Se connecterLangkah kaki mereka berat, mencabut aspal jalanan desa yang sepi dengan amarah yang mendidih. Pak RT memimpin di depan, obor di tangan kanannya menari-nari ditiup angin malam, menyinari wajah-wajah pria paruh baya yang biasanya ramah namun kini tampak seperti algojo.
Cangkul, sabit, dan potongan bambu runcing tergenggam erat di tangan-tangan kasar mereka.
"Mereka masih di sana, Jo? Kalau benar itu pupuk dan traktor
Setelah berbelanja, aku kembali ke apartemen. Dengan langkah santai, aku melewati deretan gerai komersial sebelum mencapai pintu kaca minimarket. Di balik rak-rak kaca, sosok mungil berkerudung itu tampak sibuk menyusun botol-botol minuman. Langkahku melambat saat mendekati pintu otomatis. Mila mendongak, jemarinya membeku di atas botol soda. Matanya yang bulat membelalak, memancarkan kombinasi antara rasa malu yang membakar dan ketakutan yang nyata. Sepertinya dia teringat kejadian kartu kredit hitam itu. Aku berhenti sejenak, sengaja membiarkan tatapan dinginku menguliti wajah pucatnya melalui kaca bening. Bibir Mila bergetar, dia menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat sibuk dengan tumpukan barang di lantai. Aku hanya menyeringai tipis, menikmati bagaimana dominasi kecil ini membuat napasnya terlihat memburu dari kejauhan. Tanpa sepatah kata pun, aku memutar tumit dan melanjutkan langkah menuju lobi, meninggalkan kasir itu dalam kegelisahan yang menyiksa. Sesampainya di penth
Pintu lift berlapis krom itu terbuka tanpa suara, menelan tubuh kerempengku ke dalam kotak logam yang harum aroma terapi lavender. Aku berdiri di pojok, mengenakan kaos oblong pudar dan celana bahan yang sudah mulai menipis di bagian lutut. Sangat kontras dengan dinding lift yang mengilap dan lampu LED artistik yang menggantung di langit-langitnya. Beberapa lantai saat lift ini turun, dua pria dengan setelan jas Italia yang licin masuk ke dalam lift berdiri di depanku. Mereka berhenti mengobrol saat aku masuk, lalu serentak menggeser posisi seolah-olah bajuku membawa wabah yang mematikan. Salah satu dari mereka, pria dengan jam tangan Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya yang gemuk, melirikku yang sudah ada di dalam lift. "Pembantu baru di Penthouse?" Suaranya berat, penuh dengan nada merendahkan yang kental. Dia tidak menatapku, melainkan bicara pada bayanganku di dinding lift yang memantul. Aku memasang wajah paling lugu yang kubisa, sedikit membungkukkan bahu agar
Sprei sutra abu-abu ini terasa seperti usapan lembut di kulitku, sangat kontras dengan kasur kapuk kempes yang biasanya menusuk punggung setiap pagi. Aku menggeliat, menikmati keheningan yang hanya dipecah oleh dengung halus pendingin ruangan.Selama bertahun-tahun, tidurku diganggu suara knalpot motor atau teriakan tetangga di gang sempit. Di sini, di lantai teratas Jakarta, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk memberiku istirahat paling berkualitas sepanjang hidup.Di sampingku, Nadia masih terlelap. Selimut tebal menutupi tubuh polosnya, menyisakan bahu putih mulus yang naik turun mengikuti napasnya yang teratur.Rambut hitamnya tersebar berantakan di atas bantal, membingkai wajah orientalnya yang tampak tenang tanpa beban pekerjaan HRD. Dia mendengkur halus, sebuah suara kecil yang entah kenapa terdengar begitu menggoda di telingaku.Aku bangkit pelan, menyeret kakiku menuju kamar mandi yang luasnya mung
Lampu rem ribuan kendaraan di depan kami menyala serentak, menciptakan lautan warna merah yang membosankan di sepanjang jalanan Kuningan. Udara di dalam mobil SUV hitam Nadia terasa sejuk, sangat kontras dengan aspal Jakarta yang masih mengeluarkan uap panas di antara senja.Aku menyandarkan punggung, membiarkan tubuh kerempengku tenggelam di jok kulit yang empuk, sambil memutar-mutar selembar kartu plastik di antara jemariku."Tuan, apa kita benar-benar harus ke sana sekarang?"Nadia melirik kartu itu dengan raut gelisah. Jemarinya yang ramping mengetuk-ngetuk kemudi, sementara matanya yang sipit sesekali melirik spion tengah, memastikan dandanannya tetap sempurna meskipun aura kelelahan mulai membayangi wajah orientalnya."Kenapa? Kau takut kartu ini tidak berfungsi?"Aku mengangkat kartu itu ke depan wajahnya. Tulisan emas "PENTHOUSE. TOWER PORTE" berkilau tertimpa cahaya lampu jalan yang masuk melal
Hak sepatu Nadia menghantam lantai marmer dengan irama yang panik, menggema di sepanjang koridor menuju ruangannya. Aku mengekor di belakangnya, sengaja membungkukkan bahu dan menundukkan kepala dalam-dalam.Wajahku kupasang sedemikian rupa agar terlihat seperti pecundang yang baru saja dipangkas habis harga dirinya di depan umum. Pegawai lain yang berpapasan hanya melempar tatapan sinis atau tawa tertahan, menikmati tontonan seorang OB yang diseret paksa oleh Manajer HRD.Nadia membuka pintu ruangannya dengan kasar, membiarkanku masuk sebelum membantingnya hingga tertutup rapat.Brak!Suara kunci yang diputar dua kali memberikan privasi mutlak. Seketika, ketegasan di bahu Nadia runtuh. Dia berbalik, wajah orientalnya yang tadi memerah karena amarah kini pucat pasi, dipenuhi penyesalan yang mendalam."Tuan... maafkan saya. Maafkan mulut lancangku tadi di depan mereka."
Lantai marmer koridor kantor berkilau di bawah lampu neon, memantulkan bayangan kurusku yang sibuk mengayunkan tongkat pel. Bau pembersih lantai pinus yang tajam menusuk hidung, menutupi aroma pengap yang biasanya mengendap di sudut-sudut ruangan.Hardi melintas begitu saja, sepatu pantofelnya yang mengilat mengeluarkan bunyi ketukan berirama yang angkuh. Dia bahkan tidak melirik ke arahku, seolah aku hanyalah bagian dari dekorasi dinding yang usang.Beberapa hari ini suasana memang terasa berbeda. Ketegangan yang biasanya menyengat antara aku dan Nadia menguap, digantikan oleh keheningan yang penuh rahasia.Orang-orang di kantor masih menjaga jarak dariku, melempar pandangan kasihan atau jijik saat aku lewat dengan seragam OB kumalku. Mereka ingat bagaimana Nadia dulu memperlakukanku seperti sampah, dan tak ada satu pun yang mau mengambil risiko berurusan dengan Manajer HRD yang terkenal dingin itu."Minggir, Jo.