Share

Bab 2

Author: Farid-ha
last update publish date: 2025-01-04 08:15:05

Di balik pintu aku menjatuhkan diri ke lantai. Memeluk lutut sambil menahan isak yang menyesakkan dada. Kedatangannya Damar yang tiba-tiba kembali membuka luka lama.

Kejadian sepuluh tahun silam kembali berputar di kepala tanpa diminta.

Malam itu di tengah gerimis hati ini mulai diliputi cemas. Tak biasanya Mas Damar pulang selarut ini. Bahkan jika ia lembur, selalu memberi kabar terlebih dahulu. Tetapi, hari itu berbeda. Sejak sore, aku tidak bisa menghubungi nomornya. Berkali-kali aku menekan nomornya, tapi hanya ada suara operator yang mengatakan nomor tersebut tidak aktif.

"Di mana kamu, Mas?" Aku mulai memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikiran yang telah dipenuhi berbagai prasangka buruk. Takut-takut terjadi sesuatu dengan Mas Damar.

Mungkinkah Mas Damar kecelakaan di jalan? Atau mungkin suamiku mengalami sesuatu yang buruk di tempat kerja?

"Tidak mungkin. Mas Damar pasti baik-baik saja. Mungkin ponselnya hanya rusak atau baterainya habis,” Aku berusaha menenangkan pikiran.

Tubuhku lelah, baik fisik maupun mental. Sejak pagi, aku sudah disibukkan mengurus rumah, menjaga anak yang sedang sakit, dan melawan rasa mual yang kerap menyerang karena kehamilan trimester pertama. Terlebih Mas Damar yang tidak ada kabar.

"Ayah ... Ayah. Ayah di mana, Bu?" Rintihan Rafi yang memanggil ayahnya dari dalam kamar semakin menyayat hati.

Dengan hati yang cemas, aku menghampiri anak sulungnya yang berbaring lemah di atas kasur.

"Ayah belum pulang, Sayang. Ayah sedang lembur." Terpaksa aku berbohong. Tangan ini sibuk mengelus pucuk Kepala Rafi dengan kepala mendongak, mengerjap berulang-ulang, menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk.

Tubuh Rafi kembali panas, padahal satu jam yang lalu baru diberikan obat. Dia butuh penanganan dokter. Pagi sebelum berangkat kerja Mas Damar berjanji akan membawa Rafi berobat ke dokter spesialis anak. Tapi, janji tinggal janji. Buktinya sampai saat ini ia belum kembali.

Aku tidak boleh menangis di depan Rafi.

"Kapan ayah pulangnya, Bu? Rafi pengen tidur dengan ayah." Rafi menatapku dengan penuh permohonan. Matanya berkaca-kaca.

Segera kupalingan wajah ke arah lain.

Sungguh, aku tak sanggup melihat Rafi begini. Dia begitu merindukan ayahnya. Akhir-akhir ini Mas Damar selalu lembur. Tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar bermain dengan Rafi. Pulang kerja langsung tidur karena kelelahan di tempat kerja. Begitu alasannya.

"Sabar, ya, Sayang. Ayah sebentar lagi pasti pulang. Sekarang tidur sama ibu dulu, ya." Rafi hanya bisa mengangguk pasrah meski terlihat jelas kekecewaan dari wajah polosnya.

Aku mendekapnya dengan erat setelah memasang kompres di atas keningnya.

Tidak butuh waktu lama, Rafi kembali terlelap.

Lekas, aku kembali ke rumah tamu.

Dengan tangan gemetar, aku membuka daftar kontak di ponsel, mencari nomor salah teman kerja Mas Damar. Aku memilih untuk menghubungi Doni.

Setelah beberapa dering, akhirnya panggilan terjawab.

“Halo, Mbak Ratih? Tumben menelpon, ada apa?” Suara Doni terdengar menyapa di ujung telepon.

“Maaf mengganggu, Mas. Saya ingin bertanya, apakah Mas Damar masih di kantor? Dia belum pulang sampai sekarang, dan saya tidak bisa menghubunginya. Nomornya tidak aktif.”

Doni terdiam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Hmm, tadi siang dia pulang lebih awal, Mbak. Sebelum jam pulang malah. Katanya ada urusan pribadi.”

“Pulang lebih awal? Urusan pribadi apa ya, Mas?” Otakku berusaha keras mencerna jawaban Doni.

“Wah … kurang tahu kalau itu, Mbak. Tadinya saya pikir itu urusan keluarga kalian.”

Apa urusan pribadimu yang tidak aku ketahui, Mas? Sejak kapan kamu mulai merahasiakan sesuatu dari aku?

“Baik, terima kasih, Mas Doni.” Aku mengakhiri panggilan dengan tangan yang gemetar.

Aku mencoba menghubungi beberapa teman Mas Damar yang lain, tetapi jawaban yang mereka berikan sama, tidak ada yang tahu di mana suamiku berada. Mereka semua mengatakan hal yang sama, Mas Damar meninggalkan kantor lebih awal karena alasan pribadi.

Waktu terus berlalu. Malam semakin larut dan aku semakin tidak tahu harus berbuat apa. Anak yang sakit, suami yang hilang tanpa kabar, dan diriku yang tengah hamil muda membuat segalanya terasa begitu berat.

Di mana Mas Damar? Apa yang terjadi dengannya?

Di tengah pencarianku, tiba-tiba terdengar suara dari dalam kamar. Gegas aku berlari kembali ke kamar, hatiku mencelos melihat Rafi yang kejang. Suhu tubuhnya semakin panas.

Di tengah kekalutan, aku membopong Rafi yang sudah mulai tenang. Berlari ke rumah tetangga untuk meminta bantuan. Rafi harus segera dilarikan ke rumah sakit.

"Kamu akan baik-baik saja, sayang. Ibu ada di sini," bisikku lembut, meskipun dalam hati ini merasa putus asa.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit aku terus memohon pertolongan kepada Allah. Memohon kesembuhan untuk putra sulungku. Air mata menggenang di pelupuk mata, tetapi aku mencoba menahannya agar tidak menangis. Rafi membutuhkan kekuatan dariku. Kalau aku lemah bagaimana dengan dirinya?

Di mana kamu Mas saat anakmu sakit seperti ini? Hatiku benar-benar hancur ditinggal suami saat anak sakit seperti ini.

Bu RT dan Pak RT mengantarkan kami menuju rumah sakit. Butuh waktu lima belas menit menuju rumah sakit.

Setengah jam kemudian Rafi mendapatkan kamar. Kebetulan ruang rawat anak ada yang kosong. Aku menunggu Rafi di temani Bu RT dan suaminya.

Pagi-pagi sekali mereka pulang. Aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongannya.

Setelah mengantarkan kepergian Bu RT, handphone dalam genggamanku berkedip-kedip, tanda adanya panggilan masuk. Dengan antusias aku menerimanya. Berharap ada kabar baik tentang suamiku.

Tapi, hatiku semakin hancur mendengar keterangan dari Doni belum lagi pesan yang masuk dari pemilik kontrakan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Ending

    Lelaki itu akhirnya membalikkan badan dengan langkah gontai, terseret oleh beban penyesalannya sendiri menuju pintu keluar. Namun, saat tubuhnya menjauh, dari sudut mataku, aku menangkap sosok perempuan yang sejak tadi berdiri bersembunyi di balik pilar pintu masuk. Sakinah. Perempuan itu berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Matanya melekat pada punggung Damar yang kian menjauh dengan tatapan penuh kepuasan. Detik berikutnya, dia menoleh ke arahku, dan seulas senyuman sinis yang tajam terbit di bibir berlipstik merah menyala miliknya. Sakinah tampak begitu puas, mungkin merasa di atas angin karena rencana balas dendamnya berjalan sukses besar. Kedatangan Sakinah untuk memprovokasi Rafa tadi ternyata membuahkan hasil yang dia inginkan, melihat Damar hancur berkeping-keping. Aku menghela napas pendek, lalu melangkah tenang menghampirinya, memotong langkah Sakinah yang hendak berbalik pergi dengan dada membusung. "Puas, Mbak Sakinah?" tanyaku. Suaraku yang d

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 46

    Mendengar nama Damar, Rafa segera berjalan ke arah depan tanpa memedulikan aku yang memanggilnya. Langkah kecil Rafa yang tergesa-gesa seolah menarik paksa seluruh sisa kekuatan yang kupunya. Aku melangkah tepat di belakangnya, mengiringi punggung kecil itu dengan detak jantung yang karang-kabut, tak menentu. Udara sore di dalam Kedai Seblak ECO mendadak terasa begitu menghimpit, menyisakan rasa sesak yang menjalar hingga ke ujung jemari. Aku didera ketakutan luar biasa. Takut jika pertahanan yang kubangun dengan air mata selama sepuluh tahun ini akan luruh dalam hitungan detik. Langkahku berhenti seketika saat melihat Rafa mengunci langkahnya. Dia berhenti tepat beberapa meter di depan meja nomor empat, tempat di mana Damar sudah berdiri menunggu dengan cemas. Mata mereka bertemu sekian detik. Kedai yang masih sepi pengunjung itu seketika terasa riuh di mataku. Sesak dan was-was menggulung perasaanku tanpa ampun. Damar mendongak, lalu buru-buru mengulas senyum lebar yang tamp

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 45

    “Itulah bodohnya kamu, Mbak! Kamu percaya begitu saja dengan ucapanku waktu itu! Padahal saat itu aku sengaja pura-pura bekerja di cafe milikku sendiri untuk mencari waktu agar bisa bertemu dengan kamu.” Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja didengar telinga ini. Jadi cafe itu milik Sakinah? Cafe yang dikelola Adam itu milik Sakinah? “Kenapa, kaget ya mendengar itu?” Sakinah tertawa mengejek. Seolah dia bisa membaca pikiranku. “Aku tidak sesederhana yang kamu pikir. Aku bisa mengelabui kamu dengan sangat mudah. Berpura-pura menjadi karyawan cafe, padahal aku pemilik modal tempat tongkrongan tersebut. Demi apa aku lakukan itu? Demi mendekati kamu!” tegasnya dengan tatapan tajam. Benar-benar perempuan manipulatif! Wanita licik yang suka menghalalkan segala cara. Menjijikkan! “Lalu, tentang cerita rumah tangga, itu aku hanya ngarang cerita agar bisa dapat simpati kamu. Dan itu berhasil!” Sakinah tertawa puas. Aku hanya tersenyum tipis sambil menatap

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 44

    Handphone dalam genggamanku kembali bergetar. Aku yang belum sempat mencerna semua ini hanya bisa menatap layar gawai dengan hati campur aduk. Aku takut itu dari Damar. Tapi ternyata pesan dari Bu Dewi yang akan mengirimkan barang. Setelah membalas pesan Bu Dewi. Detik berikutnya pesan dari Damar kembali masuk. Tidak hanya sekali. Kali ini aku hanya bisa menghembuskan napas panjang sebagai reaksi atas pesannya. Seniat itu Damar mengetik pesan. Panjang dan berkali-kali. Setelah memasukkan handphone aku menoleh ke arah Sakinah. Aku mengernyit saat tangan Sakinah perlahan mengendur dari bahu Rafa. Apa yang terjadi? Kenapa binar di mata anakku padam sepenuhnya? Padahal tadi dia terlihat antusias melihat kedatangan Sakinah. Wajah polos itu mendadak pias, menatapku dengan tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya—perpaduan antara syok, kecewa, dan luka yang teramat dalam. Apa yang dikatakan Sakinah pada anakku? Dengan langkah tergesa aku menghampiri mereka. "Ibu..." S

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 43

    Sakinah kembali tersenyum, kali ini senyumnya terlihat tulus. “Terima kasih banyak, Mbak.” Aku kembali mengangguk. “Aku minum, Mbak.” Dia mengambil gelas di hadapannya. Lalu meneguknya dengan pelan. “Senang sekali bisa menyelesaikan masalah ini dengan Mbak Ratih.” Dia tersenyum ramah. Lalu, tatapannya beralih menatap ke dalam kedai. "Mbak... kalau boleh, sebelum aku pulang, aku punya satu permohonan lagi. Bolehkan aku bertemu dengan Rafa? Aku... aku hanya ingin melihat anak itu secara langsung. Aku membawa sedikit oleh-oleh untuknya."Permintaan itu seketika membuat naluri keibuanku waspada. Jantungku kembali berdesir aneh. Ada bagian dari diriku yang berteriak untuk menolak. Namun, melihat wajah Sakinah yang begitu memelas, aku mencoba meredam prasangka burukku."Rafa sedang main di belakang," jawabku perlahan, menimbang-nimbang keputusan. "Mbak boleh bertemu dengannya. Tapi, kita mengobrol di sini saja, di warung seblak ECO ini. Aku akan panggilkan Rafa.”Sakinah mengangguk c

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 42

    Gerakan tanganku yang sedang mengelap meja kayu warung berhenti seketika. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat ketika mata ini menatap sesosok wanita sedang mengayunkan langkahnya dengan anggun ke arahku. Sepatu berhak tinggi berderap dengan teratur di atas lantai warung. Perempuan cantik dengan pakaian modis. Tampilannya tampak sangat kontras dengan yang aku temui beberapa bulan silam. Sakinah Maulida. Jilbabnya yang rapi, senyumnya yang dulu selalu terasa menenangkan, kini justru membuat dadaku bergemuruh aneh. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang bertalu-talu. Karena aku tahu siapa perempuan itu. Wanita yang dulu bercerita sebagai sosok istri yang tidak dicintai suaminya, perempuan yang tetap memilih mempertahankan rumah tangga meski tidak mendapatkan hati suaminya. Dia adalah orang yang sama yang memintaku segera mengurus perceraianku dengan Damar agar rumah tangganya lebih bahagia. Dan kini ia muncul di hadapanku dengan seulas senyum ya

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Dia kembali

    Bab 1 “Assalamualaikum." Aku yang sedang menyiram tanaman spontan mendongak, menatap pemilik suara tersebut. Aku mematung, tubuhku membeku ketika melihat siapa yang menyapaku. Detak jantungku berdetak dua kali lipat dari biasanya. Tubuhku terpaku, alat siram tanaman yang ada dalam genggaman

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 7. Ayah Masih Hidup?

    “Berarti ayah Rafa masih hidup, Bu?” Aku tergagap mendengar pertanyaan Rafa yang kian tajam. Pertanyaan yang seharusnya sederhana itu terasa seperti pisau dingin yang menembus d4 daku tanpa ampun. Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menjaga napas agar tidak bergetar. Tanganku refleks

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 6 Jauhi Dia!

    “Ibu hanya takut Rafa diantar pulang oleh orang yang tidak dikenal.” Aku melepaskan pelukan pelan-pelan, mengusap punggungnya seolah menyingkirkan sisa degup yang masih mengguncang dadaku. “Tapi, Om itu nggak jahat kok, Bu. Baik. Malah nganterin Rafa sampai depan rumah.” Jawaban polos itu menamp

  • KEMBALINYA SUAMI YANG HILANG    Bab 5

    Bab 5 “Nduk, bukankah itu Damar?” Jari telunjuk Bude Murni mengarah tepat ke arah teras rumah milik orang tuanya Damar. Dadaku bergemuruh hebat saat melihat laki-laki yang masih sah bergelar suamiku itu bercengkrama dengan keluarganya. Mereka tampak tertawa lepas. Di rumah mati-matian aku mengkhaw

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status