LOGINBintara mencintai seorang laki-laki bernama Ardi. Dia juga memiliki sahabat yang sangat dia percaya dan sayangi seperti saudara sendiri. tapi, sayangnya sang kekasih justru memilih sahabatnya karena Bintara lumpuh akibat kecelakaan. Ardi lalu mengkhianatinya secara terang-terangan dengan memilih sahabat Bela untuk dijadikan pasangan. Bintara bukannya menangis, dia justru meminta mantan calon suami Bela menjadi suaminya.
View MoreKUPILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU.
BAB 1 “Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Bintara dengan senyum termanisnya. Perempuan muda itu berdiri tepat di depan kekasihnya membawa sebuah kue tart lengkap dengan lilin yang menyala. Ardi tersenyum, diliriknya Bela—teman Bintara. Yang berdiri di samping gadis itu. Tatapan Ardi lantas kembali ke arah sang kekasih. Sebelum pemuda itu meniup lilin matanya terpejam dengan mulut komat-kamit membaca doa. Beberapa detik berlalu, Ardi perlahan membuka matanya. “Tiup lilinnya,” titah Bintara. Ardi lantas meniup lilin itu dengan cepat. “Ye ….” Bintara bersorak, gadis muda itu selalu begitu. Selalu antusias saat merayakan hari spesial sang kekasih. Berbeda dengan Ardi, pemuda itu tampak biasa saja. Kendati demikian, dia tetap mencoba menampilkan senyum bahagianya. “Ini kado dari aku, buat kamu.” Bintara menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah hati. Ardi segera meletakkan kue tart itu di atas meja. Dia lalu menerima kado tersebut dan membolak-baliknya sebentar. Dengan rasa penasaran, pemuda itu perlahan menggoyangkan kotak di tangannya. “Buka aja,” titah Bintara. Ardi tersenyum lalu perlahan dia membuka kotak tersebut. Netra pemuda itu membelalak. Bagaimana tidak, di dalam sana terdapat sebuah jam tangan mahal. Harganya ratusan juta, mungkin saja Ardi harus bekerja puluhan tahun agar bisa membelinya. Akan tetapi, karena Bintara lelaki itu tidak perlu bersusah payah mengeluarkan uang dia sudah bisa memakai barang branded tersebut. Ardi cukup lama diam memandangi jam tangan tersebut, bukan karena tidak suka. Melainkan karena lelaki itu tidak percaya dia mendapatkan jam yang sudah diidam-idamkannya sejak lama itu. Melihat pemandangan itu berhasil membuat Bintara panik sendiri. Takut jika jam tangan pemberiannya bukan selera lelaki itu, takut jika Ardi tidak menyukainya. “Jelek, ya, sayang?” Ardi langsung tergagap, dia menggeleng cepat. “Eh, nggak kok, sayang. Bagus.” Wajah panik Bintara langsung berubah sumringah. “Kalau gitu pakai dong.” Tanpa berlama-lama Bintara langsung mengambil alih jam mahal itu lalu memasangkannya pada pergelangan tangan Ardi. Tanpa Bintara sadari, lelaki itu kembali melirik Bela. “Dah, cakep, kek yang make,” puji Bintara sembari menatap jam tangan itu. Pandangan Ardi buru-buru menghadap sang kekasih lagi. Kring! Tiba-tiba ponsel Bintara berbunyi nyaring membuat gadis itu langsung meraih benda pipih miliknya yang ada di atas meja. “Bentar, ya, sayang. Papa telepon,” ucap Bintara pada Ardi. Lelaki itu mengangguk. “Halo, papa,” sapa Bintara saat sambungan telepon sudah terhubung. “Bi, kamu bisa pulang sekarang nggak? Eyang masuk rumah sakit lagi,” ucap papa Bintara di sebarang telepon. Permintaan itu terdengar mengkhawatirkan, sebab biasanya kalaupun Eyang dibawa ke rumah sakit. Bintara tidak langsung dihubungi seperti ini. Mungkinkah kondisi eyang begitu mengkhawatirkan? “Eyang kenapa lagi, Pa?” tanya Bintara. Nada bicaranya terdengar begitu khawatir. Lelaki setengah baya di sebarang telepon, terdengar menghela napas panjang sebelum menjawab. “Eyang drop, Bi. Tapi, kali ini Eyang nggak bisa diajak komunikasi,” bebernya kemudian. Bintara bisa merasakan nada suara sang ayah yang terdengar pasrah. “Iya, Pa. Kalau begitu Bintara langsung ke rumah sakit sekarang,” kata Bintara tidak mau membuang waktu lebih lama. “Hati-hati, Bi. Jangan ngebut, ya,” pinta papa Bintara. “Iya, Pa. Aku tutup, ya.” Tidak ada balasan setelah itu karena Bintara memutus sambungan telepon lebih dulu. Tidak berapa lama, Bintara menatap ke arah Ardi dan juga sang sahabat secara bergantian. “Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang. Eyang drop. Maaf, ya, aku nggak bisa nemenin kamu makan kue. Biar Bela yang nemenin kamu di sini.” Bela langsung mendekat, dia menghentikan pergerakan sang teman dengan memegang lengan perempuan itu. “Bi, kamu nggak papa? Eyang kenapa?” tanya Bela dengan lembut. Sahabat Bintara memang lebih anggun, lebih feminim dan juga lebih seksi dari perempuan itu. Karena memang badan Bintara jauh lebih kecil darinya. “Aku baik-baik aja kok. Eyang drop. Kayaknya serius karena papa minta buat aku datang sekarang,” jelas Bintara. Bela tampak khawatir pada sahabatnya itu. “Aku temenin, ya. Kamu jangan bawa mobil sendiri dengan keadaan kamu yang panik gini,” beber Bela. Bintara langsung menggeleng. Seolah mereka tidak perlu mengkhawatirkannya. “Iya, sayang. Aku antar juga, ya. Jangan pergi sendiri. Bahaya.” Kali ini suara Ardi yang menginterupsi, tetapi lagi-lagi Bintara menggeleng. Dia meraih kedua tangan Bela lalu menggenggamnya erat. “Hei, aku nggak papa. Kalian percaya sama aku kan. Ardi, maaf. Bukannya aku nggak mau kamu antar. Aku mau banget, kamu tahu kan kalau Eyang itu nggak merestui hubungan kita. Aku nggak mau eyang kenapa-kenapa. Kamu tolong ngertiin aku, ya. Lagipula ini hari ulang tahun kamu, nggak seharusnya kamu di rumah sakit.” Bintara mencoba menenangkan hati sang kekasih. Ardi mengangguk lalu mengusap rambut gadis itu dengan lembut. “Ya, udah kalau gitu kamu hati-hati, ya. Jangan ngebut kalau sampai di rumah sakit jangan lupa kabarin kita.” Bintara menggeleng, dia menatap sahabat dan kekasihnya secara bergantian. Bintara lagi-lagi hanya mengangguk. “Aku pergi dulu, ya. Bel, tolong temenin Ardi buat aku.” Bela juga mengangguk. “Sekali lagi, maaf, ya, sayang. Aku nggak bisa nemenin kamu.” “Iya, nggak papa. Eyang jauh lebih butuh kamu. Kita bisa bareng kapan-kapan.” Bintara lantas bergegas keluar dari apartemen Ardi. Tangannya memegang gagang pintu, tapi sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan itu gadis muda itu kembali menoleh ke belakang. Menatap kedua orang spesial yang ada di dalam hidupnya. “Hati-hati,” ucap Ardi dengan gerakan bibir. Bintara lagi-lagi hanya mengangguk hingga gadis itu benar-benar menghilang dari balik pintu. Bintara lantas berjalan tergesa menuju lift, menekan tombol menuju lobby. Pintu lift tertutup, samar terasa kotak besi itu bergerak dengan cepat menuju lantai bawah. Bintara semula terlihat tenang, hingga saat lift sampai di tujuan dia berniat mengambil kunci mobil. Namun, sayangnya dia tidak menemukan benda itu di dalam tas. Bintara langsung menghentikan langkahnya, dia memukul keningnya pelan. “Astaga, lupa. Tadi kan aku taruh di atas meja,” gumamnya pelan. Tubuhnya dengan cepat berbalik arah kemudian berjalan kembali menuju lift tadi, dengan sedikit tergesa jari lentiknya langsung menekan nomor lantai dimana kamar Ardi berada. Lift terbuka, Bintara dengan langkah lebar menuju kamar Ardi. Tok! Tok! “Sayang, kunci aku ketinggalan,” ucap Bintara dari depan pintu. Namun, tidak ada tanda-tanda kekasihnya itu mendengar. Padahal di dalam sana juga ada Bela. Tidak mau membuang-buang waktu, Bintara justru memilih membuka pintu kamar itu setelah memasukan kata sandi. Sepi! Tidak ada tanda-tanda keberadaan kekasih dan sahabatnya itu. Padahal dia baru saja meninggalkan apartemen itu beberapa menit. Semula Bintara mengira jika kedua orang itu tengah keluar sebentar. Gadis muda itu tidak berpikir panjang, dia justru langsung mencari kunci yang tadi dia letakan di atas meja. Benar saja, netranya langsung menangkap benda yang dimaksud. Tangan Bintara baru saja hendak mengambil kunci mobil tiba-tiba saja dia mendengar suara-suara aneh. Yang entah mengapa membuat bulu kuduk Bintara meremang sebadan-badan. BersambungKAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 17Bintara dan Arkana lalu duduk di tempat yang memang sudah dipesan lelaki itu sebelumnya. Begitu juga dengan Ardi dan Bela, keduanya duduk tidak jauh dari mereka. “Kenapa kita jadi makan malam bareng Bintara sih, Ar? Jangan-jangan kamu sengaja pesan teman ini biar kita ketemu sama mereka? Jujur, Ardi.”Lelaki di depannya menatap ke arah Bintara dan Arkana. Dia tidak menyangka jika lelaki itu masih mau menerima mantan pacarnya. Padahal Ardi memilih meninggalkannya ketimbang bertahan.Mungkinkah lelaki itu bodoh? Mau dekat dengan perempuan lumpuh? “Ardi!” pekik Bela yang mulai kesal. Pasalnya Ardi tidak hanya mengabaikannya, tetapi pandangannya tidak lepas dari mantan sahabat terbaiknya itu. “Apa sih, Bel?” Ardi merasa terganggu dengan sikap Bela yang kekanak-kanakan itu. “Kamu belum bisa lupain dia!” Bela mulai jengah. Ardi langsung diam. Bagaimana pun lelaki itu memang belum sepenuhnya rela melihat Bintara dengan lelaki lain terleb
KAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 16Setelah acara lamaran di rumah sakit beberapa waktu lalu, Arkana sering sekali datang menemui Bintara sekedar bertanya kabar. Hingga malam ini lelaki itu berniat mengajak calon istrinya makan malam di luar. “Kayaknya nggak mungkin deh, Mas. Kita makan di luar? Soalnya aku nggak bisa jalan, takutnya kamu malah repot sendiri.”Tolak Bintara. Arkana menatap calon istrinya itu lekat-lekat. “Nggak repot, lagipula kamu juga perlu keluar sesekali. Biar nggak bosen, kamu sudah seminggu lebih di rumah sakit. Memangnya nggak jenuh?”Bintara tidak menjawab, dia hanya menunduk. Menatap kedua kakinya yang kini menggantung di kursi roda. “Aku nggak mau kamu malu, Mas.”.“Hai, malu kenapa? Tidak ada yang perlu dipermalukan. Kamu percaya sama aku?” Bintara terkejut mendengar jawaban Arkana. Dia mengangkat pandangannya ke arah lelaki itu, ada perasaan bersalah saat melakukan kebohongan besar itu. Namun, dengan cara inilah dia akan membuat Bela dan
KAU PILIH SAHABATKU KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 15“Maaf, Pak. Kenapa Pak Satrio repot-repot datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk putri kamu,” ucap Darmawan seraya menjabat tangan rekan bisnisnya itu. Lawan bicaranya tersenyum lebar lalu mengalihkan pandangan ke arah Bintara. “Saya memang sengaja meluangkan waktu untuk datang menjenguk Bintara. Bagaimana keadaan kamu, Nak?” tanya Satrio dengan lembut. Bintara tersenyum.“Alhamdulillah sudah mendingan, Om.”Satrio mengangguk-anggukkan kepalanya lalu istrinya berjalan mendekat ke arah Sandra. “Jeng, saya ikut prihatin, ya. Semoga Jeng Sandra kuat. Ini ujian dari Allah.” Sandra mengangguk. “Terima kasih banyak, ya, Jeng. Sudah menjenguk putri kami.”Sandra melirik ke arah Bintara. Di sisi lain, Sanjaya dan Arkana duduk di sofa. Kedua lelaki itu berbincang singkat. “Kedatangan kami ke sini tidak hanya ingin menjenguk Bintara, Pak Darmawan. Tapi, ada satu hal penting yang ingin saya sampaikan.”“Apa itu, Pak Satrio? Sepertinya
KAU PILIH SAHABATKU, KUNIKAHI CALON SUAMIMU BAB 14“Apa semua ini benar, Bela?” tanya ayahnya tentu sembari menunjukkan foto Bela dengan Ardi. Bela menunduk. Pipinya sudah basah dengan air mata.“Aku khilaf, Pa.”“Khilaf kata kamu? Kamu pacaran dengan seorang Arkana. CEO di perusahaan besar di negara ini, jika kalian menikah. Hidupmu akan terjamin sampai tujuh turunan. Dan sekarang kamu malah mengkhianatinya? Bodoh sekali kamu, Bela!”“Pa, jangan kasar sama anak,” kilah istri.“Anakmu memang bodoh, Ma. Didik dia agar menjadi perempuan pintar bukan perempuan bodoh yang menyakiti laki-laki kaya demi lelaki tidak berguna!”Setelah mengatakan itu papa Bela pergi meninggalkan istri dan anaknya. Bela menangis, dia menatap ibunya dengan iba.“Ma ….”“Sabar, Nak. Papa kamu memang seperti itu kalau lagi marah, jangan sedih, ya. Mama tetap di sini.”“Tapi, Ma. Papa marah besar. Mama tahu kalau papa sudah marah dia bakal nyita fasilitas Bela.”Mama Bela mengangguk, helaan napas panjang menyem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.