LOGIN"Darka, kau baik-baik saja?"
Pemandangan yang pertama kali Darka lihat saat bangun dari pingsannya adalah wajah temannya, Bima. Darka menatap sekelilingnya untuk memastikan di mana ia berada sekarang. Ternyata dirinya ada di dalam sebuah kamar.
"Kau pingsan di ruang bawah tanah. Untung aku mendengar suara ponselmu yang aku hubungi," ujar Bima menjelaskan. Ia menatap Darka dengan tatapan penuh rasa penasaran. "Apa yang terjadi? Mengapa kau pingsan setelah membongkar lantai bawah tanah rumah ini?"
Ah, Darka baru ingat tentang hal itu. Ia ingat bagaimana tubuhnya bagai tersengat listrik ketika menyentuh keris sakti itu. Lantas, Darka langsung bangkit menjadi duduk.
"Di mana keris itu?" tanyanya pada Bima dengan raut wajah agak panik.
Bima mengeryitkan keningnya bingung. "Keris apa?"tanyanya heran. Lalu matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang menggantung di leher sahabatnya. "Oh, kalung keris? Itu masuk menggantung di lehermu."
Darka menoleh pada dadanya. Ternyata keris sakti itu berubah menjadi kecil dan menjadi liontin kalung yang ia kenakan. Bagaimana pun ia memikirkannya, ini terasa begitu mustahil.
"Oh, iya. Kau mendapatkan apa yang kau cari di sini?" tanya Bima.
Darka mengangguk sambil menunjukkan keris kecil yang menggantung di lehernya. "Inilah yang aku cari di sini, Bima. Awalnya ini keris berukuran normal, tapi entah mengapa saat aku bangun, bentuknya sudah seperti ini. Tapi tadi, keris ini menunjukkan reaksi yang tak biasa. Aku merasakan tubuhku bagai tersengat listrik hingga aku pingsan saat menyentuhnya."
"Benarkah? Tapi kau tampak sehat sekarang," kata Bima. Matanya segera membulat ketika terpikir sesuatu. "Apa itu artinya kekuatan dari keris itu berpindah ke tubuhmu? Darka, berdirilah! Tunjukkan kekuatan itu!" pinta Bima dengan antusias.
Darka meraih tongkat di samping tubuhnya, lalu mencoba berdiri dengan bantuan itu. Namun, ketika ia berdiri, ia merasakan sesuatu yang aneh. Darka mencoba menginjakkan kakinya yang cacat ke lantai, lalu menekannya. Tak ada rasa sakit.
"Apa yang terjadi, Darka?" tanya Bima penasaran.
Darka tersenyum lebar sambil melepaskan tongkatnya. Ia berjalan dengan gagah di hadapan Bima yang melongo lebar melihat sahabatnya yang pincang, kini benar-benar berjalan tanpa tongkat seperti orang normal.
"Lihatlah, Bima! Aku bisa berjalan tanpa tongkat lagi. Rasanya sangat nyaman tanpa ada rasa sakit sedikit pun!" cetus Darka saking senangnya.
"Benarkah? Wah, temanku bisa berjalan! Temanku normal kembali. Selamat Darka!" Bima kegirangan memeluk sahabatnya. Ia lalu menatap Darka dengan penuh rasa bangga. "Berarti apa yang aku katakan benar. Kekuatan keris sakti itu telah berpindah padamu. Sekarang, kau harus menunjukkan kekuatan itu."
Darka mengangguk paham. Ia mengarahkan tangannya pada tongkatnya. Seketika tongkat itu melayang diudara, mengundang kehebohan Bima yang sangat takjub dengan kekuatan itu. Saat Darka mengepalkan tangannya, tongkat itu pun patah.
"WAAAAA! DARKA HERO!" seru Bima bertepuk tangan.
"Ini luar biasa, Bima. Aku nyaris tak percaya ini," ucap Darka menatap kedua tangannya dengan perasaan bangga.
"Setelah ini, kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Cari tahu tentang ibumu dan lawan penjahat yang menculiknya," kata Bima.
Darka tiba-tiba terpikir sesuatu. "Tapi apa yang dimaksud kakekku bahwa hidupku dalam masalah setelah mendapatkan keris ini?"
"Apa mungkin keris ini ada sejarahnya?" tebak Bima.
"Sayangnya kakekku telah meninggal hingga aku tak bisa bertanya tentang keris ini," kata Darka.
Bima menepuk pelan pundak Darka. "Bersabarlah. Aku yakin kita akan mendapatkan petunjuk. Keris ini sampai di tanganmu, berarti sudah ditakdirkan untukmu. Aku pernah dengar, jika pusaka sakti itu tak akan sembarangan dimiliki oleh seseorang. Hanya pada pemiliknya, ia akan menjadi jinak. Berarti kau memang ditakdirkan untuk memilikinya, Darka. Kau keturunan dari kakekmu yang mempunyai takdir mewarisi keris ini."
Darka mengangguk setuju. "Kau benar. Ya sudah, bagaimana jika kita mencari tempat makan? Aku belum makan sejak pagi. Kebetulan ada sedikit uang di saku jaketku ini."
"Inilah yang aku tunggu, Kawan!" ucap Bima dengan semangat merangkul Darka keluar dari rumah itu.
Saat keluar dari rumah itu, ada seorang kakek tua dengan rambut serba memutih berdiri di depan rumah tersebut. Darka dan Bima sempat berpandangan bingung, hingga akhirnya Darka mendekati kakek itu.
"Permisi, Kek. Apa Kakek punya keperluan dengan kami hingga mendatangi tempat ini?" tanya Darka dengan sopan.
Kedua mata kakek yang hanya bisa terbuka sedikit itu menangkap keberadaan kalung keris di leher Darka. Kakek itu lalu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan, aku Daha, sahabat kakekmu sejak usia muda," ucap kakek tua itu.
Darka terkejut mendengarnya. "Oh, Anda teman kakekku?" Lantas ia langsung menyambut tangan kakek itu dengan antusias. "Aku cucunya—"
Bima menoleh dengan tatapan heran pada Darka yang tiba-tiba membeku ketika menjabat tangan pria tua itu. Berulangkali Bima melihat antara Darka dan kakek tua itu dengan tatapan penasaran, hingga akhirnya Bima melepaskan tangan Darka dan kakek tua tersebut.
"Apa yang terjadi Darka? Kau tidak apa?" tanya Bima.
Sementara Darka menatap tak percaya pada kakek tua yang kini tersenyum di hadapannya. Ternyata, saat Darka menyentuh tangan kakek tua itu, Darka bisa melihat dengan mata batinnya apa yang terjadi pada kakek tua itu di masa lalu.
"Sebenarnya ... keris ini milik siapa, Kek? Mengapa banyak orang-orang yang merebutnya dari kakekku?" tanya Darka.
Kakek Daha tertawa kecil. "Apa yang kau lihat tadi?"
"Aku melihat kakekku dan kakek Daha melawan para penjahat yang mencoba merebut keris ini. Ketika keris itu di tangan orang lain, keris itu akan kembali dengan sendirinya ke tangan kakekku. Aku hanya sempat melihat itu," tutur Darka menjelaskan. Membuat Bima yang mendengarnya juga terkejut.
Kakek tua itu pun menatap ke arah lain sambil menerawang. "Keris sakti itu peninggalan dari pendekar legendaris pada masanya. Keris itu sangatlah hebat hingga hanya akan diturunkan ke orang-orang pilihan sang pendekar. Kabar tentang keris itu bisa membaca takdir, membuat orang-orang dari berbagai kalangan ingin mewarisinya juga. Oleh sebab itu, banyak orang-orang sana rela menembus dimensi dan masa hanya untuk memiliki keris itu."
Sekarang Darka paham apa yang dikatakan oleh kakeknya. Hidupnya akan dalam masalah ketika menjadi pemilik keris sakti yang diperebutkan banyak orang pada masanya ini. Itu berarti Darka juga harus siap melawan mereka untuk melindungi keris sakti ini.
"Kakekku mengatakan bahwa aku bisa menemukan informasi tentang ibuku dan membalaskan dendamku pada orang yang menculik ibu dengan keris ini. Tapi ... aku tak sempat menanyakannya karena kakek telah meninggal," kata Darka mencoba mengungkap hal itu untuk mendapatkan respons dari Kakek Daha.
"Aku sudah mendengar kabar tentang kematiannya," sahut Kakek Daha dengan tenang. " Oleh sebab itu aku mendatangimu untuk menjelaskan apa yang tak sempat dijelaskan oleh kakekmu. Carilah benda atau datangi tempat terakhir kali kau bersama dengan ibumu. Hanya dengan menyentuhnya, kau bisa melihat apa saja takdir yang terjadi di sana. Maka dengan bantuan penglihatan itu, kau bisa mengetahui siapa dalang dari perbuatan itu. Ingat, kau hanya bisa melihat dengan jelas takdir yang sudah terjadi. Takdir yang akan datang terlalu kabur untuk kau lihat. Meski begitu, kemampuan keris itu sangat membantumu menemukan apa yang kau cari," tutur Kakek Daha.
Darka mengangguk paham. "Baiklah, Kek. Aku bersumpah akan menemukan pelaku yang menculik ibuku dan yang membuat hidupku menderita selama ini. Aku juga akan menjaga keris ini dari siapapun yang ingin merebutnya!" ucap Darka penuh dengan ambisi.
Lantas, setelah mendapatkan kekuatan sakti itu, apa yang akan Darka lakukan untuk memulai misinya bersama dengan Bima?
Liburan sehari semalam itu membuat hibungan Darka dan Jenika menjadi semakin dekat. Mereka bukan lagi pasangan palsu, tetapi pasangan yang nyata. Mereka berangkat dengan cinta yang masih setengah dan kembali dengan cinta yang utuh. Rasanya mereka tak rela liburan mereka berakhir begitu saja."Apakah kau bersedia jika liburan bersamaku lagi?" tanya Darka."Tentu saja. Mengapa tidak? Tapi untuk liburan selanjutnya ... pastikan liburan untuk berbulan madu," sahut Jenika menahan malunya mengatakan hal itu.Darka tertawa geli mendengarnya. "Kau tak sabar aku nikahi rupanya. Eumm ... baiklah. Di liburan berikutnya mari pergi setelah kita menikah dan ingin berbulan madu.""Aku pegang janjimu," sahut Jenika."Peganglah yang erat, Sayang. Aku tak akan ingkar janji," sahut Darka mengedipkan matanya.Tawa mereka pecah. Sampai tak terasa ternyata mereka sudah sampai di depan kediaman Jenika. Mobil itu memasuki halaman rumah. Tak ada satupun mobil di sana."Sepertinya orang tuamu belum pulang, ya?
Tuan Marson tengah sibuk dengan berkas-berkasnya. Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Tuan Marson menyuruhnya masuk. Tampak salah satu orang kepercayaannya membawa sebuah kotak tipis berwarna hitam."Maaf mengganggu, Tuan Marson. Ada titipan barang dari seorang pria yang baru saja datang. Aku telah memeriksa isinya. Isinya tidak ada yang berbahaya," ucap pria itu."Baiklah. Kau boleh tunggu di luar," ucap Tuan Marson."Baik, Tuan," sahutnya seraya berjalan menuju ke arah luar.Tuan Marson membuka kotak hitam tersebut. Di dalamnya ada sebuah surat dan beberapa foto. Tuan Marson memilih membuka surat itu terlebih dahulu sebelum membuka foto-foto yang ada di bawah surat tersebut.Untuk Tuan Marson Yang TerhormatApa kau berbahagia karena putrimu akan menikah dengan pria bernama Darka? Apa kau tahu siapa Darka sebenarnya? Jika tidak, akan aku beritahu Anda sekarang juga. Darka adalah orang yang telah membunuh Tuan Hong beserta semua anak buahnya di hari yang sama. Wanita y
"Darka, bawalah ini," ucap Karisa datang dari dapur membawa tas bekal untuk ia berikan pada putranya yang ingin pergi berlibur dengan tunangannya. "Ibu membuatkan kalian bekal.""Terima kasih, Bu," sahut Darka menerima tas itu. "Aku mungkin akan pulang besok karena harus menginap di sana untuk melihat sunset. Ibu jangan keluar rumah, ya. Jika menginginkan sesuatu katakan saja pada Bima. Dia akan melakukannya untuk Ibu."Karisa mengangguk walau disertai helaan napas yang terdengar bosan. Darka memeluk ibunya dengan lembut. "Sebentar lagi Ibu tak akan aku kekang seperti ini. Di tempat yang aman nanti, Ibu bisa pergi keluar sendiri tanpa aku batasi seperti ini. Selama di tempat yang berbahaya ini aku tak akan membiarkan Ibu keluar rumah dengan bebas.""Kapan Ibu akan pindah?" tanya Karisa."Mungkin tiga hari lagi, Bu. Aku sudah menemukan tempat yang bagus dan nyaman untuk Ibu. Di sebuah pedesaan yang asri dan ramai penduduk. Aku yakin Ibu akan betah di sana. Jika di sini sudah aman, aku
Darka keluar dari ruangannya. Tak sengaja ia melihat ke arah lift, Jenika baru saja keluar dari sana dengan langkah yang lesu. Darka langsung masuk ke dalam lagi dan bersembunyi di balik pintu. Begitu Jenika masuk, niat jahilnya pun terlaksana."WOAH" teriak Darka mengagetkan Jenika yang bahkan tak terkejut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jenika yang baru tersadar dari lamunannya.Darka langsung menurunkan kedua tangannya yang tadi berpose seperti harimau hendak menerkam mangsanya. "Kau tak terkejut?""Kau tadi mengejutkanku?""Wah ... ada apa denganmu hari ini? Kau juga tampak lesu. Ceritakan padaku," tanya Darka seraya mengikuti Jenika yang berjalan ke arah mejanya."Tidak ada. Aku hanya bosan saja," sahutnya seraya duduk di kursi kerjanya.Darka menarik kursinya agar bisa duduk di samping wanita itu. Jenika sama sekali tak protes. Tangan lentiknya mulai menyalakan komputer."Jika aku sedang memiliki pikiran yang runyam, jangan paksakan untuk bekerja. Nanti kau menangis," ucap Darka
Jenika mendatangi ayahnya di ruang kerja. Ia membawa secangkir kopi dan kue bolu yang ia beli dari toko kue sore tadi. Senyumannya dibalas hangat oleh sang ayah. Tuan Manson langsung melepaskan tangannya dari komputer."Wah ... putri Ayah yang cantik membawakan kopi dan kue untuk Ayahnya?" Jenika tersenyum. "Aku membeli kue bolu di toko kue milik temanku yang baru buka hari ini. Jadi aku ingin Ayah mencicipinya juga. Ibu juga sudah mencobanya dan rasanya enak katanya.""Baiklah, Sayang. Ayah akan mencobanya," sahut Tuan Manson seraya mengambil sepotong kue holu pandan itu. "Ummmm! Ini enak sekali. Temanmu sangat berbakat membuat kue rupanya. Kita bisa memesannya nanti. Ayah menyukainya," puji Manson sebelum menyesap kopi buatan putrinya."Syukurlah kalau Ayah suka," sahut Jenika merasa lega. Ia kemudian memperhatikan ruangan itu dengan tatapan lembut dan berjalan menuju ke dinding kaca yang memberikan pemandangan indah di komplek elit itu. Apalagi langit malam tengah ditaburi oleh bi
Darka pulang ke rumahnya. Ia melihat bagian menghitam dari rumahnya. Melihat hal itu membuat Darka menahan rasa geramnya. Berarti seseorang yang melakukan ini ingin membalaskan dendamnya pada Darka dengan cara menghabisi ibunya."Jika ibuku berada di sini terus ada kemungkinan aku akan kecolongan. Ibu dalam mara bahaya selalu. Aku harus memindahkan ibu ke tempat yang lebih aman. Jika di sini, Ibu akan menjadi incaran para musuhku," gumam Darka.Darka masuk ke dalam rumahnya. Ia menemui ibunya di ruang tengah. Ibunya terlihat kaget melihat kedatangan Darka. Lekas ia lepas kain yang sedang ia rajut."Darka, kau pulang lebih awal?""Ya. Ingin mengambil sesuatu yang tertinggal. Tapi apa yang terjadi dengan bagian samping rumah, Bu?"Karisa terlihat gugup dan tak bisa menjawab. "Itu ... itu karena--""Ibu tak seharusnya menyembunyikan sesuatu atau berbohong padaku. Mengapa ibu hanya mengabari Bima tapi tidak mengabariku, Bu? Apa aku tidak bisa Ibu andalkan?" tanya Darka."Tidak. Bukan begi







