LOGINHendy membelalakkan mata. "Maksud Ibu, Pak Rehan yang merancang semua ini?""Rehan tidak lagi punya akses langsung ke server kita, Hendy. Tapi seseorang di dalam ruangan rapat tadi... menyuapinya informasi dan menyerahkan berkas itu padanya," Isyana mengetukkan jarinya ke meja, mengingat kembali setiap detail gestur para petinggi perusahaan saat rapat berlangsung. "Rehan tahu persis apa yang dikatakan Pak Gunawan padaku. Dia tahu para investor menuntut rapat darurat besok pagi. Itu artinya, si pengkhianat baru saja melapor padanya tepat setelah rapat usai."Hendy mengepalkan tangannya. "Siapa orangnya, Bu? Biar saya minta tim keamanan periksa semua ponsel anggota direksi!""Jangan gegabah," potong Isyana tenang. "Pencuri yang merasa aman adalah pencuri yang paling mudah dijebak. Rehan dan orang dalam itu sedang merasa berada di atas angin saat ini. Mereka pikir kita sedang panik dan tak berdaya."Isyana bangkit dari duduknya, berdiri tegap membelakangi mejanya seraya menatap pemandang
"Tepat sekali," sahut Isyana renyah. "Data itu diakses dan disalin secara internal menggunakan kartu akses jajaran direksi pada jam-jam yang tidak wajar."Ruang rapat seketika riuh kembali. Para pemegang saham saling pandang dengan kecurigaan yang makin memuncak.Pak Gunawan mengetuk meja dengan jarinya. "Kalau begitu, siapa pelakunya?! Jangan mengalihkan isu, Bu Isyana! Sebelum Anda menemukan pelakunya dan menyelesaikan masalah ini, kami para pemegang saham menuntut rapat darurat kedua dua hari dari sekarang untuk menentukan penangguhan jabatan Anda sebagai Direktur Utama!"Tuntutan penangguhan jabatan itu menggantung di udara bagai pedang eksekusi.Alih-alih gentar atau memohon, Isyana justru menyandarkan punggungnya dengan tenang."Baik," sahut Isyana dengan tatapan tajam yang membuat Pak Gunawan tertahan. "Saya menerima tuntutan rapat darurat dua hari lagi. Dan saya berjanji, sebelum rapat dimulai... saya bukan hanya membawa solusi untuk memulihkan saham kita, tetapi juga menyerah
Pintu kaca tebal ruang rapat utama di lantai lima terdorong pelan. Begitu Isyana melangkah masuk, keheningan yang mencekam seketika menyapu ruangan.Puluhan pasang mata yang memancarkan amarah, keraguan, dan kecemasan, teruju lurus pada sosoknya.Di ujung meja lonjong, beberapa pemegang saham utama duduk bersedekap dengan raut wajah memerah padam. Di sisi kiri, Bagas duduk menunduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di atas pangkuannya, berpura-pura memasang raut wajah prihatin dan terpukul atas musibah yang menimpa perusahaan.Isyana melangkah dengan tenang, berjalan perlahan menuju kursi utamanya di ujung meja. Setiap ketukan sepatu hak tingginya berbunyi nyaring menghantam lantai marmer, seolah menegaskan bahwa dialah pemilik kekuasaan di ruangan itu.Hendy berjalan sigap di belakangnya, memegang bundel berkas analisis dampak pasar."Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," Isyana menyapa dengan nada suara yang teramat halus, stabil, dan tanpa celah kepanikan sedikit pun.Belum
"Gaya kepemimpinan Anda sangat menginspirasi, Bu Isyana," ucap Linkin tulus. "Saya yakin, di bawah kendali Anda, proyek stadion ini akan menjadi landmark terbaik di kota ini."Isyana menoleh, menatap luasnya lahan proyek yang membentang di hadapannya. Rintangan hebat telah dia lalui, rasa sakit telah dia lebur menjadi kekuatan, dan kini masa depan baru yang jauh lebih cerah telah membentang luas untuknya dan Abim."Mari kita mulai pembangunannya, Mr. Linkin" ucap Isyana mantap dengan senyuman paling indah dan penuh rasa percaya diri.Bagas melangkah keluar dari gedung Pilar Corporation dengan dada berdesir cepat namun penuh kepuasan.Langkah kakinya terasa begitu ringan di atas trotoar yang basah oleh embun malam. Di dalam saku jasnya, sebuah flashdisk kecil berisi seluruh formula rahasia, draf pemasaran, dan strategi peluncuran lini kosmetik terbaru Pilar Corporation tersimpan dengan aman.Tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada petugas keamanan yang mencurigainya. Rencananya berjal
Kenyataan pahit menghantam Sinta.Menjalankan perusahaan raksasa peninggalan Arlan Wijaya ternyata adalah mimpi buruk bagi Sinta yang tidak memiliki latar belakang bisnis formal. Dalam hitungan minggu, berkas-berkas audit, laporan keuangan, tuntutan dewan direksi, dan desakan para pemegang saham mulai mencekiknya.Beberapa direktur senior mulai mencoba memanipulasi keputusan, dan sengketa internal mengancam keberlangsungan perusahaan tempat masa depan Rosy bergantung.Sinta berada di titik nadir. Kelelahan fisik dan mental membuatnya terjaga setiap malam. Ia sadar, jika dibiarkan begini terus, perusahaan peninggalan Arlan Wijaya untuk anaknya akan hancur digerogoti jajaran direksi yang licik.Di tengah keputusasaan itu, Sinta tidak punya pilihan lain. Bayangan Rehan muncul, dia yang setidaknya paham seluk-beluk manajemen korporat.Sore itu, Rehan yang sedang duduk melamun di teras rumah ibunya dikagetkan oleh suara deru mobil yang berhenti di depan pagar.Pintu mobil terbuka, dan Sint
Mila menghentikan tangisannya, menatap Rehan dengan mata berbinar oleh ketamakan yang tertutup keputusasaan. "Sinta itu wanita yang hatinya lembek, Rehan. Apalagi kalau menyangkut Rosy. Aset Arlan Wijaya itu jatuh ke tangan Rosy, bukan Sinta langsung. Gunakan anak itu. Katakan padanya kau merindukan Rosy, kau ingin melindungi hak Rosy sebagai figur ayah yang utuh. Lagipula, kau memang sudah menganggap Rosy anakmu sendiri, kan? Pakai celah itu untuk masuk dan kuasai perusahaan Arlan Wijaya!"Penjelasan ibunya menghantam logika Rehan. Ada kebenaran dalam ucapan itu. Sinta adalah tipe wanita yang mengedepankan perasaan daripada akal sehat, sangat bertolak belakang dengan Isyana yang kini bertindak mengandalkan perhitungan bisnis dan hukum yang kejam. Isyana sudah menguncinya, memutus semua akses rekening korporat, dan menuntut ganti rugi atas aset keluarga yang sempat Rehan jaminkan.Gengsi Rehan tercabik, namun bayangan menjadi pria tanpa harta dan kekuasaan jauh lebih menakutkan baginy







