Home / Urban / KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR / BAB 3. MENJADI KAYA

Share

BAB 3. MENJADI KAYA

Author: Mona Cim
last update publish date: 2026-07-09 23:28:53

Darka dan Bima meninggalkan desa Sembilan dengan berbekal keris sakti yang sekarang menggantung sebagai kalung di leher Darka. Siang itu sangat terik, hingga mereka berpikir untuk singgah ke sebuah warung untuk minum dan sedikit mengganjal perut mereka.

"Berapa uang yang kau punya? Apa cukup untuk makan?" tanya Bima. "Aku tak memiliki uang sepeser pun karena tidak bekerja menjadi buruh angkut di pasar," lanjutnya sedih.

Darka merogoh uang di saku jaket lusuhnya. Hanya ada satu lembar uang dua puluh ribuan. Ia mendesah kecewa melihat nominal uang yang sangat sedikit itu. "Kita bisa makan, tapi kupikir hanya satu piring berdua. Seandainya saja uang ia ada dua lembar," ucap Darka sambil mengelus permukaan uang itu.

Hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba uang itu memiliki lembar berikutnya di belakang ketika Darka mencoba menggesernya. 

"OH!" Darka menghentikan langkahnya sambil menunjuk uang di tangannya dengan mata yang melebar. "Menjadi dua! Bima, uangku menjadi ganda!"

Bima yang tadinya berjalan di depan Darka, lantas berbalik menghampiri temannya dengan tampang bingung. "Menjadi ganda apanya? Kau pikir kau punya ilmu seorang dukun?"

"Sungguh! Tadi uangku hanya satu lembar saja. Tapi begitu aku mengusapnya dan berbicara seandainya uang ini menjadi ganda, tiba-tiba aku menemukan uang lagi di belakangnya!" tutur Darka menjelaskan dengan semangat.

Bima jelas tak langsung percaya mendengar hal mustahil itu. Ia mencibir, " Kalau benar seperti itu, harusnya kau bisa melakukannya lagi. Coba kau gandakan menjadi sepuluh."

"Akan aku coba," sahut Darka semangat. Ia mulai meraba permukaan uang itu dengan tatapan yang fokus. "Aku ingin uang ini menjadi sepuluh lembar," ucapnya.

Seketika uang itu pun bertambah jumlahnya. Bima melotot hingga kedua bola matanya nyaris keluar dari tempatnya. Darka tersenyum lebar sambil menghitung jumlah uang itu.

"Sepuluh lembar! Jumlahnya sepuluh lembar!" seru Darka kegirangan.

"Benar, Darka. Kau—wahh ... kau memiliki kemampuan sehebat ini sekarang? Jika kau mampu membuat uang ini lebih banyak kita akan  ...."

"KAYA RAYA!" pekik keduanya sambil melompat-lompat kegirangan di pinggir jalan. Mereka berpelukan tanpa peduli tatapan orang yang mungkin menganggap mereka orang paling aneh siang ini.

Keduanya berakhir di depan sebuah restaurant paling terkenal di kota itu. Darka menoleh pada Bima, lalu tersenyum. Begitu juga dengan Bima yang memasang tampang angkuhnya.

"Siap makan makanan orang kaya, Bima?"

"Tentu saja. Mengapa tidak? Ayo kita masuk!"

Kedua pria dengan pakaian yang agak lusuh itu masuk restaurant mewah. Untuk pertama kalinya di dalam hidup mereka akan makan di tempat semewah ini. Saking udiknya, mereka tak langsung menuju meja. Melainkan mendekati kasir terlebih dahulu.

"Nona, kami ingin memesan makanan enak di restaurant ini," ucap Bima tersenyum pada wanita itu.

Wanita itu memindai menampilan kedua pria di hadapannya dengan tatapan tak yakin. "Maaf, sepertinya kalian salah memasuki tempat makan. Ini restaurant mewah di kota ini."

Bima mengangga tak percaya wanita itu mengatakan hal demikian. Darka yang mendengar kata-kata itu pun langsung pasang badan di depan Bima. Tatapannya setajam elang pun bereaksi pada wanita itu.

"Kami memang berpakaian lusuh, tetapi mata kami masih bisa melihat untuk membaca nama tempat ini, Nona Kasir. Jadi jangan menganggap kami remeh," tegas Darka. Bima di belakangnya mengangguk setuju.

Wanita itu tersenyum meremehkan, tetapi kepalanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh pria bermata elang itu. "Baiklah jika kalian tetap mau makan di sini. Silakan menuju meja yang kosong. Pelayan restaurant akan mendatangi kalian dengan buku menu. Begitulah cara makan di restaurant, Tuan."

Darka dan Bima menoleh ke belakang. Ternyata sudah banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Namun, mereka tak peduli itu. Darka memindai satu meja yang lebih besar. Salah satu sudut bibirnya pun terangkat.

"Mari duduk di sana, Bima," ajak Darka berjalan dengan gagah menuju meja itu.

"Baiklah, Teman," sahut Bima mengikuti Darka.

Saat mereka menghampiri meja itu, dua orang menghampiri meja itu juga. Namun, Darka dan Bima yang duluan sampai. Bahkan mereka sudah duduk di sana dengan senyuman bahagia. Dua perempuan yang baru saja datang itu mengeryitkan kening mereka kebingungan. Seorang perempuan cantik berambut panjang mendekati Darka untuk bicara.

"Permisi, sepertinya Anda salah memilih meja. Meja ini telah kami pesan. Lihatlah, sudah ada tanda bahwa meja ini ada pemiliknya," ujar perempuan cantik itu.

Darka menoleh padanya sambil tersenyum manis. "Kau memang perempuan yang manis, tapi sayangnya aku dan temanku tak akan berpindah. Sebab kami yang menempati meja ini lebih dulu, Nona."

Perempuan itu tertawa kecil, tetapi terkesan sinis. "Kau tidak mengerti arti meja sudah dipesan, ya?"

"Memangnya ada istilah seperti itu? Di mana-mana jika ke tempat makan, ya pesan makanannya, bukan pesan mejanya," sahut Darka.

Perempuan itu speechless mendengar sahutan Darka. Hingga akhirnya seorang wanita dengan pakaian seragam khusus mendekati mereka.

"Permisi, apakah Tuan dan Nona memiliki masalah di sini?" Ternyata wanita yang mendekat itu adalah manager restaurant.

"Aku sudah memesan meja ini, tetapi dua orang ini malah menempatinya," ujar perempuan itu.

Sang manager menoleh pada dua orang pria yang duduk di kursi dengan tampang tak tahu diri mereka. Melihat penampilannya saja membuat manager restaurant itu terlihat marah. Namun, ia berusaha tetap menjaga sikapnya.

"Maaf, Tuan. Anda boleh memilih meja yang lain karena meja ini telah dipesan oleh Nona ini. Meja yang telah dipesan tak boleh ditempati oleh pelanggan lain."

Bima menepuk pundak Darka pelan sambil berbisik, "Sebaiknya kita berpindah saja. Mungkin kita yang terlalu udik tak tahu aturan restaurant mewah ini. Ayo pindah!"

Darka berdiri dengan tampang angkuhnya, lalu melirik pada perempuan yang menjadi lawan bicaranya tadi. "Aku akan mengalah karena aku adalah pria. Makanlah di sini dengan baik, aku dan asistenku akan berpindah ke meja sebelah," ujarnya sebelum melangkah menjauh menuju meja sebelah.

Perempuan itu berdecih pelan mendengar kata-kata angkuh itu. "Asisten apanya. Mereka terlihat seperti buruh di pasar loak."

Melupakan hal memalukan tadi, Darka dan Bima kini duduk bersampingan sambil membaca buku menu. Padahal ada buku menu lain yang disediakan oleh pelayan restaunrat.

"Kau mau makan apa, Bima?"

"Bolehkah memesan apa yang aku inginkan?" tanya Bima.

"Tentu saja. Semua kantongku penuh dengan uang kalau kau pula," sahut Darka.

"Hehe. Kau benar juga. Bagaimana kalau kita pesan semua yang spesial? Akan sulit jika menyebutkannya satu per satu. Tulisannya sulit untuk aku sebutkan."

"Benar juga," sahut Darka. Ia lalu menyerahkan buku menu itu pada pelayan. "Bawakan saja kami menu spesial di restaurant ini."

Pelayan wanita itu terlihat ragu mengambil buku menunya. "Baiklah. Mohon ditunggu," ucapnya sebelum berlalu pergi.

Kurang lebih dua puluh menit menunggu, semua makanan telah tersaji di hadapan mereka. Kedua pria udik itu begitu gembira melihatnya. Tanpa sungkan mereka makan dengan rakus. Bahkan Darka mengangkat satu kakinya ke kursi sambil melahap apapun yang ingin ia makan. Tanpa peduli tatapan orang-orang padanya, terutawa dua perempuan di meja sebelah.

"Mereka benar-benar aneh," ucap perempuan berambut panjang.

"Menurutmu, apa mereka benar-benar mampu membayar tagihan makanan itu? Semua yang mereka pesan adalah menu mahal di restaurant ini," kata perempuan berambut sebahu.

"Entahlah."

Tak terasa makanan mahal di meja itu bersih dalam hitungan menit saja. Darka dan Bima bersandar pada kursi saking kenyangnya. Tak lama manager resturant bersama dengan seorang pelayan menghampiri mereka.

"Ini billnya, Tuan. Kalian mampu membayarnya, bukan?" tanya manager restaurant itu tersenyum, namun sarat akan pandangan merendahkan.

Darka tersenyum miring sambil mengeluarkan tumpukan uang dari saku bajunya dan menghentakkan di atas meja. Sontak saja membuat sang manager, pelayan, dan dua perempuan itu shock saking tak menyangkanya.

"Cukup untuk membayar makanan murah ini, bukan?" tanya Darka menyeringai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 62. KENYATAAN PAHIT

    Liburan sehari semalam itu membuat hibungan Darka dan Jenika menjadi semakin dekat. Mereka bukan lagi pasangan palsu, tetapi pasangan yang nyata. Mereka berangkat dengan cinta yang masih setengah dan kembali dengan cinta yang utuh. Rasanya mereka tak rela liburan mereka berakhir begitu saja."Apakah kau bersedia jika liburan bersamaku lagi?" tanya Darka."Tentu saja. Mengapa tidak? Tapi untuk liburan selanjutnya ... pastikan liburan untuk berbulan madu," sahut Jenika menahan malunya mengatakan hal itu.Darka tertawa geli mendengarnya. "Kau tak sabar aku nikahi rupanya. Eumm ... baiklah. Di liburan berikutnya mari pergi setelah kita menikah dan ingin berbulan madu.""Aku pegang janjimu," sahut Jenika."Peganglah yang erat, Sayang. Aku tak akan ingkar janji," sahut Darka mengedipkan matanya.Tawa mereka pecah. Sampai tak terasa ternyata mereka sudah sampai di depan kediaman Jenika. Mobil itu memasuki halaman rumah. Tak ada satupun mobil di sana."Sepertinya orang tuamu belum pulang, ya?

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 61. SURAT MISTERIUS UNTUK TUAN MARSON

    Tuan Marson tengah sibuk dengan berkas-berkasnya. Tiba-tiba pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Tuan Marson menyuruhnya masuk. Tampak salah satu orang kepercayaannya membawa sebuah kotak tipis berwarna hitam."Maaf mengganggu, Tuan Marson. Ada titipan barang dari seorang pria yang baru saja datang. Aku telah memeriksa isinya. Isinya tidak ada yang berbahaya," ucap pria itu."Baiklah. Kau boleh tunggu di luar," ucap Tuan Marson."Baik, Tuan," sahutnya seraya berjalan menuju ke arah luar.Tuan Marson membuka kotak hitam tersebut. Di dalamnya ada sebuah surat dan beberapa foto. Tuan Marson memilih membuka surat itu terlebih dahulu sebelum membuka foto-foto yang ada di bawah surat tersebut.Untuk Tuan Marson Yang TerhormatApa kau berbahagia karena putrimu akan menikah dengan pria bernama Darka? Apa kau tahu siapa Darka sebenarnya? Jika tidak, akan aku beritahu Anda sekarang juga. Darka adalah orang yang telah membunuh Tuan Hong beserta semua anak buahnya di hari yang sama. Wanita y

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 60. JANJI CINTA DI PULAU SEBERANG

    "Darka, bawalah ini," ucap Karisa datang dari dapur membawa tas bekal untuk ia berikan pada putranya yang ingin pergi berlibur dengan tunangannya. "Ibu membuatkan kalian bekal.""Terima kasih, Bu," sahut Darka menerima tas itu. "Aku mungkin akan pulang besok karena harus menginap di sana untuk melihat sunset. Ibu jangan keluar rumah, ya. Jika menginginkan sesuatu katakan saja pada Bima. Dia akan melakukannya untuk Ibu."Karisa mengangguk walau disertai helaan napas yang terdengar bosan. Darka memeluk ibunya dengan lembut. "Sebentar lagi Ibu tak akan aku kekang seperti ini. Di tempat yang aman nanti, Ibu bisa pergi keluar sendiri tanpa aku batasi seperti ini. Selama di tempat yang berbahaya ini aku tak akan membiarkan Ibu keluar rumah dengan bebas.""Kapan Ibu akan pindah?" tanya Karisa."Mungkin tiga hari lagi, Bu. Aku sudah menemukan tempat yang bagus dan nyaman untuk Ibu. Di sebuah pedesaan yang asri dan ramai penduduk. Aku yakin Ibu akan betah di sana. Jika di sini sudah aman, aku

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 59. MENDAPATKAN BAHAN UNTUK ADU DOMBA

    Darka keluar dari ruangannya. Tak sengaja ia melihat ke arah lift, Jenika baru saja keluar dari sana dengan langkah yang lesu. Darka langsung masuk ke dalam lagi dan bersembunyi di balik pintu. Begitu Jenika masuk, niat jahilnya pun terlaksana."WOAH" teriak Darka mengagetkan Jenika yang bahkan tak terkejut. "Apa yang kau lakukan?" tanya Jenika yang baru tersadar dari lamunannya.Darka langsung menurunkan kedua tangannya yang tadi berpose seperti harimau hendak menerkam mangsanya. "Kau tak terkejut?""Kau tadi mengejutkanku?""Wah ... ada apa denganmu hari ini? Kau juga tampak lesu. Ceritakan padaku," tanya Darka seraya mengikuti Jenika yang berjalan ke arah mejanya."Tidak ada. Aku hanya bosan saja," sahutnya seraya duduk di kursi kerjanya.Darka menarik kursinya agar bisa duduk di samping wanita itu. Jenika sama sekali tak protes. Tangan lentiknya mulai menyalakan komputer."Jika aku sedang memiliki pikiran yang runyam, jangan paksakan untuk bekerja. Nanti kau menangis," ucap Darka

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 58. FAKTA DARI AYAH JENIKA

    Jenika mendatangi ayahnya di ruang kerja. Ia membawa secangkir kopi dan kue bolu yang ia beli dari toko kue sore tadi. Senyumannya dibalas hangat oleh sang ayah. Tuan Manson langsung melepaskan tangannya dari komputer."Wah ... putri Ayah yang cantik membawakan kopi dan kue untuk Ayahnya?" Jenika tersenyum. "Aku membeli kue bolu di toko kue milik temanku yang baru buka hari ini. Jadi aku ingin Ayah mencicipinya juga. Ibu juga sudah mencobanya dan rasanya enak katanya.""Baiklah, Sayang. Ayah akan mencobanya," sahut Tuan Manson seraya mengambil sepotong kue holu pandan itu. "Ummmm! Ini enak sekali. Temanmu sangat berbakat membuat kue rupanya. Kita bisa memesannya nanti. Ayah menyukainya," puji Manson sebelum menyesap kopi buatan putrinya."Syukurlah kalau Ayah suka," sahut Jenika merasa lega. Ia kemudian memperhatikan ruangan itu dengan tatapan lembut dan berjalan menuju ke dinding kaca yang memberikan pemandangan indah di komplek elit itu. Apalagi langit malam tengah ditaburi oleh bi

  • KERIS SAKTI PEMBACA TAKDIR   BAB 57. RENCANA MEMINDAHKAN IBU

    Darka pulang ke rumahnya. Ia melihat bagian menghitam dari rumahnya. Melihat hal itu membuat Darka menahan rasa geramnya. Berarti seseorang yang melakukan ini ingin membalaskan dendamnya pada Darka dengan cara menghabisi ibunya."Jika ibuku berada di sini terus ada kemungkinan aku akan kecolongan. Ibu dalam mara bahaya selalu. Aku harus memindahkan ibu ke tempat yang lebih aman. Jika di sini, Ibu akan menjadi incaran para musuhku," gumam Darka.Darka masuk ke dalam rumahnya. Ia menemui ibunya di ruang tengah. Ibunya terlihat kaget melihat kedatangan Darka. Lekas ia lepas kain yang sedang ia rajut."Darka, kau pulang lebih awal?""Ya. Ingin mengambil sesuatu yang tertinggal. Tapi apa yang terjadi dengan bagian samping rumah, Bu?"Karisa terlihat gugup dan tak bisa menjawab. "Itu ... itu karena--""Ibu tak seharusnya menyembunyikan sesuatu atau berbohong padaku. Mengapa ibu hanya mengabari Bima tapi tidak mengabariku, Bu? Apa aku tidak bisa Ibu andalkan?" tanya Darka."Tidak. Bukan begi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status