Partager

Sandiwara berhasil

Auteur: Pena_kinan
last update Date de publication: 2026-07-10 21:11:32

KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU

BAB 6

Tidak berapa lama Bela dan Ardi keluar dari ruang ICU kini mereka berempat duduk di ruang tunggu.

Sandra meraih tangan Bela, kemudian mengusap lembut punggung tangan perempuan itu.

“Bela, terima kasih banyak, Nak. Kamu sudah mau menjadi sahabat Bintara. Kamu selalu ada di saat-saat dia membutuhkanmu,” ucap Sandra tulus. Bela tersenyum, lalu melirik ke arah Ardi sebentar.

Sanjaya yang juga berada di sana tidak sengaja melihat pemandangan itu, entah mengapa hati lelaki itu terasa aneh. Bela seperti tengah menutupi sesuatu. Begitu juga dengan Ardi.

Akan tetapi, Sanjaya lekas mengusir pikiran kacaunya. Bagaimanapun saat ini hanya mereka yang selalu ada untuk Bintara.

“Kamu juga, Nak Ardi. Terima kasih banyak, kamu sudah menolong Bintara. Kalau tidak ada Nak Ardi, Tante nggak tahu gimana keadaannya sekarang.” Ardi menggeleng pelan.

“Tante, nggak perlu berterima kasih sama saya. Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga Bintara,” balasnya.

“Oh, ya, Tan. Om Sadewa udah tahu kondisi Bintara sekarang?” tanya Bela. Perempuan itu benar-benar membuat semua menganggap dirinya baik. Dia memang pintar menjalankan peran.

Sandra mengangguk.

“Om sudah ada perjalanan pulang. Kebetulan kemarin ada urusan bisnis di Dubai. Jadi kemungkinan besok baru sampai.”

Semua orang manggut-manggut.

“Jay, antar Bela pulang, ya, Nak. Bela pasti capek, lagipula ini juga udah malam. Nggak mungkin Bela pulang sendirian,” titah Sandra pada anak lelakinya. Namun, sebelum orang yang bersangkutan menjawab, Ardi justru lebih dulu menyela.

“Biar Bela pulang sama saya aja, Tan. Lagipula saya juga harus segera pulang, besok ada meeting pagi. Maaf, ya, Tan. Saya nggak bisa nemenin jaga Bintara,” potong Ardi. Sandra bukannya tersinggung dua justru bersyukur.

Tidak ada pikiran berlebihan dari Sandra mengenai dua orang tersebut. Oleh sebab itu, mama Bintara itu langsung mengiyakan.

“Iya, Nak. Pulanglah, kamu juga harus istirahat. Kalau memang kamu nggak keberatan tolong antar Bela sekalian, ya, Nak.”

“Iya, Tan. Jangan khawatir.”

Bela langsung menyambut tangan Tante Sandra lalu pada Kakak Bintara.

“Kalau gitu, Bela pulang dulu, Tan. Kabari Bela kalau Bintara sudah siuman.”

“Tentu, Nak Bela. Terima kasih banyak, ya.”

“Sama-sama, Tante.”

Ardi mengangguk, lalu kedua orang akhirnya pergi meninggalkan Sandra dan juga Sanjaya. Kakak laki-laki Bintara itu menatap teman dan juga kekasih adiknya. Entah mengapa perasannya sedikit aneh. Matanya menangkap kedua orang itu seperti tengah memiliki rahasia. Rahasia apa itu? Sanjaya kurang yakin.

Sandra yang melihat putranya terus menatap punggung Ardi dan Bela yang mulai menjauh itu, lantas mengusap lengannya pelan. Sanjaya terkesiap, detik berikutnya pandangannya berpindah pada sang ibu.

“Jay, liatin apa sih?” tanya Sandra. Sanjaya menunduk sebentar, mencoba meyakinkan hatinya apakah perlu mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya?

Namun, kenyataannya Sanjaya justru memilih menggeleng.

“Nggak ada apa-apa, Ma. Mama istirahat aja dulu, biar aku yang jagain Bintara. Nanti kalau ada apa-apa, Sanjaya bangunin.”

Sandra mengangguk lalu dia memilih pergi menuju tempat istirahat yang memang sengaja Sanjaya sewa.

Kini Sanjaya melihat Bintara dari balik kaca, matanya terpejam dengan wajah pucat. Ada banyak goresan luka di bagian tangan maupun wajah. Sanjaya tidak bisa membayangkan ketika Bintara mengalami musibah mengerikan itu.

“Bi, bangun. Katanya kamu mau nyariin kakak pacar. Kenapa kamu malah tidur di sana?” cicit Sanjaya. Tanpa sadar air bening menetes tanpa dikomando membuat lelaki itu dengan cepat mengusapnya.

***

Di sisi lain, Bela dan Ardi sudah ada di dalam mobil. Kendaraan itu melaju perlahan membelah jalan raya yang lumayan lengang.

Bela melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menoleh ke arah Ardi.

“Honey, malam ini aku pengen nginep di apartemen kamu. Boleh?”

Ardi menghembuskan napasnya panjang, dia benar-benar tidak habis pikir. Bintara baru saja mengalami kecelakaan.

“Bel, kita harusnya jaga jarak dulu deh. Jangan sampai keluarga Bintara tahu.”

Mendengar penjelasan Ardi membuat senyum lebar Bela langsung lenyap berganti dengan senyum sinis.

“Kamu takut kalau keluarganya tahu?”

“Bel, kamu tahu kan dengan adanya Bintara aku bisa tinggal di apartemen mewah itu. Aku bisa punya motor gede. Kamu tahu sebesar apa sumbangsih Bintara itu untuk kehidupan aku. Aku nggak mau semua lenyap, semua hilang karena kebod ohan kita!”

Panjang lebar Ardi mencoba membuka pikiran Bela.

“Lagipula, kalau sampai tunangan kamu tahu kita bakal habis. Arkana lelaki kaya raya, kekayaannya setara dengan Bintara. Kalau sampai dia tahu, sumber kehidupan kamu juga bakal hilang.”

“Tapi, Arkana tidak sebaik yang kamu pikir, Ardi. Dia nggak seloyal Bintara. Kemarin aku minta beli tas aja nggak di kasih.”

“Karena mungkin kamu nggak menservis dia dengan baik,” potong Ardi. Bela langsung menggeleng.

“Arkana tidak seperti itu, dia benar-benar menjaga aku. Justru itulah yang bikin aku bosan dengannya. Ciuman aja kita nggak pernah, dia cuma mau menggandeng tangan itupun kalau ada supir. Kalau nggak ada dia cuek. Padahal kan aku pengen di sayang.”

Ardi tersenyum miring.

“Aku harap kamu ngertiin aku, ya, Honey. Untuk sementara aja. Sampai Bintara sembuh.

“Jadi kamu mau kita putus sekarang?”

Ardi langsung menggeleng, meraih tangan Bela lalu menciumnya. Mencoba meyakinkan Bela jika dia tidak akan meninggalkannya.

“Nggak putus, Bel. Cuma jaga jarak. Kamu nggak lihat Sanjaya tadi memperhatikan kita terus?”

Bela menggeleng.

“Nggak!”

Lagi-lagi, Ardi menunjukan sisi yang berbeda jika tengah bersama Bela. Bersama perempuan itu dia bisa mengendalikan semua. Bisa menjadi apa adanya Ardi tanpa ada tekanan dari manapun, berbeda jika saat bersamaan Bintara. Lelaki itu seperti mendapatkan tekanan mental. Bintara yang memiliki value membuat lelaki itu juga harus memiliki value, kendati dengan susah payah dia miliki.

Bersama Bintara, dia harus setara. Harus menjadi laki-laki lebih dari perempuan itu. Padahal kenyataannya Ardi tak sebanding.

“Aku janji, setelah masalah ini selesai kita akan seperti dulu lagi.”

“Aku takut kalau sampai Bintara bangun dan dia ngadu sama orang tuanya gimana?”

“Oleh karena itu, Honey. Aku nggak mau masa depan kita berantakan. Kamu ingat kan rencana kita dari awal? Kamu manfaatin harta Arkana untuk masa depan kita, aku juga akan manfaatin harta Bintara untuk membuat masa depan kita terjamin.”

Bela mengangguk mantap. Rasa sedih dan kecewanya langsung menguap begitu saja.

“Oke, tapi nanti kalau aku kangen bisa kan kita ketemu? Diluar kota kek atau dimana gitu?”

“Iya, nanti bisa dipikirkan lagi.”

Di saat bersamaan ponsel Bela berbunyi membuat perempuan itu langsung menatap layar ponsel yang berpendar. Dimana nama Arka ada di sana.

“Suttt, Arka telepon. Kamu jangan ngomong apa-apa, ya.”

Ardi mengangguk. Sebelum Bela menerima telepon tersebut, perempuan itu berdehem. Mencoba menghembuskan napasnya perlahan.

“Halo, sayang.”

“Bel, kamu dimana? Kenapa chat aku nggak dibales? Kamu nggak papa kan?” Rentetan pertanyaan langsung diberikan oleh Arkana.

Bela menggeleng meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.

“Aku nggak papa, Sayang. Cuma aku tadi di rumah sakit, Bintara kecelakaan. Jadi aku jenguk dia.”

“Bintara kecelakaan? Bukanya kata kamu tadi kamu sama dia barengan buat ngerayain ulang tahun pacarnya?” Arkana tidak mengerti. Pasalnya Bela tadi sempat mengatakan jika mereka tengah mengadakan pesta untuk pacarnya.

“Iya, sayang. Aku nggak tahu dia sama pacarnya ada masalah apa, tiba-tiba aja mereka berantem terus Bintara ngambek, kabur deh. Malah dijalan dapat musibah,” jelas Bela panjang lebar.

“Innalillahi, terus keadaan dia sekarang gimana?” tanya Arkana ikut khawatir mendengarnya. Bagaimanapun Bintara itu teman tunangannya. Oleh sebab itu, dia juga merasakan apa yang dirasakan Bela. Sedih pastinya.

“Masih di ICU. Belum sadar, yank.” Kali ini Bela memang jujur.

“Ya, Allah. Semoga lekas diberi kesembuhan.”

“Amin,” ucap keduanya bersamaan. Sedangkan Ardi mati-matian menahan api cemburu yang membakar hati.

“Ya, udah kalau gitu, sayang. Aku tutup, ya. Ini aku lagi diperjalanan pulang.”

“Ya, udah kalau gitu hati-hati, ya.”

Bersambung

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU    Balasan telak

    KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 17Bintara dan Arkana lalu duduk di tempat yang memang sudah dipesan lelaki itu sebelumnya. Begitu juga dengan Ardi dan Bela, keduanya duduk tidak jauh dari mereka. “Kenapa kita jadi makan malam bareng Bintara sih, Ar? Jangan-jangan kamu sengaja pesan teman ini biar kita ketemu sama mereka? Jujur, Ardi.”Lelaki di depannya menatap ke arah Bintara dan Arkana. Dia tidak menyangka jika lelaki itu masih mau menerima mantan pacarnya. Padahal Ardi memilih meninggalkannya ketimbang bertahan.Mungkinkah lelaki itu bodoh? Mau dekat dengan perempuan lumpuh? “Ardi!” pekik Bela yang mulai kesal. Pasalnya Ardi tidak hanya mengabaikannya, tetapi pandangannya tidak lepas dari mantan sahabat terbaiknya itu. “Apa sih, Bel?” Ardi merasa terganggu dengan sikap Bela yang kekanak-kanakan itu. “Kamu belum bisa lupain dia!” Bela mulai jengah. Ardi langsung diam. Bagaimana pun lelaki itu memang belum sepenuhnya rela melihat Bintara dengan lelaki lain terleb

  • KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU    Bertemu mantan

    KAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 16Setelah acara lamaran di rumah sakit beberapa waktu lalu, Arkana sering sekali datang menemui Bintara sekedar bertanya kabar. Hingga malam ini lelaki itu berniat mengajak calon istrinya makan malam di luar. “Kayaknya nggak mungkin deh, Mas. Kita makan di luar? Soalnya aku nggak bisa jalan, takutnya kamu malah repot sendiri.”Tolak Bintara. Arkana menatap calon istrinya itu lekat-lekat. “Nggak repot, lagipula kamu juga perlu keluar sesekali. Biar nggak bosen, kamu sudah seminggu lebih di rumah sakit. Memangnya nggak jenuh?”Bintara tidak menjawab, dia hanya menunduk. Menatap kedua kakinya yang kini menggantung di kursi roda. “Aku nggak mau kamu malu, Mas.”.“Hai, malu kenapa? Tidak ada yang perlu dipermalukan. Kamu percaya sama aku?” Bintara terkejut mendengar jawaban Arkana. Dia mengangkat pandangannya ke arah lelaki itu, ada perasaan bersalah saat melakukan kebohongan besar itu. Namun, dengan cara inilah dia akan membuat Bela dan

  • KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU    BAB 15

    KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 15“Maaf, Pak. Kenapa Pak Satrio repot-repot datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk putri kamu,” ucap Darmawan seraya menjabat tangan rekan bisnisnya itu. Lawan bicaranya tersenyum lebar lalu mengalihkan pandangan ke arah Bintara. “Saya memang sengaja meluangkan waktu untuk datang menjenguk Bintara. Bagaimana keadaan kamu, Nak?” tanya Satrio dengan lembut. Bintara tersenyum.“Alhamdulillah sudah mendingan, Om.”Satrio mengangguk-anggukkan kepalanya lalu istrinya berjalan mendekat ke arah Sandra. “Jeng, saya ikut prihatin, ya. Semoga Jeng Sandra kuat. Ini ujian dari Allah.” Sandra mengangguk. “Terima kasih banyak, ya, Jeng. Sudah menjenguk putri kami.”Sandra melirik ke arah Bintara. Di sisi lain, Sanjaya dan Arkana duduk di sofa. Kedua lelaki itu berbincang singkat. “Kedatangan kami ke sini tidak hanya ingin menjenguk Bintara, Pak Darmawan. Tapi, ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan.”“Apa itu, Pak Satrio? Sepertinya

  • KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU    BAB 14

    KAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 14“Apa semua ini benar, Bela?” tanya ayahnya tentu sembari menunjukkan foto Bela dengan Ardi. Bela menunduk. Pipinya sudah basah dengan air mata.“Aku khilaf, Pa.”“Khilaf kata kamu? Kamu pacaran dengan seorang Arkana. CEO di perusahaan besar di negara ini, jika kalian menikah. Hidupmu akan terjamin sampai tujuh turunan. Dan sekarang kamu malah mengkhianatinya? Bodoh sekali kamu, Bela!”“Pa, jangan kasar sama anak,” kilah istri.“Anakmu memang bodoh, Ma. Didik dia agar menjadi perempuan pintar bukan perempuan bodoh yang menyakiti laki-laki kaya demi lelaki tidak berguna!”Setelah mengatakan itu papa Bela pergi meninggalkan istri dan anaknya. Bela menangis, dia menatap ibunya dengan iba.“Ma ….”“Sabar, Nak. Papa kamu memang seperti itu kalau lagi marah, jangan sedih, ya. Mama tetap di sini.”“Tapi, Ma. Papa marah besar. Mama tahu kalau papa sudah marah dia bakal nyita fasilitas Bela.”Mama Bela mengangguk, helaan napas panjang menyem

  • KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU    BAB 13

    KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 13“Pa, Ma. Arkana ingin mempercepat pernikahan kami,” ucap Arkana pada orang tuanya. Bela yang sedari tadi duduk di samping lelaki itu tersenyum sumringah. Sesekali membenarkan rambutnya yang masih rapi. Orang tua Arkana dan orang tua Bela saling berpandangan. Mereka tersenyum bahagia. “Terserah kamu saja. Kamu atur, Arkana. Kami sebagai orang tua hanya bisa merestui dan mendoakan semoga pernikahan kalian lancar dan langgeng sampai kakek nenek,” ujar mama Arkana. Mama Bela mengangguk. “Amin, iya, Jeng. Kita sebagai orang tua ikut seneng kalau anak-anak seneng.”“Kamu yakin akan mempercepat pernikahan kalian. Kalian saja belum datang ke WO lho.”“Arkana sudah menyiapkan semua.” Mendengar apa yang dikatakan Arkana membuat keluarga Bela sedikit terkejut, terlebih putrinya tidak mengatakan apapun padanya. Lagipula pernikahan itu kan perlu banyak persiapan, dan tentu Bela memiliki pernikahan impian. Mama Bela melirik ke arah putrinya yang

  • KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU    BAB 12

    KAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 12“Mas Arkana,” cicit Bintara. Perempuan itu tidak menyangka jika calon suami sahabatnya kembali datang menemuinya. Disaat dirinya hampir menyerah. Namun, kedatangan lelaki itu memberi harapan.“Bagaimana keadaan kamu, Bintara?” tanyanya dengan suara lembut. Entah mengapa bagi Bintara, Arkana tidak sekedar basa-basi. Dia merasakan ketulusan seseorang yang menanyakan keadaannya. Bintara melihat dirinya sendiri, terlebih kedua kaki di bawahnya. “Aku lagi nggak baik-baik saja,” jawabnya kemudian. Bintara menunduk, takut jika Arkana menyadari sesuatu.“Kakimu tidak bisa merasakan?”Bintara menggeleng. “Aku lumpuh,” ucap Bintara nyaris tak bersuara. “Kamu yakin?”Bola mata Bintara bergerak liar, tetapi dia dengan lihai menutupi kegugupannya. Gadis itu sengaja tidak mengangkat wajahnya, berharap Arkana tidak bisa membaca raut wajahnya. Bagaimana pun Arkana ini seorang pebisnis hebat, dia mampu membaca lawan bicaranya hanya dari raut waja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status