ホーム / Urban / KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR / BAB 1. KERIS SAKTI WASIAT KAKEK

共有

KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR
KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR
作者: Mona Cim

BAB 1. KERIS SAKTI WASIAT KAKEK

作者: Mona Cim
last update 公開日: 2026-07-07 21:24:38

Semenjak ibunya diculik lima belas tahun yang lalu, Darka hidup sebagai pria berkaki cacat bersama dengan kakeknya yang tua renta. Kakinya terluka karena insiden penculikan itu, hingga membuatnya lumpuh permanen. Sebab cacat itu, banyak orang-orang yang meremehkan dan menghinanya di sekolah dulu dan bahkan sekarang sulit mendapatkan pekerjaan.

"Gara-gara kaki cacat ini aku sangat sulit menemukan pekerjaan," keluh Darka yang berjalan dengan bantuan tongkatnya, keluar dari sebuah perusahaan setelah interview.

Darka membuka ponselnya, lalu mencoret nama perusahaan ke sembilan yang sudah menolaknya. 

"Jika terus seperti ini, apa aku akan menjadi pria cacat yang pengangguran? Aiishh ... mengapa dunia ini tak adil untuk orang sepertiku!" 

Ponselnya tiba-tiba berdering. Darka langsung membaca pesan yang dikirimkan oleh temannya. Isi pesan itu membuat Darka mempercepat langkahnya yang tertatih untuk menuju ke pinggir jalan.

"Taksi! Taksi!" serunya pada taksi yang hampir melewatinya. Beruntung taksi itu sedang kosong. Darka masuk ke dalamnya.

Rasa cemas itu membuat Darka menahan tangisannya selama dua puluh menit perjalanan. Hingga ketika ia sudah sampai di depan rumahnya yang sederhana di sudut kota, Darka langsung keluar taksi usai membakar ongkosnya.

"Kakek!" serunya membuka pagar rumah yang terbuat dari kayu itu.

Seorang pemuda dengan rambut cepak yang sedari tadi berdiri di depan rumah, langsung mendekati Darka dengan raut wajah yang sendu. 

"Darka, kau harus segera menemui Kakekmu. Dia mencarimu," ujar pemuda itu sambil mengusap pundak Darka. 

Darka tak menyahut, ia langsung masuk ke dalam rumahnya untuk menuju kamar kakeknya. Tampak sang kakek terbaring lemah di kasur tipisnya. Darka langsung meringsut mendekat dengan raut wajah khawatir.

"Kek, apa yang terjadi?"

Kakek mengangkat tangan gemetarnya untuk meraih tangan Darka, lalu menggenggamnya. "Darka, kau sudah dewasa. Sudah lima belas tahun sejak ibumu menghilang, aku merawatmu seperti anakku sendiri."

"Kakek, apa yang Kakek katakan? Memangnya kenapa jika aku sudah dewasa? Aku masih membutuhkan Kakek sampai kapanpun!"

"Darka, dengar ... ini mungkin akan membawa hidupmu dalam masalah. Tapi setidaknya kau tak diam saja di sisa hidupmu ketika tak tahu pasti ibumu masih hidup atau sudah mati. Pergilah ke desa tempat kakek dulu tinggal. Kau masuk ke ruang bawah tanah dan bongkar lantainya. Kau akan menemukan sebuah peti yang di dalamnya ada sebuah keris sakti. Dengan mengambil keris itu, kaulah pemiliknya beserta kekuatan yang tersimpan di dalamnya. Gunakan keris itu untuk menemukan ibumu dan taklukkan dunia dengan itu," lontar sang kakek di sisa tenaganya yang kian menipis.

"M-maksud Kakek ... aku bisa mendapatkan kekuatan sakti dari keris itu? Lalu, mengapa keris itu bisa membuat hidupku dalam masalah?" tanya Darka bingung.

Terlambat. Sang kakek telah mengembuskan napas terakhirnya sebelum menjawab pertanyaan Darka. 

"K-Kakek! Kakek bangun, Kek! Kakek jangan tinggalkan aku, Kek! KAKEEEEKK!" Darka menangis keras hingga suaranya terdengar oleh pemuda yang duduk di teras rumah Darka. Pemuda itu satu-satunya sahabat Darka yang rumahnya ada di ujung perumahan itu. Namanya Bima.

Tak lama setelah tangisan dari dalam rumah mereda, Bima dikejutkan dengan pintu rumah yang terbuka. Menampilkan sosok Darka yang benar-benar kacau karena tangisan duka. Darka duduk di samping Bima dengan tatapan kosong ke depan.

"Apa Kakek ...."

"Bima, kau sangat mempercayai kakekku, bukan?"

"Tentu saja!" sahut Bima antusias.

"Dia telah meninggal."

"Aku akan masuk--" Lengan Bima langsung ditahan oleh Darka.

"Biarkan kakekku beristirahat dengan tenang," ujar Darka. Darka membuka genggaman tangannya yang ada secarik kertas di dalamnya. "Ini adalah alamat rumah yang ada di atas meja kakekku. Aku diberikan tugas olehnya untuk mendatangi rumah ini. Katanya ... ada sebuah keris sakti yang tersimpan di sana."

"Keris sakti?" tanya Bima memastikan.

Darka menoleh pada Bima dan mengangguk. "Kau hidup sebatang kara, bukan? Mau ikut denganku?"

"Ikut denganmu?" tanya Bima memastikan. 

"Kata kakek dengan keris sakti itu aku bisa membalaskan dendamku pada orang yang menculik ibu lima belas tahun yang lalu. Jika hal itu benar adanya, aku akan memanfaatkan itu untuk mencari kebenaran tentang ibuku. Aku sangat yakin ibuku masih hidup. Walau entah di mana keberadaannya," ungkap Darka.

Bima langsung mengangguk cepat. "Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Ibumu sangat berjaga dalam hidupku ketika aku kecil, Darka. Aku akan membalasnya dengan menjadi pengikut setiamu."

Hari itu menjadi hari paling bertekad bagi Darka untuk mencari keberadaan ibunya. Besok harinya setelah pemakaman kakeknya,  Darka dan Bima berangkat menuju desa Sembilan untuk mengunjungi rumah sang kakek yang sudah tak dihuni selama lima belas tahun lamanya.

*** 

"Apa benar ini rumahnya? Wah ... rumah kakekmu cukup besar walau tampilannya sangat sederhana," decak Bima yang terpana melihat rumah lama kakek Darka.

Darka mengangguk sambil mengamati rumah itu. "Kupikir inilah rumahnya. Sekilas aku masih mengingatnya. Dulu ketika kecil, aku cukup sering berkunjung ke sini bersama dengan ibuku."

"Jadi rumah ini sudah tak dihuni selama lima belas tahun? Ini luar biasa," ujar Bima kembali mengungkapkan kekagumannya. Namun, tiba-tiba dahinya mengerut ketika merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya. "Darka, sepertinya alam sedang memanggilku. Aku akan segera kembali!" Bima langsung melarikan diri dari sana.

Darka tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya. Lalu ia berjalan menuju rumah itu dan membukanya. Tak terkunci. Begitu Darka masuk, rambutnya terkena sarang laba-laba. Ia mengeluh sambil membersihkan rambutnya.

"Di mana letak ruangan bawah tanah itu?" gumamnya menelisik sekitar.

Darka menemukan ruangan bawah tanah itu di dalam kamar kakeknya. Letaknya ada di sudut ruangan kamar tersebut. Darka menggeser pintu yang menempel pada lantai tersebut, lalu menuruni tangga menuju ke bawah.

Ruangan itu diterangi oleh cahaya dari ventilasi udara yang ada di sudut atas ruangan, hingga Darka mampu melihat ada ukiran keris kecil di lantai. Darka pun mengamatinya dengan saksama hingga menyadari sesuatu.

"Ini dia!" Darka langsung beranjak mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka lantai kayu itu. Di surut ruangan, Darka melihat sebuah cangkul. Darka pun mengambil cangkul tersebut.

"Jika keris itu benar-benar ada, aku akan mengambilnya apapun resikonya. Asal aku dapat mencari keberadaan ibuku!" ujarnya bertekad.

Lantai kayu itu terbuka setelah ditarik berkali-kali dengan menggunakan cangkul. Darka langsung menggali tanah yang ada di bawahnya, hingga ia menemukan sebuah peti hitam di dalamnya. Dengan susah payah, Darka mengeluarkan peti itu dari dalam sana.

"Arrrggghh!" erang Darka sambil menarik peti tersebut.

Peluhnya membanjiir wajahnya. Darka tersenyum lega melihat peti itu sudah ada di atas lantai.

"Baiklah, aku akan membukanya sekarang," ucapnya dengan semangat seraya berdiri.

Darka memukulkan besi cangkul itu pada gembok yang mengunci peti. Hingga beberapa kali percobaan, gembok itu pun terlepas dari peti tersebut. Buru-buru Darka duduk untuk membukanya. Setiap detik proses pembukaan peti tersebut, segel-segel yang melindungi peti itu terbuka. Tanpa diketahui oleh Darka, musuh-musuh mulai menangkap sinyal sang keris sakti yang telah aktif kembali.

"W-Waah ... keris ini sungguh ada?" Darka berdecak kagum melihat sebuah keris di dalam peti kecil itu.

 Tangannya yang gemetar pun mulai bergerak untuk mengambilnya. Ketika keris tersebut dalam genggaman Darka, seketika cahaya biru yang menyilaukan memancar dari seluruh keris. Kekuatan itu langsung menjalar ke tubuh Darka hingga pemuda itu jatuh pingsan.

Kekuatan telah tersalurkan pada pemiliknya. Lantas, apa yang terjadi selanjutnya?

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 62. KENYATAAN PAHIT

    Liburan sehari semalam itu membuat hibungan Darka dan Jenika menjadi semakin dekat. Mereka bukan lagi pasangan palsu, tetapi pasangan yang nyata. Mereka berangkat dengan cinta yang masih setengah dan kembali dengan cinta yang utuh. Rasanya mereka tak rela liburan mereka berakhir begitu saja."Apakah kau bersedia jika liburan bersamaku lagi?" tanya Darka."Tentu saja. Mengapa tidak? Tapi untuk liburan selanjutnya ... pastikan liburan untuk berbulan madu," sahut Jenika menahan malunya mengatakan hal itu.Darka tertawa geli mendengarnya. "Kau tak sabar aku nikahi rupanya. Eumm ... baiklah. Di liburan berikutnya mari pergi setelah kita menikah dan ingin berbulan madu.""Aku pegang janjimu," sahut Jenika."Peganglah yang erat, Sayang. Aku tak akan ingkar janji," sahut Darka mengedipkan matanya.Tawa mereka pecah. Sampai tak terasa ternyata mereka sudah sampai di depan kediaman Jenika. Mobil itu memasuki halaman rumah. Tak ada satupun mobil di sana."Sepertinya orang tuamu belum pulang, ya?

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 61. SURAT MISTERIUS UNTUK TUAN MARSON

    Tuan Marson tengah sibuk dengan berkas-berkasnya. Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Tuan Marson menyuruhnya masuk. Tampak salah satu orang kepercayaannya membawa sebuah kotak tipis berwarna hitam."Maaf mengganggu, Tuan Marson. Ada titipan barang dari seorang pria yang baru saja datang. Aku telah memeriksa isinya. Isinya tidak ada yang berbahaya," ucap pria itu."Baiklah. Kau boleh tunggu di luar," ucap Tuan Marson."Baik, Tuan," sahutnya seraya berjalan menuju ke arah luar.Tuan Marson membuka kotak hitam tersebut. Di dalamnya ada sebuah surat dan beberapa foto. Tuan Marson memilih membuka surat itu terlebih dahulu sebelum membuka foto-foto yang ada di bawah surat tersebut.Untuk Tuan Marson Yang TerhormatApa kau berbahagia karena putrimu akan menikah dengan pria bernama Darka? Apa kau tahu siapa Darka sebenarnya? Jika tidak, akan aku beritahu Anda sekarang juga. Darka adalah orang yang telah membunuh Tuan Hong beserta semua anak buahnya di hari yang sama. Wanita y

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 60. JANJI CINTA DI PULAU SEBERANG

    "Darka, bawalah ini," ucap Karisa datang dari dapur membawa tas bekal untuk ia berikan pada putranya yang ingin pergi berlibur dengan tunangannya. "Ibu membuatkan kalian bekal.""Terima kasih, Bu," sahut Darka menerima tas itu. "Aku mungkin akan pulang besok karena harus menginap di sana untuk melihat sunset. Ibu jangan keluar rumah, ya. Jika menginginkan sesuatu katakan saja pada Bima. Dia akan melakukannya untuk Ibu."Karisa mengangguk walau disertai helaan napas yang terdengar bosan. Darka memeluk ibunya dengan lembut. "Sebentar lagi Ibu tak akan aku kekang seperti ini. Di tempat yang aman nanti, Ibu bisa pergi keluar sendiri tanpa aku batasi seperti ini. Selama di tempat yang berbahaya ini aku tak akan membiarkan Ibu keluar rumah dengan bebas.""Kapan Ibu akan pindah?" tanya Karisa."Mungkin tiga hari lagi, Bu. Aku sudah menemukan tempat yang bagus dan nyaman untuk Ibu. Di sebuah pedesaan yang asri dan ramai penduduk. Aku yakin Ibu akan betah di sana. Jika di sini sudah aman, aku

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 59. MENDAPATKAN BAHAN UNTUK ADU DOMBA

    Darka keluar dari ruangannya. Tak sengaja ia melihat ke arah lift, Jenika baru saja keluar dari sana dengan langkah yang lesu. Darka langsung masuk ke dalam lagi dan bersembunyi di balik pintu. Begitu Jenika masuk, niat jahilnya pun terlaksana."WOAH" teriak Darka mengagetkan Jenika yang bahkan tak terkejut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jenika yang baru tersadar dari lamunannya.Darka langsung menurunkan kedua tangannya yang tadi berpose seperti harimau hendak menerkam mangsanya. "Kau tak terkejut?""Kau tadi mengejutkanku?""Wah ... ada apa denganmu hari ini? Kau juga tampak lesu. Ceritakan padaku," tanya Darka seraya mengikuti Jenika yang berjalan ke arah mejanya."Tidak ada. Aku hanya bosan saja," sahutnya seraya duduk di kursi kerjanya.Darka menarik kursinya agar bisa duduk di samping wanita itu. Jenika sama sekali tak protes. Tangan lentiknya mulai menyalakan komputer."Jika aku sedang memiliki pikiran yang runyam, jangan paksakan untuk bekerja. Nanti kau menangis," ucap Darka

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 58. FAKTA DARI AYAH JENIKA

    Jenika mendatangi ayahnya di ruang kerja. Ia membawa secangkir kopi dan kue bolu yang ia beli dari toko kue sore tadi. Senyumannya dibalas hangat oleh sang ayah. Tuan Manson langsung melepaskan tangannya dari komputer."Wah ... putri Ayah yang cantik membawakan kopi dan kue untuk Ayahnya?" Jenika tersenyum. "Aku membeli kue bolu di toko kue milik temanku yang baru buka hari ini. Jadi aku ingin Ayah mencicipinya juga. Ibu juga sudah mencobanya dan rasanya enak katanya.""Baiklah, Sayang. Ayah akan mencobanya," sahut Tuan Manson seraya mengambil sepotong kue holu pandan itu. "Ummmm! Ini enak sekali. Temanmu sangat berbakat membuat kue rupanya. Kita bisa memesannya nanti. Ayah menyukainya," puji Manson sebelum menyesap kopi buatan putrinya."Syukurlah kalau Ayah suka," sahut Jenika merasa lega. Ia kemudian memperhatikan ruangan itu dengan tatapan lembut dan berjalan menuju ke dinding kaca yang memberikan pemandangan indah di komplek elit itu. Apalagi langit malam tengah ditaburi oleh bi

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 57. RENCANA MEMINDAHKAN IBU

    Darka pulang ke rumahnya. Ia melihat bagian menghitam dari rumahnya. Melihat hal itu membuat Darka menahan rasa geramnya. Berarti seseorang yang melakukan ini ingin membalaskan dendamnya pada Darka dengan cara menghabisi ibunya."Jika ibuku berada di sini terus ada kemungkinan aku akan kecolongan. Ibu dalam mara bahaya selalu. Aku harus memindahkan ibu ke tempat yang lebih aman. Jika di sini, Ibu akan menjadi incaran para musuhku," gumam Darka.Darka masuk ke dalam rumahnya. Ia menemui ibunya di ruang tengah. Ibunya terlihat kaget melihat kedatangan Darka. Lekas ia lepas kain yang sedang ia rajut."Darka, kau pulang lebih awal?""Ya. Ingin mengambil sesuatu yang tertinggal. Tapi apa yang terjadi dengan bagian samping rumah, Bu?"Karisa terlihat gugup dan tak bisa menjawab. "Itu ... itu karena--""Ibu tak seharusnya menyembunyikan sesuatu atau berbohong padaku. Mengapa ibu hanya mengabari Bima tapi tidak mengabariku, Bu? Apa aku tidak bisa Ibu andalkan?" tanya Darka."Tidak. Bukan begi

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status