Share

BAB 3

Author: MasYB
last update publish date: 2026-06-13 18:26:49

Matahari perlahan tenggelam di balik deretan gedung pencakar langit Kota Jiangnan, menyisakan warna jingga keunguan yang temaram. Jam dinding di pos satpam proyek akhirnya menunjukkan pukul lima sore. Suara peluit panjang berbunyi, menandakan jam kerja bagi para buruh kasar telah berakhir.

Para pekerja proyek mulai meletakkan alat-alat mereka dengan helaan napas lega. Mereka mengantre di depan loket pembayaran harian untuk menerima upah. Begitu pula dengan Chen Fan. Dia berdiri di barisan paling belakang, dengan sabar menunggu gilirannya sambil tetap memasang wajah lelah dan pundak yang sedikit membungkuk.

"Xiao Chen, ini upahmu hari ini. Empat puluh Yuan!" Mandor Wang melemparkan dua lembar uang kertas lusuh ke atas meja dengan tatapan meremehkan.

Chen Fan mengambil uang itu, lalu menghitungnya dengan raut wajah bingung yang dibuat-buat. "Maaf, Mandor Wang... Bukankah seharusnya upah harian saya delapan puluh Yuan? Kenapa hari ini hanya setengah?"

"Kurang ajar! Kamu masih berani bertanya?!" Mandor Wang menggebrak meja kayu di depannya hingga debu semen berterbangan. "Tadi siang kamu bolos ke toilet hampir setengah jam! Lalu sorenya kerjaanmu malas-malasan sampai membuat Nona Besar Su berhenti di koridor karena lantai yang kamu sapu kotor! Potongan empat puluh Yuan itu sudah murah, tahu! Kalau kamu protes lagi, besok tidak usah datang kerja!"

Para kuli lain yang mengantre di belakang Chen Fan hanya bisa menatap dengan pandangan iba, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani membela. Di lokasi proyek ini, Mandor Wang adalah raja kecil. Menentangnya berarti siap-siap kelaparan karena kehilangan pekerjaan.

"Ah... Baik, Mandor Wang. Maafkan saya. Terima kasih," Chen Fan buru-buru memasukkan uang itu ke dalam saku celananya yang robek, memasang wajah pasrah seolah-olah dia sangat terpukul dengan potongan tersebut.

"Cih, dasar anak haram panti asuhan yang tidak berguna. Cepat pergi dari hadapanku, bikin sepet mata saja!" usir Mandor Wang sambil mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat.

Chen Fan membungkuk hormat sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan keluar dari area proyek. Namun, begitu melangkah melewati gerbang seng pembatas proyek, ekspresi tertindas di wajah Chen Fan lenyap dalam sekejap. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang penuh arti.

‘Wang serakah, empat puluh Yuan yang kamu potong hari ini... kelak harus kamu bayar dengan seluruh kekayaan dan reputasimu di kota ini,’ batin Chen Fan santai.

Uang puluhan Yuan bukanlah apa-apa baginya. Alasan sebenarnya dia bertahan menjadi kuli bangunan selama berbulan-bulan ini adalah bagian dari metode Kultivasi Melebur ke Dunia Fana (Dao Threshold Refining). Untuk membangun fondasi kultivasi yang kokoh, seorang kultivator tidak boleh hanya bermeditasi di tempat terpencil. Dia harus merasakan langsung penderitaan, keringat, kehinaan, dan kerasnya kehidupan lapisan terbawah manusia fana agar hatinya menjadi sekeras baja dan tidak goyah oleh iblis dalam hati (Inner Demons) di masa depan.

Chen Fan berjalan menyusuri jalanan Kota Jiangnan yang mulai menyalakan lampu-lampu neonnya. Kontras kota ini sangat ekstrem; di satu sisi ada distrik finansial yang dipenuhi mobil-mobil mewah dan wanita berpakaian modis, namun hanya beberapa kilometer di sebelahnya, terdapat Distrik Shanty—daerah kumuh yang dipenuhi bangunan semi-permanen, bau sampah, dan gang-gang sempit yang becek.

Di sinilah Chen Fan tinggal. Sebuah kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter di lantai paling atas sebuah rumah toko tua yang hampir roboh. Harga sewanya sangat murah, dan yang paling penting, tempat ini sangat terisolasi sehingga tidak ada yang akan mengganggunya.

Klek.

Chen Fan mengunci pintu kayu kamarnya yang rapuh, lalu memasang palang besi tambahan dari dalam. Kamar itu sangat sederhana; hanya ada sebuah kasur tipis di lantai, sebuah lemari pakaian plastik, dan sebuah meja kayu kecil yang dipenuhi beberapa buku bekas.

Chen Fan melepas singlet putihnya yang kotor dan penuh noda semen. Di balik pakaian lusuh itu, bentuk tubuh Chen Fan sebenarnya sangat sempurna. Setiap jengkal ototnya tidak besar seperti binaragawan, melainkan padat, proporsional, dan memancarkan garis estetika yang luar biasa, seolah-olah dipahat oleh dewa. Kulitnya yang semula terlihat kusam di bawah terik matahari, kini perlahan memancarkan kilau putih susu yang bersih begitu energi Qi di dalam tubuhnya mulai berputar secara alami.

Dia duduk bersila di atas kasur tipisnya. Chen Fan memejamkan mata, mengatur napasnya mengikuti ritme Teknik Pernapasan Naga Langit.

Wusss...

Dalam hitungan detik, aura di dalam kamar sempit itu berubah drastis. Udara yang tadinya pengap dan panas mendadak menjadi sejuk dan segar. Tekanan udara di sekitar Chen Fan meningkat, membuat tirai jendela yang usang bergerak-gerak tanpa adanya angin dari luar.

Setiap kali Chen Fan menarik napas, partikel-partikel cahaya spiritual murni yang melayang di udara—yang tidak kasat mata bagi manusia biasa—terserot masuk ke dalam hidung dan pori-pori kulitnya, mengalir menuju pembuluh darah dan berkumpul di dalam Dantian (pusat energi) di bawah pusarnya.

Setelah memastikan kondisi tubuh dan mentalnya mencapai puncaknya setelah seharian bekerja keras, Chen Fan membuka matanya. Kilatan cahaya keemasan melesat dari kedua pupilnya, membelah kegelapan kamar selama beberapa detik sebelum meredup kembali.

Dia menyentuh liontin giok hijau kusam yang tergantung di lehernya.

"Buka," bisik Chen Fan pelan.

Hummm!

Ruang di depan Chen Fan mendadak bergetar samar. Sebuah riak transparan muncul, dan dari dalam riak tersebut, sebuah kuali tembaga kuno berukuran sebesar pelukan bayi meluncur keluar dan mendarat tanpa suara di lantai semen. Kuali itu dipenuhi ukiran kuno berbentuk tanaman obat dan simbol-simbol fengshui yang rumit. Ini adalah Kuali Sembilan Alkemis, salah satu harta karun tingkat rendah yang tersimpan di dalam Cincin Penyimpanan Gaib miliknya.

Tak hanya kuali, Chen Fan juga mengeluarkan beberapa kantong plastik hitam yang berisi berbagai tanaman herbal yang dia beli secara mencicil dari pasar loak dan pasar tradisional selama sebulan terakhir. Ada Ginseng liar usia rendah, bunga krisan kering, akar manis, dan beberapa batang rumput spiritual liar yang dia temukan tumbuh di sela-sela batu sumur tua panti asuhan.

"Bahan-bahannya sudah lengkap," ujar Chen Fan sambil memeriksa satu per satu tanaman tersebut dengan indra penciuman kultivatornya. "Meskipun kualitas bahan fana ini sangat rendah, namun dengan teknik alkimia dari Leluhur Alkemis, itu sudah lebih dari cukup untuk meracik Pil Pembersih Sumsum tingkat rendah."

Bagi seorang kultivator di dunia fana yang miskin energi spiritual seperti bumi saat ini, pil obat adalah segalanya. Tanpa bantuan pil, kecepatan kultivasi akan sangat lambat bak siput.

Chen Fan menarik napas dalam-dalam. Dia menjulurkan telapak tangan kanannya ke bagian bawah Kuali Sembilan Alkemis.

"Api Qi, bangkit!"

Syuuu!

Sebuah nyala api berwarna merah keemasan tiba-tiba meletup dari telapak tangan Chen Fan, langsung membakar bagian dasar kuali tembaga tersebut. Api ini bukanlah api biasa yang membutuhkan bahan bakar oksigen, melainkan Api Internal Qi yang tercipta dari pembakaran energi spiritual murni di dalam tubuh Chen Fan. Suhu di dalam kamar langsung melonjak drastis, namun Chen Fan mengendalikan energinya dengan sangat presisi agar panasnya tidak merembet ke dinding kamar dan memicu kebakaran.

Dengan tangan kirinya, Chen Fan memasukkan bahan herbal satu per satu ke dalam kuali dengan urutan yang sangat spesifik. Pertama adalah Ginseng liar untuk membangun basis energi, diikuti oleh akar manis untuk menetralkan racun alami tumbuhan, dan terakhir adalah rumput spiritual dari sumur tua sebagai katalis utama.

Ngesisss...

Suara tumbuhan yang mencair dan menguap terdengar dari dalam kuali. Aroma harum obat yang sangat menenangkan mulai menyeruak, memenuhi setiap sudut ruangan. Jika manusia biasa menghirup aroma ini, penyakit flu atau pegal-pegal mereka dipastikan akan sembuh seketika. Namun, Chen Fan segera mendirikan penghalang Qi tak terlihat di sekitar kamarnya agar aroma ini tidak bocor keluar bangunan dan mengundang kecurigaan tetangga kontrakan.

Wajah Chen Fan tampak sangat serius. Dahinya mulai ditetesi keringat. Meracik pil di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 2 adalah tugas yang sangat menguras energi mental dan fisik. Satu kesalahan kecil dalam mengontrol suhu api akan membuat seluruh bahan herbal berharga ini hangus menjadi abu tidak berguna.

Satu jam... dua jam... tiga jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan.

Api merah keemasan di bawah kuali perlahan mulai mengecil seiring dengan menipisnya cadangan energi Qi di dalam tubuh Chen Fan. Namun, esensi dari seluruh tanaman herbal di dalam kuali kini telah menyatu, membentuk sebuah gumpalan cairan kental berwarna hijau zamrud yang berputar-putar dengan cepat.

"Tahap akhir... Pembentukan Pil!" seru Chen Fan di dalam hatinya.

Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan kuali, lalu menghentakkan energi Qi terakhirnya dengan kuat.

Bummm!

Sebuah suara dentuman tumpul terdengar dari dalam kuali, diikuti oleh kilatan cahaya hijau samar yang memancar dari lubang udara kuali tembaga tersebut. Wangi obat yang tadinya pekat mendadak tersedot kembali masuk ke dalam kuali, menandakan bahwa seluruh esensi telah terkunci dengan sempurna.

Chen Fan menurunkan tangannya, napasnya terengah-engah, dan wajahnya tampak sedikit pucat karena kehabisan energi. Namun, matanya memancarkan kegembiraan yang luar biasa.

Dia mendekati kuali dan melihat ke dalam. Di dasar kuali tembaga yang panas itu, terletak tiga butir pil berbentuk bulat sempurna berukuran sebesar kelereng. Pil-pil itu berwarna hijau giok dengan guratan-guratan urat putih samar di permukaannya, memancarkan aura kehidupan yang sangat murni.

"Berhasil..." Chen Fan tersenyum lebar. "Tiga butir Pil Pembersih Sumsum kualitas spiritual rendah. Dengan ini, mendobrak Ranah Kondensasi Qi Tingkat 3 bukan lagi sekadar impian!"

Chen Fan mengambil satu butir pil yang masih hangat tersebut, sementara dua butir sisanya dia simpan kembali ke dalam liontin gioknya untuk cadangan atau keperluan darurat.

Dia kembali duduk bersila di atas kasurnya. Tanpa ragu-ragu, Chen Fan memasukkan pil hijau giok itu ke dalam mulutnya dan langsung menelannya.

Gluk.

Pil itu langsung mencair begitu menyentuh tenggorokannya, berubah menjadi aliran energi cair yang luar biasa panas—bagaikan lahar gunung berapi—yang langsung mengalir deras menuju lambung dan menyebar ke seluruh jaringan meridian di tubuhnya.

"Ugh!"

Chen Fan mengerang tertahan. Pembuluh darah di sekujur tubuhnya mendadak menonjol keluar, berdenyut-denyut dengan warna merah menyala. Rasa sakit yang teramat sangat, seolah-olah seluruh tulang dan ototnya sedang dihancurkan lalu disusun kembali, mulai menyiksa kesadarannya.

Ini adalah proses pembersihan sumsum dan pembuangan kotoran fana. Chen Fan tahu dia harus bertahan. Dia segera memejamkan mata erat-erat, mengertakkan gigi hingga berdarah, dan mulai memutar Teknik Pernapasan Naga Langit dengan kecepatan penuh untuk menjinakkan energi liar dari pil tersebut.

Malam itu, di dalam kamar kontrakan yang kumuh dan terisolasi, proses transformasi agung seorang naga yang sedang mengganti kulitnya tengah berlangsung dengan penuh penderitaan dan keagungan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 74

    Angin malam yang menderu di Pegunungan Kunlun membawa aroma kuno yang sarat akan energi Qi liar. Berbeda dengan Pegunungan Wudang atau Tianshan, deretan puncak di Kunlun dikenal sejak zaman purba sebagai "Urat Tubuh Naga" dari benua ini—tempat di mana batas antara dunia fana dan dimensi kultivasi terselubung menipis hingga batas tertipisnya.Di sebuah celah tebing terjal setinggi empat ribu meter di atas permukaan laut, hamparan salju abadi tampak terbelah oleh sebuah celah spasial raksasa berbentuk oval. Cahaya perak kebiruan membias dari dalam celah tersebut, memancarkan pusaran energi berdiameter lima puluh meter yang bergemuruh pelan. Inilah Pintu Gerbang Tersembunyi Kunlun, jalan lintas dimensi yang menghubungkan bumi fana dengan Ranah Tersembunyi Kunlun (Kunlun Hidden Realm).Di depan pintu gerbang spasial tersebut, berdiri dua puluh pengawal mengenakan zirah baja berwarna perunggu tebal. Masing-masing dari mereka menggenggam tombak panjang bertatahkan batu giok e

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 73

    Aura membunuh yang memancar dari tubuh Gu Mu membubung tinggi, membelah gulungan awan di atas Puncak Pelangi Emas. Cahaya kebiruan dari Pedang Pusaka Pemotong Bintang kian memekatkan udara malam, memicu munculnya petir-petir halus berwarna perak di sekeliling pilar-pilar batu perunggu. Ranah Half-Step Golden Core yang diusungnya bukan sekadar gertakan; energi kehidupan yang dikumpulkannya selama seratus tahun pengasingan terkonsentrasi penuh pada mata bilah di genggamannya.Nenek Jiwa Es menggeram rendah, menghentakkan tongkat giok hitamnya ke atas tanah.SLRRRP————!Dua belas pilar es abadi setinggi sepuluh meter meledak keluar dari bawah pelataran batu, mengurung posisi Chen Fan dan Su Qingxue dalam Formasi Penjara Es Jiwa. Hawa dingin ekstrem anjlok drastis, membekukan molekul udara di sekitar mereka hingga membentuk kristal-kristal es tajam yang melayang siap menusuk."Bocah sombong!" seru Nenek Jiwa Es dengan suara melengking. "Dengan Penjara Es Jiwa milikk

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 72

    Puncak Wudang di Bawah Bulan Purnama.Malam bulan purnama tiba di atas Pegunungan Wudang. Cahaya perak berdesir menyinari lautan awan yang membentang di sepanjang lembah, memantulkan bayangan gelap dari pilar-pilar batu raksasa dan kuil-kuil kuno yang berdiri tegak sejak ribuan tahun lalu. Di puncak tertinggi, Puncak Pelangi Emas, hawa dingin yang membekukan jiwa membalut setiap sudut tebing. Hembusan angin malam tidak lagi membawa aroma pinus yang menenangkan, melainkan bau tajam dari besi tua dan Niat Membunuh (Killing Intent) yang dipancarkan oleh ratusan praktisi beladiri dari sekte-sekte tersembunyi.Di tengah pelataran batu Puncak Pelangi Emas, sebuah altar perunggu kuno berdiri di bawah naungan panji-panji besar bertuliskan lambang Tiga Sekte Tersembunyi: Klan Pedang Surgawi, Sekte Lembah Es Murni, dan Klan Tinju Penguncah Jiwa.Lebih dari tiga ratus murid elit sekte mengenakan jubah putih berdada perak berdiri bersila dalam formasi melingkar. Di tangan mereka mas

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 71

    Angin dingin pasca-badai di Puncak Tianshan perlahan mereda, menyisakan keheningan agung di atas hamparan salju yang kini ternoda oleh abu hitam sisa pembakaran energi Yang Murni. Di ketinggian ribuan kaki, jet taktis supersonik Tianlong-1 melayang stabil membelah samudra awan, meluncur memotong jalur udara menuju jantung ibu kota pusat.Di dalam kabin privat yang kedap suara dan berornamen kayu cendana hitam, Chen Fan duduk bersila di atas bantalan sutera. Mantel abu-abu gelapnya terhampar rapi di sampingnya. Di balik kemeja hitam yang membungkus tubuh tegapnya, pilar emas Inti Pondasi (Foundation Establishment Core) di dalam Dantiannya memancarkan pendaran cahaya suci yang kian padat dan mengkristal.Setelah menyerap sisa esensi darah murni dari Raja Darah Purba Vladis dan memurnikannya dengan Api Naga Langit, sirkulasi energi Chen Fan telah secara resmi menginjakkan kaki di puncaknya Ranah Pondasi Agung. Setiap kali napas raganya berembus, molekul udara di dalam kabi

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 70

    ARGHHHHH————!Jeritan melengking yang membelah angkasa lolos dari mulut Raja Darah Purba Vladis. Suara itu bukan sekadar raungan kesakitan fisik, melainkan getaran keputusasaan murni dari makhluk yang menyadari bahwa eksistensinya yang telah bertahan selama ribuan tahun kini berada di ambang kemusnahan total.Api putih keemasan Yang Murni Naga Langit yang menjalar melalui genggaman tangan Chen Fan bekerja layaknya cairan asam panas yang membakar setiap sel di dalam tubuh Vladis. Kulit merah tembaga yang tadinya sekeras baja purba itu mulai melepuh, menghitam, lalu mengelupas memperlihatkan tulang-tulang kerangka yang berpendar dengan cahaya merah padam. Asap tebal berbau busuk dan belerang membubung tinggi, terkikis oleh angin es Tianshan sebelum sempat menyebar."Tidak... Tidak mungkin!" Vladis meronta-ronta dengan liar. Keempat sayap membran berdarahnya mengepak beringas, menciptakan badai tekanan udara yang sanggup merobek baja. Namun, cengkeraman tangan kanan Ch

  • KULTIVASI GANDA SANG KULI PROYEK    BAB 69

    Badai es mengamuk ganas di sepanjang celah Pegunungan Tianshan. Angin membekukan berkecepatan lebih dari seratus kilometer per jam menggemuruhkan salju tebal, menutupi bukit-bukit batu terjal dengan hamparan putih murni yang mematikan. Pada suhu ekstrem minus lima puluh lima derajat Celsius ini, kehidupan fana tidak memiliki tempat untuk bertahan—kecuali bagi mereka yang membawa aura kematian dan kegelapan purba.Di puncak tertinggi Tianshan, sebuah altar batu kuno melingkar berdiri megah di atas hamparan es abadi. Delapan pilar batu berukir huruf-huruf Runic purba mengelilingi sebuah peti mati batu raksasa berwarna hitam legam yang dililit oleh rantai-rantai baja perak murni.Di sekeliling altar, seratus praktisi elit Klan Darah Abadi yang mengenakan jubah bermotif mawar darah berdiri bersila. Dari telapak tangan mereka yang terluka, mengalir cairan darah merah pekat yang langsung mengalir menyusuri parit-parit ukiran altar, mengumpul masuk ke dalam celah-celah peti ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status