MasukTirai tenda komando tersingkap lebar saat Yohan melangkah keluar dengan jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin malam. Suara musik kecapi dan gelak tawa dari atas tembok benteng Kota Perbatasan Lembah Merah kini telah berganti menjadi dengkuran keras para penjaga yang mabuk kepayang. "Waktu bermain sudah habis," ucap Yohan dingin sambil melirik ke arah Bima, Anya, dan Rin yang sudah mengenakan pakaian serba hitam. "Bungkam penjaga menara dan buka palang gerbang utama dari dalam tanpa membunyikan lonceng peringatan." "Serahkan pada kami, Suamiku! Menebas leher pemabuk tidak akan butuh waktu lebih dari tiga tarikan napas!" sahut Anya dan Rin serempak sambil menyeringai lincah. "Saya akan pastikan gerbang itu terbuka lebar sebelum obor mereka padam, Tuan Muda!" tambah Bima tegas seraya menghunus golok panjangnya. Wusss! Tiga bayangan hitam itu langsung melesat menembus kegelapan hutan, menyelinap masuk lewat celah gerbang samping yang tidak terkunci lalu naik ke menara utama sec
Setelah bergerak cepat menembus malam, ribuan prajurit pemberontak Bintang Jatuh akhirnya berkemah tanpa suara di balik hutan pinus dekat benteng Kota Perbatasan Lembah Merah. Di balik semak depan, Bima bersama Jenderal Danu dan Sesepuh Kuang mengintip ke arah tembok kota yang terang benderang oleh obor pesta. "Jenderal Danu, apa mata saya yang rabun atau telinga saya yang salah dengar?" bisik Bima bingung sambil menggaruk bekas luka di pipinya. "Kenapa dari dalam benteng Gubernur Karnos malah terdengar musik kecapi dan tawa wanita penghibur sekeras itu?" "Kau tidak salah dengar, Bima. Para penjaga di atas menara panah itu bahkan sedang mabuk-mabukan sambil berjoget!" sahut Sesepuh Kuang menahan tawa di balik janggutnya. "Seumur hidupku memimpin perang, baru kali ini kulihat benteng musuh menyambut penyerbu dengan pesta pora," gumam Jenderal Danu geleng-geleng kepala. "Taktik obat Tuan Muda Yohan dan Nyonya Mei benar-benar di luar nalar!" Beberapa langkah di belakang barisan temp
Cahaya keemasan di dalam kamar utama perlahan meredup saat Lian, Nyonya Mei, Rin, dan Anya membuka mata mereka dengan tubuh segar bugar. "Luar biasa... urat nadiku rasanya berkali-kali lipat lebih lapang dan padat dari kemarin!" seru Anya takjub sambil mengepalkan tangannya di atas kasur. "Kak Yohan benar-benar menyulap kita semua jadi pendekar Inti Emas hanya dalam semalam!" "Kalau begitu jangan malas-malasan lagi di kasur, Gadis Nakal," tegur Lian sambil tersenyum cerah, merapikan pakaian barunya dan menghampiri Yohan di balkon. "Yohan sudah memberi modal kekuatan sebesar ini, sekarang giliran kita menjalankan rencana semalam." "Benar. Tungku peracikan obat di halaman samping sudah kupanaskan," sahut Nyonya Mei seraya mengedipkan mata menggoda ke arah Yohan. "Cepat teteskan sedikit hawa panasmu ke dalam air embun kristal ini, Yohan. Biar kubuat para bangsawan di luar sana mengemis di depan gerbang kita." Yohan berbalik dan meneteskan esensi api tipis bersegel tersembunyi ke dala
Tubuh mulus nan harum milik Anya dan Rin mendarat bersamaan menindih dada serta pangkuan Yohan yang baru saja melepaskan penyatuannya dengan Nyonya Mei. "Sekarang giliran kami berdua, Kak Yohan! Jangan pura-pura lemas setelah memuaskan Kakak Lian dan Bibi Mei ya!" seru Rin manja sambil menangkup kedua pipi Yohan, lalu langsung melumat bibir suaminya dengan rakus. "Hei, Rin licik! Kenapa kau mencuri ciuman pertamanya sendirian?!" protes Anya tidak terima sambil menarik bahu wanita itu. Di sisi kiri dan kanan ranjang, Lian serta Nyonya Mei yang masih terkulai terengah-engah dengan paha bergetar hanya bisa tersenyum sayu melihat tingkah berisik kedua gadis muda tersebut. "Habislah kita, Lian... tenaga Jiwa Baru suami kita ini benar-benar seperti sumur tanpa dasar," bisik Nyonya Mei sambil mengelus perutnya yang terasa hangat penuh energi. "Lihat saja, habis menyemburkan isinya berkali-kali ke rahim kita, pusakanya malah makin tegang saat dijepit paha Anya." "Biarkan saja dua gadis n
Brak! Pintu kamar utama Paviliun Nirwana terbuka lebar saat kaki Yohan menendangnya masuk, lalu membaringkan tubuh basah Lian dan Nyonya Mei ke atas ranjang sutra berukuran besar. Suhu hangat dari pori-pori tubuhnya yang telah mencapai Tahap Jiwa Baru langsung menguapkan sisa air kolam di kulit mulus kedua wanita itu dalam sekejap. "Wah, Kak Yohan benar-benar tidak sabaran! Handuk kami saja belum sempat dipakai sudah langsung dilempar ke lantai!" seru Anya sambil melompat naik ke sudut kasur bersama Rin. "Diam dan tonton dulu dari pinggir, Anya," sahut Nyonya Mei sambil tersenyum menggoda, merangkak memberi ruang di tengah kasur. "Tadi istri pertama kita sudah menantang ingin ditanami lebih dulu, jadi biarkan Lian membuktikan ucapannya." Wajah cantik Lian bersemu merah padam, namun tatapan matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke arah Yohan tanpa sedikit pun niat mundur. Merentangkan kedua lengannya yang ramping, Lian menyambut tubuh kekar suaminya yang merangkak naik menindih
Embusan napas hangat Nyonya Mei di daun telinga Yohan langsung membangkitkan getaran panas dari dalam pusaran dantiannya. Menghadapi ribuan prajurit Kekaisaran Pusat saja tidak membuat detak jantungnya berubah, namun dikepung empat istri yang sedang menuntut jatah secara bersamaan jelas ujian yang berbeda. "Kalian berempat yakin sanggup menghukumku setelah aku menembus ranah Jiwa Baru?" goda Yohan santai sambil menyandarkan sikunya di tepi batu pualam. "Jangan sampai baru setengah jalan, kalian semua sudah merengek minta ampun seperti ratu di dimensi sebelah." "Hmph! Jangan remehkan ketahanan tubuh kami ya, Kak Yohan!" sahut Anya sambil memeluk lengan kanan suaminya erat-erat. "Bibi Mei, ayo tunjukkan pada suami kita yang sombong ini kalau pelayanan istri di rumah jauh lebih nikmat!" "Benar, Bibi Mei! Jangan biarkan Kak Yohan bisa bernapas lega malam ini!" kompor Rin kegirangan sambil menempelkan pipinya ke bahu kiri Yohan. Nyonya Mei terkekeh pelan. Wanita matang itu bergeser da







