Share

3. Seorang Penipu

Penulis: ReyNotes
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-15 15:40:34

Bianca mendengus kasar. Bertambah lagi cacat Taylor di matanya.

Gadis itu lantas menjatuhkan bokong di sofa dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Selama ini ia begitu bodoh karena percaya pada Taylor. Menyangka lelaki itu benar-benar jatuh cinta padanya adalah kesalahan besar. Bisa-bisanya ia percaya pada seorang penipu!

‘Aku akan menggagalkan apa pun rencanamu, Taylor. Untuk itulah aku menikahi Geo agar bisa balas dendam padamu.’ Bianca bertekad dalam hati. Dia tidak akan diam saja dan membiarkan Taylor mempermainkannya seperti boneka yang bodoh.

Sore harinya, pelayan bertubuh subur itu kembali masuk. Dengan ramah ia tersenyum dan menunduk santun pada Bianca.

“Saya mau mengajari Nyonya cara memandikan Tuan Geo.” Pelayan itu berkata sambil mondar-mandir menyiapkan perlengkapan mandi.

“Memandikan? Aku? Bukankah ada perawat?” tanya Bianca beruntun, tampak enggan.

“Kami sudah tidak menggunakan perawat sejak tiga bulan lalu,” kata pelayan itu menjawab. “Saya Madam Ana, pengasuh Tuan Geo sejak beliau berusia lima tahun.”

“Salam kenal, Madam Ana.” Bianca menunduk sedikit untuk menghormati wanita yang usianya mungkin sudah menjelang enam puluh tahun itu.

Bianca mengamati Madam Ana membuka seluruh pakaian Geo. Ia menutupi pangkal paha dengan handuk lalu membilas tubuh majikannya perlahan.

Persis seperti yang dilakukan Bianca pada Billy. Tapi masalahnya, ini orang lain yang tiba-tiba menjadi suaminya! Jadi, wajar saja dia risih, bukan?

Saat tubuh Geo dimiringkan, Bianca melihat ruam kemerahan di bagian punggung. Ia tahu ruam itu akibat berbaring terlalu lama. Madam Ana membilas bagian itu dengan sangat hati-hati.

“Sudah berapa lama ruam itu, Madam?”

“Berbulan-bulan. Aku sudah lapor Tuan Taylor, tetapi beliau bilang memang seperti itu akibatnya jika tidak bangun-bangun dari ranjang.” Madam Ana terdengar mengeluh. “Kasihan sekali Tuan Geo.”

“Apa ada salep untuk ruam itu?” tanya Bianca.

“Tidak. Tuan Taylor bilang tidak perlu.”

Taylor benar-benar keterlaluan!

Dia pasti sengaja tidak memberi pengobatan yang maksimal untuk Geo supaya pria itu tidak pernah sembuh. Sebab, ruam yang sama juga ada di punggung Billy, dan itu bisa diobati!

“Apa semua urusan Geo ditangani Taylor?” Bianca bertanya lagi. Ia harus mulai menyusun rencana untuk menggagalkan niat ‘kekasihnya’ itu.

“Sejak Tuan Geo sakit, perusahaan, mansion dan pengobatan Tuan Geo dipegang langsung oleh Tuan Taylor,” kata Madam Ana membenarkan.

“Oh, berarti Taylor sangat dipercaya oleh keluarga Willson, ya?” Bianca pura-pura bertanya dengan nada manis.

Madam Ana terlihat mengembuskan napas panjang. “Iya, begitulah. Siapa lagi di sini yang akan menjalankan semuanya jika tidak ada Tuan Geo? Tuan Atrick dan Nyonya Marissa sudah lama sekali tidak mengurus perusahaan, aset, dan segala printilan mansion.”

Bianca mengangguk mengerti. Mereka telah selesai membilas Geo dan memberinya pakaian yang nyaman.

Di mata Bianca, meski Geo sangat tampan, tetapi lebih terlihat seperti mayat hidup saking pucat kulitnya.

“Apa kamar ini memang selalu tertutup tirainya? Lampu kamar ini juga selalu remang-remang,” kata Bianca sambil memandang sekitar.

“Tuan Taylor bilang, nanti Tuan Geo silau pada cahaya lampu dan matahari. Lampu kamar hanya akan diterangkan jika dokter datang.”

Omong kosong apalagi itu?!

Bianca hanya bisa mendengus kesal dalam hati.

Madam Ana lantas keluar dari kamar Geo setelah membereskan perlengkapan mandi dan membersihkan kamar.

Setelah makan malam, Bianca mencari Madam Ana. Ia menemukan wanita itu di dapur sendirian.

“Madam, aku mau keluar sebentar.” Bianca bicara perlahan, takut ada yang mendengar.

Madam Ana menggeleng. “Jangan, Nyonya. Anda dilarang keluar dari mansion.”

“Aku mau mengunjungi kakakku dan beli obat. Tolong, ya. Aku tahu tidak ada orang di mansion ini. Jadi, Taylor dan orang tua Geo tidak akan tahu aku pergi,” ujar Bianca menjelaskan.

“Kamu mau mengunjungi Billy?”

Bianca mengangkat kedua alisnya, terkejut. “Madam kenal kakakku?”

“Hei, kami sama-sama bekerja dengan Tuan Geo. Kursi yang kamu duduki sekarang itu tempat Billy biasa duduk dan minta makan padaku.”

Spontan kepala Bianca menunduk menatap kursi yang didudukinya. Ia lalu tersenyum miris.

“Bagaimana keadaan Billy? Aku dilarang menjenguknya oleh Tuan Taylor.”

Bianca menghela napas panjang. “Keadaan Billy sebenarnya masih lebih baik dari Geo, meski awalnya luka-luka Billy lebih parah. Kenapa Madam dilarang menjenguk kakakku?” tanyanya bingung.

“Kata Tuan Taylor, Billy ditempatkan di ruang isolasi yang tidak diperbolehkan dikunjungi.”

Cih! Manusia satu itu benar-benar berhati busuk!

Pantas saja selama dirawat, tidak ada satupun teman-teman Billy yang menjenguk. Ternyata semuanya karena Taylor!

“Aku minta nomor telepon Madam. Nanti sampai di rumah sakit, aku akan video call supaya Madam bisa lihat sendiri aku benar-benar mengunjungi kakakku.”

Ragu-ragu, Madam Ana menyebut nomor ponselnya.

Tanpa mencatat, Bianca mengangguk. “Aku pergi lewat pintu pelayan, ya. Supaya penjaga gerbang nggak curiga.”

Bianca segera menyisip keluar sebelum Madam Ana kembali mencegahnya. Di pinggir jalan, Bianca menyetop taksi dan meminta supir melajukan kendaraan menuju rumah sakit.

“Hai, Bil-Bil.” Dengan riang, Bianca menyapa kakaknya dengan panggilan kesayangan.

Kepala Billy hanya menggeleng, lalu menunjuk tubuh Bianca. Billy memang belum bisa bicara akibat trauma kecelakaan.

Bianca mengangguk mengerti. “Iya, aku nggak pakai baju kerja hari ini. Soalnya ada sesuatu yang terjadi yang mau aku ceritakan.”

Bianca duduk di pinggir ranjang. Ia merebahkan kepalanya di dada sang kakak dengan rasa haru hingga matanya berair. Tetapi, cepat ia menguasai diri karena tidak pernah mau terlihat lemah di depan sang kakak.

Jari manis yang terselip cincin emas polos ditunjukkan Bianca di depan wajah Billy. Kakaknya itu menatap benda di jari sang adik dengan kening berkerut.

“Aku sudah menikah.”

Billy menggeleng lalu menggeram keras. Jelas, lelaki itu terkejut. Matanya terlihat tajam menatap Bianca.

Dengan santai, Bianca memainkan cincin tersebut dan bercerita. “Bil-Bil lama sih sembuhnya, jadi nggak ada lelaki yang menjagaku. Adiknya ini cantik dan sangat pintar lho. Perlu pengawal.”

Billy kembali menggeleng. Tubuhnya terlihat bergerak tak tentu seperti hendak berontak.

“Jangan marah.” Bianca menenangkan Billy. “Dia lelaki baik-baik. Tampan dan kaya. Nggak banyak tingkah seperti Bil-Bil. Makanya kamu harus cepat pulih ya, supaya bisa kenalan sama suamiku. Oke?!”

Bianca tersenyum pias. Beberapa jam ke depan, ia tetap di sana menemani sampai Billy tertidur.

Ia membenahi selimut sang kakak sebelum menyelinap keluar dan kembali ke mansion.

Sampai di kamar, Bianca mengganti pakaiannya dengan piyama. Ia sama sekali tidak sadar, mata Geo terbuka dan terus mengamatinya ….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
wah geo ada perkembangan nih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   307. Spoiler Season 2

    “Blue, mana yang bagus?” Grey menunjukkan layar tabletnya pada Blue yang sedang membaca berkas perjanjian kerja.Blue melirik sekilas. Di layar tampak deretan perhiasan dari brand kenamaan dunia. Grey menggulir pelan layarnya agar Blue dapat melihat semua produk yang ditampilkan.“Buat Mommy?” tanya Blue.“Eh, bukan.” Grey menggeleng. “Salah satu kekasihku ulang tahun.”“Salah satu?” Blue mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.Grey hanya tersenyum manis. “Yang mana?”“Terserah!” Blue mendengus kasar, lalu kembali menatap kertas di mejanya. “Belum kapok juga kamu punya pacar lebih dari satu?!”Grey mengabaikan omelan sang kakak. Ia masih menggulir pelan layar tablet.“Meeting dengan owner Castra Inc sudah beres?” tanya Blue.“Sudah. Sekretarisku sedang membuat notulennya.”Blue dan Grey telah berusia dua puluh enam tahun. Mereka menjalankan salah satu perusahaan keluarga bersama. Grey lebih banyak mengambil peran melobi klien sementara Blue yang menyelesaikan sisanya.Saat ini mereka

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   306. Menikmati Waktu

    Anak-anak keluarga Willson bahkan enggan untuk masuk ke kamar masing-masing. Padahal, malam sudah semakin larut. Hingga akhirnya, Geo berjanji besok pagi mereka akan pergi piknik jika semua tidur.“Bosaann! Kita sering piknik di perkebunan.” Sky menggeleng.Akhirnya, Bianca memaksa semua tidur dengan wajah memohon. “Ayo lah. Besok pagi kita tidak bisa olahraga pagi bersama karena kalian terlambat bangun.”Blue lah yang langsung bangun dari duduk. Anak memeluk Bianca. “Iya, Mommy. Kami akan ke kamar sekarang. Mommy jangan sedih.”Setelahnya, Blue menggiring adik-adiknya masuk ke dalam mansion. Mereka menurut lalu mencium para orang tua sebelum ke kamar bersama para nanny masing-masing.“Blue selalu bisa diandalkan.” Geo menghela napas lega.Satu persatu orang dewasa juga kembali ke kamar mereka. Kembang api kecil yang tadi dimainkan anak-anak masih menyisakan bau samar mesiu yang bercampur dengan dinginnya udara taman belakang.Lampu-lampu gantung berayun pelan di antara pohon-pohon tu

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   305. Kebersamaan Keluarga

    “Blue itu luar biasa, ya. Dia bisa paham adik-adiknya dan selalu membantu menyelesaikan masalah.” Bianca memandang anak-anaknya yang sedang bermain semprot-semprotan air ala pemadam kebakaran di taman.Geo mengangguk. “Aku pun salut pada Blue. Dia juga yang menyarankan mainan itu. Katanya, Sky itu cepat bosan jadi Blue memilihkan mainan yang menurutnya lebih berguna.”Bianca menatap putra sulungnya. “Apa dia sendiri nggak punya masalah?” gumamnya.“Maksudnya, Sayang?”“Blue selalu membantu menyelesaikan masalah. Luna dengan pola makannya yang ketat, Grey dengan sifat sosialisasinya dan Sky dengan gaya patungnya. Tapi, Blue?”Geo mendesah pelan. “Sepertinya, masalah Blue cuma satu.”“Apa?”“Dia anak sulung yang merasa harus membantu kita menjaga adik-adiknya.”Dan dugaan tentang kebosanan Sky itu memang terjadi. Pekerjaan Sky sudah berubah dalam waktu satu minggu. Setelah pemadam kebakaran, polisi, tentara, dokter, koki dan kini... pilot.Pagi ini, Bianca keluar dari kamar Sky dan lang

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   304. Drama Lagi

    Ruang kelas TK dihias lucu dengan poster-poster warna pastel. Guru-guru dan kru videografer sudah siap. Anak-anak lain memakai seragam lengkap, beberapa ada yang agak rewel karena harus difoto berkali-kali.Sky berdiri di barisan depan. Helm merahnya sudah dititipkan di loker.“Sky, nanti giliran kamu ngomong perkenalan, ya,” ujar Miss Kira, gurunya.Sky mengangguk. “Aku sudah hapal, Ms. Kira. Tapi, cepat, ya.”Miss Kira tersenyum bingung. “Cepat… maksudnya?”“Sky mau ganti kostum.”Untungnya guru-guru sudah diberitahu tentang kendala yang dihadapi Bianca tadi pagi. Para guru saling menahan tawa.“Ya ampun, anak ini memang fokus pada misi.”Ketika giliran Sky maju ke depan kamera, ia berjalan dengan langkah mantap. Kru videografer siap, lampu dinyalakan, dan Ms. Kira memberi aba-aba.“Sky, senyum ya. Perkenalkan diri kamu.”Sky menatap kamera. Lurus. Serius.“Nama saya Sky Willson." Perkenalan tentang dirinya mengalir lancar. Penuh percaya diri.Tingkah lakunya yang pintar dan tanpa m

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   303. Negosiasi dengan Sky

    Niat Bianca dan Geo membujuk Sky tertunda karena anak itu minta dibacakan cerita lalu tertidur. Geo sampai mengamati Sky, mengira putranya hanya pura-pura saja mengantuk dan menghindar dari pembicaraan tentang kostum sekolah besok.Bianca hanya menggeleng pelan, lalu menarik Geo keluar dari kamar. Geo yang merasakan bagaimana Bianca lelah secara batin karena urusan anak-anak yang tidak ada habisnya, mengajak sang istri berkendara sebentar keluar mansion.“Ke mana kita?” tanya Bianca sambil memasang sabuk pengaman.“Hmm... kita jalan-jalan sepanjang River saja, mau? Kalau ada sesuatu yang menarik di pinggir jalan, kita bisa mampir,” tawar Geo.“Oke.” Bianca mengangguk setuju.Geo menjalankan kendaraannya keluar dari gerbang besar mansion. Tangan Geo terjulur meminta Bianca menggenggamnya. Mereka berpegangan selama perjalanan.“Katanya lampu-lampu di sepanjang jalan pinggir River sudah diperbanyak. Jadi, terkadang malam hari pun banyak yang berolahraga.”Setelah memarkir mobil, Geo memb

  • KETIKA SANG BILIONER BANGUN DARI KOMA   302. Solusi Dari Blue

    “Kamu harus memilih teman yang bertama kali mengajakmu!”Grey mengerjap-ngerjap bingung. Geo dan Bianca saling berpandangan lalu keduanya menatap Grey. Sementara Blue menunggu jawaban adiknya.“Hmm... yang ngajak duluan itu Ava, tapi aku kan sukanya sama Nadira,” gumam Grey sambil memberengut.“Ya sudah, pilih Ava. Kamu bisa beralasan bahwa Ava yang mengajak lebih dulu dan kamu sudah bilang mau.” Blue mengangguk lalu mencoret nama Nadira.Grey mengembuskan napas kasar. Wajahnya seperti tak rela melihat nama Nadira di coret oleh Blue.“Bagaimana ini, Sayang?” Geo berbisik pada Bianca.“Sepertinya... kita biarkan saja mereka menyelesaikan masalah ini sendiri.” Bianca membalas dengan berbisik pula.Geo mengangguk tegas. “Ya sudah. Aku juga bingung mau komentar apa.”“Iya. Kita harus pikir masak-masak sebelum bicara pada mereka.”Pelan, dengan langkah teratur, Geo dan Bianca mundur meninggalkan Blue dan Grey yang masih tampak bicara tentang pertemanan. Blue mengingatkan adiknya bahwa semu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status