Share

BAB 2

Penulis: MasYB
last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 18:04:19

Di bawah tatapan memuja dari para pekerja dan sikap membungkuk Mandor Wang yang tampak menjijikkan, Su Qingxue berjalan melewati area proyek dengan langkah anggun namun tegas. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai beton yang berdebu, menciptakan irama yang kontras dengan kekumuhan di sekitarnya.

Chen Fan masih berdiri di balkon lantai dua, berpura-pura sibuk menyekop sisa-sisa puing semen. Namun, pandangannya tidak lepas dari kabut biru es yang menyelimuti tubuh wanita itu. Sebagai seorang kultivator yang mewarisi ingatan Leluhur Alkemis Sembilan Langit, Chen Fan tahu persis apa arti dari fenomena tersebut.

‘Sembilan Tubuh Yin Dingin,’ batin Chen Fan, jemarinya mencengkeram gagang sekop kayu hingga sedikit melesak ke dalam karena kekuatan kinetik Qi yang tak sengaja bocor. ‘Di alam kultivasi atas, wanita dengan fisik seperti ini adalah berkah sekaligus kutukan. Jika mereka tidak menemukan metode kultivasi yang tepat atau pria dengan energi Yang murni untuk menyeimbangkannya sebelum usia dua puluh lima tahun, meridian mereka akan membeku total, dan mereka akan mati dalam kedinginan yang menyiksa.’

Chen Fan menggelengkan kepalanya pelan, menghela napas, dan kembali menyamarkan pandangan matanya menjadi sayu dan lugu. "Bukan urusanku. Di dunia fana ini, aku hanyalah Xiao Chen si kuli bangunan. Mengurusi urusan nona besar seperti dia hanya akan memancing badai yang tidak perlu."

Namun, memori tentang wanita dan takdir mau tidak mau menarik benak Chen Fan kembali ke masa lalunya. Pikirannya melayang, mundur ke beberapa tahun yang lalu, ke masa-masa akhir sebelum dia memutuskan meninggalkan Panti Asuhan Jiangnan untuk melebur ke dalam kerasnya dunia metropolitan.

Lima tahun yang lalu, di halaman belakang Panti Asuhan Jiangnan, berdiri sebuah pohon Bodhi tua yang sangat besar. Daun-daunnya yang rimbun selalu menjadi tempat berteduh paling nyaman bagi Chen Fan dan Lin Ruoxi.

Saat itu, Chen Fan sudah berusia lima belas tahun. Berkat latihan rahasia Teknik Pernapasan Naga Langit yang dia lakukan setiap tengah malam di dasar sumur tua, tubuhnya yang semula ringkih dan berpenyakitan telah bertransformasi secara drastis. Struktur tulangnya menjadi sekeras baja fana, dan aliran darahnya mengalirkan kehangatan energi Qi yang melimpah.

Namun, di siang hari, Chen Fan menggunakan teknik penyamaran aura yang dia pelajari dari warisan kuno. Dia sengaja membuat postur tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya dibuat agak pucat dengan menekan titik akupunktur tertentu, dan tatapan matanya dibuat redup. Di mata dunia, dia tetaplah Xiao Chen yang lemah dan tidak menonjol.

"Xiao Fan, kenapa kamu melamun lagi?"

Sebuah suara lembut yang sangat akrab membuyarkan lamunan Chen Fan. Di sampingnya, Lin Ruoxi duduk di atas akar pohon Bodhi yang mencuat dari tanah. Gadis itu kini telah tumbuh menjadi seorang remaja putri yang sangat manis. Kulitnya putih bersih meskipun dia hanya menggunakan sabun murah panti asuhan, dan rambut kuncir kudanya bergoyang tertiup angin sore.

Chen Fan menoleh, memamerkan senyum lugunya yang khas. "Tidak apa-apa, Ruoxi. Aku hanya sedang berpikir... bulan depan aku sudah harus keluar dari panti asuhan. Aturan panti mengatakan, setelah usia lima belas tahun atau lulus sekolah menengah, kita harus mulai belajar mandiri agar anak-anak yang lebih kecil bisa mendapatkan tempat."

Mendengar kata-kata itu, binar bahagia di mata Lin Ruoxi langsung meredup. Dia menundukkan kepalanya, jemari tangannya yang halus memainkan ujung bajunya yang sudah mulai menipis karena sering dicuci.

"Kamu... benar-benar akan pergi ke pusat kota Jiangnan?" tanya Lin Ruoxi dengan nada suara yang agak bergetar.

"Iya," Chen Fan mengangguk pelan. "Kota Jiangnan sangat besar. Di sana banyak lowongan pekerjaan. Aku tidak punya ijazah tinggi, tapi aku punya tenaga yang kuat. Aku bisa bekerja apa saja."

Lin Ruoxi tiba-tiba mendongak, matanya yang bulat kini berkaca-kaca. "Tapi kota itu sangat kejam, Xiao Fan! Aku sering mendengar cerita dari Ibu Panti tentang orang-orang miskin yang ditindas di sana. Kamu itu terlalu jujur, terlalu lugu... Bagaimana kalau orang-orang jahat di sana memanfaatkannya dan memukulimu seperti anak-anak nakal dulu?"

Chen Fan merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Di dunia yang dingin ini, selain Ibu Panti yang sudah tua, hanya Lin Ruoxi yang tulus mengkhawatirkannya. Gadis ini tidak tahu bahwa pemuda "lugu" di depannya ini sebenarnya bisa meratakan seluruh kota dengan sepasang tangannya jika dia mau. Namun, perhatian tulus dari Lin Ruoxi adalah sesuatu yang sangat berharga bagi jiwa kultivasinya.

Chen Fan mengulurkan tangannya, ragu-ragu sejenak, lalu menepuk pundak Lin Ruoxi dengan lembut. "Jangan khawatir, Ruoxi. Aku sudah besar sekarang. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula, aku punya alasan kuat untuk pergi ke sana."

"Alasan apa?"

Chen Fan menatap lurus ke dalam mata Lin Ruoxi, tatapannya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan penuh komitmen, membuat jantung gadis remaja itu berdetak sedikit lebih cepat.

"Panti asuhan kita sedang dalam kondisi sulit, bukan? Ibu Panti sering batuk-batuk dan kesulitan membeli obat, belum lagi biaya makan adik-adik kecil yang terus meningkat. Aku pergi ke kota untuk mencari uang. Aku berjanji padamu, di bawah pohon Bodhi ini... aku akan mengirimkan sebagian besar gajiku setiap bulan untuk panti asuhan. Aku akan memastikan panti asuhan kita tetap berdiri, dan aku akan melindungimu serta tempat ini dengan caraku sendiri."

Air mata Lin Ruoxi akhirnya luruh, bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang teramat dalam. Dia mengusap air matanya dengan kasar, lalu menjulurkan jari kelingkingnya yang mungil ke depan dada Chen Fan.

"Janji?" ucap Lin Ruoxi dengan suara parau namun penuh harap.

"Janji," Chen Fan menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya sendiri.

Saat kedua jari kelingking mereka bertautan di bawah bayangan pohon Bodhi yang berguguran, sebuah getaran aneh tiba-tiba terasa oleh Chen Fan. Melalui sentuhan kulit fana itu, energi Qi di dalam tubuh Chen Fan bergejolak pelan. Sesuatu di dalam garis darah Lin Ruoxi seolah merespons energi spiritualnya.

Chen Fan tertegun. ‘Tunggu... getaran ini... Tubuh Yin Kayu Giok?!’

Mata Chen Fan melebar sesaat. Warisan kuno di otaknya langsung berputar memberikan informasi. Tubuh Yin Kayu Giok adalah salah satu dari sekian banyak fisik khusus yang sangat langka. Wanita dengan fisik ini memiliki aura kehidupan yang luar biasa murni, sangat berbakat dalam bidang pengobatan herbal, dan yang paling penting... jika seorang kultivator pria melakukan Kultivasi Ganda dengannya, energi Yin Kayu Giok tersebut dapat menyaring seluruh kotoran di dalam meridian sang pria, membuat fondasi kultivasinya menjadi sebersih kristal tanpa cacat!

Chen Fan menatap Lin Ruoxi dengan pandangan yang rumit. Gadis yang selama ini mengira dirinya sedang melindungi seorang bocah lelaki lemah, ternyata adalah sebuah "harta karun" kultivasi yang luar biasa yang ditakdirkan berada di sisinya. Namun, saat itu Chen Fan segera menekan gejolak pikirannya. Lin Ruoxi masih terlalu muda, dan dia tidak ingin menodai ketulusan gadis itu dengan motif kultivasi yang egois.

"Aku akan pergi bulan depan, Ruoxi. Jaga dirimu baik-baik di sini," ucap Chen Fan melembutkan suaranya.

"Kamu juga, Xiao Fan. Ingat... jangan biarkan orang lain menindasmu terlalu jauh. Kalau kamu merasa lelah di kota besar, pulanglah ke sini. Panti asuhan ini, dan aku... akan selalu menunggumu kembali."

Kenangan manis itu buyar ketika sebuah bentakan keras kembali menggema di area proyek gedung Su Group, menghancurkan keheningan batin Chen Fan.

"Xiao Chen!!! Kamu tuli ya?! Turun sekarang juga!"

Mandor Wang berdiri di bawah tangga sambil melambaikan tangannya dengan gusar. Wajahnya yang berminyak tampak memerah karena menahan panik dan amarah.

Chen Fan segera memasang kembali wajah "lugu dan takut"-nya. Dia meletakkan sekopnya dengan terburu-buru, lalu berjalan agak membungkuk menuruni tangga semen yang belum selesai dicat.

"Iya, Mandor Wang. Ada apa? Maaf saya agak melamun tadi karena kelelahan," ucap Chen Fan dengan nada suara yang dibuat sedikit bergetar, seolah takut akan dipecat.

"Melamun bapakmu! Cepat bersihkan koridor di depan kantor pemasaran sekarang juga! Nona Besar Su sedang melakukan inspeksi mendadak dengan para petinggi kota. Kalau ada sebutir debu pun yang membuat sepatu mahalnya kotor, bukan cuma gajimu yang kuhapus, tapi aku sendiri yang akan menendangmu keluar dari proyek ini! Mengerti?!" Mandor Wang menunjuk-nunjuk dada Chen Fan dengan jarinya yang gemuk.

"Baik, baik, Mandor Wang. Saya lakukan sekarang," Chen Fan membungkuk berkali-kali, menunjukkan kepatuhan ekstrem seorang buruh rendahan.

Mandor Wang meludah ke tanah, menatap jijik ke arah Chen Fan yang langsung mengambil sapu lidi dan ember air untuk mulai membersihkan koridor. "Dasar sampah tidak berpendidikan. Untung tenaganya seperti kerbau, kalau tidak sudah lama kubuang ke tempat sampah," gumam Mandor Wang pelan sebelum pergi menjauh untuk kembali menjilat Su Qingxue.

Chen Fan yang sedang berjongkok mengelap sisa semen di lantai koridor hanya tersenyum tipis mendengar makian tersebut. Baginya, kata-kata manusia fana yang serakah seperti Wang tidak lebih dari gonggongan anjing di tepi jalan. Fokusnya saat ini adalah mengumpulkan sisa tenaga fisiknya untuk pertempuran kultivasi yang sesungguhnya nanti malam di kamar kontrakannya.

Namun, takdir tampaknya enggan membiarkan Chen Fan melewatkan hari ini dengan tenang.

Langkah kaki yang berirama konstan itu terdengar semakin dekat. Su Qingxue, dikelilingi oleh lima orang pria berjas rapi yang merupakan manajer proyek dan arsitek, serta Mandor Wang yang mengekor di paling belakang, berjalan memasuki koridor tempat Chen Fan sedang bekerja.

Aroma parfum mewah yang maskulin namun bercampur dengan kesegaran bunga lili menyeruak, mengalahkan bau apek semen di udara. Itu adalah aroma tubuh Su Qingxue.

Chen Fan sengaja menggeser tubuhnya ke tepi dinding koridor, berjongkok serendah mungkin, membiarkan punggungnya yang lebar menghadap ke arah rombongan tersebut agar wajahnya tidak terlihat jelas.

Saat Su Qingxue berjalan tepat di samping Chen Fan, wanita itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Suasana di koridor mendadak hening. Para manajer berjas langsung menahan napas, mengira ada sesuatu yang salah dengan struktur bangunan yang membuat sang CEO tidak puas. Mandor Wang di belakang sudah mulai mengeluarkan keringat dingin, matanya menatap tajam ke punggung Chen Fan, menyalahkan si kuli lugu di dalam hatinya.

Su Qingxue tidak melihat ke arah bangunan. Matanya yang dingin berkedip sekilas, menatap ke arah punggung kuli yang sedang berjongkok di dekat kakinya.

Sebagai seorang wanita yang menderita penyakit aneh sejak lahir—di mana tubuhnya selalu terasa dingin seperti es dan sering mengalami rasa sakit yang menusuk di dada—Su Qingxue memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap suhu di sekitarnya.

Anehnya, saat dia berdiri di dekat kuli berpakaian lusuh ini, Su Qingxue tidak merasakan hawa dingin yang biasanya menyiksa tubuhnya. Sebaliknya, ada sebuah gelombang kehangatan yang sangat samar namun luar biasa nyaman, memancar dari tubuh pemuda itu, seolah-olah ada sebuah tungku api tak terlihat yang sedang membakar hawa es di sekitarnya.

‘Perasaan apa ini...?’ batin Su Qingxue, alisnya yang indah bertautan. ‘Kenapa hawa dingin di meridian dadaku mendadak sedikit mereda hanya karena berdiri di dekat kuli ini?’

Su Qingxue ingin melangkah lebih dekat untuk memastikannya, namun di saat yang sama, rasa bangga dan keangkuhannya sebagai seorang putri dari keluarga elit Jiangnan menahan dirinya. Bagaimana mungkin dia, seorang CEO wanita bernilai miliaran Yuan, harus memperhatikan seorang buruh kasar yang tubuhnya dipenuhi debu dan keringat?

"Nona Su... apakah ada yang salah dengan area ini?" tanya manajer proyek utama dengan suara bergetar penuh kehati-hatian.

Su Qingxue memejamkan matanya sejenak, menekan rasa penasarannya yang aneh, lalu kembali memasang wajah sedingin es. "Tidak ada. Lanjutkan ke lantai atas. Aku ingin melihat cetak biru fondasi barat."

"Baik, Nona Su! Lewat sini, silakan," manajer itu bernapas lega dan segera memandu jalan.

Rombongan itu kembali bergerak. Namun, Mandor Wang tidak melewatkan kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya. Saat berjalan melewati Chen Fan, Mandor Wang sengaja menendang ember air milik Chen Fan hingga airnya berguncang dan membasahi lantai yang baru saja dibersihkan.

"Kerja yang bener! Gara-gara kamu jorok, Nona Su jadi berhenti tadi! Habiskan ini dalam sepuluh menit!" bisik Mandor Wang dengan nada mengancam sebelum berlari menyusul rombongan.

Chen Fan tidak bergerak dari posisinya sampai suara langkah kaki rombongan itu benar-benar menghilang di ujung koridor. Setelah situasi dirasa aman, Chen Fan perlahan menegakkan tubuhnya.

Dia menatap lantai yang basah, lalu melirik ke arah tangga tempat Su Qingxue pergi. Senyum lugu di wajahnya lenyap total, digantikan oleh ekspresi tajam seorang predator tertinggi yang sedang mengamati buruannya.

‘Menarik...’ gumam Chen Fan dengan suara rendah yang terdengar sangat berwibawa, sangat berbeda dengan suara Xiao Chen yang biasa. ‘Penyakit es di tubuhnya ternyata sudah mencapai tahap kritis. Jika dia tidak mendapatkan bantuan energi Yang murniku dalam waktu tiga bulan, Sembilan Tubuh Yin Dingin itu akan meledak dan merengeng nyawanya.’

Chen Fan melihat telapak tangannya sendiri, di mana energi Qi berwarna merah keemasan samar mulai menari-nari di sela-sela jarinya.

‘Kultivasi Gandaku membutuhkan wanita dengan fisik khusus seperti dia untuk mendobrak batasan tingkat tinggi. Dan dia membutuhkan energi Yang-ku untuk bertahan hidup. Sepertinya... takdir di kota ini akan menjadi jauh lebih menarik dari yang kukira.’

Chen Fan mengepalkan tangannya, membuat energi spiritual itu kembali meresap ke dalam tubuhnya. Dia mengambil kembali sapunya dengan santai. Baginya, prioritas utama hari ini tetaplah malam nanti. Kontrakan sempitnya telah menunggu, dan kuali kuno di dalam cincin gioknya sudah siap untuk meracik pil pembalik takdir pertamanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 45

    Gedung Balai Kota Jiangnan malam itu diselimuti kemegahan yang luar biasa. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit aula utama memancarkan cahaya keemasan yang memantul di atas lantai marmer impor. Ratusan mobil mewah dari berbagai merek papan atas mengantre panjang di halaman depan, menurunkan para taipan bisnis, pejabat pemerintahan tinggi, hingga tokoh-tokoh berpengaruh dari seluruh penjuru Provinsi Jiangnan.Ini adalah perhelatan tahunan yang menjadi ajang pamer kekuasaan, kekayaan, dan koneksi politik. Di balik dentingan gelas sampanye dan alunan musik klasik yang lembut, transaksi rahasia bernilai miliaran rupiah dinegosiasikan di sudut-sudut ruangan.Di tengah kerumunan elit tersebut, perhatian semua orang mendadak tersedot ke arah pintu masuk utama saat sosok Su Qingxue melangkah masuk.Mengenakan gaun malam formal berwarna merah marun yang pas di tubuh indahnya, CEO wanita dari Su Group itu tampak layaknya seorang ratu yang turun dari singga

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 44

    Ketenangan di lantai tiga puluh enam Menara Su Group setelah tunduknya sang ratu bisnis Jiangnan tidak serta merta membuat roda takdir berhenti berputar. Sementara Kota Jiangnan menikmati kedamaian semu di bawah perlindungan tak kasat mata dari sang Master Alkemis, di belahan utara negeri—tepatnya di dalam distrik finansial paling eksklusif di ibu kota—sebuah pergerakan rahasia berskala global sedang dikoordinasikan.Menara Tianlong, sebuah mahakarya arsitektur modern setinggi seratus delapan lantai yang dilapisi kaca antipeluru dan baja titanium, berdiri kokoh sebagai simbol kekuasaan finansial dan supranatural tertinggi. Di sinilah markas pusat Tianlong Group berada, sebuah konglomerat raksasa yang tidak hanya menguasai sepertiga perputaran ekonomi negara, melainkan juga memegang kendali atas faksi-faksi kultivasi terselubung di balik bayangan pemerintahan.Di lantai tertinggi menara tersebut, di dalam sebuah ruangan kedap suara yang dijaga ketat oleh puluhan petarung bers

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 43

    Pagi hari di Kota Jiangnan mungkin baru saja dimulai dengan tenangnya riak ombak Sungai Yangtze, namun di ibu kota pusat, atmosfer di dalam Aula Pertemuan Utama Aliansi Beladiri telah berubah menjadi badai salju yang membekukan jiwa. Ruangan seluas lapangan bola itu dikelilingi oleh pilar-pilar batu marmer hitam dengan ukiran naga perak yang meliuk angkuh. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar dari kayu jati kuno dikelilingi oleh lima orang tetua agung yang mengenakan jubah beladiri tradisional bersulam emas.Di atas meja jati tersebut, sebuah lampu indikator giok yang terhubung langsung dengan slip kehidupan (Life Slip) milik Gu Tianhai mendadak retak menjadi dua bagian, sebelum akhirnya hancur menjadi bubuk halus berwarna abu-abu.Kejadian itu menandakan satu hal yang mutlak: Kesadaran spiritual dan nyawa dari salah satu Tetua Agung Aliansi Beladiri telah lenyap sepenuhnya dari muka bumi."Mustahil... Ini benar-benar mustahil!" seorang pria tua bertubuh tambun dengan j

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 42

    Gumpalan awan hitam yang bergulung di langit perbatasan Jiangnan kini telah berputar membentuk pusaran tornado raksasa yang mengerikan. Warna fajar yang semula abu-abu remang seketika tertutup total oleh kegelapan yang pekat, menyisakan kilatan-kilatan petir berwarna emas murni yang menari liar di dalam pusaran awan. Suara gemuruhnya merayap di atas permukaan bumi, menggetarkan fondasi bangunan pabrik tua di sekitarnya hingga retakan-retakan baru bermunculan di dinding betonnya.Gu Tianhai berdiri membeku di tengah jalan aspal. Jubah sutera peraknya yang menggelembung akibat tekanan energi internal kini justru bergetar hebat. Sebagai salah satu Tetua Agung Aliansi Beladiri Ibu Kota, dia telah bertarung dengan ratusan ahli beladiri dari berbagai faksi rahasia, namun dia belum pernah menyaksikan seseorang yang mampu memanggil badai petir sektoral hanya dengan satu angkatan jari."Ini... ini bukan teknik bela diri! Ini adalah sihir terlarang!" teriak Gu Tianhai dengan suara yan

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 41

    Fajar di pinggiran utara Kota Jiangnan tidak lagi menyajikan kehangatan yang biasa. Pagi itu, kabut tebal berwarna abu-abu pekat turun menyelimuti aspal jalanan lintas provinsi, menciptakan pemandangan yang suram dan mencekam. Kabut tersebut bukanlah fenomena alam biasa, melainkan manifestasi dari benturan energi murni yang dilepaskan oleh puluhan praktisi beladiri tingkat tinggi yang sedang bersiaga di ambang pintu masuk kota.Di depan bekas gerbang pabrik baja kuno yang kini menjadi pos pemeriksaan terselubung Sekte Obat Suci, Mu Qianxue berdiri tegak. Mengenakan jubah berburu hitam legam dengan sulaman teratai emas di lengan kirinya, aura kecantikannya yang biasa tampak tertutup oleh hawa membunuh yang dingin. Di belakangnya, tiga puluh petarung elit dari faksi inti Sekte Obat Suci berdiri dalam formasi barisan yang disiplin. Tangan mereka bertumpu pada hulu pedang, sepasang mata mereka menatap tajam menembus ketebalan kabut di ujung jalan.Sejak menerima kabar dari jarin

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 40

    Hawa dingin di dalam laboratorium medis privat telah sepenuhnya mencair, digantikan oleh kehangatan sisa energi spiritual Chen Fan yang masih tertinggal di udara. Su Qingxue duduk di tepi ranjang medis, merapatkan jubah sutera putihnya. Sepasang matanya yang biasanya memancarkan keangkuhan seorang penguasa korporasi kini meredup, menatap ujung sepatu Chen Fan dengan kepasrahan yang mendalam.Keterikatan biologis yang baru saja tercipta membuat detak jantung Su Qingxue berdegup seirama dengan aura pemuda di depannya. Dia tahu, tanpa hawa hangat dari Chen Fan, tubuhnya kini hanyalah sebuah bom waktu yang siap membeku kapan saja."Mulai hari ini, tim medismu tidak boleh menyentuh atau meracik obat apa pun untukmu tanpa izin dariku," ucap Chen Fan dingin, membelakangi Su Qingxue sembari merapikan lengan kemeja flanelnya yang robek. "Jika mereka mencoba bermain pintar lagi seperti hari ini, aku tidak akan repot-repot melangkah masuk ke ruangan ini.""Aku mengerti... Master Fa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status