Share

Bab 4

Author: Farid-ha
last update Last Updated: 2025-01-04 08:22:00

Di balik pintu aku menjatuhkan diri ke lantai. Memeluk lutut sambil menahan isak yang menyesakkan dada. Kedatangan Damar yang tiba-tiba kembali membuka luka lama.

Kejadian sepuluh tahun silam kembali berputar di kepala tanpa diminta.

Malam itu di tengah gerimis hati ini mulai diliputi cemas. Tak biasanya Mas Damar pulang selarut ini. Bahkan jika ia lembur, selalu memberi kabar terlebih dahulu. Tetapi, hari itu berbeda. Sejak sore, aku tidak bisa menghubungi nomornya. Berkali-kali aku mencoba menelpon, tapi hanya ada suara operator yang mengatakan nomor tersebut tidak aktif.

"Di mana kamu, Mas?" Aku mulai memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikiran yang telah dipenuhi berbagai prasangka buruk. Takut-takut terjadi sesuatu dengan Mas Damar.

Mungkinkah Mas Damar kecelakaan di jalan? Atau mungkin suamiku mengalami sesuatu yang buruk di tempat kerja?

"Tidak mungkin. Mas Damar pasti baik-baik saja. Mungkin ponselnya hanya rusak atau baterainya habis,” Aku berusaha menenangkan pikiran.

Tubuhku lelah, baik fisik maupun mental. Sejak pagi, aku sudah disibukkan mengurus rumah, menjaga anak yang sedang sakit, dan melawan rasa mual yang kerap menyerang karena kehamilan trimester pertama. Terlebih Mas Damar yang tidak ada kabar.

"Ayah ... Ayah. Ayah di mana, Bu?" Rintihan Rafi yang memanggil ayahnya dari dalam kamar semakin menyayat hati.

Dengan hati yang cemas, aku menghampiri anak sulung kami yang berbaring lemah di atas kasur.

"Ayah belum pulang, Sayang. Ayah sedang lembur." Terpaksa aku berbohong. Tangan ini sibuk mengelus pucuk kepala Rafi dengan kepala mendongak, mengerjap berulang-ulang, menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk.

Tubuh Rafi kembali panas, padahal satu jam yang lalu baru diberikan obat. Dia butuh penanganan dokter. Pagi sebelum berangkat kerja Mas Damar berjanji akan membawa Rafi berobat ke dokter spesialis anak. Tapi, janji tinggal janji. Buktinya sampai saat ini ia belum kembali.

Aku tidak boleh menangis di depan Rafi.

"Kapan ayah pulangnya, Bu? Rafi pengen tidur dengan ayah." Rafi menatapku dengan penuh permohonan. Matanya berkaca-kaca.

Segera kupalingan wajah ke arah lain.

Sungguh, aku tak sanggup melihat Rafi begini. Dia begitu merindukan ayahnya. Akhir-akhir ini Mas Damar selalu lembur. Tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar bermain dengan Rafi. Pulang kerja langsung tidur karena kelelahan di tempat kerja. Begitu alasannya.

"Sabar, ya, Sayang. Ayah sebentar lagi pasti pulang. Sekarang tidur sama ibu dulu, ya." Rafi hanya bisa mengangguk pasrah meski terlihat jelas kekecewaan dari wajah polosnya.

Aku mendekapnya dengan erat setelah memasang kompres di atas keningnya.

Tidak butuh waktu lama, Rafi kembali terlelap.

Lekas, aku kembali ke rumah tamu.

Dengan tangan gemetar, aku membuka daftar kontak di ponsel, mencari nomor salah teman kerja Mas Damar. Aku memilih untuk menghubungi Doni.

Setelah beberapa waktu berdering, akhirnya panggilan terjawab.

“Halo, Mbak Ratih? Tumben menelpon, ada apa?” Suara Doni terdengar menyapa di ujung telepon.

“Maaf mengganggu, Mas. Saya ingin bertanya, apakah Mas Damar masih di kantor? Dia belum pulang sampai sekarang, dan saya tidak bisa menghubunginya. Nomornya tidak aktif.”

Doni terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Hmm, tadi siang dia pulang lebih awal, Mbak. Sebelum jam pulang, malah. Katanya ada urusan pribadi.”

“Pulang lebih awal? Urusan pribadi apa ya, Mas?” Otakku berusaha keras mencerna jawaban Doni.

“Wah … kurang tahu kalau itu, Mbak. Tadinya saya pikir itu urusan keluarga kalian.”

Apa urusan pribadimu yang tidak aku ketahui, Mas? Sejak kapan kamu mulai merahasiakan sesuatu dari aku?

“Baik, terima kasih, Mas Doni.” Aku mengakhiri panggilan dengan tangan yang gemetar.

Aku mencoba menghubungi beberapa teman Mas Damar yang lain, tetapi jawaban yang mereka berikan sama, tidak ada yang tahu di mana suamiku berada. Mereka semua mengatakan hal yang sama, Mas Damar meninggalkan kantor lebih awal karena alasan pribadi.

Waktu terus berlalu. Malam semakin larut dan aku semakin tidak tahu harus berbuat apa. Anak yang sakit, suami yang hilang tanpa kabar, dan diriku yang tengah hamil muda membuat segalanya terasa begitu berat.

Di mana Mas Damar? Apa yang terjadi dengannya?

Di tengah pencarianku, tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar. Gegas aku berlari kembali ke kamar, hatiku mencelos melihat Rafi yang kejang. Suhu tubuhnya semakin panas.

Di tengah kekalutan, aku membopong Rafi yang sudah mulai tenang. Berlari ke rumah tetangga untuk meminta bantuan. Rafi harus segera dilarikan ke rumah sakit.

"Kamu akan baik-baik saja, Sayang. Ibu ada di sini," bisikku lembut, meskipun dalam hati ini merasa putus asa.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit aku terus memohon pertolongan kepada Allah. Memohon kesembuhan untuk putra sulungku. Air mata menggenang di pelupuk, tetapi aku mencoba menahannya agar tidak menangis. Rafi membutuhkan kekuatan dariku. Kalau aku lemah, bagaimana dengan dirinya?

Di mana kamu Mas, saat anakmu sakit seperti ini?

Hatiku benar-benar hancur ditinggal suami saat anak sakit seperti ini.

Bu RT dan Pak RT mengantarkan kami menuju rumah sakit. Setelah lima belas menit kami Sampai ke rumah sakit.

Setengah jam kemudian Rafi mendapatkan kamar. Kebetulan ruang rawat anak ada yang kosong. Aku menunggu Rafi di temani Bu RT dan suaminya.

Pagi-pagi sekali mereka pulang. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongannya.

Setelah mengantarkan kepergian Bu RT, handphone dalam genggamanku berkedip-kedip, tanda adanya panggilan masuk. Dengan antusias aku menerimanya. Berharap ada kabar baik tentang suamiku.

Tapi, hatiku semakin hancur mendengar keterangan dari Doni belum lagi pesan yang masuk dari pemilik kontrakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Apa Alasan Kau Pertemuan Kami Lagi?

    Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Karma Itu Nyata

    "Iya, karena punya anak yang sakit-sakitan. Rafi sebentar-sebentar masuk rumah sakit. Aku kasihan dengan Mas Damar waktu itu, Mbak. Mas Damar capek kerja tapi uang hanya habis untuk mengobati anaknya yang punya gangguan imun. Dan di saat itu, Rinjani yang masih mencinta Mas Damar sering memberikan aku banyak uang. Hingga aku khilaf. itulah dosaku, Mbak.” Suara Dina semakin serak dan bergetar.Tapi, sayangnya tidak mampu menggetarkan hatiku sama sekali.“Kamu pikir Rafi mau punya penyakit seperti itu? Hah? Kamu pikir penyakit itu kami yang buat, hah?” Darahku naik ke ubun-ubun, suaraku tak lagi bisa dikendalikan. Aku berdiri dengan telunjuk mengacung ke arah wajahnya.“Dasar manusia pisang! Punya jantung tapi tidak punya hati! Kalau kamu punya otak, seharusnya menyuruh Damar semakin menyayangi anaknya yang sedang sakit bukan suruh menjauhinya. Sepertinya karma yang kamu dapatkan itu belum setimpal dengan perbuatanmu, Dina!”Spontan Dina berlutut, memegangi kakiku dengan wajah yang ba

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Kejahatan Dina

    “Tapi, aku tidak punya waktu untuk mendengar ceritamu!” Aku menjawab dengan tegas setelah bisa menguasai keadaan.“Aku akan menunggu kesiapan Mbak Ratih.” Dina menjawab tanpa keraguan.Ngeyel juga ini orang.“Rasa bersalah ini sebenarnya sudah lama menghantui aku, Mbak. Tapi, tidak tahu harus mencari Mbak Ratih ke mana. Dan aku yakin, keinginan Azka untuk makan di kedai ini kemarin bukan sebuah kebetulan,” ucap Dina dengan suara serak di tengah isak tangisnya.Aku terdiam. Namun, mata ini memandang ke sekeliling, terlihat beberapa pasang mata menatap aneh ke arah kami.Pasti mereka berpikir owner Seblak ECO telah berlaku yang tidak-tidak terhadap orang yang lemah. Pasti, di mata mereka aku seperti orang jahat. Sungguh ironis. Padahal, bukan seperti itu kejadian yang sesungguhnya.Dina menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Penuh permohonan.“Tolong kasih kesempatan aku untuk mengungkap semuanya, Mbak.”Aku menatap matanya lebih dalam. Menelusuri keseriusannya. Dan dia tampak tida

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Rahasia Dina

    Dina tampak menunduk, menatap piring di hadapannya yang mulai dingin. Azka, bocah kecil itu, menoleh bingung ke arah ibunya. Tangannya mengguncang lengan Dina, seakan menyadarkan ibunya. Tapi Dina hanya diam. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya kaku. Seperti seseorang yang sedang merenungi sesuatu. Aku menarik napas panjang, menempelkan dahi pada kaca dingin itu. Membiarkan amarah dan sakit hatiku menekan kuat-kuat di dada.Aku tahu, apa yang kulihat di wajah Dina saat ini bukan sekadar keterkejutan. Ada penyesalan yang dalam.Sepertinya di sini, bukan aku saja yang hidup dengan menggenggam luka. Dina pun sama. Luka itu membuat wajahnya kucel, membuat bahunya merunduk, membuat sorot matanya kosong. Bedanya, aku mampu sekarang sudah bisa berdiri dengan kepala tegak sambil mengangkat dagu, sementara ia masih tampak berjuang dengan keras. Tapi apa artinya penyesalan itu bagiku sekarang? Tidak bisa mengembalikan Rafi. Tidak bisa menghapus malam-malam panjang penuh tangis dan doa yang kulalui

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Aku Tidak Boleh Simpati!

    “Dina?” Tubuhku membeku saat nama itu tereja dari bibir ini.Kenapa dia itu harus muncul di hadapanku lagi? Perempuan yang dengan terang-terangan punya andil dalam kehancuran hatinya Rafi.Sungguh, hatiku masih sakit. Terlebih saat aku menoleh ke arah bocah yang ada di sampingnya. Wajahnya mirip sekali dengan almarhum anakku, Rafi.Allah….Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di saat seperti ini. Kenapa aku harus melihat anak yang wajahnya nyaris mirip dengan Rafi?“Mbak Ratih?” Meski tidak terucap, aku tahu pergerakan bibir Dina yang juga tampak syok dengan kehadiranku di sini.Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk menguasai keadaan. Tidak boleh terlihat hancur di mata Dina.Aku harus profesional. Dia adalah customer yang wajib mendapatkan haknya, dilayaninya dengan baik atau ramah.Dengan langkah pasti, aku kembali melanjutkan langkah, berjalan ke arah meja mereka.“Pesanan meja nomor sepuluh.” Aku tersenyum ramah ke Dina yang terlihat tersenyum canggung.“Mbak, apa

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 14. Kenapa Ada Di Sini?

    Suami saya tidak di rumah, Mbak.” Aku tersenyum canggung. Hanya itu satu-satunya jawaban yang terlintas di dalam kepala ini.Sakinah terlihat membuka bibir, sebelum pertanyaan lain di lemparkan, aku segera membuka suara kembali."Semoga secepatnya suami Mbak Sakina segera menyadari kekeliruannya dan bisa membuka hati sepenuhnya untuk istri, ya, Mbak." Aku mendoakan dengan sepenuh hati."Aamiin. Makasih banyak, ya, Mbak. Dengan Mbak Ratih aku merasa nyaman untuk bercerita. Selama ini aku pendam sendiri. Sembilan tahun lamanya. Di luar, orang melihat kami pasangan yang serasi, punya usaha, hubungan yang tampak harmonis. Mereka tak tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan cadangan meski sebagai istri sah."Aku tidak tahu lagi harus ngomong apa lagi. Pasti berat banget menjadi Sakina. Tidak bisa dibayangkan bagaimana berada di posisinya.Sampai tadi, aku masih berpikir perjalanan rumah tanggaku yang paling berat. Diuji anak yang sakit-sakitan, lalu tinggal minggat saat hamil muda. Tapi,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status