jalan raya yang lumayan lengang. Bela melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menoleh ke arah Ardi. “Honey, malam ini aku pengen nginep di apartemen kamu. Boleh?” Ardi menghembuskan napasnya panjang, dia benar-benar tidak habis pikir. Bintara baru saja mengalami kecelakaan. “Bel, kita harusnya jaga jarak dulu deh. Jangan sampai keluarga Bintara tahu.” Mendengar penjelasan Ardi membuat senyum lebar Bela langsung lenyap berganti dengan senyum sinis. “Kamu takut kalau keluarganya tahu?” “Bel, kamu tahu kan dengan adanya Bintara aku bisa tinggal di apartemen mewah itu. Aku bisa punya motor gede. Kamu tahu sebesar apa sumbangsih Bintara itu untuk kehidupan aku. Aku nggak mau semua lenyap, semua hilang karena kebod ohan kita!” Panjang lebar Ardi mencoba membuka pikiran Bela. “Lagipula, kalau sampai tunangan kamu tahu kita bakal habis. Arkana lelaki kaya raya, kekayaannya setara dengan Bintara. Kalau sampai dia tahu, sumber kehidupan kamu juga bakal hilang.” “Tapi, Arkana tidak sebaik yang kamu pikir, Ardi. Dia nggak seloyal Bintara. Kemarin aku minta beli tas aja nggak di kasih.” “Karena mungkin kamu nggak menservis dia dengan baik,” potong Ardi. Bela langsung menggeleng. “Arkana tidak seperti itu, dia benar-benar menjaga aku. Justru itulah yang bikin aku bosan dengannya. Ciuman aja kita nggak pernah, dia cuma mau menggandeng tangan itupun kalau ada supir. Kalau nggak ada dia cuek. Padahal kan aku pengen di sayang.” Ardi tersenyum miring. “Aku harap kamu ngertiin aku, ya, Honey. Untuk sementara aja. Sampai Bintara sembuh. “Jadi kamu mau kita putus sekarang?” Ardi langsung menggeleng, meraih tangan Bela lalu menciumnya. Mencoba meyakinkan Bela jika dia tidak akan meninggalkannya. “Nggak putus, Bel. Cuma jaga jarak. Kamu nggak lihat Sanjaya tadi memperhatikan kita terus?” Bela menggeleng. “Nggak!” Lagi-lagi, Ardi menunjukan sisi yang berbeda jika tengah bersama Bela. Bersama perempuan itu dia bisa mengendalikan semua. Bisa menjadi apa adanya Ardi tanpa ada tekanan dari manapun, berbeda jika saat bersamaan Bintara. Lelaki itu seperti mendapatkan tekanan mental. Bintara yang memiliki value membuat lelaki itu juga harus memiliki value, kendati dengan susah payah dia miliki. Bersama Bintara, dia harus setara. Harus menjadi laki-laki lebih dari perempuan itu. Padahal kenyataannya Ardi tak sebanding. “Aku janji, setelah masalah ini selesai kita akan seperti dulu lagi.” “Aku takut kalau sampai Bintara bangun dan dia ngadu sama orang tuanya gimana?” “Oleh karena itu, Honey. Aku nggak mau masa depan kita berantakan. Kamu ingat kan rencana kita dari awal? Kamu manfaatin harta Arkana untuk masa depan kita, aku juga akan manfaatin harta Bintara untuk membuat masa depan kita terjamin.” Bela mengangguk mantap. Rasa sedih dan kecewanya langsung menguap begitu saja. “Oke, tapi nanti kalau aku kangen bisa kan kita ketemu? Diluar kota kek atau dimana gitu?” “Iya, nanti bisa dipikirkan lagi.” Di saat bersamaan ponsel Bela berbunyi membuat perempuan itu langsung menatap layar ponsel yang berpendar. Dimana nama Arka ada di sana. “Suttt, Arka telepon. Kamu jangan ngomong apa-apa, ya.” Ardi mengangguk. Sebelum Bela menerima telepon tersebut, perempuan itu berdehem. Mencoba menghembuskan napasnya perlahan. “Halo, sayang.” “Bel, kamu dimana? Kenapa chat aku nggak dibales? Kamu nggak papa kan?” Rentetan pertanyaan langsung diberikan oleh Arkana. Bela menggeleng meski lawan bicaranya tidak bisa melihat. “Aku nggak papa, Sayang. Cuma aku tadi di rumah sakit, Bintara kecelakaan. Jadi aku jenguk dia.” “Bintara kecelakaan? Bukanya kata kamu tadi kamu sama dia barengan buat ngerayain ulang tahun pacarnya?” Arkana tidak mengerti. Pasalnya Bela tadi sempat mengatakan jika mereka tengah mengadakan pesta untuk pacarnya. “Iya, sayang. Aku nggak tahu dia sama pacarnya ada masalah apa, tiba-tiba aja mereka berantem terus Bintara ngambek, kabur deh. Malah dijalan dapat musibah,” jelas Bela panjang lebar. “Innalillahi, terus keadaan dia sekarang gimana?” tanya Arkana ikut khawatir mendengarnya. Bagaimanapun Bintara itu teman tunangannya. Oleh sebab itu, dia juga merasakan apa yang dirasakan Bela. Sedih pastinya. “Masih di ICU. Belum sadar, yank.” Kali ini Bela memang jujur. “Ya, Allah. Semoga lekas diberi kesembuhan.” “Amin,” ucap keduanya bersamaan. Sedangkan Ardi mati-matian menahan api cemburu yang membakar hati. “Ya, udah kalau gitu, sayang. Aku tutup, ya. Ini aku lagi diperjalanan pulang.” “Ya, udah kalau gitu hati-hati, ya.” BersambungKAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 8“Tante, boleh Arkana melihat Bintara?” tanyanya dengan sopan. Tante Sandra mengangguk.“Boleh, Arka. Silahkan.”Arkana langsung masuk ke ruangan dimana Bintara berada tentu setelah mengenakan baju khususnya. Arkana diam saja, dia memperhatikan wajah Bintara yang masih pucat. Dia juga melihat beberapa luka yang ada di tangan maupun wajahnya. Hingga tanpa dia sadari tiba-tiba tangan Bintara bergerak pelan. Arkana sedikit terkejut, tetapi dia tetap berusaha tenang. Berharap Bintara tidak panik saat melihatnya. Benar saja, tidak berapa lama Bintara membuka matanya. Orang pertama yang dilihat perempuan itu adalah Arkana. Pandangan keduanya bertemu, Arka diam begitu juga dengan Bintara. Namun, entah mengapa perempuan ini terus menatapnya. “Bintara,” sapa Arkana. Bintara masih menatapnya dengan lekat tanpa bicara sepatah katapun. Hingga saat lelaki itu berniat memanggil dokter tiba-tiba saja tangan Bintara meraih tangan Arkana. Lalu d
KAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMUBAB 7“Bos, bukankah teman Mbak Bela juga ada yang di rawat di rumah sakit ini?”Langkah Arkana terhenti saat mendengar ucapan asistennya. Lelaki itu menoleh ke samping.“Bintara?”Asisten Arkana itu mengangguk. “Seperti yang dikatakan Mbak Bela tadi pagi, jika hari ini Mbak Bela nggak bisa nemenin Bos Arkana karena menunggu sahabatnya di rumah sakit.”Arkana masih menyimak. “Kenapa Bos nggak menjenguk sekalian. Biar sekalian bisa ketemu sama Mbak Bela.”Sang asisten seolah mengerti apa yang kini dirasakan bos besarnya itu. Ya, dia pasti sangat merindukan sang kekasih yang jarang bisa ditemui itu karena memiliki banyak alasan untuk menolak bertemu. Arkana sampai dibuat heran pada tunangannya itu, mereka sudah memiliki hubungan yang cukup serius. Namun, entah mengapa intensitas pertemuan mereka sangat minim. Arkana terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Bela terlalu sibuk dengan kekasih gelapnya. “Kamu cari tahu dimana ruangannya.
KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 6 Tidak berapa lama Bela dan Ardi keluar dari ruang ICU kini mereka berempat duduk di ruang tunggu. Sandra meraih tangan Bela, kemudian mengusap lembut punggung tangan perempuan itu. “Bela, terima kasih banyak, Nak. Kamu sudah mau menjadi sahabat Bintara. Kamu selalu ada di saat-saat dia membutuhkanmu,” ucap Sandra tulus. Bela tersenyum, lalu melirik ke arah Ardi sebentar. Sanjaya yang juga berada di sana tidak sengaja melihat pemandangan itu, entah mengapa hati lelaki itu terasa aneh. Bela seperti tengah menutupi sesuatu. Begitu juga dengan Ardi. Akan tetapi, Sanjaya lekas mengusir pikiran kacaunya. Bagaimanapun saat ini hanya mereka yang selalu ada untuk Bintara. “Kamu juga, Nak Ardi. Terima kasih banyak, kamu sudah menolong Bintara. Kalau tidak ada Nak Ardi, Tante nggak tahu gimana keadaannya sekarang.” Ardi menggeleng pelan. “Tante, nggak perlu berterima kasih sama saya. Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Bin
KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 5“Doakan Bintara, ya, Tante. Semoga dia baik-baik saja.”Mama Sandra mengangguk, tidak bisa dipungkiri jika air matanya kembali jatuh. Sanjaya langsung ikut duduk di sebelahnya. Membiarkan Sandra bersandar di bahu kekasih adiknya itu. “Maafkan Ardi, Tante. Ardi tidak bisa menjaga Bintara dengan baik.”Sandra menggeleng, detik berikutnya dia membenarkan posisinya menjadi duduk. Perempuan baik itu menatap Ardi lekat-lekat. “Ardi nggak salah, Nak. Ini semua musibah. Tante yakin semua sudah menjadi kehendak yang maha Kuasa.” Ardi mengangguk, Sanjaya ikut melakukan hal yang sama. Tidak berapa lama beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut, hingga ada salah satu perawat yang justru berhenti sebentar untuk memberikan informasi. “Jika ada keluarga yang ingin menjenguk, sudah dipersilahkan. Tapi, satu satu, ya. Karena pasien masih butuh istirahat yang banyak.”Mama Sandra langsung bangkit dari tempatnya berada. “Saya ibunya, Sus. Ijin
KAU REBUT KEKASIHKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 4Bintara kini sudah berbaring di brankar dan didorong menuju ruang pemeriksaan. Di sampingnya ada Ardi yang setia menemani, tangannya tidak lepas dari genggaman sang kekasih. “Bangun, Bintara. Kamu harus bangun,” gumam Ardi. Tidak berapa lama beberapa perawat menahan Ardi yang hendak ikut masuk.“Maaf, Mas. Silahkan tunggu di luar!” ucap perawat tadi dengan tegas, detik berikutnya dia menutup hordeng pembatas. Ardi menyugar rambutnya dengan kasar. Dia tidak menyangka jika tragedi ini akan terjadi.Hingga lelaki itu teringat akan keluarga Bintara yang belum mengetahui keadaan perempuan itu. Ardi tidak mau membuang-buang waktu, dia lekas merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Nomor Mama Bintara adalah tujuan pertamanya. “Assalamualaikum, Ardi,” salam langsung diucapkan mama Bintara saat sambungan telepon terhubung. “Walaikumsalam, Tante.”“Iya, Nak Ardi. Ada apa?” tanya Mama Bintara ramah. Suaranya begitu lembut. “Anu, Tante. Binta
KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 3Satu kalimat berhasil membuat hati Bela hancur berkeping-keping. Selamanya orang ketiga adalah seseorang yang tak berarti, selamanya orang ketiga adalah pelarian. Dan pada akhirnya, dia akan tetap menjadi orang yang ditinggalkan. Seperti saat ini, setelah mengatakan itu Ardi langsung meninggalkan apartemen miliknya dengan langkah tergesa. Tidak lupa dia menyambar kunci mobil yang menggantung di tembok dekat dengan pintu utama. Ardi berjalan setengah berlari menyusuri lorong panjang apartemennya. Tak lama kemudian, lelaki itu menekan tombol lift. Namun, pintu lift tak kunjung terbuka, membuat kecemasannya semakin menjadi. Matanya terus menatap angka indikator di atas pintu lift, memastikan keberadaan orang yang sedang turun ke lantai bawah. Ardi yakin, orang itu adalah Bintara.Menunggu adalah sesuatu yang menguji kesabaran. Oleh sebab itu, Ardi langsung memutar hadap dan berlari menuju pintu darurat. Kakinya tergesa menuruni tangga







