Share

Bab 3

Author: Farid-ha
last update Last Updated: 2025-01-04 08:20:27

Tubuhku lunglai seketika mendengar penuturan dari Doni. Bagaimana tidak, ternyata Mas Damar sudah menyiapkan kepergiannya secara matang. Buktinya, ia sudah resign dari tempatnya kerja tanpa berkompromi dengan aku terlebih dahulu.

“Berarti dia mengundurkan diri di hari kemarin, ya, Mas?” tanyaku sembari mengerjap, menghalau turunnya air mata.

“Iya, Mbak. Saya sendiri tidak tahu hal ini. Kemarin dia tidak menceritakan apapun pada saya. Dan tidak berpamitan kepada siapa pun. Hanya bilang mau ada urusan pribadi makanya izin pulang awal."

Allah ….

Air mataku luruh. Pertahananku akhirnya jebol. Hatiku benar-benar hancur. Tubuh ini melorot ke lantai.

Bagaimana aku menjalani hari tanpa Mas Damar di sisi kami? Sementara, aku hanya seorang ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan sendiri.

Apa yang sedang kamu rencanakan, Mas Damar? Kenapa kamu tega meninggalkan kami? Apa salahku? Padahal, rumah tangga kita tampak baik-baik saja. Kamu tidak pernah mengeluhkan apapun padaku. Lalu, kenapa tiba-tiba kamu pergi dari sisi kami, Mas? Di mana kamu saat ini? Apa kamu tidak ingat kondisi Rafi yang sedang sakit? Apa kamu lupa kalau aku sedang hamil?

Pikiranku sangat kacau pada saat itu.

Segera kuhubungi Bude Murni setelah Rafi tidur, aku meminta beliau menenami kami di rumah sakit. Aku tidak bisa sendiri dalam kondisi seperti ini.

“Nduk, kamu tenang di sana, ya. Nanti Bude akan segera menyusul,” ucap Bude Murni menguatkan.

Hanya beliau satu-satunya orang yang ada untukku saat itu. Padahal, seharusnya Mas Damar yang menguatkan saat aku rapuh seperti itu. Jangankan menguatkan, menanyakan kabar pun tidak.

“Bu, ayah belum datang, ya?” sore harinya Rafi kembali menanyakan keberadaan ayahnya.

Hatiku berdenyut nyeri saat menatap matanya yang menyimpan rindu untuk sang ayah. Aku menunduk, meraih punggung tangannya yang tidak dipasang selang infus. Menciumnya dengan dada yang sesak. Sekuat mungkin aku menahan air mata.

“Belum, Sayang. Ayah sedang bekerja, tugas ke luar kota. Ayah hanya bisa titip salam untuk Rafi, belum bisa pulang dalam waktu dekat ini. Nggak papa, ya, Sayang? Kata ayah, Rafi harus segera sehat. Harus kuat, biar nanti bisa bermain kembali dengan ayah.” Aku kembali berbohong. Saat itu, hanya kalimat-kalimat itu yang terlintas di dalam kepala.

M4t!- m4t! an aku menahan rasa sedih di dalam sini. Tak sanggup menahan sesaknya dada, segera kuseret langkah menuju luar ruangan setelah anak itu kembali terlelap.

Di bangku tunggu, air mataku tumpah. Aku tidak bisa berpura-pura kuat lagi. Setelah puas menangis, aku pergi ke mushola rumah sakit, menjalankan salat Ashar berharap setelahnya bisa tenang.

Aku kembali ke ruang rawat Rafi dengan hati yang perih. Bagaimana tidak, dalam tidurnya Rafi meracau, memanggil-manggil ayahnya. Suhu tubuhnya kembali tinggi.

“Nduk, coba kamu hubungi Damar. Siapa tahu nomornya aktif kembali. Kasih tahu anaknya sedang sakit.” Bude Murni memberikan masukan. Aku mengangguk, berharap nomornya sudah aktif.

Tak menunggu lama, segera ku hubungi nomor Mas Damar yang pada saat itu kembali aktif setelah sebelum-sebelumnya tidak aktif.

Aku menggigit jari, sebab teleponku tidak segera diangkatnya. Tidak putus asa, kucoba menghubungi nomornya kembali. Tapi, lagi-lagi aku harus menelan kecewa, sebab tidak juga mendapatkan respon.

Aku tidak mau menyerah begitu saja, detik selanjutnya nomor tersebut kembali kuhubungi, lagi-lagi berakhir dengan suara operator.

“Bagaimana, Nduk? Nomor Damar aktif?” Bude Murni menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aktif, tapi tidak diangkat."

“Ya Allah … apa yang ada dalam pikiran Damar sampai benar-benar melupakan anak istrinya seperti ini?” Bude Murni tampak geram.

Aku hanya bisa menangis saat itu. Pikiranku benar-benar kacau. Hatiku remuk. Otakku buntu, tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi?

Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu tega sampai mengabaikan kami sedemikian rupa.

“Coba kamu kirimkan videonya Rafi, Nduk. Dan bilang kalau dia selalu menanyakan ayahnya.” Bude Murni kembali memberikan saran keesokan harinya.

Aku menuruti. Segera kirimkan pesan sesuai saran dari Bude Murni. Sayangnya, nomorku telah diblokir oleh laki-laki yang masih sah menjadi suamiku. Entah apa salahku?

Malam itu, setelah aku kembali dari mushola, aku mendapati suhu tubuh Rafi kembali naik, sangat panas. Nafasnya tampak terengah. Aku panik, segera menekan bel perawat.

Tak lama, seorang perawat datang lalu memanggil dokter jaga. Detik berikutnya, beberapa tenaga medis masuk dengan cepat. Alat-alat segera dipasang di tubuh mungil Rafi.

“Bu, mohon menjauh sebentar,” ucap seorang perawat sambil berusaha mengatur posisiku.

“Tapi aku tidak ingin jauh dari anakku. Tolong jangan pisahkan kami.” Aku menangis sambil menggenggam erat tangan Rafi.

Dokter menoleh sekilas, wajahnya tegas tapi juga penuh pengertian.

“Tidak apa-apa, Ibu tetap di sini. Tapi mohon jangan mengganggu alat, ya,” katanya singkat.

Aku mengangguk sambil terus membisikkan doa di telinga Rafi. Tubuh kecil itu bergetar, dada naik turun tak beraturan. Monitor di samping ranjang mengeluarkan bunyi peringatan yang membuat jantungku nyaris pecah.

“Tekanan turun, Dok!” seru perawat.

“Segera CPR, tambah oksigen!” titah dokter.

Aku hanya bisa menatap, air mataku jatuh tak terbendung. Tanganku tak lepas dari tangan mungil Rafi yang dingin. Aku berulang kali memanggil namanya.

“Rafi… Sayang… kuatlah, Nak. Ayah pulang sebentar lagi….”

Beberapa menit berlalu dengan usaha yang begitu menegangkan. Dokter dan perawat terus berusaha, menekan dada kecil itu, memasang suntikan, mencoba mempertahankan hidupnya.

Namun, garis di monitor itu akhirnya berubah datar. Bunyi tiiiittt panjang terdengar menusuk telinga.

Dokter menghentikan tekanannya, menatapku dengan wajah berat.

“Ibu… kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mohon maaf… putra Ibu sudah tidak ada.”

Dunia seakan runtuh. Aku menjerit, memeluk tubuh kecil Rafi yang sudah terkulai lemah.

“Rafi… jangan tinggalkan Ibu, Sayang… jangan pergi….”

Bude Murni yang berada di sampingku ikut menangis, memelukku erat-erat.

“Nduk… ikhlaskan… Rafi sudah tidak sakit lagi sekarang….”

Tangisku pecah, tubuhku gemetar. Aku tidak sanggup membayangkan hari-hari tanpa anakku.

Dokter melepas sarung tangannya perlahan, wajahnya tampak letih. Ia menuliskan sesuatu di catatan medis, lalu menatapku dengan sorot mata berat.

“Ibu, kami turut berduka cita. Putra Ibu dinyatakan meninggal dunia pukul 21. 58 WIB,” ucapnya hati-hati.

Tangisku pecah kembali. Aku memeluk tubuh Rafi yang kini kaku dan dingin. Sementara itu, perawat menutup tubuh mungil itu dengan selimut hingga sebatas dada.

Beberapa menit aku hanya bisa menangis di pangkuan Bude Murni. Tubuhku terasa kehilangan tenaga, suaraku serak memanggil nama Rafi berulang kali.

Kemudian, seorang perawat menghampiri kami dengan raut wajah penuh simpati.

“Ibu, mohon maaf, ada beberapa administrasi yang harus diselesaikan. Kami perlu tanda tangan Ibu atau keluarga terdekat untuk berita acara kematian dan izin pemulasaraan jenazah.”

Tanganku bergetar ketika menerima berkas dan pulpen yang disodorkan. Rasanya seperti mimpi buruk saat menandatangani kertas itu, seakan mengukuhkan kenyataan pahit bahwa anakku benar-benar sudah tiada.

Bude Murni ikut menemaniku, menandatangani juga sebagai saksi keluarga.

Setelah itu, perawat memberi penjelasan dengan lembut.

“Jenazah bisa tetap di kamar ini beberapa saat, agar keluarga bisa bersama almarhum dulu. Setelahnya, tim kami akan memandikan dan menyiapkan pemulasaraan, kecuali ada rencana lain dari keluarga.”

Aku hanya mengangguk, air mataku terus jatuh. Tatapanku tak lepas dari wajah pucat Rafi yang kini tampak damai.

Rafi meninggal dunia dengan membawa bongkahan rindu pada ayahnya yang tak punya hati. Sampai saat ini aku tidak bisa melupakan semua itu. Entah sampai kapan rasa b3nc1 ini akan pergi dari dalam sini.

Hanya satu pintaku, semoga Damar memetik buah dari perbuatannya di dunia ini sebelum mendapatkan hisab di akhirat nanti.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Apa Alasan Kau Pertemuan Kami Lagi?

    Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Karma Itu Nyata

    "Iya, karena punya anak yang sakit-sakitan. Rafi sebentar-sebentar masuk rumah sakit. Aku kasihan dengan Mas Damar waktu itu, Mbak. Mas Damar capek kerja tapi uang hanya habis untuk mengobati anaknya yang punya gangguan imun. Dan di saat itu, Rinjani yang masih mencinta Mas Damar sering memberikan aku banyak uang. Hingga aku khilaf. itulah dosaku, Mbak.” Suara Dina semakin serak dan bergetar.Tapi, sayangnya tidak mampu menggetarkan hatiku sama sekali.“Kamu pikir Rafi mau punya penyakit seperti itu? Hah? Kamu pikir penyakit itu kami yang buat, hah?” Darahku naik ke ubun-ubun, suaraku tak lagi bisa dikendalikan. Aku berdiri dengan telunjuk mengacung ke arah wajahnya.“Dasar manusia pisang! Punya jantung tapi tidak punya hati! Kalau kamu punya otak, seharusnya menyuruh Damar semakin menyayangi anaknya yang sedang sakit bukan suruh menjauhinya. Sepertinya karma yang kamu dapatkan itu belum setimpal dengan perbuatanmu, Dina!”Spontan Dina berlutut, memegangi kakiku dengan wajah yang ba

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Kejahatan Dina

    “Tapi, aku tidak punya waktu untuk mendengar ceritamu!” Aku menjawab dengan tegas setelah bisa menguasai keadaan.“Aku akan menunggu kesiapan Mbak Ratih.” Dina menjawab tanpa keraguan.Ngeyel juga ini orang.“Rasa bersalah ini sebenarnya sudah lama menghantui aku, Mbak. Tapi, tidak tahu harus mencari Mbak Ratih ke mana. Dan aku yakin, keinginan Azka untuk makan di kedai ini kemarin bukan sebuah kebetulan,” ucap Dina dengan suara serak di tengah isak tangisnya.Aku terdiam. Namun, mata ini memandang ke sekeliling, terlihat beberapa pasang mata menatap aneh ke arah kami.Pasti mereka berpikir owner Seblak ECO telah berlaku yang tidak-tidak terhadap orang yang lemah. Pasti, di mata mereka aku seperti orang jahat. Sungguh ironis. Padahal, bukan seperti itu kejadian yang sesungguhnya.Dina menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Penuh permohonan.“Tolong kasih kesempatan aku untuk mengungkap semuanya, Mbak.”Aku menatap matanya lebih dalam. Menelusuri keseriusannya. Dan dia tampak tida

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Rahasia Dina

    Dina tampak menunduk, menatap piring di hadapannya yang mulai dingin. Azka, bocah kecil itu, menoleh bingung ke arah ibunya. Tangannya mengguncang lengan Dina, seakan menyadarkan ibunya. Tapi Dina hanya diam. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya kaku. Seperti seseorang yang sedang merenungi sesuatu. Aku menarik napas panjang, menempelkan dahi pada kaca dingin itu. Membiarkan amarah dan sakit hatiku menekan kuat-kuat di dada.Aku tahu, apa yang kulihat di wajah Dina saat ini bukan sekadar keterkejutan. Ada penyesalan yang dalam.Sepertinya di sini, bukan aku saja yang hidup dengan menggenggam luka. Dina pun sama. Luka itu membuat wajahnya kucel, membuat bahunya merunduk, membuat sorot matanya kosong. Bedanya, aku mampu sekarang sudah bisa berdiri dengan kepala tegak sambil mengangkat dagu, sementara ia masih tampak berjuang dengan keras. Tapi apa artinya penyesalan itu bagiku sekarang? Tidak bisa mengembalikan Rafi. Tidak bisa menghapus malam-malam panjang penuh tangis dan doa yang kulalui

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Aku Tidak Boleh Simpati!

    “Dina?” Tubuhku membeku saat nama itu tereja dari bibir ini.Kenapa dia itu harus muncul di hadapanku lagi? Perempuan yang dengan terang-terangan punya andil dalam kehancuran hatinya Rafi.Sungguh, hatiku masih sakit. Terlebih saat aku menoleh ke arah bocah yang ada di sampingnya. Wajahnya mirip sekali dengan almarhum anakku, Rafi.Allah….Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di saat seperti ini. Kenapa aku harus melihat anak yang wajahnya nyaris mirip dengan Rafi?“Mbak Ratih?” Meski tidak terucap, aku tahu pergerakan bibir Dina yang juga tampak syok dengan kehadiranku di sini.Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk menguasai keadaan. Tidak boleh terlihat hancur di mata Dina.Aku harus profesional. Dia adalah customer yang wajib mendapatkan haknya, dilayaninya dengan baik atau ramah.Dengan langkah pasti, aku kembali melanjutkan langkah, berjalan ke arah meja mereka.“Pesanan meja nomor sepuluh.” Aku tersenyum ramah ke Dina yang terlihat tersenyum canggung.“Mbak, apa

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 14. Kenapa Ada Di Sini?

    Suami saya tidak di rumah, Mbak.” Aku tersenyum canggung. Hanya itu satu-satunya jawaban yang terlintas di dalam kepala ini.Sakinah terlihat membuka bibir, sebelum pertanyaan lain di lemparkan, aku segera membuka suara kembali."Semoga secepatnya suami Mbak Sakina segera menyadari kekeliruannya dan bisa membuka hati sepenuhnya untuk istri, ya, Mbak." Aku mendoakan dengan sepenuh hati."Aamiin. Makasih banyak, ya, Mbak. Dengan Mbak Ratih aku merasa nyaman untuk bercerita. Selama ini aku pendam sendiri. Sembilan tahun lamanya. Di luar, orang melihat kami pasangan yang serasi, punya usaha, hubungan yang tampak harmonis. Mereka tak tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan cadangan meski sebagai istri sah."Aku tidak tahu lagi harus ngomong apa lagi. Pasti berat banget menjadi Sakina. Tidak bisa dibayangkan bagaimana berada di posisinya.Sampai tadi, aku masih berpikir perjalanan rumah tanggaku yang paling berat. Diuji anak yang sakit-sakitan, lalu tinggal minggat saat hamil muda. Tapi,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status