Share

PART 3

Mospek hari ketiga...

Sekarang jam menunjukkan pukul 6.30 wib, dan aku sudah selesai mempersiapkan perlengkapan mospekku hari ini. Sekarang aku pergi turun untuk sarapan, sedikit sedih sih karena hari ini aku harus sarapan sendiri karena mamaku belum pulang dari Jepang.

Disaat aku lagi sibuk menenangkan pikiran yang entah lagi ngeracau kemana tiba-tiba terdengar suara Mas Dadang memanggilku.

" Non Innee .. "

Aku menyahut panggilan Mas Dadang, " Iya Mas, ada apa ? lagi sarapan nih. "

Mas Dadang tiba di tempatku, " Non..,udah ada yang nunggu non di ruang tamu. "

Mendengar perkataan Mas Dadang membuatku kaget dan bingung. " Siapa Mas ? "

" Itu loh non..,yang semalam bawa Non pergi. "

Otakku langsung bekerja dengan cepat dan tahu siapa itu, " Whattss ..?? buat apa dia kemari ? "

" Katanya dia mau jemput Non pergi ke kampus, Mas Dadang permisi ya Non. "

" Iya Mas, makasih ya Mas. "

Aku pergi ke ruang tamu dan seperti biasa aku langsung memasang wajah jutekku, " Ngapain loe kesini ? "

Kenan menatapku dengan sok cool, " Jemput loe dong. "

" Nggak perlu, gue bisa pergi sendiri. Kan gue udah nggak telat bangunnya. "

Aku melipat tanganku tapi Kenan tetap saja masih duduk dengan santainya.

Aku menatapnya tajam, " Ngapain masih disini ? "

" Ya nanggung dong kalau gue pergi kan gue udah disini jadi kita bareng perginya. "

Aku melototkan mataku dan menghentakkan kakiku dengan kesal, " Tunggu sebentar. "

Kenan malah tertawa melihatku yang sudah mulai kesal terhadapnya.

Akupun pergi bersama Kenan, setibanya di kampus orang-orang memandang kami berdua sambil bisik-bisik apalagi yang cewek mata mereka memandangku seolah-olah ingin menerkamku saat itu juga.

Diparkiran kampus, tanpa ngomong sedikitpun aku langsung pergi turun dari motornya dan hendak berjalan menuju koridor kampus namun tak berapa lama aku berjalan dari parkiran, Kenan memanggilku dan saat itu juga langkahku berhenti.

Aku membalikkan badanku dan

menghampirinya, " Apalagi ? "

Kenan tertawa kecil, " Loe nggak ngerasa ada yang lupa gitu ? "

Aku mengerutkan keningku, " Apa yang lupa ? "

Kenan geleng-geleng kepala, " Maayaaa..,Mayaaa.., makanya jangan langsung nyelonong pergi sampai lupa kan helmnya belum dilepas dari kepala loe. "

" Nama gue bukan Maya. " Aku menjawabnya dengan ketus sambil membuka kancing helm tapi susah.

" Sini gue buka, makanya jangan suka emosian sampe lupakan. " Kenan membuka helmku sambil tersenyum kecil lalu mengelus rambutku supaya rapi. Aku hanya terdiam menahan malu.

" Kok pipi loe merah ? "

" Nggaklah, ini blush on kali. "

" Hahaaahaa..,Mayaa..Mayaaa, mana mungkin blush on kan loe masih mospek belum boleh makeup, loe lupa ? " Kenan mencubit pipiku yang merah itu dengan lembut.

Aku langsung mengalihkan pembicaraan, " Udah ahh.., aku mau masuk, byeee. "

Aku pergi jalan menuju kelasku di R-3 dengan buru-buru.

" Aduuuuhhh.., kok bodoh sekali sih loe Maurinne..kok bisa sih loe sampai lupa kalau loe belum lepas helm kan malu sendiri jadinya. "

Aku duduk di bangku kosong yang nggak ada orang duduk tiba-tiba seseorang menghampiriku dan duduk di sebelahku, untungnya cewek sih.

Orang itu menyapaku dan mengulurkan tangannya, " Hai Maurinne, salam kenal ya . Aku Meisya biasa dipanggilnya Yaya. "

Aku kaget dengar dia manggil namaku tapi aku tetap membalas uluran tangannya, " Salam kenal kembali, kok bisa tau nama gue ? "

Meisya tersenyum, " Maurinne.., semua udah tau loe karena loe lagi viral di kampus ini. "

Aku mengerutkan keningku, " Viral..?? "

Meisya mengangguk dengan penuh yakin, " Loe lebih baik jauhin deh senior kita itu si Kenan. "

Aku makin bingung, " Why ? "

Meisya menjelaskan sedikit panjang, " Karena dia itu disukai sama semua cewek-cewek di kampus ini tapi yang bahayanya sama mentor yang kemarin loe datang telat dan loe dihukum itu suka sama Kenan, gue takutnya loe nanti di labrak mereka lagi. "

Aku hanya mengangguk. Tak berapa lama, kakak mentor datang ke ruangan kami.

Aku kaget dan melototkan mataku saat aku melihat kakak mentor datang ke ruangan kami dan itu ada Kenan. Aku langsung menundukkan kepalaku, malu karena aku masih belum melupakan kejadian tadi.

" Ehhh ..., kok si Kenan masuk ke sini ? " Aku bertanya dengan Meisya dengan pelan.

" Ya ampun Maurinne ..,loe seriusan nanya nih ? " Meisya mendengar pertanyaan ku langsung kaget.

" I..iya .. "

" Maurinee..Maurineee.. loe deket sama dia tapi loe nggak tahu siapa dia ?? Dia itu Ketua Bem Maurinne. "

Aku terlonjak kaget, " Haaahhh.., serius ?? "

Meisya hanya mengangguk dan aku terdiam sambil mikir kebingungan,

" Seorang Ketua Bem nyamperin aku ?? Nggak salah tuh ??Dimana aku berada pasti dia nongol, itu gila sih. Pantas aja cewek-cewek sekampus ini pada sinis menatapku. "

" Karena ini hari terakhir kalian Mospek, jadi kalian harus minta tanda tangan kami dan buat surat cinta kesan dan pesan buat kakak mentor kalian, dibuat dari sekarang ya dan dikumpul sama kakak di sebelah saya ini kecuali Maya kumpulinnya harus sama saya, terimakasih. "

Setelah selesai Kenan memberi arahan kepada anak maba, Kenan menatap Maurinne sambil tersenyum kecil dan satu ruangan saling celingak celinguk mencari siapa yang namanya Maya lalu menatapku tajam.

Aku hanya terdiam tapi dalam hati kesel juga.

" Kenapa cuma gue yang sih yang disuruh kumpul sama dia, ada-ada aja nih orang. "

Aku menatap Kenan dengan tajam dan Kenan hanya senyum lalu pergi keluar ruangan.

Aku mencari kakak mentor untuk menandatangani bukuku. Cukup melelahkan buatku meminta tandatangan kakak mentor karena ada kakak mentor yang sok dan banyak maunya dan itu membuatku sangat kesal dan males banget sama orang yang seperti itu tapi mau nggak mau harus ku lakukan demi mospek ini karena besok udah resmi jadi mahasiswa dan tidak ngemis-ngemis lagi sama kakak mentor yang songong dan belagunya minta ampun.

Semua tandatangan kakak mentor sudah kudapat namun satu lagi yang belum aku dapat dan rasanya males banget kalau berhadapan dengan dia, siapa lagi kalau bukan Kenan.

Aku pergi mencarinya sambil berpikir kalau dia sengaja menghilang,

" Kemana sih ?? Pasti dia sengaja mau ngerjain gue, mencari kesempatan aja nih . "

Disaat kekesalan di diriku muncul, tiba-tiba seseorang menutup mataku dan itu semakin buatku kesal, " Siapa sih loe ..? " aku menarik tangan orang yang menutup mataku tapi tenaga orang itu lebih kuat dan saat itu juga sikut tanganku aku dorong mengenai perutnya.

" Aduuu.. " orang itu meringis kesakitan dan melepaskan tangannya dari mataku.

Akupun berbalik menghadap orang itu,

" Kenannnnn.., loe tuh kenapa sih selalu aja bikin gue kesal sama loe. Bisa nggak sih sehari aja loe nggak buatku gue kesal. "

Aku melototkan mataku ke arahnya dan reaksi dia tetap santai dan tersenyum, Kenan menghampiriku sambil memegang wajahku sampai pipiku kempot, " Mayaa.., Mayaaa .., loe tuh mau marah gimanapun nggak serem tapi lucu. "

Aku memutuskan untuk mengalah dan mengalihkan pembicaraan, " Cepattt tandatangan.. " aku langsung menodorkan bukuku.

Kenan menatapku, " Apa ini ? "

" Tandatangan. " aku menjawabnya dengan jutek.

" Mana surat cintanya ? "

Aku males banget menjawabnya, " Ada.., tandatangan dulu baru gue kasih. "

Kenan tak mau kalah, " Gue akan tandatangan asal loe foto sama gue, gimana ? "

Aku melototkan mataku, " Banyak banget sih maunya loe .. ok gini aja ya, gue bakal ikutin kemauan loe untuk foto sama gue tapi dengan satu syarat loe jangan pernah ganggu hidup gue lagi, ok..gimana ?? "

Kenan terdiam mendengar kata-kata ku barusan sambil mikir-mikir.

" O..okk .. tapi kalau suatu saat kita ketemu lagi berarti memang alam yang mempertemukan kita dan gue berhak dekat loe lagi. " Kenan menjawabnya dengan penuh kenyakinan.

Aku menatap Kenan tajam dan memilih untuk diam.

Kenan dan Maurinne pun berfoto dengan gaya yang diinginkan oleh Kenan. Kenan pun memenuhi keinginan Maurinne untuk menandatangani buku Maurinne dan Maurinne pun memberikan surat cintanya ke Kenan.

Maurinne tersenyum senang, " Terimakasih buat tandatangannya kakak senior yang paling nyebelin dan jangan ganggu gue lagi. "

Maurinne pun pergi meninggalkan Kenan. Kenan hanya menatapnya lalu membuka surat cinta yang dibuat Maurinne. Kenan pun membacanya dan ternyata surat cintanya bukan untuk dirinya tapi untuk Bima, Kenan hanya tersenyum kecil.

" Pasti loe takut bikin surat cintanya untuk gue, takut gue baper kan... "

" Buat para maba waktu sudah habis dan silahkan berkumpul di lapangan. "

Terdengar suara pemberitahuan bahwa para maba berkumpul di lapangan karena masih ada kegiatan yang akan dilaksanakan dan Kenan yang mendengar itu langsung menutup surat cinta punya Maurinne dan menuju lapangan karena dia adalah ketua Bem yang kehadirannya sangat penting di acara mospek ini.

Maurinne bersama Meisya pergi berbaris di lapangan. Para mentor berkumpul di depan para Maba termasuk Kenan salah satunya.

" Udah berkumpul semua ?? baik disini saya sebagai ketua Bem dan dimana hari ini adalah hari dimana mospek ini akan berakhir, saya mau nanti siapapun yang saya panggil kiranya bersedia untuk membacakan surat cinta yang sudah kalian buat di tempat saya berdiri ini, mengerti ?? "

Semua maba menjawab, " Mengerti Kak. "

" Baiklah, saya minta Maurinne untuk membacakan surat cintanya. "

Kenan menatap Maurinne dengan tajam. Maurinne yang mendengar namanya dipanggil langsung terkejut dan menatap Kenan dengan tajam tapi mau tak mau Maurinne pun maju ke depan untuk membacakan surat cintanya.

Maurinne pun membacanya,

Untuk Kak Bima

Sinarnya matahari mampu menerangi langit dan bumi

Seperti Kamu yang mampu menerangi hatiku

Matamu yang indah mampu menyejukkan hatiku

Begitupun senyummu yang manis mampu menghiasi hari-hariku dengan penuh warna

Kak Bima, kenalin aku Maurinne Annatasya. Mungkin kak sedikit kaget, aku menuliskan surat cinta ini untuk kakak tapi memang yang paling mengesankan selama aku Mospek ya cuma kakak walaupun kak nggak pernah ngobrol ato apapun itu tapi aku tau kak baik karena aku merhatiin kak setiap ada di gugus 5

Maaf ya kak, Aku harap kak mengerti dan jangan salah paham ya kak. aku hanya kagum sama kakak.

Terimakasih sudah menjadi kakak mentor yang baik.

Salam Hangat,

Maurinne Annatasya

Semua orang pada teriak, " Cieee.. "

Aku langsung menundukkan kepalaku dan langsung kembali ke tempatku dengan wajah yang merah kalau orang liat pasti tahu.

Mospek pun berakhir, Maurinne pulang bersama Mas Dadang. Dan lega rasanya bagi Maurinne karena hari ini Mospek yang sangat dia tidak sukai sudah berakhir.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status