로그인Sedan mewah Isyana berhenti tepat di depan lobi kantor. Dengan langkah anggun namun penuh ketegasan, dia berjalan melewati meja resepsionis yang langsung menunduk hormat. Begitu sampai di ruangan kerjanya, Hendy sudah menunggu dengan setumpuk berkas baru di tangannya.
Isyana meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi kebesarannya. "Hendy, tutup pintunya." Hendy segera mematuhi perintah itu dan mengunci pintu dari dalam. "Ada hal penting yang ingin Anda bicarakan, Ibu?" "Selidiki latar belakang Sinta dan perusahaannya yang selama ini bekerja sama dengan kita," perintah Isyana dingin, matanya menatap tajam. "Aku mau laporan lengkapnya dalam sepuluh menit." Hendy tampak terkejut, namun profesionalismenya membuat pria itu langsung membuka laptop dan memeriksa basis data internal perusahaan. Jari-jarinya menari cepat di atas papan ketik. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menegangkan, hingga dahi Hendy mulai berkerut dalam. "Ini... ini aneh sekali, Ibu Isyana," gumam Hendy dengan nada tidak percaya. "Apa yang kamu temukan?" "Perusahaan atas nama Sinta yang terdaftar sebagai klien premium kita... ternyata tidak memiliki kantor fisik, tidak ada produk, dan tidak ada aktivitas operasional apa pun di lapangan. Singkatnya, perusahaan ini fiktif. Tidak ada perusahaan itu, Ibu. Sinta bukan seorang pengusaha atau klien." Isyana tersenyum sinis, sama sekali tidak terkejut. Tentu saja fiktif. Wanita itu hanya pemuas nafsu Rehan yang bersembunyi di balik kedok rekan bisnis. "Lalu bagaimana dengan aliran dana kerja sama mereka dengan Pilar Corporation?" tanya Isyana lagi. Hendy membolak-balik dokumen keuangan dengan cepat. "Itu dia yang membuat saya bingung. Meskipun perusahaannya fiktif, kiriman uang masuk ke rekening penampung kita atas nama kontrak mereka selalu lancar setiap bulan. Nilainya ratusan juta rupiah, tidak pernah terlambat satu hari pun." Isyana menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme yang teratur. Otak bisnisnya langsung membaca siasat busuk suaminya. "Uang itu bukan berasal dari Sinta, Hendy," ucap Isyana, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Periksa mutasi rekening keluar dari divisi operasional yang ditandatangani oleh Rehan secara khusus setiap pertengahan bulan." Hendy segera melakukan pencarian. Sedetik kemudian, matanya membelalak sempurna, wajahnya mendadak pucat. "Astaga... Ibu benar. Bapak Rehan mengeluarkan dana dengan dalih biaya vendor bayangan dari kas kita, lalu uang itu ditransfer ke rekening Sinta, dan oleh Sinta uang itu ditransfer balik sebagian ke perusahaan kita sebagai 'keuntungan kontrak'. Sisanya..." "Sisanya dipakai Rehan untuk membiayai rumah sakit anak haramnya, membelikan Sinta barang mewah, dan memanjakan keluarga besarnya sendiri menggunakan uangku," potong Isyana, suaranya sedingin es di kutub utara. Hendy menelan ludah dengan susah payah, ngeri melihat bagaimana Rehan merampok perusahaannya sendiri demi selingkuhannya. "Lalu, apa tindakan kita sekarang, Ibu? Jika ini terus dibiarkan, arus kas kita akan terganggu." Isyana menegakkan tubuhnya, sorot matanya berkilat penuh kemenangan. "Hentikan sekarang juga. Blokir semua akses keluar-masuk uang untuk rekening fiktif itu. Tarik kembali semua fasilitas operasional yang terhubung dengan nama Sinta atas wewenangku sebagai pemilik saham mayoritas." "Tapi Ibu, jika kita menghentikannya secara mendadak, Bapak Rehan pasti akan langsung tahu dan..." "Justru itu yang kuinginkan, Hendy," sela Isyana dengan senyuman yang sangat mengerikan. "Biarkan bajingan itu panik. Aku ingin tahu, bagaimana cara dia membayar biaya rumah sakit selingkuhannya dan membiayai gaya hidup ibunya yang benalu itu saat keran uang utamanya tiba-tiba mati total pagi ini." Hendy mengangguk patuh, merasakan aura kepemimpinan Isyana yang luar biasa. "Baik, Ibu. Saya laksanakan sekarang juga. Semua aliran dana resmi dihentikan." Isyana menatap layar komputernya yang menampilkan grafik keuangan perusahaan. Nikmati kepanikanmu hari ini, Rehan. Satu per satu oksigenmu akan kuhabisi, sampai kau merangkak di kakiku tanpa sepeser pun harta tersisa. Langkah kaki Isyana yang dibalut sepatu hak tinggi mengetuk lantai marmer ruang kerja utama dengan ritme yang tenang namun penuh wibawa. Setelah menyelesaikan urusannya dengan Hendy, dia memutuskan untuk berkeliling, memantau langsung suasana kerja di Pilar Corporation. Para karyawan tampak sibuk di kubikel masing-masing, beberapa menunduk hormat saat berpapasan dengannya. Langkah Isyana mendadak terhenti di dekat deretan meja divisi operasional. Sepasang matanya menyipit tajam. Di sana, di dalam sebuah ruangan kaca yang bertuliskan kubikel manajer, tampak seorang pemuda sedang bersandar malas di kursi kerjanya sambil bermain game di ponsel, dengan kaki yang diangkat ke atas meja. Tio. Adik kandung Rehan. Isyana mengepalkan tangannya tersembunyi di dalam saku blazer. Di rumah, anak itu selalu bersikap angkuh dan kerap menuntut uang saku tambahan pada Rehan, dengan alasan sedang merintis usaha. Siapa sangka, wajahnya justru terpampang di dalam kantor ini. Isyana menoleh, memberi isyarat pada seorang staf senior di dekatnya untuk mendekat. "Rani, kemari sebentar." Karyawan bernama Rani itu tersentak, buru-buru meletakkan berkasnya dan menghampiri Isyana dengan sikap sungkan. "Iya, Ibu Isyana? Ada yang bisa saya bantu?" Isyana melirik ke arah ruangan kaca tempat Tio berada. "Siapa pria di dalam ruangan itu? Sejak kapan dia bekerja di sini?"Genggaman tangan di atas meja marmer itu tidak terlepas selama beberapa detik. Hangatnya telapak tangan Linkin menyalurkan rasa tenang yang nyata, membuat debaran di dada Isyana berangsur mereda menjadi kelegaan yang lapang.Pintu kamar mandi berderit pelan saat Abim keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, diikuti oleh Friska di belakangnya. Melihat gerakan itu, Isyana menarik tangannya perlahan seraya merapikan ujung lengan gamis katunnya. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, dan Friska yang menangkap gelagat tersebut hanya menyunggingkan senyum penuh arti tanpa berkomentar sepatah kata pun."Ayo, Ma! Katanya mau ke kamar Nenek Ratna!" seru Abim penuh semangat seraya melompat mendekati ibunya.Linkin bangkit berdiri lebih dulu, mengancingkan kembali jasnya dengan gerakan anggun. "Mari kita turun ke lantai empat. Dr. van de Berg sudah menyiapkan kursi roda di teras taman dalam bila Bu Ratna ingin menghirup udara segar."Mereka berempat melangkah keluar menu
Cahaya matahari pagi menerobos tirai tipis kamar VIP lantai lima Arkana Medical Sanctuary. Kamar itu lebih mirip apartemen mewah bernuansa abu-abu dan kayu ek ketimbang ruang rawat inap rumah sakit.Isyana terbangun saat sayup-sayup mendengar celoteh ceria Abim dari arah ruang tamu luar. Kepalanya yang berdenyut hebat semalam kini terasa jauh lebih ringan. Ia beranjak dari ranjang king size yang empuk, melangkah ke kamar mandi marmer untuk membasuh muka dan mengambil wudu.Setelah mengenakan gamis katun panjang warna hijau zaitun dan melilitkan hijab instan senada, Isyana mendorong pintu kamar tidur.Di meja makan bundar ruang tengah, Abim sedang asyik melahap roti panggang isi keju. Friska duduk di seberangnya sambil menyeruput kopi hitam, membaca tablet kerja dengan kacamata berbingkai tipis."Mama sudah bangun!" seru Abim riang, mulutnya belepotan remah roti. "Tadi Om Linkin bawain sereal madu sama buah stroberi segar banyak banget, Ma!"Isyana tersenyum hangat, menghampiri Abim da
90Malam turun di Jakarta Pusat, membawa gerimis halus yang membasahi kaca ruang tunggu lantai empat Arkana Medical Sanctuary. Isyana masih berdiri mematung di samping ranjang Bu Ratna. Suara monitor jantung berdetak teratur, mengisi ruangan yang dingin dan steril.Obat penawar racun saraf perlahan mulai bekerja. Kelopak mata Bu Ratna yang keriput bergerak-gerak pelan sebelum terbuka sedikit, menatap Isyana dengan pandangan yang jauh lebih jernih dibanding saat di bukit Lembang."Isyana..." bisik Bu Ratna lemah.Isyana segera merapatkan duduknya, menggenggam jemari sang mertua. "Iya, Bu. Jangan banyak bicara dulu. Ibu sudah di Jakarta, di tempat yang sangat aman.""Rehan..." Setitik air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu, membasahi kain bantal putih. "Rehan anak kandung Ibu... tapi dosanya sudah terlalu besar, Nak. Jangan biarkan dia bawa kamu dan Abim ke neraka yang sama.""Isyana sudah mengurus semuanya, Bu," potong Isyana pelan namun tegas. "Rehan dan keluarga Brawijaya h
Sirene ambulans yang meraung di depan membuka jalanan tol Jakarta-Cikampek yang padat. Kecepatan iring-iringan itu stabil, namun ketegangan di dalam mobil sedan hitam Linkin membuat setiap detik terasa lambat dan mencekik leher.Isyana menyandarkan keningnya ke kaca mobil yang bergetar pelan. Kepalanya kembali berdenyut ngilu, bekas jahitan operasi di balik kain pasminanya terasa berdenyut-denyut menolak beban pikiran yang menumpuk. Namun, rasa sakit di raganya itu tak sebanding dengan rasa sesak saat membayangkan anak semata wayangnya, Abim, yang sedang berada di rumah bersama Friska.Rucas Brawijaya sudah di dalam sel Bareskrim, tapi tangannya ternyata masih begitu panjang di luar. Percobaan pembunuhan terhadap Sinta di rumah sakit membuktikan bahwa jaringan kejahatan keluarga Brawijaya bergerak bagai ular berkepala banyak; memotong satu kepala hanya akan membuat kepala lain mematuk secara membabi buta."Arkana," panggil Isyana dengan suara tegas meski kerongkongannya kering.Arkana
Kata "diledakkan" menggema di kamar berkabut itu bagai dentum meriam di ruang tertutup.Isyana mematung di lantai papan yang dingin. Tangan kurus Bu Ratna masih mencengkeram pergelangan tangannya begitu kuat, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Namun, rasa perih di kulit itu tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya.Sepuluh tahun lamanya ia hidup dalam keyakinan bahwa orang tuanya tewas karena cuaca buruk dan keteledoran teknis yang kebetulan. Pagi ini di Bareskrim, Rehan mengaku melonggarkan baut rotor demi iming-iming jabatan. Tapi kini, ibu kandung Rehan sendiri—orang yang diasingkan dan dicekoki obat penenang selama bertahun-tahun—membuka tabir yang jauh lebih mengerikan.Baut longgar itu hanyalah kamuflase cadangan. Pesawat itu dipastikan hancur sejak detik pertama roda rodanya lepas landas dari landasan Subang."Ibu... Ibu yakin dengan apa yang Ibu lihat?" bisik Isyana, suaranya tercekat di kerongkongan.Bu Ratna menangis terisak-
Jalanan aspal menanjak di kawasan perbukitan Lembang terasa lengang. Deretan pohon pinus dan kebun teh yang berselimut kabut tipis tampak melintas cepat di balik jendela kaca mobil sedan hitam yang melaju stabil. Udara dingin pegunungan merayap masuk perlahan lewat celah ventilasi, membuat Isyana merapatkan mantel katun yang membalut tubuhnya.Di kursi belakang, Isyana duduk berdampingan dengan Linkin. Selama dua jam perjalanan dari Jakarta, tangan Isyana bertaut rapat di atas pangkuan. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan lama tentang ibu mertuanya. Bu Ratna, perempuan berdarah Sunda yang selalu bicara dengan nada lembut dan nyaris tak pernah bersuara keras di depan siapa pun."Dua puluh menit lagi kita sampai di gerbang panti, Bu Isyana," suara Arkana dari kursi depan memecah keheningan, matanya melirik spion tengah untuk memastikan kondisi atasannya. "Tim medis dari klinik rekanan Arkana Group di Bandung sudah berada di lokasi lebih dulu dengan izin khusus dari dinas sosial s







