Home / Thriller / Kacamata Penakluk / 64. Target baru: Citra

Share

64. Target baru: Citra

Author: Lincooln
last update publish date: 2026-04-20 02:45:34

Hardi masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menggoyangkan ponsel di depan mataku ketika pintu ruangannya terdorong terbuka tanpa ketukan. Sosok mungil dengan langkah yang dibuat-buat anggun masuk begitu saja.

Citra. Rambutnya yang dicat cokelat madu tergerai berantakan namun disengaja, membingkai wajahnya yang mungil dengan bibir yang selalu dipoles lipstik merah menyala.

Hardi tersentak, jempolnya bergerak secepat kilat menyembunyikan layar ponsel ke dalam saku jas.

"Aduh, Om Hardi! Kok pin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kacamata Penakluk   67. Mengunjungi Mila

    Langkahku terasa ringan saat menyusuri lantai marmer lobi apartemen yang dingin. Seringai lebar tidak bisa lepas dari wajahku; memori tentang Citra yang terengah-engah di atas meja pantry bersama Hardi masih terputar jelas di balik lensa kacamata emas ini. Aku memegang kendali penuh sekarang. Satu unggahan video, dan dunia putri kecil pemegang saham itu akan hancur berkeping-keping.Sebelum naik ke unitku, aku membelokkan langkah menuju area komersial. Lampu neon minimarket yang benderang menarik perhatianku. Di balik kaca transparan, aku melihat Mila. Pelayanku yang satu ini tampak sangat berbeda sore ini.Aku berhenti sejenak, memperhatikan pemandangan di depannya dari balik rak pajangan majalah. Mila mengenakan kemeja seragam yang ukurannya jelas dua nomor terlalu kecil. Kain sintetis itu meregang hingga batas maksimal, memperlihatkan tarikan benang yang nyaris putus di sekitar kancingnya. Dua kancing teratas sengaja dibuka, memamerkan belahan dadanya yang tertekan hebat hingga ta

  • Kacamata Penakluk   66. Rahasia Citra

    Lantai koridor yang sepi memantulkan bunyi langkah kakiku yang sengaja kubuat seringan mungkin. Aku baru saja mengunci pintu gudang arsip, masih membawa aroma debu kertas tua di seragam OB-ku, ketika sosok mungil itu melintas di persimpangan menuju pantry. Citra. Rambut cokelat madunya bergoyang mengikuti langkahnya yang terburu-buru, matanya melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada.Ada apa dengan si anak manja ini? Bukannya dia tadi sudah mengancam akan memecatku dan pergi ke salon?Aku menempelkan jari ke bingkai kacamata emas ini, mengaktifkan mode siluman. Pandanganku sedikit menajam, kontras warna di sekitarku berubah saat sistem mulai memproses fokus maksimal. Aku membuntutinya, bersembunyi di balik bayangan pilar beton besar saat dia mendorong pintu pantry yang sedikit terbuka.Di dalam sana, bayangan seorang pria yang sangat kukenal berdiri membelakangi dispenser. Pak Hardi.Aku merapat ke dinding luar pantry, memiringkan kepala agar sensor kacamata bisa menangkap frekue

  • Kacamata Penakluk   65. Tidak berani pulang

    Lantai kantor terasa sunyi, hanya deru pendingin ruangan yang mengisi kekosongan koridor. Aku melirik jam dinding di atas meja resepsionis yang mulai sepi.Masih pukul empat sore, tapi kubikel Citra sudah melompong. Kursinya yang berwarna abu-abu itu tampak seperti ejekan setelah insiden tamparan tadi. Dia pasti sedang mengadu pada ayahnya, atau mungkin meratapi nasib rok putihnya yang kini bernoda lumpur."Lari saja yang jauh, Citra. Kau baru saja menandatangani kontrak nerakamu," gumamku sambil membenarkan letak kacamata emas yang masih dalam mode siluman.Aku melangkah pelan menuju bagian belakang gedung, tempat gudang arsip berada. Ini adalah benteng pribadiku, ruangan pengap penuh tumpukan kertas tua di mana aku sering mengurung diri dari dunia luar.Aku mengunci pintu kayu itu dari dalam, membiarkan bau apek dan debu menenangkan syarafku. Aku duduk di atas sebuah boks plastik besar, menarik napas dalam-dalam

  • Kacamata Penakluk   64. Target baru: Citra

    Hardi masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menggoyangkan ponsel di depan mataku ketika pintu ruangannya terdorong terbuka tanpa ketukan. Sosok mungil dengan langkah yang dibuat-buat anggun masuk begitu saja. Citra. Rambutnya yang dicat cokelat madu tergerai berantakan namun disengaja, membingkai wajahnya yang mungil dengan bibir yang selalu dipoles lipstik merah menyala.Hardi tersentak, jempolnya bergerak secepat kilat menyembunyikan layar ponsel ke dalam saku jas."Aduh, Om Hardi! Kok pintunya nggak dikunci sih? Kan aku jadi bisa masuk seenaknya."Citra melirikku sekilas, sudut bibirnya terangkat meremehkan seolah aku hanyalah seonggok sampah yang lupa dibuang. Dia berjalan mendekati meja Hardi, pinggulnya bergoyang berlebihan di balik rok kantor yang sangat ketat."Lagi asyik apa sih? Kok kayaknya serius banget sama... siapa tadi namanya? Oh, Bejo ya?"Hardi berdehem, mencoba mengatur kembali raut wajahnya yang sempat panik."Bukan apa-apa, Cit. Ini si Bejo cuma penasaran mau l

  • Kacamata Penakluk   63. Pekerjaan baru Nadia

    Cahaya pagi menerjang kelopak mataku, menyambar kesadaran dari balik gorden yang tersingkap tipis. Aku meraba sisi tempat tidur yang luas. Dingin. Kosong. Sudah tiga malam Nadia tidak mengisi celah di bawah selimut ini. Sepertinya para serigala tua di lapangan padel itu benar-benar tidak membiarkan mangsa mereka lepas begitu saja. Aku bangkit, merenggangkan otot-ototku yang kaku, sambil menyeringai tipis. Biarlah dia remuk di sana. Semakin hancur dia di tangan mereka, semakin dalam dia tertanam di sana sebagai pion pengintai yang tak ternilai. Langkahku terhenti di ambang pintu kamar saat suara denting lift pribadi berbunyi. Pintu baja itu bergeser, menyingkap sosok wanita yang selama ini kucari. Nadia melangkah keluar dengan tungkai yang tampak gemetar. Meskipun pakaian formalnya sudah kembali rapi—blus sutra putih dan rok pensil hitam yang membalut lekuk tubuhnya—dia tidak bisa menyembunyikan raut wajah yang seolah habis diperas habis-habisan. Matanya yang biasa berkilat

  • Kacamata Penakluk   62. Dari lapangan padel

    Bunyi kaca tempered yang bergetar hebat menjadi musik latar di telingaku saat aku memperhatikan layar monitor. Nadia, dengan wajah yang ditekan ke dinding transparan itu, tampak seperti lukisan penderitaan yang indah. Napasnya yang memburu meninggalkan uap tipis di permukaan kaca, sementara pria tua berperut buncit itu menghajarnya dari belakang tanpa ampun."Liat, Hardi! Manajer kebanggaanmu ini ternyata punya tenaga kuda di pinggulnya!"Pria tua itu terengah, tangannya yang dipenuhi bintik penuaan mencengkeram erat rambut panjang Nadia, menariknya ke belakang hingga leher putih itu membentuk busur yang tegang. Hardi tertawa terbahak-bahak dari pinggir lapangan, asap cerutunya mengepul abu-abu di bawah sorot lampu neon yang tajam."Hajar saja, Om! Jangan kasih kendor. Dia memang didesain untuk menampung beban berat, bukan cuma beban kerja di kantor!"Hardi mengembuskan asapnya ke udara, matanya yang merah menatap lapar ke arah tubuh Nadia yang bergetar. Nadia hanya bisa mengerang,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status