เข้าสู่ระบบ
Kota Jiangnan di malam hari selalu menyisakan sisi kelam di balik gemerlap lampu pencakar langitnya. Di pinggiran kota yang kumuh, berdiri sebuah bangunan tua bertembok kusam dengan papan nama yang hampir roboh: Panti Asuhan Jiangnan.
Bagi Chen Fan, tempat ini adalah awal dari segalanya. Sepuluh tahun yang lalu, Chen Fan adalah bocah berumur sepuluh tahun yang paling sering mendekam di sudut kamar panti. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat karena kurang gizi, dan dia menjadi samsat hidup bagi anak-anak panti yang lebih besar dan nakal. "Hei, anak haram! Sini kamu! Cuci baju kami!" Suara bentakan itu masih terngiang jelas di ingatan Chen Fan. Hari itu, tubuh kecilnya didorong hingga terjungkal ke tanah berdebu. Anak-anak nakal itu tertawa terbahak-bahak melihat Chen Fan yang meringis kesakitan, memeluk dadanya erat-erat. Di dalam dekapannya, ada sebuah benda yang paling berharga baginya: sebuah liontin giok hijau kusam berbentuk silinder kecil yang tergantung di lehernya sejak bayi. Itu adalah satu-satunya peninggalan orang tua kandungnya yang entah ada di mana. "Jangan ganggu Xiao Fan!" Sebuah teriakan melengking dari seorang gadis kecil menghentikan tawa anak-anak nakal itu. Lin Ruoxi, gadis kecil yang usianya setahun lebih muda dari Chen Fan, berlari dan langsung berdiri di depan Chen Fan dengan merentangkan kedua tangannya. Matanya yang bulat berkaca-kaca, tapi tatapannya penuh tekad untuk melindungi. "Kalau kalian pukul Xiao Fan lagi, aku akan laporkan ke Ibu Panti!" ancam Lin Ruoxi kecil. Melihat ada yang membela, anak-anak nakal itu meludah ke tanah dengan kesal. "Cih, dasar lemah! Kerjanya cuma bisa bersembunyi di balik punggung perempuan!" Setelah melemparkan makian itu, mereka akhirnya pergi. Lin Ruoxi segera berbalik, berjongkok di depan Chen Fan, dan menghapus air mata di pipi bocah laki-laki itu dengan sapu tangan kumalnya. "Xiao Fan, kamu tidak apa-apa? Jangan menangis, ya. Kalau aku sudah besar nanti, aku akan melindungimu selamanya!" Chen Fan kecil hanya bisa mengangguk pelan. Di dalam hatinya yang rapuh, janji gadis kecil itu tertanam begitu dalam. Namun, takdir memiliki cara yang aneh untuk mengubah hidup seseorang. Sore harinya, saat Chen Fan diminta mengambil air di sumur tua yang terletak di bagian belakang panti asuhan yang sudah tidak terpakai, musibah—atau mungkin keberuntungan terbesar dalam hidupnya—terjadi. Tali timba yang sudah lapuk tiba-tiba putus saat Chen Fan menariknya. Kehilangan keseimbangan, tubuh kurus Chen Fan tergelincir dan jatuh lurus ke dalam kegelapan sumur sedalam belasan meter tersebut. Byurrr! Tubuhnya menghantam air dingin di dasar sumur. Chen Fan tidak bisa berenang; dadanya terasa sesak seolah mau meledak, dan perlahan tubuhnya tenggelam ke dasar. Di ambang kematian, ketika kesadarannya mulai menipis, liontin giok kusam di lehernya tiba-tiba memancarkan cahaya hijau zamrud yang sangat menyilaukan. Anehnya, air di sekitar sumur seolah terbelah oleh dinding transparan, memberi ruang bagi Chen Fan untuk bernapas. Tubuhnya yang sekarat tersedot masuk ke dalam sebuah celah batu di dasar sumur yang ternyata terhubung dengan sebuah ruang bawah tanah kuno yang kering. Di tengah ruangan batu yang dipenuhi debu tebal itu, terdapat sebuah kerangka manusia yang duduk bersila dalam posisi bermeditasi. Di depan kerangka itu, tergeletak sebuah kuali tembaga kuno berukuran kecil dan sebuah gulungan kulit domba. Sebelum Chen Fan sempat mencerna apa yang terjadi, liontin giok di lehernya bergetar hebat. Wusss! Seberkas cahaya keemasan melesat dari kerangka tersebut, langsung menembus dahi Chen Fan. "AAAGHHH!" Chen Fan menjerit histeris. Kepalanya terasa seperti dipalu oleh ribuan ton godam. Miliaran informasi, teks-teks kuno bergambar naga, formula obat-obatan misterius, hingga teknik bertarung yang bisa membelah gunung, langsung dipaksakan masuk ke dalam otaknya. “Aku adalah Leluhur Alkemis Sembilan Langit... Menggunakan ilmu pengobatan untuk menyelamatkan dunia, menggunakan jalur kultivasi untuk menaklukkan keabadian... Murid takdirku, warisilah kekuatanku, dan guncanglah dunia fana ini!” Suara menggelegar itu menggema di dalam kesadaran Chen Fan sebelum akhirnya lenyap. Ketika Chen Fan membuka matanya, rasa sakit di kepalanya telah hilang, digantikan oleh pengetahuan yang luar biasa luas. Dia menyadari bahwa liontin giok murah di lehernya bukanlah giok biasa, melainkan Cincin Penyimpanan Gaib (Storage Ring) tingkat tinggi yang menyamar! Mengikuti insting baru yang tertanam di otaknya, Chen Fan duduk bersila. Dia mulai mempraktekkan teknik pernapasan pertama dari warisan tersebut: Teknik Pernapasan Naga Langit. Wusss! Energi spiritual fana (Qi) yang ada di dalam sumur tua itu seolah bergolak dan berebut masuk ke dalam pori-pori tubuh Chen Fan. Rasa hangat yang luar biasa mengalir di setiap aliran darahnya, memperbaiki organ dalam yang rusak, dan memperkuat tulang-tulangnya yang rapuh. Hanya dalam waktu satu jam, Chen Fan yang semula lemah telah berhasil melangkah ke Ranah Kondensasi Qi Tingkat 1! Dia bukan lagi manusia biasa. Dia telah resmi melangkah ke jalan menjadi seorang Kultivator. Ketika dia berhasil memanjat keluar dari sumur tua itu menggunakan kekuatan barunya yang menakjubkan, Chen Fan melihat Lin Ruoxi dan Ibu Panti sedang menangis histeris di bibir sumur, mengira dirinya telah tewas tenggelam. Chen Fan tersenyum, menyembunyikan kilatan cahaya aneh di matanya, dan berpura-pura menangis ketakutan sambil memeluk mereka. Sejak hari itu, Chen Fan bersumpah tidak akan pernah menunjukkan kekuatannya di depan umum. Pengetahuan warisan kuno memperingatkannya: dunia ini penuh dengan bahaya, dan kultivator yang terlalu cepat pamer sebelum kuat akan berakhir tragis. Dia memilih untuk menyamar, menyembunyikan bakat monsternya di balik topeng seorang bocah yatim piatu yang lugu dan penurut. Sepuluh tahun berlalu dalam sekejap mata. Di bawah terik matahari Kota Jiangnan yang membakar kulit, sebuah gedung pencakar langit milik Su Group sedang dalam tahap pembangunan intensif. Suara deru mesin molen dan hantaman palu besi bersahut-sahutan. Di antara ratusan pekerja kasar yang berlalu-lalang memanggul material, tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahun dengan singlet putih yang sudah pudar kekuningan dan celana kain kasar yang dipenuhi noda semen. Pemuda itu memiliki wajah yang sebenarnya sangat simetris dan tampan, namun pembawaannya yang membungkuk, rambutnya yang acak-acakan, serta senyumnya yang terkesan "lugu" membuat orang dengan mudah meremehkannya. Dia adalah Chen Fan, yang di lokasi proyek ini dikenal dengan panggilan Xiao Chen (Chen Kecil). Brak! Brak! Brak! Tiga karung semen, yang masing-masing beratnya 50 kilogram, ditumpuk sekaligus di atas pundak kokoh Chen Fan. Total 150 kilogram beban yang sanggup mematahkan tulang manusia biasa, namun Chen Fan bahkan tidak mengerutkan keningnya. Langkah kakinya tetap stabil dan ringan saat berjalan menaiki tangga darurat menuju lantai empat. Tentu saja, dia sengaja memasang ekspresi terengah-engah dan membiarkan keringat bercucuran deras di wajahnya demi menjaga penyamarannya. Jika orang tahu bahwa dia bisa mengangkat beban satu ton tanpa berkeringat dengan energi Qi-nya, dia pasti akan ditangkap dan dijadikan bahan eksperimen laboratorium. "Woi, Xiao Chen! Lambat amat jalanmu! Dasar kuli malas!" Sebuah teriakan kasar terdengar dari arah bawah tangga. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan perut buncit yang dibalut kemeja safari ketat berdiri sambil berkacak pinggang. Di mulutnya terselip sebatang rokok mahal. Dia adalah Mandor Wang, pengawas proyek yang terkenal kejam dan serakah. Chen Fan menghentikan langkahnya, menoleh ke bawah, dan menampilkan senyum lugu andalannya yang terkesan bodoh. "Maaf, Mandor Wang. Semennya agak basah jadi agak berat. Saya akan percepat jalannya." "Cih! Alasan saja kerjaanmu! Cepat antarkan semen itu, lalu bersihkan sisa puing di lantai bawah! Kalau belum selesai sebelum jam lima, gajimu hari ini dipotong setengah!" bentak Mandor Wang sambil meludah ke samping. Di dalam hati, Mandor Wang tertawa licik. Xiao Chen adalah kuli paling menguntungkan baginya. Pemuda itu tidak punya latar belakang, tidak punya keluarga, yatim piatu, dan yang paling penting: sangat penurut dan lugu. Mandor Wang sering melimpahkan pekerjaan tiga orang sekaligus kepada Chen Fan, lalu memotong gajinya dengan berbagai alasan palsu untuk dimasukkan ke dalam kantong pribadinya sendiri. Chen Fan tidak membalas. Dia hanya mengangguk patuh lalu melanjutkan langkahnya ke atas. Di balik poni rambutnya yang menutupi mata, kilatan dingin melintas sekilas. ‘Wang serakah... Nikmatilah uang harammu selagi bisa. Jika bukan karena aku membutuhkan pekerjaan kasar ini untuk melatih mentalitas duniaku dan menyempurnakan Teknik Body Tempering, satu jentikan jariku sudah cukup untuk membuatmu meledak menjadi kabut darah,’ batin Chen Fan dingin. Bagi Chen Fan, penindasan di lokasi proyek ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemajuan kultivasinya. Di malam hari, ketika seluruh kota tertidur, kuli lugu ini akan berubah menjadi sosok yang mengerikan. Menggunakan kuali tembaga kuno yang dia simpan di dalam liontin gioknya, Chen Fan telah berhasil mengumpulkan berbagai herbal murah dari pasar loak untuk diracik menjadi obat-obatan spiritual. Malam nanti adalah malam yang krusial. Dia telah mengumpulkan bahan yang cukup untuk meracik Pil Pembersih Sumsum, pil legendaris yang akan membantunya menembus Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3. Saat Chen Fan sedang memikirkan rencana kultivasi malamnya, tiba-tiba dari arah gerbang masuk proyek terdengar suara raungan mesin mobil sport yang sangat nyaring. Sebuah mobil Porsche Panamera berwarna hitam metalik melesat masuk dan berhenti tepat di depan kantor pemasaran proyek. Kehadiran mobil mewah itu langsung menghentikan aktivitas para pekerja. Mandor Wang yang tadinya pasang muka sangar langsung membuang rokoknya, membenulkan letak bajunya yang kusut, dan berlari dengan membungkuk-bungkuk penuh hormat bagaikan seekor anjing yang melihat majikannya. Pintu mobil terbuka, dan dari dalam sana turunlah seorang wanita yang langsung membuat atmosfer di sekitar proyek yang panas terasa membeku. Wanita itu mengenakan setelan blazer bisnis berwarna hitam yang melekat pas di tubuhnya yang ramping dan proporsional. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya yang seputih salju. Wajahnya secantik dewi dalam lukisan, namun ekspresinya begitu dingin dan angkuh, seolah-olah tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang berhak masuk ke dalam pandangannya. Dia adalah Su Qingxue, CEO wanita dari Su Group, salah satu wanita paling berpengaruh dan diincar oleh seluruh pemuda kaya di Kota Jiangnan. Chen Fan yang berdiri di balkon lantai dua sambil memegang sekop, menundukkan kepalanya agar tidak menarik perhatian. Namun, begitu matanya melirik ke arah Su Qingxue, alis Chen Fan tiba-tiba berkerut. Mata kultivatornya melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia fana. Di sekeliling tubuh indah Su Qingxue, samar-samar terpancar aura kabut berwarna biru es yang sangat kelam dan dingin. Aura itu bergerak liar, seolah-olah sedang menggerogoti energi kehidupan dari dalam organ tubuh wanita tersebut. Chen Fan terkejut di dalam hatinya. ‘Itu... Sembilan Tubuh Yin Dingin?! Bagaimana mungkin fisik kultivasi legendaris itu bisa muncul pada seorang wanita di dunia fana ini?’Angin malam yang menderu di Pegunungan Kunlun membawa aroma kuno yang sarat akan energi Qi liar. Berbeda dengan Pegunungan Wudang atau Tianshan, deretan puncak di Kunlun dikenal sejak zaman purba sebagai "Urat Tubuh Naga" dari benua ini—tempat di mana batas antara dunia fana dan dimensi kultivasi terselubung menipis hingga batas tertipisnya.Di sebuah celah tebing terjal setinggi empat ribu meter di atas permukaan laut, hamparan salju abadi tampak terbelah oleh sebuah celah spasial raksasa berbentuk oval. Cahaya perak kebiruan membias dari dalam celah tersebut, memancarkan pusaran energi berdiameter lima puluh meter yang bergemuruh pelan. Inilah Pintu Gerbang Tersembunyi Kunlun, jalan lintas dimensi yang menghubungkan bumi fana dengan Ranah Tersembunyi Kunlun (Kunlun Hidden Realm).Di depan pintu gerbang spasial tersebut, berdiri dua puluh pengawal mengenakan zirah baja berwarna perunggu tebal. Masing-masing dari mereka menggenggam tombak panjang bertatahkan batu giok e
Aura membunuh yang memancar dari tubuh Gu Mu membubung tinggi, membelah gulungan awan di atas Puncak Pelangi Emas. Cahaya kebiruan dari Pedang Pusaka Pemotong Bintang kian memekatkan udara malam, memicu munculnya petir-petir halus berwarna perak di sekeliling pilar-pilar batu perunggu. Ranah Half-Step Golden Core yang diusungnya bukan sekadar gertakan; energi kehidupan yang dikumpulkannya selama seratus tahun pengasingan terkonsentrasi penuh pada mata bilah di genggamannya.Nenek Jiwa Es menggeram rendah, menghentakkan tongkat giok hitamnya ke atas tanah.SLRRRP————!Dua belas pilar es abadi setinggi sepuluh meter meledak keluar dari bawah pelataran batu, mengurung posisi Chen Fan dan Su Qingxue dalam Formasi Penjara Es Jiwa. Hawa dingin ekstrem anjlok drastis, membekukan molekul udara di sekitar mereka hingga membentuk kristal-kristal es tajam yang melayang siap menusuk."Bocah sombong!" seru Nenek Jiwa Es dengan suara melengking. "Dengan Penjara Es Jiwa milikk
Puncak Wudang di Bawah Bulan Purnama.Malam bulan purnama tiba di atas Pegunungan Wudang. Cahaya perak berdesir menyinari lautan awan yang membentang di sepanjang lembah, memantulkan bayangan gelap dari pilar-pilar batu raksasa dan kuil-kuil kuno yang berdiri tegak sejak ribuan tahun lalu. Di puncak tertinggi, Puncak Pelangi Emas, hawa dingin yang membekukan jiwa membalut setiap sudut tebing. Hembusan angin malam tidak lagi membawa aroma pinus yang menenangkan, melainkan bau tajam dari besi tua dan Niat Membunuh (Killing Intent) yang dipancarkan oleh ratusan praktisi beladiri dari sekte-sekte tersembunyi.Di tengah pelataran batu Puncak Pelangi Emas, sebuah altar perunggu kuno berdiri di bawah naungan panji-panji besar bertuliskan lambang Tiga Sekte Tersembunyi: Klan Pedang Surgawi, Sekte Lembah Es Murni, dan Klan Tinju Penguncah Jiwa.Lebih dari tiga ratus murid elit sekte mengenakan jubah putih berdada perak berdiri bersila dalam formasi melingkar. Di tangan mereka mas
Angin dingin pasca-badai di Puncak Tianshan perlahan mereda, menyisakan keheningan agung di atas hamparan salju yang kini ternoda oleh abu hitam sisa pembakaran energi Yang Murni. Di ketinggian ribuan kaki, jet taktis supersonik Tianlong-1 melayang stabil membelah samudra awan, meluncur memotong jalur udara menuju jantung ibu kota pusat.Di dalam kabin privat yang kedap suara dan berornamen kayu cendana hitam, Chen Fan duduk bersila di atas bantalan sutera. Mantel abu-abu gelapnya terhampar rapi di sampingnya. Di balik kemeja hitam yang membungkus tubuh tegapnya, pilar emas Inti Pondasi (Foundation Establishment Core) di dalam Dantiannya memancarkan pendaran cahaya suci yang kian padat dan mengkristal.Setelah menyerap sisa esensi darah murni dari Raja Darah Purba Vladis dan memurnikannya dengan Api Naga Langit, sirkulasi energi Chen Fan telah secara resmi menginjakkan kaki di puncaknya Ranah Pondasi Agung. Setiap kali napas raganya berembus, molekul udara di dalam kabi
ARGHHHHH————!Jeritan melengking yang membelah angkasa lolos dari mulut Raja Darah Purba Vladis. Suara itu bukan sekadar raungan kesakitan fisik, melainkan getaran keputusasaan murni dari makhluk yang menyadari bahwa eksistensinya yang telah bertahan selama ribuan tahun kini berada di ambang kemusnahan total.Api putih keemasan Yang Murni Naga Langit yang menjalar melalui genggaman tangan Chen Fan bekerja layaknya cairan asam panas yang membakar setiap sel di dalam tubuh Vladis. Kulit merah tembaga yang tadinya sekeras baja purba itu mulai melepuh, menghitam, lalu mengelupas memperlihatkan tulang-tulang kerangka yang berpendar dengan cahaya merah padam. Asap tebal berbau busuk dan belerang membubung tinggi, terkikis oleh angin es Tianshan sebelum sempat menyebar."Tidak... Tidak mungkin!" Vladis meronta-ronta dengan liar. Keempat sayap membran berdarahnya mengepak beringas, menciptakan badai tekanan udara yang sanggup merobek baja. Namun, cengkeraman tangan kanan Ch
Badai es mengamuk ganas di sepanjang celah Pegunungan Tianshan. Angin membekukan berkecepatan lebih dari seratus kilometer per jam menggemuruhkan salju tebal, menutupi bukit-bukit batu terjal dengan hamparan putih murni yang mematikan. Pada suhu ekstrem minus lima puluh lima derajat Celsius ini, kehidupan fana tidak memiliki tempat untuk bertahan—kecuali bagi mereka yang membawa aura kematian dan kegelapan purba.Di puncak tertinggi Tianshan, sebuah altar batu kuno melingkar berdiri megah di atas hamparan es abadi. Delapan pilar batu berukir huruf-huruf Runic purba mengelilingi sebuah peti mati batu raksasa berwarna hitam legam yang dililit oleh rantai-rantai baja perak murni.Di sekeliling altar, seratus praktisi elit Klan Darah Abadi yang mengenakan jubah bermotif mawar darah berdiri bersila. Dari telapak tangan mereka yang terluka, mengalir cairan darah merah pekat yang langsung mengalir menyusuri parit-parit ukiran altar, mengumpul masuk ke dalam celah-celah peti ma







