Share

KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG
KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG
Penulis: Farid-ha

Dia kembali

Penulis: Farid-ha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-04 08:13:56

Bab 1

“Assalamualaikum."

Aku yang sedang menyiram tanaman spontan mendongak, menatap pemilik suara tersebut.

Aku mematung, tubuhku membeku ketika melihat siapa yang menyapaku. Detak jantungku berdetak dua kali lipat dari biasanya. Tubuhku terpaku, alat siram tanaman yang ada dalam genggaman jatuh ke tanah tanpa aku sadari. Bibirku kelu untuk sekedar menyapanya.

Ternyata dia pemilik suara bariton itu. Suara yang dulu sangat aku rindukan di awal-awal kepergiannya.

Seharusnya aku senang dia kembali setelah menghilang bertahun-tahun lamanya. Seharusnya aku bahagia laki-laki itu muncul kembali. Tapi, sayangnya rasa bahagia itu tidak ada sama sekali di dalam sini. Berganti dengan rasa b3nci dan amarah yang bergulung-gulung di dalam dada.

“Ratih? Apa kabar?” tanya manusia di hadapanku itu tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia mengulurkan tangannya, tapi aku enggan menyambutnya meskipun masih berstatus suami. Kubiarkan tangan itu mengambang di udara.

Suaranya masih sama, lembut. Tapi, sudah tak mampu menyihirku seperti sepuluh tahun lalu.

Kupindai laki-laki di hadapan itu dengan seksama dari atas hingga bawah. Aku akui kini penampilannya terlihat lebih keren di usianya yang sudah tidak lagi muda tersebut. Menandakan adanya perempuan lain yang sudah berhasil merawatnya. Siapa pun bisa menebak status sosial Damar dari penampilannya.

“Iya, ini aku. Untuk apa kamu datang ke sini?” tanyaku datar. Kedua tangan kusilangkan di depan dada. Tidak berminat memintanya masuk ke dalam rumah.

Dia tidak pantas disuruh masuk ke dalam kediaman kami. Sungguh, aku tidak bisa beramah tamah dengan laki-laki yang dengan sengaja meninggalkan kami sepuluh tahun silam.

“Ak—aku kangen dengan kalian. Kamu dan anak-anak kita, Bu.” Damar menjawab dengan suara terbata.

Sungguh, tidak tahu malu sekali, masih bisa mengucapkan kata rindu padaku. Dia pikir aku masih yang seperti dulu, mudah terkena bujuk rayunya?

Aku menarik salah satu sudut bibir hingga membentuk lengkungan sinis. Detik berikutnya aku mengalihkan pandangan, menatap lurus ke depan.

“Sayangnya, kami tidak merindukan kamu sama sekali. Lebih baik segera pergi dari sini!" tukasku tanpa melihat wajahnya. Jari telunjukku terulur ke arah jalan.

Menatapnya hanya akan mengingatkan luka di masa lalu yang mati-matian kucoba kubur dalam-dalam.

Enak sekali mengaku kangen dengan kami setelah menelantarkan bertahun-tahun lamanya.

Memang, laki-laki itu bapak biologis anak-anak, tapi dia tidak pantas disebut seorang bapak. Mana ada seorang bapak yang dengan sengaja meninggalkan anaknya dalam keadaan sakit dan meninggalkan bayi dalam kandunganku saat itu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, meninggalkan kami di sebuah kontrakan yang telah habis masa kontraknya, tanpa diperpanjang terlebih dahulu. Hingga hidup kami nyaris terlunta-lunta.

Damar masih bergeming di tempatnya. Dari ekor mata, aku dapat menangkap senyumnya yang getir. Entah apa yang Damar rasakan saat ini? Aku juga tidak peduli.

Aku membalikkan badan, hendak meninggalkan laki-laki tersebut. Namun, langkahku surut setelah mendengar suaranya.

“Aku minta maaf, Bu. Maaf karena telah meninggalkan kalian waktu itu. Maaf, telah menyia-nyiakan kalian.Tapi, Mereka tetap anak-anakku, Bu. Kita juga masih suami istri.” Damar masih memiliki keberanian untuk menjawab.

Aku terdiam, dia benar. Kami masih suami istri sekalipun ia sudah meninggalkan kami tanpa kabar dan nafkah. Pernikahan kami masih sah, sebab belum pernah ada kata talak yang keluar dari bibirnya. Dan aku pun belum pernah mengajukan gugatan cerai.

Masalah tidak memberikan nafkah itu adalah bentuk kedzaliman, tapi tidak membatalkan pernikahan.

Aku mengangkat dagu, menatapnya dengan tajam.

"Kalau begitu, ucapan kata talak sekarang juga! Sebab aku tidak ingin meneruskan pernikahan ini. Aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpa kamu. Tidak butuh laki-laki di sisiku," tegasku

Raut kecewa jelas terpatri di wajahnya. Mungkin, dia sudah menaruh ekspektasi yang tinggi, mengira aku masih mau menerimanya kembali setelah mencampakkan hidup kami. Ah, bukan lagi mencampakkan tapi membuang kami dengan terang-terangan. Dan aku tahu alasannya.

“Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Bu. Kedatanganku ke sini justru ingin meminta minta maaf dan memperbaiki semua. Untuk itu aku mencari kalian ke sana ke sini sejak dua bulan lalu dan ingin menebus semua kesalahan di masa lalu.” Damar menunduk. Suaranya terdengar berat. Mungkin seberat beban hidupnya.

“Siapa yang menyuruhmu mencari kami? Kami tidak butuh kamu! kami baik-baik saja dan sangat bahagia tanpa kamu. Jadi, jangan pernah muncul lagi di hadapan kami," tegasku dengan suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi.

Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan yang masih sama, penuh rasa b3 n c!.

“Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku, Bu?”

Damar menatapku penuh permohonan, suaranya pun terdengar sangat memelas. Tapi, sungguh hatiku tidak tersentuh sama sekali.

“Pergi dari sini sekarang juga. Jangan pernah mencari kami lagi. Dan satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan bu. Karena aku bukan ibumu,” tegasku sembari membalikkan badan, hendak kembali melanjutkan pekerjaan.

“Tapi, aku ingin bertemu dengan mereka? Biar bagaimanapun kamu tidak bisa memisahkan kami, Ratih. Ingat, di dalam tubuh mereka mengalir darahku. Aku bapak mereka, kamu tidak bisa menghapuskan kenyataan itu. Rafi pasti sangat bahagia jika melihat kedatanganku.” Damar tidak menyerah.

Aku terdiam. Dia benar, tidak ada yang bisa menghapuskan ikatan darah di antara mereka. Tapi, aku tidak rela jika tiba-tiba ia datang dan mengaku-ngaku di depan Rafa secepat ini.

Aku kembali membalikkan badan, menghadap ke arahnya.

“Sayangnya Rafi sudah tidak berminat untuk bertemu denganmu! Dia sudah tidak menginginkan kamu lagi!"

Ingatanku kembali pada sepuluh tahun silam. Di mana Rafi, anak sulungku pada saat itu merintih memanggil-manggil ayahnya di rumah sakit, tapi laki-laki itu tidak pernah hadir sama sekali meski sedetik pun.

Dia terdiam membeku di tempatnya.

Segera kubawa langkah kaki ini menuju rumah. Tidak ingin lagi berbicara dengannya.

“Izinkan aku bertemu dengan Rafi sekali saja. Aku sangat merindukannya. Anak itu pun pasti sangat rindu dengan ayahnya. Please, izinkan aku menemui Rafi, Tih.” Suara Damar terdengar memohon.

Aku yang hendak masuk ke dalam rumah pun menoleh ke arahnya kembali.

"Kalau kamu mau menemui Rafi, silakan datang ke makamnya!" tegasku.

Damar terlihat syok mendengar jawabanku. Kilatan penyesalan terlihat jelas dari sorot matanya. Tapi, aku tak peduli. Semoga penyesalan itu dibawa seumur hidupnya.

Bersambung

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Apa Alasan Kau Pertemuan Kami Lagi?

    Darah yang tadi terasa mendidih perlahan seperti membeku melihat Azka berdiri kaku. Tangannya mencengkeram karung itu lebih erat, seolah siap pergi kapan saja jika aku memintanya.“Bu, Rafa boleh bantu Azka sebentar aja, ya?” Rafa menatapku dengan mata bulatnya. “Kasihan… dia sendirian.”Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. “Rafa… ayo pulang. Jangan jauh-jauh dari Ibu,” ucapku dengan suara tegas setelah berhasil menguasai keadaan. Namun Rafa tidak langsung menurut.Ia kembali berjongkok, memasukkan botol terakhir ke dalam karung Azka. Gerakannya hati-hati, seperti tidak ingin membuat bocah itu kesulitan membawa beban.Azka hanya menunduk. Tidak bicara. Aku berdiri mematung saat melihat wajah kecilnya yang terlihat kelelahan. Anak sekecil ini harus memungut botol demi sesuap nasi. Ada rasa iba yang menyelusup. Tapi, jika teringat wajah ibunya, amarah itu kembali mencuat.“Bu… jangan marah, ya?” Rafa menatapku. “Rafa cuma kasihan sama Azka,” ucapnya ringan. Aku menghela

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Karma Itu Nyata

    "Iya, karena punya anak yang sakit-sakitan. Rafi sebentar-sebentar masuk rumah sakit. Aku kasihan dengan Mas Damar waktu itu, Mbak. Mas Damar capek kerja tapi uang hanya habis untuk mengobati anaknya yang punya gangguan imun. Dan di saat itu, Rinjani yang masih mencinta Mas Damar sering memberikan aku banyak uang. Hingga aku khilaf. itulah dosaku, Mbak.” Suara Dina semakin serak dan bergetar.Tapi, sayangnya tidak mampu menggetarkan hatiku sama sekali.“Kamu pikir Rafi mau punya penyakit seperti itu? Hah? Kamu pikir penyakit itu kami yang buat, hah?” Darahku naik ke ubun-ubun, suaraku tak lagi bisa dikendalikan. Aku berdiri dengan telunjuk mengacung ke arah wajahnya.“Dasar manusia pisang! Punya jantung tapi tidak punya hati! Kalau kamu punya otak, seharusnya menyuruh Damar semakin menyayangi anaknya yang sedang sakit bukan suruh menjauhinya. Sepertinya karma yang kamu dapatkan itu belum setimpal dengan perbuatanmu, Dina!”Spontan Dina berlutut, memegangi kakiku dengan wajah yang ba

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Kejahatan Dina

    “Tapi, aku tidak punya waktu untuk mendengar ceritamu!” Aku menjawab dengan tegas setelah bisa menguasai keadaan.“Aku akan menunggu kesiapan Mbak Ratih.” Dina menjawab tanpa keraguan.Ngeyel juga ini orang.“Rasa bersalah ini sebenarnya sudah lama menghantui aku, Mbak. Tapi, tidak tahu harus mencari Mbak Ratih ke mana. Dan aku yakin, keinginan Azka untuk makan di kedai ini kemarin bukan sebuah kebetulan,” ucap Dina dengan suara serak di tengah isak tangisnya.Aku terdiam. Namun, mata ini memandang ke sekeliling, terlihat beberapa pasang mata menatap aneh ke arah kami.Pasti mereka berpikir owner Seblak ECO telah berlaku yang tidak-tidak terhadap orang yang lemah. Pasti, di mata mereka aku seperti orang jahat. Sungguh ironis. Padahal, bukan seperti itu kejadian yang sesungguhnya.Dina menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Penuh permohonan.“Tolong kasih kesempatan aku untuk mengungkap semuanya, Mbak.”Aku menatap matanya lebih dalam. Menelusuri keseriusannya. Dan dia tampak tida

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Rahasia Dina

    Dina tampak menunduk, menatap piring di hadapannya yang mulai dingin. Azka, bocah kecil itu, menoleh bingung ke arah ibunya. Tangannya mengguncang lengan Dina, seakan menyadarkan ibunya. Tapi Dina hanya diam. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya kaku. Seperti seseorang yang sedang merenungi sesuatu. Aku menarik napas panjang, menempelkan dahi pada kaca dingin itu. Membiarkan amarah dan sakit hatiku menekan kuat-kuat di dada.Aku tahu, apa yang kulihat di wajah Dina saat ini bukan sekadar keterkejutan. Ada penyesalan yang dalam.Sepertinya di sini, bukan aku saja yang hidup dengan menggenggam luka. Dina pun sama. Luka itu membuat wajahnya kucel, membuat bahunya merunduk, membuat sorot matanya kosong. Bedanya, aku mampu sekarang sudah bisa berdiri dengan kepala tegak sambil mengangkat dagu, sementara ia masih tampak berjuang dengan keras. Tapi apa artinya penyesalan itu bagiku sekarang? Tidak bisa mengembalikan Rafi. Tidak bisa menghapus malam-malam panjang penuh tangis dan doa yang kulalui

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Aku Tidak Boleh Simpati!

    “Dina?” Tubuhku membeku saat nama itu tereja dari bibir ini.Kenapa dia itu harus muncul di hadapanku lagi? Perempuan yang dengan terang-terangan punya andil dalam kehancuran hatinya Rafi.Sungguh, hatiku masih sakit. Terlebih saat aku menoleh ke arah bocah yang ada di sampingnya. Wajahnya mirip sekali dengan almarhum anakku, Rafi.Allah….Kenapa aku harus bertemu dengan mereka di saat seperti ini. Kenapa aku harus melihat anak yang wajahnya nyaris mirip dengan Rafi?“Mbak Ratih?” Meski tidak terucap, aku tahu pergerakan bibir Dina yang juga tampak syok dengan kehadiranku di sini.Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha keras untuk menguasai keadaan. Tidak boleh terlihat hancur di mata Dina.Aku harus profesional. Dia adalah customer yang wajib mendapatkan haknya, dilayaninya dengan baik atau ramah.Dengan langkah pasti, aku kembali melanjutkan langkah, berjalan ke arah meja mereka.“Pesanan meja nomor sepuluh.” Aku tersenyum ramah ke Dina yang terlihat tersenyum canggung.“Mbak, apa

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 14. Kenapa Ada Di Sini?

    Suami saya tidak di rumah, Mbak.” Aku tersenyum canggung. Hanya itu satu-satunya jawaban yang terlintas di dalam kepala ini.Sakinah terlihat membuka bibir, sebelum pertanyaan lain di lemparkan, aku segera membuka suara kembali."Semoga secepatnya suami Mbak Sakina segera menyadari kekeliruannya dan bisa membuka hati sepenuhnya untuk istri, ya, Mbak." Aku mendoakan dengan sepenuh hati."Aamiin. Makasih banyak, ya, Mbak. Dengan Mbak Ratih aku merasa nyaman untuk bercerita. Selama ini aku pendam sendiri. Sembilan tahun lamanya. Di luar, orang melihat kami pasangan yang serasi, punya usaha, hubungan yang tampak harmonis. Mereka tak tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan cadangan meski sebagai istri sah."Aku tidak tahu lagi harus ngomong apa lagi. Pasti berat banget menjadi Sakina. Tidak bisa dibayangkan bagaimana berada di posisinya.Sampai tadi, aku masih berpikir perjalanan rumah tanggaku yang paling berat. Diuji anak yang sakit-sakitan, lalu tinggal minggat saat hamil muda. Tapi,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status