LOGINTubuhku lunglai seketika mendengar penuturan dari Doni. Bagaimana tidak, ternyata Mas Damar sudah menyiapkan kepergiannya secara matang. Buktinya, ia sudah resign dari tempatnya kerja tanpa berkompromi dengan aku terlebih dahulu.
“Berarti dia mengundurkan diri di hari kemarin, ya, Mas?” tanyaku sembari mengerjap, menghalau turunnya air mata. “Iya, Mbak. Saya sendiri tidak tahu hal ini. Kemarin dia tidak menceritakan apapun pada saya. Dan tidak berpamitan kepada siapa pun. Hanya bilang mau ada urusan pribadi makanya izin pulang awal." Allah …. Air mataku luruh. Pertahananku akhirnya jebol. Hatiku benar-benar hancur. Tubuh ini melorot ke lantai. Bagaimana aku menjalani hari tanpa Mas Damar di sisi kami? Sementara, aku hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan sendiri. Apa yang sedang kamu rencanakan, Mas Damar? Kenapa kamu tega meninggalkan kami? Apa salahku? Padahal, rumah tangga kita tampak baik-baik saja. Kamu tidak pernah mengeluhkan apapun padaku. Lalu, kenapa tiba-tiba kamu pergi dari sisi kami, Mas? Di mana kamu saat ini? Apa kamu tidak ingat kondisi Rafi yang sedang sakit? Apa kamu lupa kalau aku sedang hamil? Pikiranku sangat kacau pada saat itu. Segera kuhubungi Bude Murni setelah Rafi tidur, aku meminta beliau menenami kami di rumah sakit. Aku tidak bisa sendiri dalam kondisi seperti ini. “Nduk, kamu tenang di sana, ya. Nanti Bude akan segera menyusul,” ucap Bude Murni menguatkan. Hanya beliau satu-satunya orang yang ada untukku saat itu. Padahal, seharusnya Mas Damar yang menguatkan saat aku rapuh seperti itu. Jangankan menguatkan, menanyakan kabar pun tidak. “Bu, ayah belum datang, ya?” sore harinya Rafi kembali menanyakan keberadaan ayahnya. Hatiku berdenyut nyeri saat menatap matanya yang menyimpan rindu untuk sang ayah. Aku menunduk, meraih punggung tangannya yang tidak dipasang selang infus. Menciumnya dengan dada yang sesak. Sekuat mungkin aku menahan air mata. “Belum, Sayang. Ayah sedang bekerja, tugas ke luar kota. Ayah hanya bisa titip salam untuk Rafi, belum bisa pulang dalam waktu dekat ini. Nggak papa, ya, Sayang? Kata ayah, Rafi harus segera sehat. Harus kuat, biar nanti bisa bermain kembali dengan ayah.” Aku kembali berbohong. Saat itu, hanya kalimat-kalimat itu yang terlintas di dalam kepala. M4t!- m4t! an aku menahan rasa sedih di dalam sini. Tak sanggup menahan sesaknya dada, segera kuseret langkah menuju luar ruangan setelah anak itu kembali terlelap. Di bangku tunggu, air mataku tumpah. Aku tidak bisa berpura-pura kuat lagi. Setelah puas menangis, aku pergi ke mushola rumah sakit, menjalankan salat Ashar berharap setelahnya bisa tenang. Aku kembali ke ruang rawat Rafi dengan hati yang perih. Bagaimana tidak, dalam tidurnya Rafi meracau, memanggil-manggil ayahnya. Suhu tubuhnya kembali tinggi. “Nduk, coba kamu hubungi Damar. Siapa tahu nomornya aktif kembali. Kasih tahu anaknya sedang sakit.” Bude Murni memberikan masukan. Aku mengangguk, berharap nomornya sudah aktif. Tak menunggu lama, segera ku hubungi nomor Mas Damar yang pada saat itu kembali aktif setelah sebelum-sebelumnya tidak aktif. Aku menggigit jari, sebab teleponku tidak segera diangkatnya. Tidak putus asa, kucoba menghubungi nomornya kembali. Tapi, lagi-lagi aku harus menelan kecewa, sebab tidak juga mendapatkan respon. Aku tidak mau menyerah begitu saja, detik selanjutnya nomor tersebut kembali kuhubungi, lagi-lagi berakhir dengan suara operator. “Bagaimana, Nduk? Nomor Damar aktif?” Bude Murni menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aktif, tapi tidak diangkat." “Ya Allah … apa yang ada dalam pikiran Damar sampai benar-benar melupakan anak istrinya seperti ini?” Bude Murni tampak geram. Aku hanya bisa menangis saat itu. Pikiranku benar-benar kacau. Hatiku remuk. Otakku buntu, tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi? Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu tega sampai mengabaikan kami sedemikian rupa. “Coba kamu kirimkan videonya Rafi, Nduk. Dan bilang kalau dia selalu menanyakan ayahnya.” Bude Murni kembali memberikan saran keesokan harinya. Aku menuruti. Segera kirimkan pesan sesuai saran dari Bude Murni. Sayangnya, nomorku telah diblokir oleh laki-laki yang masih sah menjadi suamiku. Entah apa salahku? Malam itu, setelah aku kembali dari mushola, aku mendapati suhu tubuh Rafi kembali naik, sangat panas. Nafasnya tampak terengah. Aku panik, segera menekan bel perawat. Tak lama, seorang perawat datang lalu memanggil dokter jaga. Detik berikutnya, beberapa tenaga medis masuk dengan cepat. Alat-alat segera dipasang di tubuh mungil Rafi. “Bu, mohon menjauh sebentar,” ucap seorang perawat sambil berusaha mengatur posisiku. “Tapi aku tidak ingin jauh dari anakku. Tolong jangan pisahkan kami.” Aku menangis sambil menggenggam erat tangan Rafi. Dokter menoleh sekilas, wajahnya tegas tapi juga penuh pengertian. “Tidak apa-apa, Ibu tetap di sini. Tapi mohon jangan mengganggu alat, ya,” katanya singkat. Aku mengangguk sambil terus membisikkan doa di telinga Rafi. Tubuh kecil itu bergetar, dada naik turun tak beraturan. Monitor di samping ranjang mengeluarkan bunyi peringatan yang membuat jantungku nyaris pecah. “Tekanan turun, Dok!” seru perawat. “Segera CPR, tambah oksigen!” titah dokter. Aku hanya bisa menatap, air mataku jatuh tak terbendung. Tanganku tak lepas dari tangan mungil Rafi yang dingin. Aku berulang kali memanggil namanya. “Rafi… Sayang… kuatlah, Nak. Ayah pulang sebentar lagi….” Beberapa menit berlalu dengan usaha yang begitu menegangkan. Dokter dan perawat terus berusaha, menekan dada kecil itu, memasang suntikan, mencoba mempertahankan hidupnya. Namun, garis di monitor itu akhirnya berubah datar. Bunyi tiiiittt panjang terdengar menusuk telinga. Dokter menghentikan tekanannya, menatapku dengan wajah berat. “Ibu… kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mohon maaf… putra Ibu sudah tidak ada.” Dunia seakan runtuh. Aku menjerit, memeluk tubuh kecil Rafi yang sudah terkulai lemah. “Rafi… jangan tinggalkan Ibu, Sayang… jangan pergi….” Bude Murni yang berada di sampingku ikut menangis, memelukku erat-erat. “Nduk… ikhlaskan… Rafi sudah tidak sakit lagi sekarang….” Tangisku pecah, tubuhku gemetar. Aku tidak sanggup membayangkan hari-hari tanpa anakku. Dokter melepas sarung tangannya perlahan, wajahnya tampak letih. Ia menuliskan sesuatu di catatan medis, lalu menatapku dengan sorot mata berat. “Ibu, kami turut berduka cita. Putra Ibu dinyatakan meninggal dunia pukul 21. 58 WIB,” ucapnya hati-hati. Tangisku pecah kembali. Aku memeluk tubuh Rafi yang kini kaku dan dingin. Sementara itu, perawat menutup tubuh mungil itu dengan selimut hingga sebatas dada. Beberapa menit aku hanya bisa menangis di pangkuan Bude Murni. Tubuhku terasa kehilangan tenaga, suaraku serak memanggil nama Rafi berulang kali. Kemudian, seorang perawat menghampiri kami dengan raut wajah penuh simpati. “Ibu, mohon maaf, ada beberapa administrasi yang harus diselesaikan. Kami perlu tanda tangan Ibu atau keluarga terdekat untuk berita acara kematian dan izin pemulasaraan jenazah.” Tanganku bergetar ketika menerima berkas dan pulpen yang disodorkan. Rasanya seperti mimpi buruk saat menandatangani kertas itu, seakan mengukuhkan kenyataan pahit bahwa anakku benar-benar sudah tiada. Bude Murni ikut menemaniku, menandatangani juga sebagai saksi keluarga. Setelah itu, perawat memberi penjelasan dengan lembut. “Jenazah bisa tetap di kamar ini beberapa saat, agar keluarga bisa bersama almarhum dulu. Setelahnya, tim kami akan memandikan dan menyiapkan pemulasaraan, kecuali ada rencana lain dari keluarga.” Aku hanya mengangguk, air mataku terus jatuh. Tatapanku tak lepas dari wajah pucat Rafi yang kini tampak damai. Rafi meninggal dunia dengan membawa bongkahan rindu pada ayahnya yang tak punya hati. Sampai saat ini aku tidak bisa melupakan semua itu. Entah sampai kapan rasa b3nc1 ini akan pergi dari dalam sini. Hanya satu pintaku, semoga Damar memetik buah dari perbuatannya di dunia ini sebelum mendapatkan hisab di akhirat nanti. BersambungLelaki itu akhirnya membalikkan badan dengan langkah gontai, terseret oleh beban penyesalannya sendiri menuju pintu keluar. Namun, saat tubuhnya menjauh, dari sudut mataku, aku menangkap sosok perempuan yang sejak tadi berdiri bersembunyi di balik pilar pintu masuk. Sakinah. Perempuan itu berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Matanya melekat pada punggung Damar yang kian menjauh dengan tatapan penuh kepuasan. Detik berikutnya, dia menoleh ke arahku, dan seulas senyuman sinis yang tajam terbit di bibir berlipstik merah menyala miliknya. Sakinah tampak begitu puas, mungkin merasa di atas angin karena rencana balas dendamnya berjalan sukses besar. Kedatangan Sakinah untuk memprovokasi Rafa tadi ternyata membuahkan hasil yang dia inginkan, melihat Damar hancur berkeping-keping. Aku menghela napas pendek, lalu melangkah tenang menghampirinya, memotong langkah Sakinah yang hendak berbalik pergi dengan dada membusung. "Puas, Mbak Sakinah?" tanyaku. Suaraku yang d
Mendengar nama Damar, Rafa segera berjalan ke arah depan tanpa memedulikan aku yang memanggilnya. Langkah kecil Rafa yang tergesa-gesa seolah menarik paksa seluruh sisa kekuatan yang kupunya. Aku melangkah tepat di belakangnya, mengiringi punggung kecil itu dengan detak jantung yang karang-kabut, tak menentu. Udara sore di dalam Kedai Seblak ECO mendadak terasa begitu menghimpit, menyisakan rasa sesak yang menjalar hingga ke ujung jemari. Aku didera ketakutan luar biasa. Takut jika pertahanan yang kubangun dengan air mata selama sepuluh tahun ini akan luruh dalam hitungan detik. Langkahku berhenti seketika saat melihat Rafa mengunci langkahnya. Dia berhenti tepat beberapa meter di depan meja nomor empat, tempat di mana Damar sudah berdiri menunggu dengan cemas. Mata mereka bertemu sekian detik. Kedai yang masih sepi pengunjung itu seketika terasa riuh di mataku. Sesak dan was-was menggulung perasaanku tanpa ampun. Damar mendongak, lalu buru-buru mengulas senyum lebar yang tamp
“Itulah bodohnya kamu, Mbak! Kamu percaya begitu saja dengan ucapanku waktu itu! Padahal saat itu aku sengaja pura-pura bekerja di cafe milikku sendiri untuk mencari waktu agar bisa bertemu dengan kamu.” Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja didengar telinga ini. Jadi cafe itu milik Sakinah? Cafe yang dikelola Adam itu milik Sakinah? “Kenapa, kaget ya mendengar itu?” Sakinah tertawa mengejek. Seolah dia bisa membaca pikiranku. “Aku tidak sesederhana yang kamu pikir. Aku bisa mengelabui kamu dengan sangat mudah. Berpura-pura menjadi karyawan cafe, padahal aku pemilik modal tempat tongkrongan tersebut. Demi apa aku lakukan itu? Demi mendekati kamu!” tegasnya dengan tatapan tajam. Benar-benar perempuan manipulatif! Wanita licik yang suka menghalalkan segala cara. Menjijikkan! “Lalu, tentang cerita rumah tangga, itu aku hanya ngarang cerita agar bisa dapat simpati kamu. Dan itu berhasil!” Sakinah tertawa puas. Aku hanya tersenyum tipis sambil menatap
Handphone dalam genggamanku kembali bergetar. Aku yang belum sempat mencerna semua ini hanya bisa menatap layar gawai dengan hati campur aduk. Aku takut itu dari Damar. Tapi ternyata pesan dari Bu Dewi yang akan mengirimkan barang. Setelah membalas pesan Bu Dewi. Detik berikutnya pesan dari Damar kembali masuk. Tidak hanya sekali. Kali ini aku hanya bisa menghembuskan napas panjang sebagai reaksi atas pesannya. Seniat itu Damar mengetik pesan. Panjang dan berkali-kali. Setelah memasukkan handphone aku menoleh ke arah Sakinah. Aku mengernyit saat tangan Sakinah perlahan mengendur dari bahu Rafa. Apa yang terjadi? Kenapa binar di mata anakku padam sepenuhnya? Padahal tadi dia terlihat antusias melihat kedatangan Sakinah. Wajah polos itu mendadak pias, menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya—perpaduan antara syok, kecewa, dan luka yang teramat dalam. Apa yang dikatakan Sakinah pada anakku? Dengan langkah tergesa aku menghampiri mereka. "Ibu..." S
Sakinah kembali tersenyum, kali ini senyumnya terlihat tulus. “Terima kasih banyak, Mbak.” Aku kembali mengangguk. “Aku minum, Mbak.” Dia mengambil gelas di hadapannya. Lalu meneguknya dengan pelan. “Senang sekali bisa menyelesaikan masalah ini dengan Mbak Ratih.” Dia tersenyum ramah. Lalu, tatapannya beralih menatap ke dalam kedai. "Mbak... kalau boleh, sebelum aku pulang, aku punya satu permohonan lagi. Bolehkan aku bertemu dengan Rafa? Aku... aku hanya ingin melihat anak itu secara langsung. Aku membawa sedikit oleh-oleh untuknya."Permintaan itu seketika membuat naluri keibuanku waspada. Jantungku kembali berdesir aneh. Ada bagian dari diriku yang berteriak untuk menolak. Namun, melihat wajah Sakinah yang begitu memelas, aku mencoba meredam prasangka burukku."Rafa sedang main di belakang," jawabku perlahan, menimbang-nimbang keputusan. "Mbak boleh bertemu dengannya. Tapi, kita mengobrol di sini saja, di warung seblak ECO ini. Aku akan panggilkan Rafa.”Sakinah mengangguk c
Gerakan tanganku yang sedang mengelap meja kayu warung berhenti seketika. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat ketika mata ini menatap sesosok wanita sedang mengayunkan langkahnya dengan anggun ke arahku. Sepatu berhak tinggi berderap dengan teratur di atas lantai warung. Perempuan cantik dengan pakaian modis. Tampilannya tampak sangat kontras dengan yang aku temui beberapa bulan silam. Sakinah Maulida. Jilbabnya yang rapi, senyumnya yang dulu selalu terasa menenangkan, kini justru membuat dadaku bergemuruh aneh. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang bertalu-talu. Karena aku tahu siapa perempuan itu. Wanita yang dulu bercerita sebagai sosok istri yang tidak dicintai suaminya, perempuan yang tetap memilih mempertahankan rumah tangga meski tidak mendapatkan hati suaminya. Dia adalah orang yang sama yang memintaku segera mengurus perceraianku dengan Damar agar rumah tangganya lebih bahagia. Dan kini ia muncul di hadapanku dengan seulas senyum ya
Bab 1 “Assalamualaikum." Aku yang sedang menyiram tanaman spontan mendongak, menatap pemilik suara tersebut. Aku mematung, tubuhku membeku ketika melihat siapa yang menyapaku. Detak jantungku berdetak dua kali lipat dari biasanya. Tubuhku terpaku, alat siram tanaman yang ada dalam genggaman
“Berarti ayah Rafa masih hidup, Bu?” Aku tergagap mendengar pertanyaan Rafa yang kian tajam. Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu terasa seperti pisau dingin yang menembus d4 daku tanpa ampun. Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menjaga napas agar tidak bergetar. Tanganku refleks
“Ibu hanya takut Rafa diantar pulang oleh orang yang tidak dikenal.” Aku melepaskan pelukan pelan-pelan, mengusap punggungnya seolah menyingkirkan sisa degup yang masih mengguncang dadaku. “Tapi, Om itu nggak jahat kok, Bu. Baik. Malah nganterin Rafa sampai depan rumah.” Jawaban polos itu menamp
Bab 5 “Nduk, bukankah itu Damar?” Jari telunjuk Bude Murni mengarah tepat ke arah teras rumah milik orang tuanya Damar. Dadaku bergemuruh hebat saat melihat laki-laki yang masih sah bergelar suamiku itu bercengkrama dengan keluarganya. Mereka tampak tertawa lepas. Di rumah mati-matian aku mengkhaw







