Share

Status WA

Penulis: Siti Aisyah
last update Terakhir Diperbarui: 2023-02-03 17:16:33

Aku pikir acara ulang tahun Ibu seperti acara ulang tahun pada umumnya yang menggunakan balon, kue ulang tahun lengkap dengan lilin sesuai dengan usia, dan segala printilannya.

Akan tetapi ternyata tidak sesuai dengan dugaanku padahal aku sudah berburuk sangka. Membayangkan ibu mertua memakai balon karakter di kepala lalu meniup lilin di atas kue disertai tepuk tangan yang bergemuruh itu adalah sesuatu yang lebay menurutku mengingat ibu bukan anak kecil lagi.

Konsep ulang tahun ibu mertua adalah pengajian dengan mengundang semua warga desa baik laki-laki maupun perempuan dan beberapa kerabat dekat serta anak yatim.

Untuk makanannya juga pakai jasa catering sehingga tidak ada acara sibuk memasak. Semua terima beres. Ibu juga sudah menyiapkan beberapa amplop berisi uang untuk dibagikan pada anak yatim.

Pantas saja hidup Bu Mila selalu damai dan bahagia. Rupanya ini salah satu rahasianya. Sedekah.

Acara akan dimulai sebentar lagi. Snack box yang menggunung sudah siap. Para undangan sudah mulai hadir dan pengisi acara yang merupakan seorang ustaz yang akan memberikan ceramah juga sudah hadir.

Aku menatap ke bawah, memandang gamis biru yang kukenakan. Sebuah gamis dengan warna dan model yang sama dengan para ipar dan juga ibu.

Kata Mbak Divya, ini adalah seragam keluarga tahun lalu saat aku belum menjadi menantu di rumah ini, tetapi kakak ipar memesan satu lagi khusus untukku.

Dengan percaya diri aku duduk di antara ipar dan ibu mertua. Duduk manis mendengarkan lantunan sholawat merdu menyejukkan hati yang dibawakan oleh grup rebana sebelum pengajian dimulai.

Ah, tentang ulang tahun, lagi-lagi wajah Mbak Ulfa dan ibu datang silih berganti. Aku tidak bermaksud mengingat hal yang menyakitkan itu, tetapi bayangan itu hadir sendiri tanpa bisa kuhalangi.

"Ulang tahunku kapan, Bu?" tanyaku saat ibu dan ayah sibuk mendekor ruang tamu dengan aneka balon warna-warni serta pita.

Ibu yang sedang memotong-motong pita warna-warni menghentikan gerakannya lalu menatapku tajam. "Nggak ada!" jawabnya ketus.

"Kenapa, Bu? Kenapa ulang tahun Mbak Ulfa selalu dirayakan sedangkan aku tidak? Aku sama-sama anak Ayah dan Ibu, kan?" Aku menatap balon-balon yang disusun sedemikian rupa di ruang tamu.

"Anggap saja ini ulang tahunmu juga. Sekalian. Kalau mengadakan pesta ulang tahun sendiri-sendiri boros nanti. Udah, pesta ulang tahun kamu nebeng sama Ulfa saja!" jawabnya dengan nada tinggi sehingga membuat nyaliku menciut.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Bagaimana mungkin aku menganggap ulang tahun Mbak Ulfa yang begitu meriah itu kuanggap sebagai ulang tahunku juga sedangkan tanggal lahirku 12 April dan Mbak Ulfa 16 Desember. Jauh.

Kue ulang tahun berbentuk bulat dengan gambar karakter princes itu juga terdapat lilin berbentuk angka 10 sedangkan usiaku 8 tahun waktu itu.

Kami bukan anak kembar, Bu. Hari ulang tahun kami jelas tidak sama. Jika Ayah dan Ibu rela merogoh kocek untuk membahagiakan Mbak Ulfa di hari ulang tahunnya, tetapi kenapa denganku tidak peduli?

Sempat terbersit dalam benakku kalau aku bukan anak kandung ayah dan ibu. Namun, garis wajah dan postur tubuh yang Ibu wariskan padaku tidak dapat memungkiri jika aku memang darah dagingnya. Terlebih dalam akta kelahiranku juga tertulis jelas kalau aku adalah anak dari pasangan ayah dan ibu.

Aku hanya bisa gigit jari saat pesta ulang tahun yang begitu meriah itu. Raut wajah Mbak Ulfa begitu bahagia saat lagu selamat ulang tahun dinyanyikan disertai tepuk tangan oleh teman-temannya.

Akan tetapi, lagu selamat ulang tahun yang menggema itu terdengar menyedihkan di telingaku, mencabik-cabik hatiku hingga luka dan berdarah. Lalu, tangisku pun pecah.

Pun saat potong kue, dengan semangat kakakku yang tampil cantik dengan gaun ala princes lengkap dengan mahkota di kepalanya itu memberikan potongan kue yang pertama pada Ibu dan selanjutnya ayah. Pelukan dan ciuman Mbak Ulfa terima bertubi-tubi dari dua orang yang sangat kucintai itu.

Aku juga mau ...

Aku mengikuti langkah Mbak Ulfa menuju kamar yang akan membuka kado hadiah, tetapi hanya pengusiran yang kudapat. Ia bilang kado yang sangat banyak itu hanya miliknya padahal aku hanya ingin melihat saja.

Aku hanya ingin ikut membuka kado dan tertawa lepas saat melihat isinya adalah sesuatu yang paling disukai, tetapi hal itu tidak pernah kurasakan.

Tubuhku merosot di pintu kamar. Aku terduduk sambil memeluk lutut dan menelungkup. Suara Mbak Ulfa di dalam sana yang sedang membuka kado sambil berteriak kegirangan terdengar bagai lagu yang menyayat hati.

Air mataku tumpah dan kubiarkan membasahi tanganku. Aku sesenggukan. Ya Rabb, ternyata sesakit ini rasanya diperlakukan tidak adil oleh ibu kandungku sendiri.

"Nes?"

Aku terlonjak kaget saat ibu mertua menyentuh lenganku. "Kamu nangis? Kenapa? Sakit? Atau tadi malam nggak bisa tidur karena nggak terbiasa tidur bareng orang banyak, ya?"

Aku mengulas senyum. "Enggak, Bu. Saya baik-baik saja.

"Pasti kecewa, ya, nggak bisa tidur dalam pelukan Mas Ramzi," tanya Nella sambil menaik turunkan alis dan tersenyum menggoda.

"Ish, apa, sih?" Aku mencubit gadis manis yang terus meledekku itu.

Ada sesuatu yang hangat menjalar di hati ini. Lihatlah, betapa damai Bu Mila berada di antara anak-anak yang begitu menyayanginya.

Tawanya lepas seolah tidak ada beban. Berulang kali ia mengecup kening Nella yang menggelayut manja di lengannya.

Mataku panas melihat pemandangan ini. Aku iri dan cemburu mengingat aku tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh ibu kandungku sendiri.

Dulu, saat aku masih bekerja di pabrik, Ibu hanya rindu uangku bukan rindu dengan darah dagingnya ini.

Diam-diam aku mengambil ponsel lalu mengambil foto kami berlima. Aku tersenyum bahagia menjadi bagian dari keluarga yang begitu menyayangi satu sama lain ini.

Iseng, aku membuat status WA dengan foto itu dan kuberi keterangan singkat 'Bahagia' iya hanya kata itu yang pas untukku saat ini. AKU BAHAGIA mendapat sesuatu yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya.

Ponselku berbunyi sebagai pertanda ada pesan masuk.

Mbak Ulfa mengomentari postinganku

[Enggak usah sok pencitraan menunjukkan kamu bahagia kalau sebenarnya menderita menjadi istri tukang bakso]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kado untuk Ibu Mertua   Akhir dari Semuanya

    Ririn mundur beberapa langkah hingga menyentuh tembok. Tatapan matanya tidak berkedip melihat Candra yang menatapnya seolah hendak menelannya bulat-bulat. "Ayolah, Rin. Selama dua tahun ini aku sudah begitu sabar menunggumu untuk bisa kusentuh. Kita ini suami istri, tetapi kenapa aku tidak pernah mendapatkan hakku? Kesabaran seorang lelaki ada batasnya. Aku seorang lelaki normal yang tidak akan sanggup menahan hasrat yang bergejolak ini," kata Candra dengan tatapan memelas. Brak! Pintu terbuka lebar bersamaan dengan masuknya Yani--ibunya Candra. "Apa maksudmu, Ndra?" "Ibu?" Ririn dan Candra berbarengan. "Apa maksudmu tidak pernah menyentuh Ririn? Pernikahan macam apa ini?" tanya Yani dengan nada tinggi. Mau tidak mau Candra bercerita pada ibunya kalau selama menikah dengan Ririn, ia sama sekali tidak pernah merasakan indahnya surga dunia. Ririn selalu menolak saat diajak melakukan hubungan suami istri. Bahkan, selama ini mereka tidak pernah tidur dalam satu ranjang. Candra tidu

  • Kado untuk Ibu Mertua   Terima kasih

    "Romi, bolehkah aku kembali padamu?" kata Indy dengan mulut bergetar. Romi mengurai rangkulannya pada Ulfa lalu menatap tajam Indy yang berusaha tersenyum semanis mungkin. "Apa? Ingin kembali?" Indy mengangguk. "Iya, boleh kan? Aku yakin tidak mudah bagimu melupakan diriku yang sangat cantik ini. Bukankah kamu dulu begitu tergila-gila padaku?" Romi tertawa sumbang. "Romi yang dulu bukanlah yang sekarang. Kalau dulu dia suka main dengan banyak wanita, sekarang tidak lagi. Sekarang hanya ada satu wanita yang aku cintai di dunia ini yaitu Maria Ulfa." Indy melengos ketika Romi menatap Ulfa penuh cinta lalu mencium keningnya. "Jadi, kamu nolak aku?" tanya Indy dengan nada tinggi. "Hal seperti ini tidak usah ditanyakan lagi. Jawabannya sudah pasti. Sekarang silakan kamu pergi dari sini dan biarkan aku hidup tenang bersama istriku tercinta." Romi menatap Ulfa dan mengedipkan mata. Ia merasa dari hari ke hari rasa cinta pada wanita yang dulu pernah disia-siakannya itu semakin bertamba

  • Kado untuk Ibu Mertua   Dia Datang Kembali

    "Kau tahu kenapa aku sangat ingin mendonorkan sebagian hatiku ini untukmu?" tanya Ulfa setelah mereka pulang dari rumah sakit seminggu kemudian dan saat ini mereka berada di rumah Ines. Ines tersenyum. "Kenapa?" Ines mengambil air putih dan menyesapnya. "Sampai saat ini aku masih mencintai Ramzi dan dengan adanya sebagian hati di tubuhmu itu aku harap secuil hati itu bisa mendapatkan cinta dari orang yang aku cintai." Ines melotot, tetapi Ulfa malah tertawa. "Enggak, Nes. Aku bercanda. Sebenarnya yang mau mendonorkan hati untukmu itu adalah Ibu, tetapi setelah diperiksa dokter ternyata kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Saat dalam pemeriksaan tensi darah Ibu drop sementara untuk menjadi pendonor harus dalam keadaan prima. Lagi pula usia Ibu yang sudah 56 tahun sudah tidak diperbolehkan menjadi pendonor karena maksimal berusia 55." "Iya, Nes. Waktu itu Ibu berniat memberikan secuil hati ini untukmu, tetapi Ibu tidak memenuhi syarat untuk menjadi pendonor. Maafkan Ibu." Murni

  • Kado untuk Ibu Mertua   Sembuhlah, Adikku

    "Astagfirullah."Dunia Ramzi dan Ines seakan berhenti berputar saat mendengar pendengar penjelasan dokter bahwa organ hati Ines bermasalah. Ines memang sudah lama merasa badannya kurang sehat, tetapi ia berpikir mungkin itu efek dari sering begadang karena punya bayi. Ia juga sering mual dan muntah, tetapi ia tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Ramzi memejamkan mata. Belakangan ini, ia merasa nafas Ines sangat bau tidak seperti biasanya. Lelaki itu ingin mengatakan pada sang istri akan hal itu, tetapi ia takut wanita yang sangat ia cintai itu tersinggung. Iya, siapa yang tidak malu dan tersinggung jika disebut mulutnya bau padahal baru saja gosok gigi. Tidak tahunya itu adalah salah satu tanda jika organ hatinya bermasalah. Ines juga merasa tubuhnya semakin kurus. Hal itu ia rasakan saat celana maupun rok yang biasanya pas atau ketat, kini terasa longgar, tetapi wanita itu menganggap hal itu biasa terjadi karena ia sedang menyusui. Nanti kalau Alifa sudah berhen

  • Kado untuk Ibu Mertua   Ines Sakit?

    "Ibu bilang juga apa, Ul?" Murni mengusap pundak Ulfa dengan lembut. "Buang jauh-jauh rasa benci yang menumpuk dalam hatimu itu. Hidup rukun bersama saudara itu lebih menyenangkan." Saat ini mereka sedang berada di rumah sakit menunggu Ramzi yang sedang diperiksa dokter. Lelaki yang sudah menyelamatkan Zanna itu perlu dilakukan rontgen karena ia mendapat pukulan di bagian perut berulang kali. "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika Ramzi sampai kenapa-napa. Dia menjadi begini karena aku lalai sebagai orang tua dalam menjaga anak." Romi mengacak rambut frustrasi. Ia tatap kakinya yang hanya tinggal sebelah sehingga membuat ia sulit bergerak. "Doakan saja semoga Ramzi tidak apa-apa," kata Murni. "Iya, Bu. Semoga dia baik-baik saja." Romi tergugu membayangkan Ramzi yang berjuang sendiri melawan penjahat itu. Pukulan demi pukulan ia dapatkan, sementara ia sendiri tidak bisa melakukan apa pun. Semua orang bernapas lega saat hasil rontgen keluar dan Ramzi dinyatakan baik-baik saja

  • Kado untuk Ibu Mertua   Kita adalah Keluarga

    Ines tersenyum sendiri melihat status WA kakaknya. Dalam diam, dia bersyukur akhirnya Ulfa mendapat kebahagiaan dengan caranya sendiri. Tiba-tiba terbersit dalam benaknya untuk datang berkunjung ke rumah Ulfa.Semenjak Ulfa menikah, sekali pun ia belum pernah berkunjung ke rumahnya karena selalu dilarang dengan alasan tidak level menerima tamu seperti Ines, tetapi sekarang Ines yakin, kakaknya itu pasti akan memberi izin.Untungnya Ramzi tidak keberatan diajak ke rumah kakak ipar. Mereka berdua telah sampai di sebuah rumah megah berlantai dua dengan halaman luas dan terlihat asri dengan tanaman rumput jepang. Ulfa yang sedang memasak, gegas mematikan kompor begitu mendengar pintu depan ada yang mengetuk. Wanita itu mengintip dari balik jendela siapa yang datang. Ia memekik saat melihat Ines dan Ramzi sudah berdiri di depan rumahnya. Dengan bibir mengerucut, wanita yang saat ini sedang hamil muda itu membuka sedikit daun pintu dan melongokkan kepala. "Mau ngapain kalian ke sini?"

  • Kado untuk Ibu Mertua   Siap hadapi cobaan

    Sebuah undangan pernikahan berwarna gold dengan foto prewedding yang sangat cantik baru saja diantar oleh seorang kurir. Ulfa menatap dengan saksama undangan yang ditujukan untuk Romi dan istri itu. Wanita yang sedang sedang menyapu itu menghela napas dalam-dalam. Romi sering dapat undangan yang membolehkan datang bersama pasangan, bahkan dianjurkan, tetapi ia sama sekali tidak pernah mengajak sang istri. Wanita itu menghela nafas dalam-dalam saat bayangan Romi yang melarangnya ikut itu kembali hadir di dalam ingatannya. "Aku datang sendiri saja, kamu nggak usah," kata Romi seraya merapikan kerah bajunya di depan cermin. Lelaki itu hendak berangkat untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu temannya di kantor. "Kenapa, Mas? Bukankah aku ini istrimu dan di situ tertulis dengan jelas kalau yang diundang itu Romi dan istri?" Ulfa mengerucutkan bibir. Romi menyemprotkan parfum ke tubuhnya, bau parfum musk seketika menguar di kamar itu. "Aku malu jalan sama kamu, Ul,""Tetapi aku in

  • Kado untuk Ibu Mertua   Bahagia yang Sesungguhnya

    Ulfa tertawa usai mengusapkan tangannya yang kotor terkena tepung terigu ke pipi Romi sehingga pipi suaminya itu putih seperti badut. Mulut Romi terbuka lebar saat tangannya meraba pipi dan mendapati tepung terigu itu menempel di pipinya. Ia menatap tajam pada Ulfa sambil tersenyum. Romi mengotori tangannya dengan tepung terigu seraya berkata. "Awas, ya?" Sambil membalas mengusapkan tangannya ke hidung Ulfa hingga wajah istrinya itu terlihat lucu di matanya. Keduanya lalu perang tepung, setiap kali Ulfa mengusap tepung berwarna putih itu ke pipi Romi, lelaki itu akan membalasnya dan hal itu terjadi berulang kali. Ulfa dan Romi saling pandang. Romi tertawa puas melihat wajah sang istri yang belepotan penuh dengan tepung dan itu tampak sangat lucu baginya tanpa ia sadari dirinya juga berwajah seperti mau main jantilan saat ini. Begitu juga dengan Ulfa, wanita itu kegirangan melihat suaminya berwajah seperti badut yang sangat lucu. "Ayo, joget, nanti aku kasih donat," kata Ulfa ser

  • Kado untuk Ibu Mertua   Galau

    Di ruangan serba putih dengan dua buah ranjang beroda, satu untuk pasien dan satunya lagi untuk keluarga yang menunggu. Terdapat layar televisi LED terpasang di dinding. Ruangan yang sangat luas itu hanya ditempati Romi sendiri. Romi terbaring lemah di atas brankar. Sebuah infus menancap di pergelangan tangannya. Di sampingnya Ulfa tertidur dengan posisi menelungkup dan sambil duduk di kursi.Tangan Romi gemetar saat mengusap rambut hitam istri yang selama ini ia sia-siakan itu. Air matanya meleleh begitu saja membasahi pipi. Lelaki itu sama sekali tidak menyangka wanita yang selama ini ia hina justru malah tulus merawatnya sedangkan Indy yang ia sayang dan puja-puja malah pergi meninggalkannya di saat ia terpuruk. "Aku janji setelah ini akan menjadi ayah dan suami yang baik." Bahu Romi berguncang dan air matanya mengucur semakin deras. Perlahan Ulfa membuka mata saat mendengar isakan tangis dari Romi. "Kamu sudah bangun, Mas?" Ulfa mengangkat kepala dan menggosok mata yang terasa

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status